Saat membuka pintu kamar, Alvian tidak melihat adiknya di tempat tidur atau sofa, malah melihat pintu balkon terbuka dan yakin Devan sedang menunggu di sana, hingga ia langsung berjalan lurus dari pintu tanpa memanggil terlebih dahulu.
Alvian melihat adiknya sedang asik menatap foto dan video Eliana di beranda media sosialnya hingga ia tersenyum saat mengingat enam tahun lalu adiknya itu minta dibuatkan akun media sosial. Namun, bukan untuk berbagi status tentang kehidupan pribadi atau mem-follow akun rekan kerja untuk lebih dekat dan akrab. Bukan juga untuk mencari berbagai macam wanita yang berlenggak-lenggok sebagai hiburan naluri kelelakiannya, tapi hanya untuk mengetahui keceriaan wanita yang baru saja dia temui setelah satu tahun mencari ke berbagai tempat di Jakarta. Bahkan, hingga detik ini akun media sosial yang difollownya hanya dua, yakni ia dan Eliana saja.
Terkadang, Alvian penasaran dengan perjanjian apa yang diucapkan seorang Devan kecil hingga ketika dewasa dia menutup, bahkan mematikan sendiri hati juga cintanya untuk wanita lain dan hanya menginginkan Eliana—wanita yang jelas-jelas tidak memiliki perasaan apa pun padanya.
Bahkan bertahun-tahun tinggal di London bersama kakek-nenek dari ayah mereka, mulai dari sekolah sampai belajar mengendalikan salah satu perusahaan keluarga, ia tidak pernah mendengar adiknya memiliki kekasih. Tetapi baru satu minggu kembali ke Indonesia, bukannya sibuk mempelajari seluk-beluk perusahaan yang akan dikendalikan, adiknya itu malah langsung sibuk mencari wanita yang waktu itu dia sebut pelacurku.
“Kenapa di luar?” sapa Alvian sambil menggeser pintu balkonya agar tebuka lebih lebar.
“Sedang ingin di luar, Kak,” balas Devan tanpa mengalihkan tatapannya dari ponsel.
“Menatap El?” tanya Alvian lagi sambil duduk di kursi dekat Devan.
“Iya.”
“Bagaimana? Apa ada kemajuan dalam percintaanmu? Apa kamu sudah berhasil membuat dia jatuh cinta pada seorang Devan?”
“Semua masih sama seperti terakhir kali Kakak tanyakan enam bulan lalu, El belum mencintaiku. Malah tiga bulan terakhir ini dia sibuk mencari jodoh dengan banyak mengadakan kencan buta yang dia cari dari aplikasi khusus kencan.”
“El sibuk mencari jodoh?” Alvian berkata sambil tertawa meremehkan.
“Ya. Dia bilang ingin merasakan rasanya memiliki pasangan setelah lima tahun sibuk bekerja padaku.” Devan meletakkan ponselnya di meja yang jadi pemisah antara ia dan Alvian agar bisa fokus pada pembicaraan.
“Dan kamu tetap tidak mengatakan siapa kamu sebenarnya?”
“Itu yang aku bingung, Kak. Sebelum tahu El ingin memiliki pasangan, aku sudah bertekad tidak akan memberitahu siapa aku di masa lalunya karena aku ingin dia mencintai aku sebagai Devan, bukan sebagai pria yang ingin menepati janji. Tetapi setelah tahu dia ingin memiliki pasangan, aku bingung sendiri harus bagaimana lagi untuk membuat dia mencintaiku tanpa harus aku katakan siapa aku."
“Aku sering mengajarimu bagaimana cara membuat wanita jatuh cinta dengan melakukan berbagai macam kemesraan, apa kemesraan yang kamu lakukan masih sebatas mengusap-usap puncak kepalanya?”
“Iya, aku masih terlalu takut El tidak nyaman jika aku melakukan kemesraan lebih dari itu.”
“Jalan bergandengan?”
“Tidak pernah.”
“Apa memeluk juga masih saat dia dan ibunya bertengkar saja?”
“Iya, Kak.” Devan merubah posisi duduknya dengan bahu condong ke depan dan kedua siku bertumpu pada lutut. “Aku yakin El pasti tidak akan nyaman jika aku memeluknya selain untuk menenangkan dan dia pasti akan berpikir macam-macam tentang aku yang pada akhirnya malah membuat aku buruk di matanya.”
“Kemesraan hanya sebatas mengusap-usap kepala dan berpelukan saat menenangkan saja, bagaimana bisa seorang El tahu ada cinta darimu untuknya jika hanya seperti itu terus?” remeh Alvian lagi. “Aku yakin, kamu juga belum pernah mencium pipi apalagi bibirnya, benar?” tebaknya.
Devan menghela nafas berat sebagai jawaban membenarkan ucapan kakaknya dan menerima kegantelannya diremehkan.
“Dua tahun lalu aku pernah mencium kening El saat dia aku suruh mencium parfum baruku ketika aku berbelanja dengannya di sebuah mall. Dia dengan cepat mendekatkan hidungnya ke dadaku dan aku langsung mencium keningnya dengan cepat agar terkesan tidak sengaja.”
“Lalu bagaimana reaksinya?”
“Reaksi El biasa saja, tapi di detik itu juga aku langsung minta maaf dengan panik, karena takut dianggap melecehkan dia.”
Alvian mendengus sambil tersenyum kecut mengetahui sifat kaku adiknya tidak berubah pada wanita sejak dulu, meskipun dengan wanita yang dicintai, bahkan semakin ke sini malah semakin kaku.
“Pantas enam tahun pendekatanmu hanya jalan di tempat tanpa kemajuan sedikit pun, dan pantas juga El belum jatuh cinta padamu. Kebebasannya kamu beli, hidupnya kamu atur sedetail mungkin, bahkan sampai hal terkecil, tapi bermesraan tidak pernah, ciuman pun belum, lalu mana sikap seorang pecinta yang bisa membuat El tahu kamu mencintainya sebagai Devan?”
Devan kembali menegakkan duduknya untuk bersandar ke sandaran kursi. “Sikap seperti apa yang harus aku lakukan, Kak? Aku takut jika menjadi pria agresif, El akan tidak nyaman atau merasa aku melecehkan dia, sedangkan aku ingin sempurna di matanya.”
“Aku juga bingung untuk memberi saran apa. kamu sudah membentuk karakter yang kaku di matanya, akan terasa aneh jika tiba-tiba kamu agresif meskipun hanya dengan bergandengan tangan saat berjalan. Tiba-tiba bersikap romantis juga akan lebih aneh lagi.”
“Maksud Kakak bersikap romantis?”
"Tentu saja sikap romantis layaknya pasangan, bukan atasan dan bawahan."
"Seperti?"
Alvian menyunggingkan satu sudut bibirnya, meremehkan pertanyaan adiknya yang pura-pura tidak tahu atau memang benar-benar tidak tahu bagaimana sikap romantis pada pasangan. "Hal seremeh itu saja dia tidak tahu," batinnya meremehkan, lalu kembali bicara. “Seperti mengajak makan malam berdua saja dengan diiringi alunan musik romantis, membuat kejutan dengan membeli barang yang sangat El inginkan sejak lama, atau sering mengatakan kalimat pujian yang membuat hatinya berbunga-bunga.”
Devan menghela nafas berat lagi saat ia tidak yakin bisa melakukan apa yang Alvian sarankan. Jika hanya membeli barang yang Eliana inginkan, dia sudah sangat sering melakukannya hanya saja cara memberikannya terlalu biasa dan tidak ada momen spesial apa pun. makan malam berdua pun hampir setiap hari ia lakukan, bahkan sarapan. Hanya saja tanpa musik atau terkadang ada orang ke-tiga yang ikut makan bersama, yakni ibunya.
“Kenapa menarik nafas? Apa bersikap romantis sesepele itu juga tidak bisa?” tanya Alvian
“Bukan tidak bisa, tapi aku ragu dan takut El tidak bisa menerima sikap romantisku."
Alvian tersenyum kecut mendengar jawaban Devan. “Sepertinya sebelum kamu berharap El tahu kamu mencintainya, kamu harus hilangkan dulu keraguanmu untuk bersikap romantis padanya. Karena yang menjadi pembeda seorang pria pada wanita yang dicintai dengan wanita yang tidak berarti apa-apa adalah sikap romantisnya. Entah itu dari hal besar seperti sering berpelukan atau mungkin tidur bersama dalam satu ranjang sampai hal sepele seperti bergandengan tangan setiap kali berjalan bersama atau mengucapkan selamat pagi melalui chat atau bertatapan langsung.”
Devan kembali diam memikirkan ucapan Alvian yang mengatakan bergandengan tangan adalah hal sepele, sedangkan bagi dirinya itu sudah cukup menguras keberanian sebagai seorang bos yang diam-diam mencintai sekretarisnya, apalagi harus sering tidur bersama dalam satu tempat tidur. Jangankan tidur bersama dalam satu kasur, meskipun tidak melakukan apa-apa, tidur satu deretan jok bersama Eliana dalam mobil saja ia belum pernah karena selalu duduk terpisah ketika pergi ke mana pun.
"Diam lagi," ejek Alvian ke sekian kali.
Devan menoleh menatap kakaknya sambil tersenyum agar dia bisa tetap bersabar memberi saran padanya meskipun ditolak karena merasa belum cocok dengan image-nya selama ini.
"Apa tidak ada cara lain untuk membuat wanita jatuh cinta selain bersikap romantis? Bukankah tadi Kakak bilang, akan aneh jika tiba-tiba aku bersikap romantis pada El?"
"Memang aneh, tapi jika tidak pernah memulai, mau sampai kapan kamu jalan di tempat dan hanya mencintai diam-diam? Apa menunggu El didekati pria lain dulu baru bertindak?"
Lagi, Devan diam ke sekian kalinya dan kembali menatap lurus ke depan mempertimbangkan saran kakaknya yang ringan diucapkan, tapi amat sangat berat untuk dilakukan bagi dirinya.