Party

1111 Kata
Tidak mudah membuat Vanka menerima ajakan ke party. Sejak kemarin Darx masih belum mendengar jika gadis itu dan sahabatnya mau menerima ajakan darinya. Sampai saat ini Darx masih berusaha membujuk Vanka. Dia akan menjadi orang pertama dan cukup beruntung Jika berhasil mengajak gadis cantik tapi terkenal kejam, juga paling manis di sekolah Anharta ini. Seperti biasa Darx selalu mencoba mengakrabkan diri dengan Vanka juga sahabat-sahabatnya, dengan duduk semeja saat makan siang di kantin. "Gimana Va, ntar malam lo jadi kan ke party bareng Gue?" tanya Darx sembari memotong cumi bakar pesanannya. Vanka masih bergeming dengan pertanyaan pria yang berada di hadapannya. Gadis itu masih fokus dengan makanannya. Raut wajah Cia terlihat sama dengan Darx. Gadis itu juga menanti jawaban apa yang akan Vanka berikan. Menyadari mendapat tatapan penuh harap dari teman satu mejanya. Vanka pun menghentikan aktivitas makannya. Menatap lekat Cia lalu beralih melirik pada pria yang berada di hadapannya. "Gimana menurut lo Ra? Gue terima nggak ajakan dia?" tanya Vanka kepada Hara yang sejak tadi hanya diam menikmati makannya, tidak terlihat antusias dengan topik yang tengah diperbincangkan saat ini. Kini tatapan Cia dan Darx pun beralih kepada gadis pendiam terkesan cuek dengan sekitarnya. Mendapat tatapan seperti itu. Hara jadi salah tingkah. Gadis itu gelagapan bingung harus jawab apa. Cia mengangguk samar untuk memberi kode jika dirinya harus menjawab iya untuk menerima ajakan Darx. "Em … terserah kak Vanka, gue manut aja." Sontak Cia dan Darx memerosotkan bahunya lemah, saat mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Hara. Vanka terlihat berpikir. Menimang apakah dia harus menerima atau tidak ajakan Darx. Dia tidak ingin dinilai terlalu sombong karena menolak ajakan yang tidak hanya sekali Darx pinta kepada-nya. Untuk menerima pun sebenarnya Dia enggan, karena pasti akan membosankan baginya. Melihat orang-orang berlantai, karena lantunan musik yang dimainkan oleh dj. Atau karena pengaruh alkohol. "Gini aja deh Darx kalau lo mampu ngalahin gue fight taekwondo saat ekskul nanti, gue terima ajakan party-nya. Setuju?" "Eh lo bisa taekwondo nggak?" Tanya Vanka lagi, setelah menyesap minumannya. "Bisa kok, ok gue setuju. Sampai jumpa di do jang." Darx pun menggeser kursinya beranjak meninggalkan meja Vanka sembari mengerlingkan sebelah matanya. Disusul Felix sahabatnya yang ikut beranjak. "Kak? Lo beneran mau fight sama cowok. Kalau terjadi sesuatu gimana, nanti kaki atau tangan mu patah lagi. Atau mungkin bisa lebih buruk lagi." Vanka menoyor gemas kepala Cia. Mendengus kesal mendengar celotehan sang sahabat. "Sebenernya lo tu ada di pihak siapa sih! Gue nggak selemah itu, dapat dengan mudah dikalahkan. Lo liat aja nanti." Vanka beranjak dari kursinya. Disusul oleh Hara juga Cia yang menghentakan kakinya sambil ngedumel dan masih bisa didengar oleh Vanka. ___________¥____________ Sore ini tempat latihan, ekskul taekwondo kini terlihat penuh tidak seperti biasanya. Karena kabar fight Vanka dengan Drax murid baru yang cukup populer. Menarik para siswa untuk menyaksikan siapa yang akan menang. Mampukah Drax melawan Vanka yang memegang sabuk hitam strip 4. Warna sabuk yang melambangkan akhir, kedalaman, kematangan dalam berlatih dan penguasaan diri kita dari takut dan kegelapan. Vanka dan Dark yang tengah duduk melingkar bersama murid lain. Dipanggil ke dojang/ tempat latihan menghadap sabeum/ instruktur. Vanka juga Drax melakukan keyeong rye/ memberi hormat satu sama lain. Kemudian sabeum menjelaskan peraturan fight-nya. Setiap pertandingan taekwondo terdiri dari 3 ronde yang masing-masing waktunya 2 menit. Apabila hasil 3 ronde ini imbang, maka pertandingan dilanjutkan dengan ronde ke-4 selama 2 menit setelah kedua peserta diistirahatkan 1 menit. Setelah Vanka juga Drak melakukan joonbi/ posisi siap siaga. Sabeum mulai aba-aba pertanda ronde pertama di mulai. Para murid mulai riuh, mengiringi jalannya fight. Hingga dua menit berlalu. Dan Drax kalah telak. "Masih mau lanjut?" tanya Vanka membantu Drax bangkit. "Lanjut." Break semenit dimanfaatkan Vanka juga Darx untuk minum. Ronden kedua pun dimulai, dua menit berlalu dan Darx masih belum dapat mengalahkan Vanka. "Kasih, kesempatan sekali lagi. Gue tau sebenarnya udah kalah telak, tapi beri kesempatan terakhir." Vanka terlihat menimang cukup lama dan gadis itu mengangguk setuju dengan permintaan Darx. Fight dimulai kembali. Tidak disangka terjadi hal tidak diduga di atas do jang. Darx berhasil mengalahkan Vanka dengan memanfaatkan kelengahan gadis itu. Aula pun menjadi riuh dengan sorak dari pendukung Darx. "Gue menang, jadi?" Vanka hanya mengangguk menimpali pertanyaan Drax. Gadis itu bangkit, lalu meninggalkan aula. Sementara Darx sudah dikerumuni genk Bella yang sedari tadi hendak mendekat. Namun urung karena masih ada Vanka di do jang. "Jemput kami pukul 20:00 wib, lewat sepuluh menit dari jam itu. Batal pergi." Pesan what*sap yang dikirim Vanka setelah gadis itu keluar dari ruang ganti. "Ayo, cari dress buat ntar malam," ajak Vanka dengan wajah datar menghampiri kedua sahabatnya. "Serius kak? Kita jadi pergi ntar malam." "Mau gue batalin?" "Eh enggak, ya udah yuk jalan. Oh ya mobil Hara Gimana?" "Nanti gue minta sopir buat ambil Cii." "Oke deh." • • • Malam pun tiba, ketiga gadis itu terlihat elegan juga seksi dengan semua yang melekat di tubuh para gadis itu. Vanka terlihat anggun dengan batwing sleeve buttons short tunik, berwarna putih tulang. Cia yang terlihat seksi dengan tank top crop berwarna krem dan rok mini berbahan jeans. Sedangkan Hara mengenakan mini dress korea lengan panjang berwarna hitam. Ketiga gadis itu turun ke lobi apartemen. Ternyata Drax sudah menunggu duduk sembari memainkan ponselnya. Pria itu menatap tanpa kedip, saat memandang kehadiran tiga gadis yang terlihat menakjubkan malam hari ini. "Biasa aja liatnya, udah yuk buru. Gue nggak punya banyak waktu," sentak Vanka menyadarkan Drax. "Eh iya, ayo!" "Thank ya, uda mau nerima ajakan gue," ujar Darx sembari memasang seat belt-nya. Vanka hanya menimpali dengan deheman. Kembali ke tiga gadis itu menjadi pusat perhatian. Saat mereka memasuki club dimana kak kelas para gadis itu mengadakan party. Drax dengan tampang jumawa membawa ketiga gadis itu ikut berkumpul dengan sekumpulan teman Drax yang tengah berlantai. "Hai para cecan, have fun in my farty," sapa salah satu kakak kelas. "Congrats ya, buat ujiannya," balas Vanka dengan senyum kaku. "Gila lo bro, bisa bawa mereka ke sini," bisik kakak kelas itu ditelinga Drax. Rexi juga Felix ikut mendekai Vanka, Cia dan Hara. Kedua lelaki itu menawarkan minum juga berusaha mengajak berlantai bersama. Vanka mengizinkan kedua sahabatnya berlantai bersama kedua pria itu, dengan syarat harus masih dijangkau pandangannya. Sementara Vanka hanya menikmati minumnya, juga sempat beradu pandang dengan geng Bella. Bela pun coba mendekati Darax, memaksa pria itu untuk berlantai bersama. Darx pun terpaksa harus menjauh dari Vanka. Beberapa kakak kelas Vanka mencoba mendekati dirinya untuk mengajak berlantai tapi gadis itu. Memilih untuk setia duduk di meja bar. Waktu semakin larut. Vanka sudah mulai oleng karena minumannya. Gadis itu nyaris tidak menyadari keributan yang terjadi di sekitarnya. Sampai mendadak seorang pria mendadak menggendongnya, seperti penculik yang tengah menggendong anak kecil. Gadis itu pun berusaha meronta.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN