Buah dan Sayur

1037 Kata
Galent yang hanya mengalami luka di kening juga di lengannya karena terkena pecahan kaca mobil, setelah sarapan juga pemeriksaan terakhir kalinya. Kini pria itu sudah diperbolehkan pulang. Sementar Max harus menjalani rawat inap selama seminggu untuk proses penyembuhan. Vanka tidak terlihat antusias saat mengetahui, jika Galent akan keluar dari rumah sakit. Pasalnya Vanka masih harus repot membatu pria satu anak itu, karena luka sedikit dalam di telapak tangan, yang entah bagaimana Galent bisa mendapat luka itu. Saat pertama kali menjenguk Galent luka itu tidak ada, namun ketika Vanka kembali ke rumah sakit untuk membawakan makan malam. Gadis itu melihat telapak tangan Galent yang sebelah kanan, sudah di balut perban. Awalnya Vanka enggan menuruti permintaan Galent, namun rasa bersalahnya keluar saat pria karismatik itu mengatakan kecelakan itu terjadi lantaran ingin menemuinya di sekolah, karena kahawatir sudah beberapa hari tidak ada kabar. Luka itu sengaja dibuat Galent sendiri, dari pecahan gelas yang tidak sengaja terjatuh karena tersenggol lengan-nya saat ingin mengambil ponsel, dimanfaatkan Galent untuk membuat Vanka semakin tidak bisa menolak permintaannya. Seperti saat ini. Galent meminta Vanka untuk menjemputnya keluar dari rumah sakit setelah gadis itu pulang sekolah nanti. Sementara menunggu Vanka pulang sekolah. Galent mengerjakan pekerjaan penting yang sempat terbengkalai, karena kecelakaan kemarin. • • • "Kenapa enggak minta supir Om aja sih! Buat buat jemput?" tanya Vanka setelah menundukan diri di sofa. "Supir saya cuti istrinya melahirkan, kamu tau sendirikan kondisi Max yang biasa menyetir untukku, saat ini dia lebih mengenaskan dari saya." Vanka merotasi matanya, sebal dengan jawaban yang dilontarkan Galent, yang dia ketahui hanya alasan untuk membuatnya repot. Vanka tidak ingin menanggapi alasan yang Galent berikan, dia nggak mau terkesan tidak ikhlas membantu Galent. Sebenarnya gadis itu senang menghabiskan waktu dengan pria satu anak itu. Namun untuk saat ini dia sedang dalam masa hukuman. Vanka takut akan semakin memperburuk keadaan, jika terlalu lama berada di luar rumah tanpa alasan yang jelas. "Ini ambil, buat administrasi rumah sakit saya juga Max," ujar Galent menyodorkan ceredit cardnya ke hadapan Vanka. "Bentar ya, sekalian aku panggil dokter untuk lepas infus." Vanka menyaut credit card dari tangan Galent lalu beranjak ke luar ruangan. Sembari menunggu Suster melepas Infus Galent. Vanka mengganti seragamanya, mencepol rambutnya, menambahkan t**i lalat di pipinya juga memakai kacamata. Saat suster pergi meninggalkan ruang rawat. Vanka pun keluar dari toilet. Galent sempat mengerjap lalu menatap lekat penampilan gadis yang berada di hadapannya. Mendapat tatapan yang tidak biasa dari Galent, Vanka pun terlihat canggung memperhatikan dirinya sendiri. "Kenapa Om ada yang salah dengan penampilanku?" "Tidak, hanya saja kau tidak terlihat seperti Vanka yang aku kenal. Dengan penampilanmu saat ini." "Bagus dong, itu artinya tidak akan ada yang mengenalinku," ucap Vanka mengambil tas Galent yang berada di meja. "Emang kenapa kalau ada yang mengenalimu?" "Aku nggak mau ada teman sekolah, atau siapa aja yang mengenalku. mereka akan menyebarkan cerita nggak benar jika aku terlihat jalan dengamu, Om yang dikenal sudah beristri. Aku nggak ingin memperburuk hukuman yang sedang dijalani saat ini." Galent pun hanya manggut-mangut mencoba mencerna perkataan Vanka yang ada benarnya juga. Pria itu hampir lupa, kalau saat ini dia sedang berurusan dengan seorang gadis, yang masih bersetatus pelajar. _____________¥_____________ "Kita langsung pulang ke rumah om?" tanya Vanka saat selesai memasang seath belt-nya. "Kita ke toko ponsel juga mall, saya ingin cari ponsel buat kamu. Sekalian belanja sayur dan yang lainnya untuk isi kulkas yang sudah habis." "Eh, aku nggak butuh ponsel baru om, Kalau mau sudah dibeli dari kemarin. Aku cuma sportif aja dalam menjalani Hukuman dari Mihu, besok juga ponselku dibaliki." Vanka pun mulai menghidupkan mesin mobilnya. "Ya udah kalau gitu, kita belanja aja baru pulang ke rumah," ujar Galent menarik bibir tipis. Vanka mengangguk lalu mulai menjalankan mobilnya. Kini mobil mereka, sudah sampai di basment tempat parkir di sebuah mall. Langkah kaki gadis manis juga hot dady itu mulai menyusuri mall yang dipenuhi berbagai macam manusia. Vanka mengajak Galent, tempat dimana ada rak yang berisi berbagai sayur juga buah-buahan. Gadis itu mulai memasukkan Cabai, bawang, tomat juga beberapa jenis sayuran. "Om suka nggak sayur ini?" tanya Vanka yang memegang kalian. Memperlihatkan ke Galent. "Kalau dipikir-pikir belanja dengan Galent seperti ini. Buat gue terlihat seperti istri tu si om-om." Tanpa sadar Vanka tersenyum dengan apa yang ada di dalam pikirannya saat ini. No Vanka! Sadar. Dia sudah punya istri dan anak. Jangan sampai lo dicap sebagai pelakor. Baru saja, Vanka merenung tentang pelakor. Dirinya dikagetkan dengan seorang ibu-ibu tengah melabrak seorang wanita muda tengah memilih buah bersama bersama seorang pria. Vanka sampai bergetar, saat melihat si mbak-mbak itu didorong tanpa perlawanan. Dalam sekejap ramai para pengunjung mengerumuni pertengkaran itu. Galent, menarik Vanka. Menjauhi keramaian yang sedang terjadi, lalu menitipkan belanjaan mereka. "Kamu nggak apa? Kok pucet gitu?" tanya Galent memberi air mineral kepada Vanka, saat mereka sudah berada di sebuah restaurant yang ada di mall ini. "Enggak kenapa-kenapa, syok sedikit liat ibu-ibu tadi, oh karena kejadian tadi aku jadi kepikiran rada parno juga. Om jalan sama aku seperti ini, istrimu nggak akan melabrak aku kan?" "Terus, selama kamu berada di rumah sakit. Kok aku nggak lihat istrimu …." Menangkap manik mata Galent yang menatapnya dengan sorot mata gelap. Vanka tidak lagi mencecar pria itu dengan pertanyaan, yang memang ingin dia tanyakan dari beberapa waktu lalu. "Eh maaf, kalau pertanyaan gue ngusik kamu Om. Gak perlu dijawab juga nggak apa." "Kamu mau pesan apa? Kita makan dulu ya nanti lanjut belanjanya," ujar Galent berusaha menetralkan suasana hatinya. "Terserah Om, aja aku ikut." Galent mengangguk lalu memanggil waitress. Menu makanan dan minuman, sudah dihidangkan meja, saat pelayan meninggalkan Vanka juga Galent. Pria karismatik yang memiliki satu anak itu. Menggeser kursinya sedikit mendekat ke sisi Vanka. Lalu menyodorkan piring makanannya. "Kenapa Om?" tanya Vanka menarik sebelah alisnya. "Suapin! Tangan aku masih sakit." "Ndak usah lebay deh Om, yang luka itu telapak tangan kamu bukan jari-jarimu." Vanka melengos sebal melihat raut wajah Galent yang tadinya kaku sekali mendadak berubah dengan menampilkan raut wajah teraniaya. "Ya udah kalau nggak mau!" Galent menarik kembali piringnya. Lalu mencoba mengambil makananya, seolah-olah sangat kesulitan menggunakan sendok yang membuat makanan di piring jadi sedikit berantakan. Melihat itu Vanka menghela napas, gadis itu menarik piring Galent lalu mulai menyuapi pria yang tengah tersenyum penuh arti kepadanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN