Rumah sakit.

1113 Kata
Rasanya Galent sudah tidak sabar menanti, esok pagi. Khawatir jika besok Vanka masih tidak hadir di sekolah, bagaimana jika benar terjadi sesuatu dengan gadis itu. Semisal para gadis yang terluka karena Vanka, meminta bantuan orang lain untuk membalas kekalahan merencanakan hal buruk kepada Vanka. Yang menyebabkan gadis itu hilang tanpa jejak. Galent tau tidak mudah membuat Vanka terluka, mengingat gadis itu mampu melukai lima orang hanya dengan tangan kosong. Apa lagi jika benar Vanka adalah putri kandung Agam. Sudah pasti memiliki tim keamanan khusus yang menjaga gadis itu. Namun, Galent merasa khawatir, jika memang benar telah terjadi sesuatu dengan Vanka. Dan kedua orang tua Vanka sengaja menyembunyikan apa yang terjadi sebenarnya. Lalu kemungkinan terburuknya gadis itu dibawa keluar negeri dan tidak akan balik lagi. Menarik napas berat, Galent pun beranjak dari kursi malas yang berada di balkon. Mencoba tidur, ingin melepaskan pikiran-pikiran jelek yang berputar di kepalanya. Pria itu mengganti baju Vanka yang menyelimuti Baby Meira dengan selimut baru, setelah itu dia merebahkan diri dengan memeluk dan menghirup wangi dari baju Vanka, hingga tertidur. • • • Tangis Baby Meira, membangunkan Galet tepat saat rekaman suara mengaji diputar di mushola, sebentar lagi akan masuk waktu sholat subuh. Pria itu membuatkan s**u untuk Baby Meira, lalu membersihkan diri ingin melaksanakan sholat subuh. Galent, ingin melepaskan kegelisahan yang mengusik hati dan pikirannya. Juga menambah keyakinan dirinya jika ia masih bisa bertemu dengan Vanka. Setelah siap dengan pakaian kantornya. Galent menghubungi asistennya. Sudah tidak sabar ingin segera mengetahui kabar Vanka. Beberapa kali menghubungi Max namun tidak tersambung juga. Galent melirik jam tangannya, benda itu memperlihatkan waktu yang saat ini pukul 06:10. Pantas saja Max tidak menerima panggilannya, dapat dipastikan pria itu masih berada di alam mimpinya. Tidak lama setelah Galent mematikan ponselnya. Max menghubunginya. "Mo'on maaf, pak duda masih jam berapa ini, anda sudah menarik saya dari mimpi indah. Yang sayang untuk disudahi," gerutu Max dengan suara khas bangun tidur. "Halah, paling mimpimu nggak jauh dari s**********n. Bangun pemalas aku ingin segera mengetahui kabar Vanka." "Astaga Tuan, ini masih pukul enam lebih . Tuan juga tumben bangun sepagi ini? Biasa anda baru menghubungi saya saat pukul 07:15," timpal Max ngedumel. "Kau saja yang pemalas, malu sama ayam tetangga bulan belum berganti matahari, tu ayam dah berkokok. Empat puluh lima menit, nggak sampai di rumah saya. Gajimu dipotong 70%," ancam Galent lalu mematikan ponselnya, tanpa mendengar Max yang ingin menimpali ucapannya. • • • "Morning Tuan," sapa Max tersenyum saat baru keluar dari dalam mobil. "Kita pergi sekarang." Galent meminta Reni mengambil Baby Meira yang tengah anteng berada di gendongan pria karismatik itu. Saat Max inging membelokan mobil ke jalan di mana kantor mereka berada. Galent meminta Max melaju lurus, pada jalan yang mereka lalui saat ini. "Loh, kita mau kemana Tuan? Ini bukan jalur yang dilalui untuk ke kantor," cicit Max menatap Galent dari kaca spion. "Nggak usah banyak tanya, fokus saja menyetir," tukas Galent, menatap keluar jendela. Max pun tidak menimpali lagi hanya mengkuti instruksi atasannya itu sampai kemacetan, dengan beberapa pengemudi mobil membunyikan klakson memecahkan perjalanan mereka. Galent meminta Max pindah posisi. Dia ingin membawa mobil sendiri, mencari alternatif jalan lain untuk terlepas dari kemacetan. Setelah dapat terlepas, dari kemacetan. Galent melajukan mobil dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai di sekolah. Karena dia juga harus segera ke kantor. Max ngedumel jantungnya seperti mau lepas dari tempatnya. Karena merasa ngeri dengan cara Galent membawa mobil. Mendadak Galent hilang keseimbangan saat menyetir, akibat sebuah motor yang tiba-tiba melintas hendak menyebrang. Galent membanting stir untuk mengelak agar tidak menabrak sepeda motor itu. Mobil pun kehilangan kendali tak tentu arah ke kanan lalu kiri hingga menabrak, mobil yang tengah terparkir di bahu jalan depan mini market. ___________¥___________ Galent mulai mengerjap sedikit, pria itu sudah tersadar, lalu memegangi kepalanya yang sedikit nyeri. "Apakah aku mengalami tidur panjang, karena kecelakaan itu, sampi aku melihat Vanka sedang berdiri menatapku," racau Galent dalam hatinya. "Om!" panggil Vanka, saat melihat pergerakan dari Galent. Sementara Galent berpikir jika saking kangennya dengan Vanka. Sampai-sampai dia bisa mendengar Vanka yang memanggil namanya. Galent menggeleng lemah, lalu menepuk-nepuk pipinya, ingin berusaha terbangun dari mimpinya. "Ngapain sih, ngegampar pipinya sendiri!" seru Vanka memegang tangan Galent yang akan menepuk pipinya lagi. Galent menatap lekat Vanka. Untuk memastikan apakah ini hanya halusinasinya saja, karena terlalu ingin bertemu dengan sosok gadis itu, atau memang benar saat ini dia sedang berhadapan dengan Vanka. "Ini beneran kamu Vanka?" "Iya ini aku, kenapa kok nanya gitu?" tanya Vanka dengan raut wajah yang dibuat sesantai mungkin. Gadis itu tidak ingin ketahuan jika dirinya terlihat, khawatir juga. "Saya kira, sedang mengalami koma sampai-sampai saya bisa melihat kamu saat mengerjap tadi, sudah beberapa hari kan kamu nggak ada kabar," ujar Galent menatap sorot binar mata Vanka yang terlihat khawatir. Bahkan sebenarnya gadis itu cukup senang dapat bertemu kembali dengan pria yang beberapa hari belakangan telah mengacaukan isi kepalanya. "Tadi ada yang menghubungi Cia, dari ponsel orang yang bersama om. Kontak paling atas itu kontanya Cia. Panggilan keluar terakhir kali nggak ada tertera, sebabtu orang yang dihubungi untuk memberitahu kecelakaan ini di ambil dari kontak paling atas." "Lalu ponsel saya mana?" "Ponselmu hancur om, di temukan di lantai mobil, eh aku lupa minta dokter untuk memeriksa kamu om setelah sadar." Vanka menekan bell yang ada di samping brankar. "Akh, iya ponsel saya letak di dashboard saat ingin menyetir." "Oh iya, Max mana?" "Teman yang kecelakaan bareng kamu?" "Dia mengalami memar di kepala sedikit serius, dokter sedang observasi untuk memeriksa apakah butuh tindakan semaca oprasi atau tidak." Dokter yang masuk kedalam ruangan menghentikan pembicaraan Vanka dan Galent. Beberapa menit berlalu, dokterpun selesai memeriksa Galent, dan menyampaikan jika kondisi pasien tidak ada terlalu mengkhawatirkan. Hanya perlu dirawat inap selama sehari. "Kamu kemana aja? Kenapa ponselmu nggak bisa di hubungi?" cecar Galent kepada Vanka setelah menatap kepergian dokter keluar ruangan. "Panjang ceritanya Om, lain waktu aja di ceritakan nggak punya banyak waktu karena harus balik ke sekolah lagi. Ponsel aku di sita sama nyokap dua hari lagi baru kembalikan." "Oh, iya tante yang waktu itu ketemu di rumahmu. Mau dihubungi nggak?" "Nggak usah, takutnya Mama khawatir lagi kalau dengar saya kecelakan." "Ok kalau gitu, sebelum aku balik ke sekolah apa ada yang bisa di bantu?" "Ada, mendadak saya merasa lapar. Sebelum berangkat tadi saya tidak sempat sarapan." "Bentar aku bilang ke perawat buat bawakan sarapan kamu." Beberapa menit menunggu seorang perawat datang membawa bubur, dengan segera Galent memberi kode kepada perawat untuk segera meninggalkan ruang rawat. "Loh itu kok perawatnya langsung pergi. Bisa makan sendiri nggak?" "Tangan saya masih lemas, sepertinya belum bisa deh." Vanka pun berinisiatif, mengambil mangkuk bubur diatas meja, lalu menyendok bubur ingin menyuapkan ke mulut Galent. "Aku bantu suapin ya?" Galent pun mengangguk, menarik tipis sudut bibirnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN