“Jika menyiksa diriku sendiri seperti ini bisa membuatmu tetap bersamaku, aku tidak masalah harus menderita lebih dari ini pun,” gumam Devan sembari menghela nafas beratnya. Tepat pukul sebelas malam tadi, Devan memesan aneka seafood bercangkang yang ia sendiri tahu tubuhnya alergi dengan makanan itu dan akan tersiksa dengan nafas yang terasa berat dihela. Namun, ia tidak peduli itu, karena yang ada di pikirannya hanya Eliana meninggalkan Reino lalu datang dan mengurusnya. Devan meletakkan ponsel di nakas lalu menarik nafas ke sekian kali sambil mengangkat tangan kanan untuk melihat sudah seberapa parah ruam di kulitnya. “Aku akan tetap diam di sini tanpa mencari pertolongan ke mana pun, El,” gumam Devan lalu menurunkan tangan kembali. Devan kemudian memejamkan mata dan bertahan semam

