Ingin Membuktikan

3618 Kata
Devan menekan handle pintu dengan ujung-ujung jemari karena ada kedua lutut Eliana di atas tangannya. “Sudah gelap. Apa Tante Nani sudah tidur?" gumam Devan keheranan begitu pintu terbuka. "Tidak biasanya Tante Nani tidur sebelum El pulang," lanjutnya. Devan menutup kembali pintu dengan kaki lalu melangkah menuju kamar Eliana dan kembali melakukan hal yang sama dengan pintu utama pada pintu kamar. Devan perlahan menurunkan tubuh Eliana ke tempat tidur lalu duduk di sampingnya karena ingin memandang wajah yang tidak pernah berani ia tatap penuh cinta jika sedang berhadapan langsung. Devan tersenyum melihat wajah pulas itu karena teringat ekspresi bingungnya di pertemuan pertama mereka setelah satu tahun lebih ia berkeliling mencari seorang Eliana yang hanya bermodalkan lesung pipi dan penampilan kumuh. Kala itu Devan sudah bersusah-payah mengejar metro mini yang membawa Eliana, tetapi ketika sudah duduk di dekatnya dan bertanya, “El, apa kamu ingat aku?” yang malah dijawab tatapan heran dan menggeleng sambil berkata, “Sepertinya kamu salah orang?” hingga membuat ia kecewa dengan pengorbanan diri sendiri selama ini yang mematikan hati dan membatasi pergaulan hanya demi memenuhi permintaan seorang Eliana yang dulu mengatakan, “Aku ingin menikah denganmu dan kamu harus mau menikah denganku. Jika tidak, aku tidak akan mau menjadi temanmu lagi.” Yang langsung ia jawab dengan patuh, “Iya, nanti aku pasti akan menikah denganmu.” Senyum Devan perlahan memudar mengingat lamanya waktu ia dan Eliana bersama dari awal menjadi partner kerja sampai detik ini tidak ada perubahan juga dalam hubungan mereka. “Sudah enam tahun kita bertemu kembali dan lima tahun kita selalu bersama, tapi kamu belum juga mengenali aku. Dulu aku pikir dalam hitungan bulan setelah bertemu kembali, kita akan langsung menikah, tapi ternyata sampai sekarang kita masih saja menjadi atasan dan bawahan. Itu pun tidak membuatmu cinta padaku, tapi malah ingin jauh dariku,” ucap Devan. Tangan kanan Devan membelai lembut pipi Eliana tepat di lesungnya sekaligus menyingkirkan beberapa helai rambut. “Entah di belaian ke berapa dari tanganku yang akan membuatmu sadar semua yang aku lakukan padamu itu karena cinta untukmu. Perhatian sekecil apa pun juga itu karena aku menyayangimu, dan semua laranganku karena aku tidak mau kamu menjadi milik orang lain. Aku tidak peduli sampai kapan aku bisa membuatmu mencintaiku dan tahu siapa aku. Yang penting hasil akhirnya kita tetap menikah sesuai janjiku dulu." Devan membungkuk mencium kening Eliana cukup lama karena ingin menikmati hal yang sampai saat ini belum bisa ia lakukan terang-terangan. Devan mengakhiri ciuman di kening Eliana setelah tiga menit, lalu kembali menatap wajah pulas itu dengan jarak dekat. “Aku mencintaimu dan sangat menginginkanmu, El," ucapnya. Puas mencium dan menatap, Devan beranjak bangun sambil merogoh saku celana lalu menaruh ponsel Eliana di atas nakas samping tempat tidur. “Selamat malam, pelacurku,” ucap Devan lalu melangkah pergi. ••••• “Hot chocolate untuk Ibu El yang senyumnya menyejukkan hatiku,” ucap Sukendar office boy yang akrab dipanggil Kendar, tapi semakin lama bekerja di kantor ini malah lebih sering dipanggil Ken saja. Eliana tersenyum melihat secangkir minuman coklat menjadi teman pertamanya memulai pekerjaan di pagi ini. “Terima kasih untuk segelas coklatnya, Ken,” balas Eliana sambil tersenyum lebar lalu menggeser vas bunga kecil di mejanya untuk tempat cangkir yang akan Ken letakan. Ken langsung memindahkan salah satu cangkir yang ia bawa ke meja Eliana. “Bagaimana kencan semalam?” tanyanya memulai obrolan. Eliana langsung memajukan bibir bawahnya guna menunjukkan jawaban tidak menyenangkan. “Kenapa? Apa pria itu tidak tampan? Bukankah pagi kemarin kamu bilang dari foto profilnya cukup menarik? Tidak mungkin dia menggunakan foto palsu, karena itu aplikasi resmi yang dilarang menggunakan foto palsu. Aku saja tidak pernah tertipu dari awal mencari teman kencan di aplikasi itu,” cecar Ken yang berpikir ekspresi Eliana karena tertipu wajah teman kencannya. “Memang siapa yang bilang teman kencanku tidak tampan?” elak Eliana. “Lalu untuk apa ekspresi jelekmu tadi?” “Itu karena lagi-lagi kencanku dikacaukan Pak Devan.” Ken langsung menunjukkan ekspresi terkejut sekaligus penasaran sampai ia menaruh nampan yang ia pegang ke meja Eliana karena ingin bertanya lebih lanjut, hingga lupa dengan segelas teh hijau di atas nampan harus diantarkan ke ruangan Devan saat ini juga. “Pak Devan kembali mengajakmu pulang saat kencan?” tanya Ken penuh selidik. “Hmm,” angguk El disertai bibir yang ia lengkungkan ke bawah untuk menunjukkan rasa jengkel. Ken mengerucutkan bibir karena penasaran dengan tindakan bos besar mereka yang lagi-lagi mengacaukan kencan sekretarisnya tanpa alasan jelas. Ken dan Eliana sudah berteman sejak tiga tahun lalu atau lebih tepatnya seminggu setelah Ken bekerja di kantor ini karena mendapat bagian bertugas di lantai yang Eliana tempati. Kala itu Eliana melihat Ken yang culun, norak, dan logat ngapak menunjukkan jelas dia adalah seorang pendatang baru di Jakarta. Kegugupan Ken ketika mengantarkan minuman ke ruangan Devan yang memang tidak banyak bicara hingga dikenal dingin oleh para bawahannya, membuat Ken sangat takut berhadapan karena khawatir membuat sedikit saja kesalahan akan langsung dipecat, sampai-sampai Eliana menjelaskan kepribadian bosnya yang tidak perlu ditakuti. Cara Eliana menjelaskan yang diselingi gurauan membuat Ken bisa relaks di hari pertama mereka saling kenal hingga pertemanan mereka terjalin sampai sekarang. Bahkan Ken adalah satu-satunya teman dekat Eliana setelah Jordy yang sering berkolaborasi membuat video dance atau lipsync di aplikasi musik terkenal. Saking dekatnya hubungan pertemanan mereka, Eliana pernah mendapatkan kemarahan dari seorang remaja karena berpikir ia adalah kekasih Ken. Ken adalah pria berusia 23 tahun. Ia menjadi penjajah wanita setelah menguasai pergaulan ibu kota. Wajah yang manis, bentuk tubuh tidak terlalu kurus juga tidak terlalu gemuk, kepribadian yang mudah bergaul, dan staylist-nya yang kini jauh dari kata culun apalagi kampungan, membuat ia mudah mendapatkan wanita yang diinginkan. Bahkan tiga tahun bekerja di kantor ini, sudah lebih dari tujuh wanita yang menjadi mantan kekasihnya. Dua di antaranya sekretaris komisaris dan manager keuangan yang keduanya sudah tidak bekerja lagi di kantor ini. Ide untuk mencari pasangan melalui aplikasi kencan yang Eliana lakukan juga atas rekomendasi Ken, karena dia juga sering mendapatkan kekasih dari aplikasi yang sama, hingga ia banyak tahu tentang kencan yang Eliana lakukan selain Jordy. Bahkan saat ini Ken memiliki empat tambatan hati yang satu di antaranya dari aplikasi, satu remaja SMA, satu seorang seles, dan satu lagi tetangga kosnya. “Untuk sementara jangan merekomendasikan aku teman kencan, Ken,” ucap Eliana. Belum hilang rasa penasaran Ken dengan tindakan Devan, kini ia dibuat penasaran dengan perkataan Eliana. “Kenapa? Apa kamu sudah tidak ingin kencan lagi?” “Tentu saja aku masih ingin berkencan, bahkan aku tetap pada targetku untuk menikah tahun depan." “Lalu kenapa tidak mau aku rekomendasikan teman kencan lagi?” “Semalam Pak Devan mengambil HP-ku. Dia membaca seluruh chat di WA juga di aplikasi kencan itu, lalu dia bilang semua pria yang akan aku kencani tidak terlalu dia suka, jadi dia menyuruh aku mencari pria lain.” “Menyuruh mencari pria lain atau itu cara halusnya melarangmu berkencan?” “Aku juga curiga seperti itu dari setiap larangan dia.” Ken membungkukkan badan untuk bicara lebih pelan dan lebih dekat agar tidak ada yang mendengar. Padahal karyawan yang lainnya juga sibuk dengan komputer masing-masing di kubikel yang tidak jauh dari mereka. “El, apa kamu tidak curiga dengan selera Pak Devan?” bisik Ken dengan wajah berhadapan. “Maksudmu selera?” Eliana balik bertanya keheranan. “Kamu bilang selama kenal dan menjadi bawahan Pak Devan, kamu belum pernah melihat dia berkencan dengan wanita atau menunjukkan ketertarikan pada lawan jenis. Apa kamu tidak berpikir bahwa sebenarnya selera Pak Devan bukanlah wanita.” “Maksudmu dia gay?” “Iya,” angguk Ken. Eliana mengalihkan tatapan ke arah lain sambil mencocokkan ucapan Ken dengan keseharian Devan yang memang tidak pernah sekali pun membicarakan wanita apalagi pernikahan. Yang ia tahu juga selama tinggal di London, bosnya itu selalu mengatakan tidak punya teman dekat pria ataupun wanita karena kepribadian yang lebih suka menyendiri dan tidak mudah bergaul. “Benar, enam tahun mengenal si perjaka tua itu, aku belum pernah sekali pun mendengar dia membicarakan wanita ataupun mantan kekasih. Tapi aku juga tidak pernah mendengar ketertarikan dia pada pria. Tidak mungkin si perjaka tua itu menyimpang,” batin Eliana lalu kembali mengalihkan tatapan pada Ken yang setia menatap. “Tapi dia juga tidak pernah dekat dengan pria mana pun,” elaknya. “Pak Devan tidak dekat dengan pria atau kamu tidak tahu dia tidak dekat pria?" “Tapi 24 jam dia selalu ada di depanku. Kalaupun dia dekat dengan seseorang pria atau wanita, aku pasti tahu.” “Apa dia tidak pernah pergi ke suatu tempat tanpamu?” Eliana kembali mengalihkan tatapan ke arah lain untuk mengingat kapan Devan pergi tanpanya. “Satu-satunya tempat yang tidak boleh dia datangi bersamaku hanya rumahnya. Apa mungkin semalam si perjaka tua itu berkencan dengan sesama jenis, bukan pulang ke rumahnya?” pikirnya. “Pernah tidak?” tanya Ken lagi hingga membuyarkan pikiran Eliana sampai kembali saling tatap. “Pernah.” “Kapan?” “Semalam.” “Memangnya dia bilang pergi ke mana semalam?” “Ke rumahnya.” Ken langsung menyipitkan mata untuk menunjukkan bahwa prasangkanya pada Devan benar adanya. “Kamu yakin dia ke rumahnya?” “Kalaupun benar dia bukan pulang ke rumahnya, tapi aku tidak yakin dia memiliki kekasih sesama jenis. Pak Devan itu tipe orang yang tidak aneh-aneh. Satu-satunya keanehan dia hanya terlalu mengurusi kencanku. Itu juga baru akhir-akhir ini, sebelumnya dia lurus-lurus saja.” “Justru itu, El. Dia terlalu mengurusi kencanmu karena dia tidak mau kamu memiliki pasangan sama seperti dia, agar tidak ada orang lain yang curiga kalau dia gay.” “Ck, prasangkamu sangat rancu, Ken.” Eliana mengibaskan tangan di depan wajah ia dan Ken lalu menegakkan duduknya. “Rancu apanya?” Ken kembali berdiri tegak. “El, ini Indonesia, dia mana cinta sesama jenis masih tabu. Mungkin di balik sikap tenang dan pendiam Pak Devan, ada hubungan yang tidak ingin semua tahu termasuk kamu sekretarisnya.” Satu sisi Eliana ingin membela bosnya karena yakin dia berselera normal dan menyukai wanita, tapi sisi lain ia merasa ucapan Ken benar adanya hingga ia hanya diam mempertimbangkan dan mengingat keseharian Devan yang memang belum pernah sekalipun membahas atau menunjukkan tanda-tanda ketertarikan pada wanita dari awal kenal sampai saat ini. “Begini, EL, coba sekali-sekali kamu pancing Pak Devan untuk mengetahui dia normal atau tidak.” “Caranya?” tanya Eliana penasaran. “Nanti saat berada di luar kantor kamu tunjukkan padanya wanita seksi atau cantik yang ada di dekat atau melewati kalian. Jika dia memberi respons layaknya pria yang tertarik pada wanita, itu berarti dia tidak menyimpang, tapi jika dia abai atau bahkan diam saja, itu berarti ucapanku benar.” Eliana kembali diam mempertimbangkan usul Ken yang memang tepat untuk membuktikan selera seorang pria. Ken memegang dan mengangkat nampannya karena ia merasa sudah cukup lama bicara dengan Eliana dan khawatir kena tegur Devan melalui telepon kabel yang ada di meja. “Saranku itu tidak usah dipertimbangkan, tapi dilakukan, El,” ucap Ken lalu berjalan menuju ruangan Devan, lalu masuk setelah mengetuk pintu. Eliana masih terdiam memikirkan saran Ken dengan tatapan ke pintu yang baru ditutup. “Pagi, Pak,” sapa Ken sambil membungkuk hormat begitu berada di depan meja Devan. Biasanya, ketika Ken mengantarkan makanan atau minuman, tatapan dan gerakan Devan tidak akan teralih padanya, termasuk tidak membalas sapaannya sedikit pun, bahkan ketika Ken menaruh minuman di dekat komputer sampai keluar ruangan dan mengucapkan kata permisi, Devan tetap pada kegiatannya. Namun, tidak dengan pagi ini yang tidak biasanya Devan memperhatikan Ken berjalan ke arahnya setelah menutup pintu lalu hati berkata, “Apa aku meminta diajari dia saja bagaimana cara memikat wanita?” Semalam, setelah mempertimbangkan perkataan Alvian, ia merasa memang dirinya harus bertindak sedikit agresif dan menonjol untuk menunjukkan cinta, namun tetap pada batasan, tidak norak atau memalukan. Ide untuk meminta bantuan pada Ken datang saat ia melihatnya mengobrol dengan Eliana tadi dan teringat peristiwa satu tahun lalu di mana Eliana yang sedang berjalan bersama keluar restoran setelah makan siang, tiba-tiba didatangi lima remaja berseragam SMA yang langsung memarahi hanya karena berpikir Eliana adalah kekasih Ken yang sudah menduakan cinta salah satu dari remaja-remaja itu. Waktu itu Eliana terlihat kesal karena malu dilihat beberapa orang yang datang dan keluar restoran, tapi karena mereka masih berstatus remaja, Eliana berusaha sabar dengan memberi penjelasan meskipun tidak mau didengar oleh satu wanita yang terus menuduh, sampai akhirnya Devan yang sudah duduk di dalam mobil terpaksa keluar untuk membela Eliana. Setelah berhasil melerai dan membela Eliana, Devan langsung menanyakan alasan para remaja itu tiba-tiba datang dan marah-marah, hingga ia dapat mengetahui seorang Ken adalah pria kampung yang hobi mengencani wanita dengan sangat mudah juga terbilang cepat berganti pasangan. Kini, Devan berharap bisa mendapat sedikit ilmu dari Ken untuk memikat satu wanita yang tidak juga paham akan segala cinta dan rasa sayang yang sudah ia berikan ribuan kali. Devan kembali menatap ke layar komputer yang sejak tadi bukan tentang pekerjaan, tapi ke beberapa situs google untuk mencari jurus jitu memikat wanita. Ia langsung menggerakkan kursor ke pojok kiri atas layar komputer untuk keluar dari situs yang menurutnya tidak memberi petunjuk apa pun. “Aku putuskan untuk berguru pria liar itu,” ucapnya saat menekan bagian kanan mouse. Devan menyandarkan punggung ke sandaran kursi lalu memandang Eliana yang sedang melamun menatap pintu ruangan. Ia tersenyum melihat wajah manis itu meskipun lesung pipi kanannya sedang tidak terlihat. “El, sebentar lagi kita akan saling mencintai, tanpa kamu tahu aku adalah si gendutmu,” batin Devan tanpa mengalihkan tatapan dari wajah Eliana. “Jika benar si perjaka tua itu gay, apa aku dan ibuku harus meninggalkan dia? Tapi nanti aku tinggal di pemukiman kumuh lagi, lalu ibu akan kembali pada pekerjaannya,” batin Eliana tanpa mengalihkan tatapan dari pintu ruangan Devan. ••••• Sepanjang hari ini pikiran Eliana terus terbagi dua, antara memikirkan ucapan Ken dan memikirkan pekerjaan sampai waktu pulang tiba. Bahkan, dari mulai mobil melaju keluar basemen kantor, hati Eliana sangat gelisah untuk memulai cara yang Ken beritahu pagi tadi. Ia bingung ingin membawa Devan ke tempat ramai, tapi takut dia tidak mau. Jika izin mengajak makan di kaki lima, sudah pasti ditolak. Tiba-tiba berhenti di depan rumah makan atau kedai, pasti akan aneh. Lalu jika mengajak makan di restoran, pasti wanitanya hanya sedikit dan tidak semua karakter ada. “Aku harus bagaimana ini? Jarak apartemen sudah semakin dekat, tapi ide ini malah buntu,” oceh Eliana pelan. “Awas, El!” teriak Devan saat ada seorang pengendara yang sedang putar balik di jalur dua arah, tapi Eliana tidak melambatkan laju mobil meskipun tatapan lurus ke depan. Eliana tersadar dari pikirannya dan langsung menginjak pedal das perlahan agar tidak berhenti mendadak yang akan membahayakan pengendara lain di belakang, hingga jaraknya dengan sepeda motor sedikit lagi. Devan langsung mencondongkan tubuh ke depan untuk melihat sekretaris yang tidak biasanya tidak fokus menyetir. “Kamu melamun, El?” “Tidak, Pak,” balas Eliana sambil tersenyum untuk menunjukkan ia sedang baik-baik saja. “Kamu sakit?” “Tidak juga, Pak.” “Lalu kenapa tidak fokus menyetir?” “Aku hanya ingin makan, Pak.” “Makan?” Devan menunjukkan tatapan heran mendengar jawaban Eliana yang menurutnya tidak berkaitan dengan pertanyaan, selain itu jam enam bukanlah waktu makan mereka. Eliana langsung menggigit bibir bawahnya karena menyesali jawaban yang ia lontarkan tanpa berpikir lagi. “Kamu lapar?” tanya Devan lagi saat melihat wajah bingung sekretarisnya. “I—ya, lapar.” Eliana menjawab gugup karena bingung sendiri antara menimpali jawaban sebelumnya atau jujur sudah asal menjawab. Tiiiiiiiit .... Teguran berupa klakson dari pengendara lain terpaksa menyudahi obrolan keduanya lalu Eliana kembali melajukan mobil. “Menepi ke sisi jalan, El!” perintah Devan saat mobil baru melaju kembali. “Baik, Pak.” Eliana langsung menyalakan lampu sein dan menepi perlahan. Begitu mobil berhenti, keduanya keluar bersamaan, tapi bukan untuk saling bicara apa lagi saling pandang, melainkan karena Eliana sudah biasa jika mobil berhenti harus membukakan pintu untuk Devan, sedangkan Devan keluar mobil karena ingin menggantikan Eliana menyetir. “Maaf, aku telat membuka pintu untuk Bapak,” ucap Eliana sambil menunduk hormat, meskipun ia merasa itu bukanlah salahnya, tapi salah Devan yang tidak sabar menunggu ia membuka pintu. Devan tersenyum agar Eliana tidak merasa bersalah. “Tidak apa-apa.” “Terima kasih, Pak.” “Biar aku saja yang menyetir.” “Kenapa, Pak? Apa Bapak Khawatir dengan keselamatan kita jika aku tetap menyetir? Aku janji tidak akan seperti tadi lagi. Aku akan fokus menyetir,” tolak Eliana panik karena berpikir Devan sedang marah. “Tidak,” balas Devan lembut. “Lalu kenapa ingin menyetir, Pak?” “Tadi kamu bilang kamu lapar. Aku yakin perutmu sudah sangat perih sampai mengganggu fokusmu, jadi kamu duduk di sampingku saja, biar aku yang menyetir.” “Tidak perlu, Pak. Aku masih bisa menyetir,” tolak Eliana lagi karena amat sangat jarang Devan menyetir di saat ia sedang baik-baik saja. Terkadang jika sedang dalam keadaan sakit pun, rasa tidak enak hati tetap ada karena merasa memperbudak seorang bos. Satu tangan Devan mengusap-usap puncak kepala Eliana. “Sudah, ya, biar aku saja yang menyetir. Aku akan putar balik untuk mencari restoran karena jika kita tetap lurus, sudah tidak ada restoran lagi. Kalaupun ada, itu sudah melewati apartem—” “Jangan restoran, Pak!” sela Eliana cepat, bahkan tidak sadar sudah memotong ucapan Devan. “Kenapa?” “Di sana wanitanya tidak banyak.” “Wanita?” pekik Devan heran. Eliana kembali menggigit bibir bawahnya karena memberi jawaban yang konyol dan membuat Devan bingung. “Jangan gigit bibirmu terus, nanti luka, El,” tegur Devan lembut sembari menahan tangan kanan untuk tidak menyentuh bibir Eliana agar tidak terkesan lancang. “Iya, Pak.” “Kalau begitu kita masuk sekarang. Ini sudah mulai gelap dan lalu lintas sedang padat.” Eliana tidak bisa menolak perintah Devan lagi karena memang benar jalan semakin ramai dan bising. Ia kemudian membuka pintu untuk Devan dan menutup kembali lalu berjalan mengitari mobil untuk duduk di jok samping kemudi. “Mau ke restoran apa?” tanya Devan sambil menginjak pedal gas. “Eee ....” Devan menoleh sesaat guna melihat Eliana yang bingung menentukan keinginannya sendiri. “Kenapa? Bingung mau makan di mana?” “Iya, Pak.” “Memangnya kamu sedang ingin makan apa?” “Eee ....” lagi Eliana bingung memberikan jawaban karena takut Devan akan menolak. “El, ada apa denganmu? Kenapa kamu seperti orang bingung?” “Sudah, Pak, kita pulang saja,” tolak Eliana karena mulutnya tidak terlalu berani mengatakan tempat yang ia inginkan. “Kenapa pulang? Aku sudah putar balik.” “Aku makan dengan ibu saja.” “Bukankah tadi kamu bilang lapar? Ibumu pasti sedang memasak sekarang, belum tentu sudah matang saat kamu tiba di apartemen.” Eliana menghela nafas berat karena merasa terjebak jawabannya sendiri. “El, ayo, berani meminta padanya agar kamu bisa membuktikan dia gay atau bukan,” batinnya menuntut diri sendiri. “Jadi kita ke mana sekarang?” tanya Devan lagi. “A—aku ingin seperti dulu, Pak.” Seketika perasaan Devan tegang bercampur senang. “Seperti dulu? Apa seperti dulu yang El maksud adalah hubungnya denganku? Apa dia sudah ingat aku?” batinnya lalu menoleh untuk menegaskan. “Kamu sudah ingat aku, El?” “Ingat?” tanya Eliana heran. “Ingat apa, Pak?” Dari jawaban Eliana, Devan langsung tahu wanitanya belum juga mengenali siapa dirinya, hingga ia yakin ingin seperti dulu yang dimaksud bukan tentang hubungan mereka dulu. “Maksudku kamu ingin seperti dulu yang bagaimana?” bohong Devan, guna mengalihkan ucapannya tadi yang pasti tidak Eliana pahami. “A—apa Bapak mau jika kita ma—makan di pedagang kaki lima pinggir jalan?” tanya Eliana takut-takut. “Makan di pinggir jalan?" "I—iya, Pak," balas Eliana semakin gugup karena berpikir Devan tidak akan setuju dengan permintaan itu. "Lalu apa sangkut-pautnya dengan masa dulu?” “Aku rindu makan di pinggir jalan dan tempat ramai, karena selama bekerja dengan Bapak, kita selalu makan di restoran, itu pun tidak pernah di restoran yang bertema lesehan karena Bapak selalu ingin makan di private room yang dikelilingi sofa.” “Jadi ternyata selama ini kamu tidak suka dengan pilihanku?” Eliana langsung mengibaskan seluruh jemari kedua tangannya di depan d**a diiring wajah tegang. “Bukan begitu maksudku, Pak,” elaknya cepat. “Lalu?” “Aku hanya rindu saja makan di tengah suasana ramai dan tidak ada maksud sedikit pun mengeluh apa lagi mempermasalahkan tempat makan pilihan Pak Devan, karena aku memang tidak bermasalah dengan itu.” Devan tersenyum melihat wajah tegang Eliana. “Ya sudah, kita cari kedai yang tidak terlalu ramai.” “Justru aku memilih makan di pinggir jalan karena ingin tempat yang ramai, tapi dia malah ingin tempat yang sepi. Kenapa dia harus menjadi orang yang anti sosial?” gerutu Eliana membatin. Devan melambatkan laju mobilnya agar Eliana bisa memilih tempat yang dia mau, tapi sesuai apa yang ia katakan. Sepuluh menit melaju, Eliana melihat penjual sate yang pembelinya sedang tidak terlalu ramai, tapi tempatnya banyak dilewati orang dan merasa tempat yang tepat untuk melihat berbagai jenis wanita yang melintas. “Pak, aku ingin makan sate di kedai itu!” ujar Eliana sambil menunjuk gerobak yang hampir dilewati. Devan melirik pedagang yang Eliana tunjuk, tetapi matanya langsung tertuju pada kepulan asap yang menyebar luas ke meja di belakang pedagang. “Asapnya banyak sekali, aku tidak suka tempat seperti itu. Kita cari tempat lain saja, ya?” “Iya, Pak,” Eliana membalas sambil menunjukkan senyum, tapi di hati sebal dengan penolakan Devan. “Padahal itu tempat strategis untuk membuktikan ketidaknormalanmu,” batinnya. Eliana kembali mengalihkan tatapannya ke sisi jalan untuk mencari tempat makan yang tidak hanya enak, tapi harus banyak yang melewati dan tidak banyak asap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN