Di bawah sinar rembulan malam, pipi putih mulus itu kini terlihat merona. Sungguh hal sangat memanjakan mata. Bahagia atas apa yang Gibran ungkapkan tentang perasaannya yang sama dengannya. namun, tak berlangsung lama karena Syana kembali menampakkan wajah ngambeknya. “Tapi, kalau memang kamu cinta sama aku sejak kecil , kenapa kamu bisa punya pacar waktu di London ?.” tanya Syana yang masih ragu dengan rasa cinta Gibran untuknya. Membuat Gibran Menghela nafas panjang dan tersenyum hangat. “Aku 'kan sudah pernah bilang, aku terima dia karena dia yang selalu memaksa untuk mencoba membuka hatiku yang udah terkunci rapat ini. Dia ingin menggantikan posisi kamu disini (sambil membawa tangan Syana ke d**a bidangnya). Namun, dia sama sekali tak mampu melakukannya. Karena Cuma kamu yang mampu

