Mengatur napas kembali. Vanka menyudahi aktivitas yoganya, meninggalkan matras untuk mengambil air mineral untuk dirinya juga sang Mihu yang ikut yoga bersamanya.
Belakang ini, pasangan ibu dan anak itu sering menghabiskan sore dengan olahraga ringan bersama, jika bosan dengan yoga. Vanka mengubah penampilanya berjalan santai bersama Luna di taman komplek.
kini Vanka lebih sering menghabiskan waktu di rumah, karena sudah tidak direpotkan oleh Galent lagi. Tangan pria itu sudah sembuh. Max pun sudah keluar dari rumah sakit dan mulai bekerja sejak beberapa hari yang lalu.
Galent hanya mengganggu Vanka saat malam hari, menghubungi dengan alasan Baby Meira rewel lalu meminta gadis itu menyanyi sampai sang bayi tertidur.
"Ini Mihu, minum dulu," pinta Vanka memberikan salah satu botol air mineral yang ada di tangannya.
"Terimakasih sayang," balas Luna menerima air mineral, lalu meminumnya.
Luna kembali menutup botol air mineralnya setelah itu, mengambil sesuatu dari saku bajunya. "Access card apartemen kamu Va. Mihu kembalikan." Vanka yang hendak minum, menutup kembali air mineralnya saat sang Mihu mengeluarkan benda tipis, berfungsi sebagai access tempat kesayangannya itu.
Dengan binar mata yang terlihat bahagia. Vanka mengambil access card yg dipegang oleh Mihunya."Mi, artinya Vanka udah boleh balik ke apartement?"
"Tapi kamu harus janji, kalau terjadi sesuatu denganmu ceritalah ke Mihu. Vanka juga harus sering balik ke rumah ini." Gadis itu mengangguk lalu memeluk sang Mihu.
"Saat hidupmu bahagia, ibumu tidak pernah memintamu untuk membagi kebahagiaan mu kepadanya, tapi saat kamu terluka ibumu akan selalu datang untuk menerima bagian dari luka mu," tutur Luna lembut mengelus rambut sang putri.
"Kamu, adalah satu-satunya kebahagian yang Pihu dan Mihu mu ini miliki. Jadi jika terjadi sesuatu, entah apa yang akan kami alami nantinya. I love you my daughter," ujar Luna menangkup dan mengecupi wajah sang putri.
"I love you to Mihu, Vanka janji akan jaga diri dengan baik, kalau gitu Vanka ke kamar dulu mau beberes juga mandi." Vanka mengecup kedua pipi Mihu nya. Memeluk dengan erat wanita kesayangannya itu, lalu beranjak meninggalkan ruang yoga.
•
•
•
Keluarga kecil Agam kini tengah berkumpul di living room, berbincang setelah makan malam sembari menunggu supir datang untuk mengantar Vanka ke rumah Cia.
Gadis itu sengaja tidak memberitahu jika malam ini. Mereka boleh tinggal di apartemen. Vanka ingin memberi kejutan kepada sahabatnya itu.
"Mihu, Pihu. Vanka pamit ya, see you and i love you," ujar gadis itu memeluk dari belakang leher Luna dan Galent yang tengan duduk di sofa.
"Jaga diri, baik-baik," tukas Luna di ambang pintu melihat sang putri yang hendak masuk ke mobil. Vanka pun mengangguk dengan senyum manisnya.
•
•
•
Mobil Vanka sudah sampai, di pelataran rumah yang terlihat mewah meski tidak sebesar rumahnya. Setelah mengucapkan terima kasih kepada supir yang mengantarnya. Gadis itu menghubungi Onty Adel, Mamanya Cia. Meminta dibukakan pintu. Juga meminta untuk tidak memberitahu kedatangannya kepada sang sahabat.
Setelah sempat menyapa Uncle, juga Onty-nya yang terlihat sedikit kesulitan berjalan karena tengah dalam kondisi Hamil besar diperkirakan usia kandungannya sudah delapan bulan.
Tidak menyangka setelah begitu lama dari kelahiran Cia. pasangan Erik dan Adel dipercaya untuk mendapat momongan kembali.
Vanka naik ke lantai dua rumah ini, dimana kamar Cia terletak di lantai itu. Gadis itu mengetuk pintu kamar sang sahabat, sebelum Cia keluar. Vanka menyembunyikan diri di balik tembok tidak jauh dari kamar itu.
Cia menggerutu kesal karena tidak melihat siapapun. Gadi itu berbalik ingin masuk kembali ke kamarnya. Namun Vanka dengan cekatan membekap mulut Cia, juga mengunci tubuh gadis itu dengan satu tangan yang lain.
Awalnya Cia meronta minta di lepaskan, namun itu tidak berlangsung lama. Gadis itu mencoba menenangkan diri. Lalu berusaha menggunakan beberapa ilmu karate yang sudah ia kuasai. Gadis itu pun berhasil melepaskan diri.
Mata Cia membulat saat melihat Vanka yang tersenyum sambil bertepuk tangan.
"Kakak! Ngeselin ih, ngapain coba pakai acara bekap gue segala."
"Udah lumayan juga ternyata ilmu bela diri lo Cil."
"Ihh, kebiasaan deh kak, manggil gue bocil. Ukuran bra gue aja lebih besar dari punya lo," sungut bersedekap.
"Tumben malam-malam lo kesini kak, ada apa?" tanya Cia merebahkan diri di ranjang.
"Liat gue punya sesuatu buat lo." Vanka pun menunjukan access card apartemennya. Dengan mata yang berbinar-binar Cia mengambil benda tipis itu.
"Kita udah boleh balik ke apartemen lagi kak?" Vanka pun mengangguk. Sontak Cia memeluk juga mengguncangkan tubuh sahabatnya itu.
"Sakit b**o, lo kira gue goni beras, lo guncang-guncang."
"Hehe maaf atuh kak, gue refleks karena senang, tapi ini beneran kan? lo gak nyolong kan?"
"Berisik ih, udah sana beberes, gue ke bawah dulu buat ngobrolin ini sama Onty, juga Uncle." Cia mengangguk lalu beranjak ke ruang walk in closet miliknya.
Setengah jam berlalu Cia turun dari kamarnya, gadis manja itu pun pamit kepada sang Mama Juga Papanya. Setelah mendengar nasihat dari Mamanya Cia. Kurang lebih sama isinya dengan yang disampaikan Luna kepada Vanka. Kedua gadis itu pun pamit.
"Kita ke mall dulu, cari perlengkapan untuk di apartemen. Kemarin kan sebelum di tinggal sudah hampir habis. Yang lain juga gue kasih ke tunawisma," tukas Vanka sembari memasang seat belt.
"Iya Kak, gue juga ada sesuatu yang mau dibeli." Vanka pun mulai melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumah exclusive itu.
______________¥____________
Sudah cukup banyak barang yang memenuhi troli. Namun kedua gadis itu masih terlihat semangat untuk berkeliling di pusat perbelanjaan ini. Sampai sebuah rpanggilan yang ditujukan kepada dua gadis itu menghentikan mereka.
"Oh! Lo Darx," seru Vanka datar.
"Hai para gadis cantik long time no see girls, ganggu nggak ni?"
"Lo bisa liat sendiri."
"Eh nggak ganggu kok," salak Cia dengan senyum kaku.
"Oh iya kenalkan ini Rexi, teman gue." Mereka pun saling berjabat tangan, saling melempar senyum kecuali Vanka.
"Udah selesai belum belanjanya, makan bareng?"
"Makasih mungkin lain waktu aja, udah malam, gue juga lagi program diet," tolak Vanka dengan menarik bibirnya tipis.
"Eh, sejak kapan lo diet kak?" bisik Cia di telinga Vanka.
"Sejak gue nggak bisa nahan diri buat nelan lo idup-idup," bisik kembali Vaka di iringi dengan tatapan tajam.
"Oke deh nex time aja, oh iya gue mau ajak kalian berdua ke party para kakak kelas merayakan berakhirnya ujian nasional."
"Kapan?"
"Malam minggu? Kalian wajib dateng ya," ucap Drax penuh harap.
"Gue pikir-pikir dulu, gue akan kasih jawaban di sekolah besok."
"Tenang aja hanya party biasa kok."
"Ok nanti gue pikirin, kami antri di kasir dulu. Bye." Vanka melangkah sembari menjauh meninggalkan Drax dan Rexi.
Di meja kasir. Cia kembali bertanya sejak kapan Vanka melakukan program diet, setau gadis itu sahabatnya tidak pernah diet karena.
Vanka cukup beruntung, diberikan tubuh yang tetap normal dan segitu-gitu meski dirinya terkadang suka makan.
"Dasar cewek kaku, suka banget nolak rezeki, diajak makan bareng cowok ganteng malah ditolak," batin Cia ngedumel.