Bertanya

2718 Kata
Enam menit kemudian Eliana melihat pedagang nasi goreng yang pembelinya tidak terlalu ramai dan posisinya tepat di pinggir jalan. “Pak, aku mau makan di sana!” ujar Eliana sambil menunjuk tempat yang akan ia lewati. Devan kembali melihat apa yang sekretarisnya tunjuk. Tetapi kali ini matanya langsung tertuju pada cahaya lampu yang terlalu terang karena digantung tepat di atas meja untuk para pembeli menikmati makanan. “Terang sekali tempatnya. Kenapa lampunya digantung sedekat itu dengan meja? Aku tidak terlalu suka tempat seterang itu, El. Cari tempat makan yang lain saja, ya.” tolak Devan lagi. Eliana tentu tidak bisa membantah perintah bosnya, apa lagi memaksa untuk mau makan di tempat yang ia inginkan. Jadi, ia menerima dengan senyum, tapi hati menggerutu. “Lagi-lagi dia menolak,” batin Eliana. Eliana kembali memperhatikan semua pedagang yang ia lewati dan kembali menunjuk tempat yang ingin ia singgahi. Namun, lima kali menunjuk, lima kali juga Devan menolak dengan alasan gerobaknya terlalu kumuh, lampunya terlalu remang-remang, meja untuk makannya terlalu kecil dan takut akan bersentuhan dengan pembeli lain, hingga alasan pembeli yang ada jumlahnya ganjil sedangkan ia ingin yang genap sampai Eliana kesal, tapi tidak bisa menunjukkan kekesalannya. “Sudah, Pak, kita makan di apartemen saja. Ibu juga pasti sudah selesai memasak sekarang,” ucap Eliana yang kesal selalu mendapat penolakan. “Kita maju satu kilo meter lagi, ya. Mungkin di sana ada tempat makan sesuai keinginanmu.” “Baik, Pak,” balas Eliana di mulut, tapi di hati ia berkata, “Bukan mencari tempat yang aku inginkan, tapi kamu inginkan.” Meskipun Eliana mengerti semua alasan yang Devan berikan karena kepribadiannya yang bersih, introvert, dan tidak suka keramaian, tapi tetap saja ia kesal karena sudah susah payah mencari tempat malah ditolak. “El, mau roti bakar?” tanya Devan tiba-tiba di saat Eliana sudah enggan memilih lagi. “Mau, Pak,” balas Eliana dengan tetap menunjukkan senyum patuh. “Kalau begitu kita makan di situ, ya.” “Iya, Pak.” Eliana tidak menoleh sedikit pun tempat yang Devan tunjuk dengan dagunya karena menurutnya menoleh atau tidak ia tidak akan bisa menolak apa yang Devan katakan. Begitu mobil berhenti, Eliana turun secepatnya karena harus membukakan pintu untuk Devan. “Silakan, Pak,” ujar Eliana ketika membuka pintu lalu melihat Devan sedang membuka jas dan dasinya. “Taruh di belakang, El,” perintah Devan sambil menyerahkan jas dan dasinya. Eliana menanggapi dengan patuh lalu menaruh pakaian bosnya sesuai perintah, kemudian kembali memegang pintu mobil agar Devan bisa keluar dengan leluasa tanpa harus memegang apa pun. “Mari, Pak!” Eliana mengulurkan tangan kanannya ke arah belakang agar Devan berjalan lebih dulu. “Iya.” Begitu Eliana membalikkan badan, ia baru melihat ternyata tempat yang Devan pilih bertema lesehan dengan empat tikar kecil yang sudah digelar di atas rerumputan dan belum ada satu pun pembeli yang menempati. “Ternyata tempat seperti ini yang si perjaka tua ini mau,” batin Eliana sambil tersenyum karena ia juga suka dengan suasana makan seperti ini, meskipun tempatnya agak jauh dari jalan. Saat sudah mendekati tikar yang akan mereka duduki, Eliana meminta Devan untuk tidak langsung duduk karena ia baru menyadari tidak membawa tasnya. “Tunggu, Pak. Jangan duduk dulu!” Eliana langsung berlari ke mobil untuk mengambil beberapa lembar tisu di dashboard lalu kembali menghampiri Devan. “Aku bersihkan dulu meja dan tikarnya, Pak,” ucap Eliana sambil melepas sepatu pantofel-nya. “Hmm.” Devan balas dengan anggukkan. Eliana langsung berlutut membelakangi Devan dan memilih membersihkan tikar yang akan Devan duduki baru membersihkan meja. “Silakan duduk, Pak,” tawar Eliana. Devan langsung membuka sepatunya lalu duduk bersila di depan Eliana yang tampak sumringah. Eliana melihat selembar kertas yang sudah dilaminating bertuliskan daftar menu dan harga dari setiap jenis roti dengan toping yang berbeda-beda. “Pak Devan mau roti bakar dengan toping apa?” tanya Eliana sambil menyodorkan daftar menu yang ia pegang. “Aku tidak ingin makan apa-apa, kamu saja yang pesan,” balas Devan. “Kenapa tidak memesan apa-apa, Pak?” “El, bukankah tadi aku bilang alasannya, aku tidak ingin makan.” “Maaf, maaf, Pak. Aku tidak fokus dengan ucapan Bapak.” “Tidak apa-apa.” “El bodoh, sudah tahu si perjaka tua ini tidak akan mau memakan makanan di pinggir jalan, kenapa malah ditawari?” gerutu Eliana. Eliana kemudian mengangkat tangan kanannya sambil berteriak memanggil penjual roti yang sepertinya memang sedang menunggu dipanggil, hingga ia bisa langsung dilayani. Devan yang matanya sejak tadi menatap meja, tiba-tiba tegang sendiri ketika Eliana meletakkan tangan berdekatan dengan tangannya, karena ia teringat ucapan Alvian untuk berani mesra dengan memegang tangan Eliana lebih dulu. “Apa aku harus memegang tangannya?” batin Devan dengan denyut jantung yang berdetak lebih cepat dari sebelumnya karena tiba-tiba merasa keberaniannya sedang diuji. Mendadak jemari Devan kaku untuk digerakkan, padahal jarak jemarinya dengan jemari Eliana hanya lima centi. “Devan, cepat pegang tangannya,” batin Devan saat menatap jemarinya yang serasa sulit digerakkan. Sebenarnya jemari Devan tidak kaku sedikit pun, nyali dan rasa malunya lah yang membuat seperti kelimanya sulit digerakkan. “Jika tidak bisa menggenggam semuanya, sentuh tangan itu sedikit saja. Paling tidak dengan jari tengahmu,” batin Devan lagi dengan terus memperhatikan jemarinya sendiri yang hanya bergerak seperti laba-laba berjalan di atas meja. “Sedikit lagi, Devan,” ujar Devan lagi saat jarak jemarinya dengan jemari Eliana semakin berkurang. Namun, tiba-tiba .... “Pak, menurut Bapak wanita itu cantik tidak?” tanya Eliana sambil menunjuk ke sisi kanan. “Aaah, sedikit lagi, El,” protes Devan membatin hingga tidak fokus dengan ucapan Eliana. “Dia hanya menunduk? Apa dia tidak tertarik dengan wanita?” pikir Eliana saat melihat Devan hanya diam menatap tangannya. “Kamu hanya baru sekali bertanya, El, jangan mengambil kesimpulan dulu,” batinnya lagi lalu kembali mengulang pertanyaan dengan objek yang sama. “Pak Devan, menurut Bapak wanita yang duduk di atas motor itu cantik tidak?” Devan langsung menoleh ke arah yang Eliana tunjuk lalu melihat seorang wanita sedang duduk di atas motor dan bercermin di kaca spion sambil memainkan rambutnya. Devan kembali menoleh menatap Eliana. “Semua wanita memang cantik dan semua pria tampan. Benar, ‘kan?” Eliana langsung mengangguk diiringi senyum aneh, karena cantik yang ia maksud bukan tentang gender, tapi rupa. “Iya, Pak Devan benar,” balas Eliana tanpa berani protes atau menunjukkan maksud hatinya. Legi, Devan fokus pada tangan Eliana yang kembali diletakkan di meja. “Ayo, gerak cepat, Devan,” batinnya menyemangati diri sendiri. Kali ini Devan melebarkan telapak tangannya lalu langsung menubruk tangan Eliana dengan maksud tidak mau berpikir panjang lagi yang berujung keraguan atau kegagalan seperti tadi. “Aku bisa!” ujar Devan saat jemari Eliana sudah ada di genggamannya diiringi senyum layaknya sang juara yang baru saja menang. Eliana tentu heran dengan sikap Devan yang tiba-tiba menubruk tangannya seperti menangkap anak itik yang akan kabur. “Kenapa memegang tanganku seperti itu, Pak?” selidik Eliana penasaran. Senyum Devan seketika hilang begitu mendengar pertanyaan Eliana hingga ia mengedipkan mata beberapa kali. "Benar, menggenggam tangan seperti ini tidak akan membuat Eliana tahu aku menyukai dia," batinnya lalu memikirkan jawaban yang masuk akal. “Tadi ada lalat di punggung tanganmu, El,” bohongnya saat ide sederhana melintas di kepala. “Lalat?” pekik Eliana heran. “Iya, lalat.” Eliana hanya mengangguk tanpa berani mengatakan keheranan. “Mana mungkin ada lalat malam hari?” batinnya. Devan langsung mengangkat tangannya dari tangan Eliana karena takut dia berpikir aneh. “Bodoh, kenapa jawab lalat? Kenapa tidak jawab saja ingin menggenggam tangannya? Kamu pengecut sekali, Devan,” gerutu Devan. Perhatian Eliana teralih pada dua wanita yang baru duduk di tikar yang bersebelahan dengan dirinya dan kembali berpikir untuk menanyakan pendapat Devan. “Pak, coba lihat wanita itu! Apa menurut Pak Devan mereka menarik?” Eliana menunjuk hanya dengan jari telunjuknya tanpa mengangkat tangan, karena takut disadari dua wanita itu. Devan kembali mengarahkan wajah pada wanita yang Eliana maksud dan melihat satu di antaranya sedang membuka blazer yang dia kenakan, sedangkan satunya lagi memanggil penjual roti yang sedang membuat pesannya, setelah kembali menatap Eliana saat merasa dua wanita yang Eliana tunjukkan biasa saja. “Menarik itu masalah selera. Pria atau wanita akan terlihat menarik jika sesuai selera si pemandang, tapi akan terlihat biasa saja bagi yang tidak berselera memandang, meskipun penampilannya sangat sempurna.” “Iya, Pak Devan benar,” balas Eliana yang kurang puas dengan jawaban Devan karena bermakna luas hingga ia belum bisa menyimpulkan Devan gay atau tidak. “Jawabannya ambigu sekali,” protesnya membatin. “Dan bagiku hanya kamu satu-satunya wanita yang paling menarik dan sempurna di dunia ini sejak pertama kali kita berteman sampai saat ini, bahkan sampai kita menua bersama nanti,” batin Devan tepat saat Eliana membalas ucapannya hingga ia tidak terlalu fokus pada jawaban Eliana. Eliana mengedarkan pandangannya untuk mencari wanita yang ingin ia tunjukkan pada Devan. “Pak, bagaimana dengan wanita itu. Apa menurut Pak Devan dia seksi dan menggoda?” Eliana menunjuk wanita yang sedang melintas dengan panjang celana dan sweater yang dia kenakan sama-sama sebatas paha. Lagi, Devan menoleh ke arah yang Eliana tunjuk dan hanya melihat beberapa detik lalu kembali menatap Eliana. “Wanita seksi dan menggoda itu hanya anggapan dari pria penikmat tubuh yang dipamerkan oleh wanita yang bangga akan tubuhnya dan tidak semua pria suka hal itu termasuk aku.” Jawaban Devan kali ini mengingatkan Eliana pada larangan Devan saat ia masih tinggal di pemukiman pelacuran dulu. Waktu itu kali kedua Devan datang ke rumah semi-permanennya tanpa memberitahu terlebih dahulu dan ia hanya mengenakan jeans pants sebatas b****g dan tanktop bra. Saat itu meskipun hubungan mereka belum terlalu akrab, Devan langsung memberi larangan pada dirinya untuk tidak memakai pakaian seksi saat menerima tamu walaupun hanya di dalam rumah. Bahkan larangan itu berlaku hingga saat ini, yang akan langsung menyuruh menutupi pakaian terbukanya saat dia datang ke apartemen. “Aku baru sadar, si perjaka tua ini tidak suka wanita berpakaian seksi. Jika jiwa kelelakiannya normal, seharusnya dia suka dengan wanita seksi dan akan tergoda melihat bagi-bagian tubuh wanita yang menggairahkan, bukan malah enggan melihat. Apa itu berarti dia memang gay?” pikir Eliana. “Kamulah wanita paling seksi dan menggoda di mataku hingga aku sendiri tidak tahan jika melihatmu sedikit saja berpakaian terbuka dan tidak rela jika ada pria lain yang menatap bagian tubuh yang seharusnya kamu tutupi,” batin Devan saat melihat Eliana diam. “El, satu pertanyaan lagi, jika dia masih saja abai atau memberi jawaban ambigu, itu berarti dia memang gay,” batin Eliana lalu kembali mengedarkan padangan hingga tidak menyadari Devan menatapnya sambil tersenyum. Eliana melihat wanita yang mengenakan celana jeans sebatas betis, blouse berwarna biru silver dan wajah yang di make-up natural, turun dari mobilnya lalu berhenti menghampiri penjual roti. Menurut Eliana, wanita itu terlihat elegant dengan rambut panjangnya tergerai bebas dan style menunjukkan seorang wanita karir berkelas, tapi mau menikmati jajanan pinggir jalan hingga ia yakin untuk menjadikan wanita itu bahan pertanyaan untuk Devan. “Pak, menurut Pak Devan, wanita itu bagaimana? Apa dia terlihat elegan dan mempesona?” Devan menoleh ke belakang dengan perasaan yakin siapa pun yang Eliana tunjukkan tidak akan ada yang lebih menarik, lebih cantik, dan lebih baik dari dirinya. “Aku tidak bisa menilai seorang wanita elegant atau tidak hanya dengan melihat beberapa detik karena menurutku elegant itu ada pada kepribadian bukan penampilan.” Jawaban Devan kembali membuat Eliana bingung untuk menangkis ucapannya. Tetapi kali ini pikirannya sudah tidak tahu harus menunjukkan tipe wanita yang bagaimana lagi, sedangkan ia belum mendapat kepastian apakah bosnya itu gay atau tidak hingga ia berpikir untuk bertanya tentang pria. Eliana langsung mengajukan pertanyaan begitu melihat seorang pria mengenakan kemeja berwarna merah maroon dengan tas ransel di belakangnya. “Pak, menurut Bapak, bagaimana pria yang sedang berjalan itu?” Tapi kali ini Devan tidak menoleh lagi karena ada rasa cemburu dan tidak mau memberi pendapat apa pun karena tidak mau ada pria yang lebih baik selain dirinya di mata Eliana meskipun ia tidak tahu bagaimana pria yang Eliana maksud. “Kenapa meminta aku menilai seorang pria? Apa kamu ingin menjadikan dia teman kencanmu?” tanya Devan. “Itu bukan untukku, Pak, tapi untuk Bapak,” elak Eliana cepat sampai-sampai ia mengeluarkan isi pikirannya tanpa berpikir lagi. Devan langsung mengerutkan kening heran dengan maksud Eliana. “Untukku?” “Bukan, bukan! maksudku ....” Eliana menggantung ucapannya karena bingung harus mengalihkan jawabannya ke arah mana. “Apa semua pertanyaanmu tentang wanita ada maksudnya?” Eliana menggeleng cepat agar tidak terlihat berbohong dan tidak mungkin ia mengatakan ingin mengetahui Devan gay atau tidak. “Tidak, Pak, tadi aku hanya bertanya saja. Tidak ada maksud apa-apa.” “Tidak biasanya kamu meminta penilaian aku tentang orang lain.” “Benarkah?” Eliana bingung menutupi kebohongannya hingga ia malah balik bertanya. Devan kembali mengerutkan kening yang kali ini keheranan pada sikap Eliana persis seperti orang panik. “El, kenapa kamu seperti orang bingung?” “Iya, kenapa aku seperti orang bingung. Mungkin ini karena aku sudah sangat lapar, Pak, jadi aku seperti ini.” Eliana menunjukkan senyum yang terlihat jelas sangat dipaksakan. Devan tersenyum melihat senyum Eliana. “Aku baru tahu pelacurku seaneh ini saat lapar.” “Maafkan aku atas sikapku ini, Pak. Aku janji tidak akan aneh seperti ini lagi.” “Untuk hal ini kamu tidak perlu meminta maaf karena sikapmu saat ini bukanlah kesalahan, tapi justru pengingat untukku agar aku memperhatikan waktu makan sekretarisku di luar jam makan biasanya dan mulai besok sebelum kita pulang, kamu harus memerintahkan teman OB-mu itu untuk menyediakan camilan agar bisa mengganjal perutmu sampai waktu makan malam tiba.” “Terima kasih untuk kebaikan Pak Devan, tapi aku rasa itu tidak perlu karena belum tentu setiap kita pulang aku merasakan lapar.” “Kamu menolak aturanku, El?” Devan mengangkat satu alisnya untuk menunjukkan protes pada penolakan Eliana. “Tidak, Pak.” Eliana langsung mengangguk patuh. “Baiklah, mulai besok pagi aku akan menyuruh Ken untuk membawakan camilan ke mejaku sebelum pulang.” Devan tersenyum melihat kepatuhan sekretaris sekaligus cintanya. Eliana menghela nafas berat sebagai protes pada keadaan yang jauh dari harapan dan tidak tahu harus ia layangkan pada siapa protes itu. “Aku belum tahu si perjaka tua ini gay atau bukan, malah ada aturan baru darinya,” gerutunya sebal sendiri. Namun, rasa sebalnya itu berganti senyum di menit berikutnya saat satu porsi roti bakar berisikan pisang yang disirami s**u coklat lalu ditaburi ribuan butir seres di atasnya hingga membuat senyum lebar terbit di wajah manisnya dan sudah tidak sabar ingin langsung menyantap. Devan ikut tersenyum saat melihat lesung pipi kanan Eliana terlihat jelas. “Sejak dulu lesung pipimu selalu membuat aku gemas ingin mencium pipimu kuat-kuat, El” batinnya penuh kekaguman. “Ini, roti bakar pisang spesial dan mocca latte,-nya” ucap si penjual saat menaruh piring besar dan gelas yang dibawa ke tengah meja. Eliana terlalu senang akan menikmati makanan yang sangat menggoda di matanya hingga ia bertepuk tangan kecil tanpa berhenti tersenyum. “Roti ini kelihatan enak sekali,” ujarnya pada si penjual, persis seperti anak kecil yang kegirangan diberi mainan. “Selamat menikmati,” balas si penjual lalu kembali ke gerobak aluminiumnya. “Terima kasih,” balas Eliana ceria. Devan langsung menegur sikap Eliana yang menurutnya kekanak-kanakan dan menghilangkan sisi keanggunan seorang sekretaris. “El, jaga sikapmu. Tidak perlu kekanak-kanakan seperti itu hanya karena menerima seporsi roti bakar.” Eliana langsung menghilangkan senyum cerianya sambil merapikan rambut yang tidak berantakan dan menegakkan duduknya. “Maafkan sikap kekanak-kanakanku, Pak. Lain kali aku akan lebih menjaga sikapku di mana pun.” “Hmm,” Devan menunjukkan senyum manisnya lalu tangan kanan mengusap-usap puncak kepala Eliana. “Sudah, nikmati roti bakarmu sekarang.” “Iya, Pak.” Eliana langsung mengambil potongan roti yang tidak terlalu besar karena ia pasti akan kena tegur lagi jika membuka mulut terlalu lebar saat makan. “Suasana makan di pinggir jalan paling buruk adalah makan dengan si perjaka tua ini karena harus selalu menjaga sikap dan menunjukkan kesempurnaan. Semoga lain waktu aku bisa makan di tempat ini bersama Jordy atau Ibu agar bisa benar-benar menikmati suasana di sini,” batinnya menggerutu sedangkan mulut tetap mengunyah penuh keanggunan. Devan memilih mengambil ponsel di saku celananya, karena tidak mungkin ia terus menatap Eliana yang sedang makan secara langsung dan memilih menatap wanitanya melalui media sosial yang suaranya ia bisukan karena tidak mau ketahuan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN