"Devan, apa boleh aku turun tangan langsung membantumu?” usul Alvian saat Devan tidak membalas sarannya.
“Dengan?”
“Tiga bulan ke depan aku akan tinggal di rumah karena semua promosi novelku sudah selesai, aku akan mendekati El untuk memberi clue padanya tentang sosok pria yang sudah lama mencintai dirinya yang ternyata ada di dekatnya agar dia berhenti mencari jodoh dan tahu pria yang aku maksud itu adalah kamu.”
“Tidak, Kak, aku ingin El tahu dengan sendirinya dari segala sikapku bahwa aku sudah sejak lama mencintai dan ingin menikahinya,” tolak Devan karena tidak mau ada yang terlibat terlalu dalam pada percintaan ia dan Eliana.
Alvian menghela nafas berat karena geram sendiri dengan sikap adiknya yang meminta saran, tapi terlalu banyak pertimbangan di setiap usul yang ia berikan. “Dibantu tidak mau, bertindak sendiri tidak bisa, lalu mau sampai kapan kamu bisa membuat El jatuh cinta padamu? Mamah dan Papah sudah sangat ingin kamu menikah. Jangan sampai mereka menjebakmu menikah paksa dengan salah satu wanita yang sering mereka berikan fotonya padamu!” ucapnya geram.
“Itu tidak akan terjadi, Kak. Kalaupun sampai terjadi, tetap rumahku adalah El—pelacurku sejak dulu dan hanya bersama dia aku akan berkeluarga.”
“Kalau begitu cepat bertidak lebih berani. Tidak perlu terus berpikir El akan menganggap sikap beranimu sebagai pelecehan untuknya, takut dia tidak nyaman, khawatir ini dan itu, atau keraguanmu lainnya. Yang kamu dekati itu wanita dewasa, bukan gadis belia yang belum pernah mengenal cinta seorang pria. Dia pasti tahu batas sikap yang dianggap sebagai suatu pelecehan atau bukan. Apa kamu memang sengaja menunggu dia nyaman dengan sikap agresif pria lain?”
Alvian langsung beranjak dari duduknya lalu masuk ke dalam kamar untuk mengambil lima lembar foto yang sore tadi Herdi berikan lalu kembali menghampiri adiknya.
“Ini!” ujar Alvian sambil menunjukkan lebaran foto di genggamannya tepat di depan wajah Devan.
“Ini dari Papah?” tanya Devan tanpa mengambil satu pun foto yang Alvian tunjukkan.
“Iya, sore tadi Papah memberikannya padaku dan ingin kamu memilih salah satu dari gadis di foto ini, lalu minggu depan kalian sudah bisa berkencan.”
“Apa Papah tidak bosan menunjukkan foto-foto wanita padaku?” balas Devan sambil tersenyum kecut.
Alvian meletakkan lima lembar foto itu di meja dekat ponsel Devan, lalu duduk kembali di kursinya. “Karena kamu belum juga menikah dan tidak memilik pasangan pasti. Sejak kembali ke Indonesia, wanita yang kamu perjuangkan hanya El, bahkan kamu membantah apa pun aturan Papah—Mamah jika itu tentang El, tetapi kamu tidak juga menunjukkan bahwa kamu akan menikahi dia.”
“Mereka terlalu terburu-buru, Kak.”
“Bukan mereka yang terburu-buru, tapi kamu yang teralalu lamban bertindak. Usiamu sudah 29 tahun, tapi masih lajang. Dulu aku menikah di usia 25 tahun dan sebelum itu Papah—Mamah tidak pernah mendesakku untuk menikah.”
“Yang pentingkan aku sudah memiliki wanita yang ingin aku nikahi, bukan tidak ada incaran sama sekali.” Devan berusaha membela diri.
“Hanya ingin saja, tapi tidak kunjung menikah.”
“Kak Al cukup doakan saja.”
“Percuma aku terus berdoa jika kamu tidak berjuang.”
“Aku juga bingung, Kak." kali ini Devan berkata dengan nada lesu karena ia sendiri bingung berjuang seperti apa, sedangkan segala kebaikan dan perhatian sudah ia tunjukkan, meskipun berkedok kebaikan dan perhatian seorang bos.
“Kalau begitu biarkan aku membantu dengan mendekati El sekaligus membuat dia berhenti mencari jodoh.”
“Aku pikir-pikir lagi.”
Jawaban Devan membuat Alvian ingin bertindak sendiri dengan mendekati Eliana tanpa sepengetahuannya, meskipun ia tahu akan sulit karena ke mana pun Eliana pergi harus dengan izinnya, tapi ia akan pikirkan cara itu nanti, yang penting cinta adik pengecutnya ini berbalas dan bisa berjodoh dengan wanita yang entah mengapa bisa sangat istimewa di matanya.
“Kak Al, tadi Kakak bilang Kakak akan tiga bulan tinggal diri rumah karena promosi novel Kakak sudah selesai, tapi bulan lalu Kakak bilang akan pulang bulan depan, apa ada sesuatu yang mendadak?” tanya Devan guna mengalihakan pembicaraan.
“Dio sakit. Dia bilang sudah lama ingin bermain dan tidur bersama denganku, jadi aku memutuskan mengakhiri promo novelku berupa podcast atau meet & greet. Aku hanya melakukan promosi dengan iklan di media sosial dan website toko online-ku saja.”
“Dio sakit? Lalu bagaimana kabar Tio?” tanya Devan sambil menunjukkan wajah seriusnya tanpa menoleh karena cukup terkejut dengan kabar yang baru ia dengar.
“Tio sehat dan semakin aktif. Lima bulan tidak bertemu, ternyata dia sudah bisa berjalan dan siang tadi saat aku datang menjenguk Dio, dia takut padaku karena tidak mengenali ayahnya sendiri.”
Devan langsung menoleh menatap wajah Alvian yang ia tahu sedang menyembunyikan kesedihan. Ia sangat tahu kecintaan Alvian terhadap istri dan anak-anaknya yang terpaksa ditinggalkan karena campur tangan mertua yang terlalu mengatur rumah tangganya, sedangkan sang istri yang hanya anak semata wayang, tidak diizinkan tinggal jauh dari mereka, hingga keduanya sepakat mengakhiri pernikahan sepuluh bulan lalu, meskipun sudah hampir tujuh tahun hidup bersama dan masih saling mencintai.
“Apa Kak Al masih ada keinginan untuk rujuk?”
“Masih. Sampai kapan pun aku hanya menginginkan Niar, tapi aku tidak akan bisa kembali menjadi suaminya jika dia tetap memilih tinggal di rumah kedua orang tuanya.”
Seketika rasa iba hadir di hati Devan begitu mendengar jawaban kakaknya yang menunjukkan harapan, tapi terhalang syarat yang tidak bisa dituruti.
“Aku selalu mendoakan apa yang terbaik untuk kalian berdua, Kak.” Devan menepuk-nepuk bahu Alvian mencoba menguatkan. “Besok setelah pulang dari kantor, aku akan ke rumah Kak Niar untuk menjenguk Dio sekaligus melihat Tio.”
“Bersama El?”
“Tidak, aku ingin sendiri saja ke sana.”
“Jika tidak sedang bersamamu, El biasanya ke mana?”
“Diam di apartemen, main ke butiq Jordy, atau mungkin berkencan.”
Jawaban Devan barusan seperti memberi Alvian ide untuk memulai rencanannya membantu diam-diam. “Sepertinya aku harus menjadi salah satu teman kencan El, agar bisa dekat dan membantu Devan tanpa sepengetahuannya,” batin Alvian lalu bicara kembali. “Devan, apa sebelum berkencan El meminta izin juga denganmu?”
“Tentu saja. Dia tidak akan pergi jika tidak aku izinkan, dan aku pasti mengizinkan setiap dia meminta izin satu atau dua hari sebelum berkencan. Aku memberi izin bukan benar-benar membiarkan dia menemukan jodoh, tapi untuk melihat seperti apa teman kencannya, lalu setelah itu aku akan menyuruh dia pulang sebelum kencannya selesai. Bahkan semalam belum ada setengah jam kencannya berlangsung, aku sudah membawa dia pulang tanpa mempedulikan teman kencannya.”
Jawaban Devan seketika menghilangkan ide yang baru beberapa detik muncul di kepala Alvian. “Tidak! Menjadi teman kencan El bukan cara yang tepat mendekatinya, yang ada Devan akan salah paham jika tahu aku adalah teman kencan El saat dia mengawasi. Datang diam-diam ke apartemen El juga tidak mungkin, karena Devan tidak ada, El juga pasti tidak ada. Lalu aku harus mendekatinya dengan cara apa, sedangkan mereka bersama 24 jam?” batin Alvian.
“Kenapa diam, Kak?” tegur Devan yang melihat kakaknya tiba-tiba melamun.
“Memikirkan besok ke rumah Niar kita harus bersama atau masing-masing,” balas Alvian berbohong.
“Kakak mau ke sana juga?”
“Iya. Aku sudah berjanji menjemput Dio untuk menginap di sini selama seminggu.”
“Kalau begitu kita bersama saja ke sana, aku juga agak canggung jika ke sana sendiri.”
“Kalau canggung, kenapa tidak ajak El saja?” ledek Alvian, karena ia tahu Devan sangat mencegah kedekatan sekretarisnya itu dengan keluarga sendiri, bahkan dengan kakak iparnya.
Devan langsung menunjukkan wajah kesalnya mendengar pertanyaan Alvian karena ia yakin kakaknya tahu alasan ia menjauhkan Eliana dari semua anggota keluarga, termasuk kakak iparnya.
Tiba-tiba Devan melihat jam di pergelangan tangannya dan baru menyadari waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam lebih, sedangkan Eliana biasa tidur jam sembilan malam.
“Kak, aku pulang sekarang, aku harus menjemput El di butiq Jordy karena ini sudah lewat jam tidurnya."
"Aku pikir kamu akan tidur di rumah.”
“Aku takut El akan berkencan diam-diam jika aku menginap.” Devan menjawab sambil beranjak dari duduknya lalu mengambil ponsel yang ada di meja.
Alvian tersenyum kecut mendengar alasan Devan buru-buru pulang. Harus ia saluti, cara adiknya memberi perhatian pada wanita yang dicintai, melebihi perhatian ia pada istrinya. Hanya saja caranya menyapaikan perhatian terlalu biasa, bahkan tidak jarang mengatas namakan pekerjaan hingga tidak menunjukkan perhatian sebagai seorang pecinta sedikit pun.
“Aku pulang, Kak,” pamit Devan.
“Hati-hati,” balas Alvian sambil bersandar.
“Kakak tidak masuk ke kamar?”
“Tidak, aku masih ingin di sini.”
Devan tahu, kakanya itu pasti ingin melamun lama, entah memikirkan istrinya atau dua jagoannya. “Jangan terlalu lama melamun, mata Kakak juga butuh istirahat.”
Alvian hanya tersenyum getir menanggapi tebakan adiknya tanpa mengelak karena memang benar ia ingin melamun dan membayangkan wajah cantik istrinya yang baru siang tadi ia temui sekaligus ia cumbu untuk sama-sama melepas rindu.
“Aku pergi, Kak,” pamit Devan lagi yang kali ini sambil melangkah pergi.
“Hmm,” sahut Alvian tanpa menoleh.
•••••
Devan langsung menurunkan kaki begitu mobilnya tiba di pekarangan butiq sekaligus rumah Jordy. Tadinya ia tidak ingin turun dan menunggu Eliana di mobil saja, tetapi karena Eliana tidak juga mengangkat panggilan teleponnya sejak setengah jam lalu, jadi ia terpaksa harus ke dalam butik dan yakin sekretarisnya itu sudah tidur karena ini sudah pukul setengah sebelas malam. Sebab, jika belum tidur Eliana tidak pernah mengabaikan panggilan teleponnya meskipun sedang dalam mood yang tidak baik.
Saat Devan mendorong pintu kaca, ia hanya melihat jejeran manekin dan pulahan rol kain yang tertata rapi di sudut-sudut ruangan, sedangkan etalase kaca yang tingginya lebih dari dua meter menjadi sekat ruangan satu dengan ruangan lainnya.
“Di mana El?” gumam Devan sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan yang tampak sepi.
Mata Devan langsung tertuju pada ratusan anak tangga di tengah ruangan, karena ia tahu tempat tinggal semua penghuni di sini termasuk ART Jordy ada di lantai dua bangunan dan yakin Eliana ada di ruang atas.
“Semoga saja kamu tidak tidur bersama Jordy, El,” ujar Devan lalu melangkah menaiki tangga.
Devan mengedarkan pandangan lagi saat tidak juga menemukan adanya aktivitas di lantai dua. Ia kemudian melangkah menuju kamar yang pintunya tidak ditutup karena yakin Eliana ada di kamar yang ia tahu sebagai kamar Jordy.
Devan menarik nafas sedikit kesal begitu melihat posisi tidur Eliana yang terlalu intim dengan posisi miring dan satu kaki ada di pinggang Jordy yang tidur membelakanginya. Beruntung kedua tangan Eliana bersendekap di depan d**a, tidak ikut memeluk kepala Jordy yang ada di depan dadanya hingga membuat ia tidak terlalu cemburu.
“Sudah kubilang untuk menjaga batasan dengannya, kenapa malah tidur sedekat itu?” gumam Devan lalu mendekati tempat tidur.
Devan kembali menarik nafas saat melihat ponsel Eliana ada di dekat kakinya. “Pantas saja panggilan teleponku tidak dijawab,” ucapnya lalu tersenyum begitu melihat gaun yang Eliana pakai. Gaun yang tadi sempat membuat ia terpesona ketika melihat foto yang baru Eliana posting di akun media sosialnya.
“Kamu terlihat sangat tinggi dengan gaun ini, El. Aku harus membelinya untukmu,” ucap Devan sambil memperhatikan wajah pulas Eliana.
Devan membungkuk lalu mengambil ponsel Eliana dan memasukan ke saku celana, setelah itu menelusupkan kedua tangan di belakang lutut dan leher Eliana lalu menggendongnya, tapi malah membuat Jordy terbangun karena ada gerakan di pinggangnya saat kaki Eliana terangkat.
Jordy membuka mata dengan malas lalu menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang mengganggu tidurnya. “Pak Devan?” ucapnya lalu berubah tegang karena teringat ucapan Eliana tentang chat ia kirimkan semalam.
“Maaf, aku tidak bermaksud mengganggu tidurmu,” ucap Devan sambil mengangkat tubuh Eliana.
Jordy langsung beranjak duduk dengan sikap salah tingkah karena merasa tidak enak dengan ejekan yang ia kirimkan semalam. “Ti—tidak apa-apa, Pak Devan,” balasnya gugup.
“Kenapa terbata-bata? Apa bicara denganku sangat menegangkan?”
“Ti-tidak, Pak Devan. I—ini karena kesadaranku belum terkumpul saja.”
Devan mengangguk memaklumi, lalu kembali bertanya. “Di mana tas El?”
Karena rasa bersalah yang masih menggeluti hati Jordy, membuat ia seperti kebingungan ketika tiba-tiba harus berpikir di mana keberadaan tas Eliana, hingga ia menoleh ke kiri dan kanan seperti orang yang lupa akan tata letak barang-barangnya sendiri.
“Se—sepertinya tas Eliana di butiqku,” balas Jordy masih dengan gugup.
“Bisa bantu aku mencari tas El di bawah?”
“Iya, bisa.”
“Apa baju El juga ada di butiqmu?”
“Tidak, tadi dia menggatungnya di samping lemariku.”
“Kalau begitu tolong bawakan juga baju El dan taruh di atas perutnya.” Devan mengarahkan matanya ke bawah, tepat di atas perut El.
“Baiklah.” Jordy langsung melangkah menuju lemari yang ada di dekat jendela untuk mengambil kemeja dan rok yang sudah digantung lebih dari dua jam lalu kembali menghampiri Devan dan menaruh di tempat sesuai perintah.
“Apa saat El ganti baju kamu ada di ruangan yang sama?” selidik Devan.
“Tidak. El masuk ke kamar ini lebih dulu dan saat aku masuk dia sudah memakai gaunku yang lainnya,” balas Jordy berbohong, Nyatanya dari mulai membuka kancing kemeja sampai rok lepas dari kaki jenjang Eliana, ia berada di dekatnya hingga bisa melihat tanktop dan hot pants yang Eliana kenakan.
“Baguslah.” Devan langsung berjalan keluar kamar, lalu disusul Jordy di belakangnya.
Tidak hanya Jordy yang teringat akan chat semalam, Devan juga teringat chat Jordy yang memuji bokonya cukup vulgar, sampai ia mendadak berhenti melangkah saat akan menuruni tangga karena yakin Jordy sedang memperhatikan bokongnya hingga ia merasa risih sendiri.
Kerena Devan mendadak berhenti, Jordy tanpa sengaja menabrak punggung di depannya karena ia juga sedang berjalan menunduk. “Aww!!” pekiknya dengan suara gemulai.
Devan semakin yakin Jordy berjalan sambil menatap bokongnya setelah ditabrak. “Apa kamu ingin memelukku dari belakang?” tuduhnya sambil menoleh tanpa membalikkan badan.
Jordy langsung menggeleng cepat. “Tidak. Justru aku heran kenapa Pak Devan berhenti tiba-tiba?”
“Maaf, aku sedang sangat lelah, jadi aku tidak fokus berjalan. Kamu di depanku saja,” bohong Devan karena ia tidak mau Jordy tahu dirinya sedang risih.
Jordy langsung melangkah sesuai perintah dan berjalan lebih dulu menuruni puluhan anak tangga.
“Bisa-bisanya aku menjadi selera dia,” batin Devan saat kembali melangkah.
Jordy langsung mendekati manekin yang tadi sempat Eliana peluk ketika baru tiba di sini karena yakin tasnya ada di dekat-dekat patung itu.
“Jordy, itu tas El!” ujar Devan sambil sedikit mengankat dagunya begitu melihat lebih dulu di mana tas yang sangat ia kenali tergeletak di meja kecil dekat lemari kaca.
Jordy menoleh sesaat untuk melihat arah yang Devan tunjukkan dengan wajahnya, lalu berjalan ke tempat di mana tas itu berada dan memberikannya pada Devan.
“Terima kasih,” ucap Devan saat Jordy bemberikan tas Eliana dan meraihnya dengan jemari tangang kanan.
Jordy tersenyum ramah yang tetap bercampur rasa bersalah dan canggung karena chat semalam, meskipun Devan tidak membahas atau mengungkit.
“Jordy, aku suka gaun yang Eliana pakai ini. Aku ingin membeli untuknya. Kamu beritahu saja harganya lewat chat, nanti akan langsung aku transfer."
Senyum ramah Jordy bertambah lebar dan rasa bersalah yang sejak tadi ia rasakan hilang seketika saat satu karya yang baru selesai tiga hari lalu langsung terjual. Bahkan karena rasa senang itu, Jordy langsung menepuk-nepuk gemas pipi Devan, sampai lupa sedang berhadapan dengan pria yang kaku dan tidak mudah diajak bercanda.
“Terima kasih, Kelinci jantanku. Kamu memang bos yang royal,” ucapnya gemas tanpa berhenti menepuk-nepuk.
Devan langsung menoleh sambil menjauhkan wajahnya untuk menghindari tangan Jordy dan menunjukkan tatapan tidak suka dengan apa yang dia lakukan.
Melihat ekspresi Devan, Jordy langsung tersadar akan tindakannya hingga mulutnya langsung menganga antara takut dan panik. Meskipun ia tahu Devan tidak pernah marah, tapi tetap saja ia takut.
“Maafka aku, Pak Devan,” ucap Jordy.
“Tidak apa-apa, tapi aku tidak suka kamu seperti ini lagi.”
“Iya, Pak, aku tidak akan mengulangi lagi.”
“Ya sudah, aku permisi.” Devan langsung mengangkat kaki untuk berjalan, tetapi baru satu langkah ia kembali menatap Jordy. “Apa tadi El mengatakan pakaian yang aku pesan padamu?”
“Iya, Pak.”
“Sudah berapa persen proses pembuatannya?”
“70%, Pak.”
“Itu berarti bisa selesai tepat waktu?”
“Iya, Pak.”
“El menyuruhmu mengirim ke apartemen atau ke kantor?”
“El bilang dia yang ingin mengambilnya ke sini karena ingin makan bersamaku nanti.”
Devan mengerutkan kening sambil mengulang ingatannya dan yakin benar bahwa ia sudah memberi perintah agar menyuruh Jordy mengirimkan pakaian yang ia pesan ke alamat kantor atau apartemen.
“Kenapa El mengambil keputusan sendiri?” batin Devan lalu kembali bicara pada Jordy. “Aku permisi,” pamitnya kedua kali.
“Iya, Pak,” balas Jordy.
Jordy terus menatap punggung Devan sampai keluar dari butiqnya lalu berselebrasi untuk melanjutkan luapan kesenangan yang tertunda.
“Aaaaa … si rubah buruk rupa itu memang pembawa hoki untukku,” ujar Jordy kegirangan sambil bertepuk tangan sendiri. “Nanti saat mengambil baju pesanannya, aku akan mentraktir si rubah buruk rupa itu sampai dia tidak bisa jalan karena terlalu kenyang,” lanjutnya lagi tanpa berhenti tersenyum.
Jordy kemudian membalikkan badan lalu menaiki anak tangga menuju kamarnya diiringi perasaan senang.
••••••