Bening perlahan bangkit dari atas ranjang. Ia tidak ingin mengganggu waktu istirahat Glass karena sepertinya pemuda itu begadang semalaman menjaga Fitria. Gadis itu memijat pundak kanannya dengan tangan kiri sambil berjalan keluar. Ia memilih berdiri di teras dan mencoba menghubungi Rea untuk menanyakan apa maksud pesan yang dikirimkan oleh wanita yang melahirkannya itu, karena tak biasanya Rea mengatai orang jika orang itu tidak bersikap keterlaluan. Bening menyugar rambut, membiarkannya tergerai tertiup angin. Dengan ponsel yang sudah menempel di telinga, Bening harap-harap cemas menunggu panggilannya dijawab oleh sang mama. Ia ingin menanyakan apa yang terjadi sampai ibunda tercintanya marah. “Be!” Suara Rea begitu lantang hingga membuat Bening tersentak kaget. Ia menjauhkan pons

