Tiba-tiba wajah Jody berubah serius saat ingin mengatakan apa yang ada di pikirannya. “El, bagaimana jika ternyata kamu berjodoh dengan Pak Al dan menjadi Kakak ipar Si Pinggul seksi itu? Apa yang akan kamu lakukan padanya? Apa kamu akan menjadi Kakak ipar yang baik atau balik mengekang dia dan memberi banyak aturan padanya?”
“Jika menjadi Kakak ipar Si Perjaka tua itu, aku akan meminta Pak Al mencarikan jodoh untuknya berupa wanita yang cerewet dan hobi jalan-jalan ke mana pun agar sifat kaku dan introvert-nya hilang. Lalu wanita itu harus memberi ribuan aturan padanya agar dia merasakan apa yang selama ini aku rasakan.” Eliana bicara dengan ekpresi kesal bercampur gemas.
“Idemu bagus juga. Lalu setelah menikah dengan Pak Al, apa kamu akan tetap menjadi sekretaris Si Pinggul seksi itu?”
“Tentu saja tidak. Setelah menjadi istri Pak Al, aku akan ikut dia tinggal di mana pun. Aku juga akan selalu mendampingi dia promosi novelnya ke mana pun dan harus ada di setiap podcast novelnya, karena aku adalah istri setia yang selalu mendampingi suami.”
Tiba-tiba Jordy mengedipkan matanya beberapa kali saat teringat sesuatu. “El, bicara tentang istri, kenapa Pak Al bercerai dengan istrinya, ya?”
Kini ekspresi Eliana berubah sedih sambil mengerucutkan bibirnya. “Jangan tanyakan itu padaku, bukankah kamu tahu, Pak Devan sangat membatasi kedekatanku dan merahasiakan kabar keluarganya dariku, tentang apa pun itu. Bahkan enam tahun menjadi sekretarisnya, aku hanya satu kali melihat istri Pak Al, itu pun saat menjenguk di rumah sakit ketika dia melahirkan anak keduanya satu setengah tahun lalu. Aku tahu kabar percerian Pak Al saja darimu.”
“Benar juga.”
“Jordy, daripada kita terus membahas Pak Al, lebih baik kita bahas kebodohamu semalam.” Eliana menunjuk-nunjuk kening Jordy untuk menujukkan kekesalan atas semua ungkapan dan julukan yang Jordy katakan semalam.
Jordy langsung memasang wajah herannya. “Kebodohanku? Kebodohan apa, El?”
"Apa kamu tahu dengan siapa kamu berbalas chat semalam?”
“Tentu saja denganmu, bukankah kamu yang membalasnya?”
“Bukan denganku, tapi kamu berbalas chat dengan Si Perjaka tua itu, dan semua ejekamu terutama tentang kesendiriannya dibaca langsung oleh orang yang kamu ejek.”
“Bagaiman bisa, El? Jelas-jelas kamu yang membalas chat-ku semalam.”
“Jelas-jelas apanya? Memangnya kamu melihat aku yang mengetik balasan itu? Semalam setelah Si Perjaka tua itu mengacaukan kencanku, dia meminta ponselku dan baru mengembalikannya tadi pagi.”
Kedua tangan Jordy langsung menutup mulutnya yang menganga terkejut. “OMG, bagaimana ini, El? Semalam aku mengatai dia dan erea makam sama saja, sama-sama sunyi dan sepi.”
“Tidak hanya itu, kamu juga bilang dia seperti kelinci jantan dalam kandang, indah tapi tidak bisa disentuh dan dimiliki siapa pun,” timpal El.
“Kamu benar, El," balas Jordy semakin ketakutan.
“Tidak perlu panik Jordy-ku, semalam kamu tidak hanya mengejek, tapi juga memujinya dengan kata-kata vulgar. Kamu memuji dadanya yang bidang, perut sixpack yang menggoda pandanganmu, juga bokongnya yang katamu bilang sangat cocok untuk diremas jika sedang beradegan ranjang dengannya,” hibur El, sarkas.
“Aku mengatakan itu karena semalam dia bertanya, dari sekian julukan yang aku berikan pasti ada yang menarik darinya. Aku pikir itu kamu yang bertanya, makannya aku keluarkan semua yang ada di otakku.”
“Seharusnya, dari pertanyaan itu kamu tahu itu bukan aku. Aku mana mungkin menanyakan kelebihan fisiknya. Karena di mataku dia tidak menarik sama sekali dan tidak mungkin aku cari sisi menarikknya. Kalaupun ada yang aku pandang sempurna darinya, itu hanya sifat sabarnya yang tidak pernah marah sekali pun, juga semua kebaikan pada aku dan ibuku, selebihnya dia itu menyebalkan dengan segala aturannya.”
“Semalam aku juga sempat curiga dengan pertanyaan itu, tapi tetap saja aku balas karena berpikir kamu putus asa tidak mendapat jodoh, jadi ingin berpindah haluan dan mencari kelebihannya.”
“Mana mungkin aku seperti itu,” elak Eliana sambil menoyor kening Jordy.
Jordy kembali mengedipkan matanya beberapa kali saat ada yang tiba-tiba ia ia ingat. “Tunggu, El, jika semalam Si Pinggul seksi itu yang mengirim chat, itu berarti dia juga yang bertanya?”
“Bertanya?” tanya Eliana dengan tatapan heran.
“Hmm.”
“Bertanya apa?”
“Dia bertanya, menurutmu apa yang harus Si Perjaka tua itu lakukan agar bisa menjadi orang yang aku cintai selain memberi kebebasan padaku?”
“Dia bertanya seperti itu?”
“Iya, dia bertanya seperti itu yang aku pikir memang kamu yang bertanya.”
“Benarkah?” Eliana langsung merogoh tasnya, mengambil ponsel untuk membaca chat yang Jordy maksud sambil men-scroll kembali isi chat di aplikasi ponselnya. “Tidak ada pertanyaan seperti itu.” Eliana menunjukkan layar ponselya pada Jordy.
“Ish … aku anggap ini cara halusmu menuduhku berbohong.” Jordy melangkah ke meja dekat jendela untuk mengambil ponselnya lalu sambil berjalan ia masuk ke aplikasi chat-nya untuk menunjukkan pertanyaan yang tadi ia katakan dan langsung menunjukkan layar ponselnya. “Sekarang percaya padaku!”
Eliana menajamkan penglihatannya untuk membaca detail isi chat yang Jordy tunjukkan. “Untuk apa dia bertanya seperti itu?”
Jordy diam sesaat, memikirkan jawaban dari pertanyaan Eliana. “Apa itu berarti dia ingin menjadi pria yang kamu cintai, El?” balasnya dengan balik bertanya.
“Tidak mungkin, Jordy. Kepribadianku dan dia sangat bertolak belakang. Aku orang yang ekstrovert dan humble, sedangkan dia introvert, tertutup, dan amat sangat kaku, mana mungkin ada kecocokan di antara kami?”
“Ck, kamu harus fokus pada pertanyaanya, Bodoh! Dia bertanya apa yang harus dilakukan untuk menjadi pria yang kamu cintai, itu berarti kemungkinan besar dia akan merubah kepribadiannya demi mendapat cintamu.”
Eliana mendengus mendengar ucapan Jordy sekaligus mengingat sikap kaku dan posessif Devan yang sudah sejak awal saling kenal tidak berubah sedikit pun sampai detik ini. Terlebih lagi sejak ia menyepakati perjanjian menjual kebebasannya, yang semakin membuat Devan sangat posesif pada kehidupannya.
Eliana memeluk manekin yang ada di samping Jordy sambil menunjukkan wajah sedih yang dibuat-buat. “Jordy, kamu bicara begitu seperti tidak tahu saja bagaimana sifatnya selama aku bekerja padanya.”
“Benar juga,” gumam Jordy.
Jordy ikut pura-pura sedih dengan memeluk manekin dari belakang Eliana sebagai tanda ikut prihatin dengan nasib percintaan dan kebebasan sahabatnya itu.
“Kamu ikut sedih, Jor?” tanya Eliana dengan nada sedih yang dibuat-buat.
“Tentu, kamu itu sahabatku, kamu bersedih, aku juga bersedih.” Jordy juga menjawab dengan nada sedih yang dibuat-buat. Bahkan ekspresi wajahnya melebihi orang yang sedih sungguhan.
“Apa kamu ingin menghiburku, Jordy?”
“Tentu saja.”
“Kalau begitu traktir aku makan sekarang, kebetulan aku juga belum makan malam.”
“Aku tidak bisa pergi ke mana pun, pekerjaanku masih banyak.”
Eliana langsung menoleh ke belakang dan menghilangkan wajah sedihnya seketika, tanpa melepas pelukan pada manekin. “Memangnya siapa yang menyuruhmu pergi? Kita bisa pesan makanan melalui aplikasi dan makan berdua di sini. Para pegawai dan modelmu sudah pulang, ‘kan?”
“Aku ingin membuat pola dress party pesanan Nyonya Jesica yang akan dia pakai tiga minggu lagi.”
Eliana baru melepas pelukannya pada manekin lalu membalikkan badan menghadap Jordy. “Itu masih lama, Jordy, sedangkan sekarang lambungku menganggur karena tidak ada makanan yang harus dicerna.”
Jordy langsung mencibikkan satu sudut bibirnya. “Ish … dasar Rubah buruk rupa, pintar sekali alasanmu!” celetuknya sambil menoyor kening Eliana yang malah dibalas senyum lebar oleh pemilik kening.
Jordy kembali melihat layar ponselnya untuk ke aplikasi khusus pesan—antar makanan hingga Eliana langsung memeluk sahabat gemulainya itu.
“Jordy aku menyayangimu,” ucap Eliana kegirangan lalu mencium pipi Jordy kuat-kuat.
Jordy berusaha menjauhkan wajah dari Eliana karena rasa sakit di pipinya. “El, menjauhlah, kenapa mencium aku sekuat ini?!” protesnya.
Eliana melepas ciumannya lalu menyatukan pipi mereka untuk menunjukkan kegemasannya. “Karena aku sangat, sangat menyayangimu.”
Jordy tersenyum lalu membalas pelukan Eliana. “Aku juga menyayangimu.”
Setelah itu, Jordy mengajak Eliana ke kamarnya sambil menunggu datangnya makanan yang ia pesan.
Selama di kamar, Jordy menyuruh Eliana memakai beberapa gaun rancangannya untuk ia upload di media sosialnya, hal yang biasa mereka lakukan saat sedang berdua. Baru setelah itu keduanya becanda ria dengan membahas segala kekonyolan apa pun, membuat video dengang backsound Bollywood yang diupload ke aplikasi berbagi video masing-masing, juga meng-upload kedekatan mereka di akun media sosial milik Eliana.