Tidak terasa hampir sebulan Rangga di Jakarta menghabiskan waktu dengan Ganta. Dia harus kembali ke Singapore karena banyak hal yang dia telantarkan disana. Begitu Rangga pergi, mulailah penderitaan kami. Ganta tidak berhenti menangis setiap malam karena ingin bertemu Rangga padahal setiap hari pria itu menelepon atau video call dengan anaknya. Sampai akhirnya aku menyerah setelah Ganta jatuh sakit. Aku sangat cemas hingga Liam datang membawanya ke rumah sakit. Setelah kondisi Ganta mulai membaik Rangga mengirimkan tiket untukku dan Ganta berlibur ke Singapore selama dua minggu. Liam memberiku ijin, karena aku tidak pernah mengambil cuti selama bekerja. Sabtu pagi aku bersiap karena sebentar lagi Pingkan dan Andreas akan mengantar kami ke bandara. Aku kembali mengecek barang bawaan kami

