Datang ke Butik Jordy

1205 Kata
Devan kembali melihat Eliana yang masih sibuk dengan layar komputernya. “El, Andai aku tidak punya rahasia, aku pasti akan mengajakmu setiap kali aku pulang ke rumah," ujarnya lalu melirik layar ponsel lagi untuk membalas pesan singkat dari ibunya. Devan: Baiklah, aku akan pulang nanti malam. Kemudian Devan menekan salah satu tombol telepon kabel yang ada di mejanya untuk memanggil Eliana melalui intercom. “El, ke ruanganku sekarang!” perintahnya. Eliana langsung beranjak dari duduknya untuk segera masuk ke ruangan dan mata Devan tidak sedikit pun beralih sampai Eliana berdiri tegak di depannya. “Ada apa, Pak?” tanya Eliana. “Pulang nanti aku tidak bisa langsung ke apartemen, Mamah menyuruhku pulang. Selama aku tidak ada, kamu tidak boleh pergi ke mana pun dan harus tetap diam di kamarmu. Saat pulang nanti aku akan langsung memeriksa kamarmu sebelum memasuki unitku, agar aku percaya kamu tidak pergi ke mana-mana." Mendengar aturan Devan yang terlalu posesif, bukannya kesal, Eliana malah tersenyum karena bosnya itu akan pergi ke rumah orang tuanya. Kegiatan biasa dan sangat normal bagi orang lain, tapi begitu menggembirakan bagi dirinya. Karena ia tahu, Devan tidak akan pernah mengajak ke rumah orang tuanya. Setidaknya ia akan memiliki kebebasan meskipun hanya beberapa jam. “Aku harus beritahu Jordy kabar gembira ini agar aku bisa menemuinya,” batin Eliana, kegirangan. “Kenapa tersenyum?” tanya Devan. “Eee ... pulang nanti, apa aku boleh datang ke butik Jordy, Pak?” tanya Eliana ragu-ragu. “Kamu ingin ke sana?” “Iya, Pak.” “Baiklah, aku akan mengantarmu ke sana setelah itu baru aku pulang ke rumahku.” Eliana langsung menggeleng karena tidak mau merepotkan Devan. “Tidak perlu, Pak. Bapak tidak perlu mengantarku. Aku pergi sendiri saja dan Bapak bisa langsung pulang ke rumah sana.” “Kamu mengaturku, El?” tanya Devan dengan tatapan serius. Eliana menggeleng lebih cepat dari sebelumnya. “Tidak, Pak, bukan begitu maksudku. Ak—“ “Aku akan mengantarmu ke butik Jordy dan jangan pulang sebelum aku jemput!" perintah Devan, tegas. “Baik, Pak,” jawab El, lesu. “El, aku tidak suka penolakanmu barusan. Ingat! Setiap apa pun yang aku lakukan untukmu, aku bukan sedang menawarkan diri dan tidak membutuhkan izin ataupun persetujuanmu.” “Maafkan kelancanganku, Pak,” “Aku maafkan dan aku harap ini yang terakhir. Aku merasa tiga bulan ini kamu mulai banyak protes dan menolak aturan yang sudah enam tahun aku lakukan.” “Karena aku baru sadar, aku butuh pendamping dan tidak bisa hidup sendiri!” gerutu Eliana, membatin. “Maafkan sikapku, Pak.” “Ya sudah, lanjutkan pekerjaanmu.” “Baik, Pak, aku permisi.” “Hmm.” Setelah menutup pintu ruangan, Eliana ingin sekali meluapkan kekesalannya dengan berjalan sambil menghentakkan kaki menuju meja kerjanya, tapi ia sadar gerak-geriknya selalu dalam pantauan Devan di balik kaca one way. Bahkan, untuk menunjukkan wajah cemberut pun, Eliana tidak bisa karena Devan pasti akan langsung menegur melalui intercom jika menurutnya ekspresi wajah Eliana menunjukkan kekesalan atau tidak enak dilihat. Eliana menghela nafas dalam-dalam sebelum duduk untuk mengatur ekspresi wajah agar ketika menghadap ruangan Devan, ia sudah bisa menunjukkan wajah santainya. “Ingat El, hidupmu sudah dibeli oleh Si Perjaka tua dan kaku itu, jadi kamu harus selalu menunjukkan topeng ceriamu." Eliana berusaha menyemangati diri sendiri. •••• Saat ini Eliana sedang mengendarai mobil BMW dengan tipe SUV berwarna merah milik Devan menuju ke butik Jordy. Di belakangnya ada Devan sedang duduk bersandar sambil memejamkan mata, melepas lelah setelah bekerja seharian karena pekerjaan hari ini cukup menguras otaknya. “Bapak terlihat lelah sekali, apa Bapak yakin ingin tetap mengantarkan aku?” tanya Eliana sambil melihat Devan melalui kaca spion. “Hmm,” balas Devan tanpa membuka matanya. “Atau lebih baik aku pulang saja dan Bapak bisa langsung menuju ke rumah,” tawar El “Kamu mengaturku lagi, El!” “Maaf atas kelancanganku, Pak, aku hanya tidak tega melihat Bapak sangat kelelahan.” “Abaikan saja.” Eliana mengangkat kedua bahunya dan berusaha tidak memperdulikan orang yang tidak mau dipedulikan. “Dia memang bayi besar menyebalkan!” umpat Eliana. Dua puluh menit kemudian, Eliana menghentikan mobilnya di depan bangunan bernuansa klasik modern dengan semua bagian depan berdiri kaca tebal untuk memperlihatkan ratusan hasil imajinasi yang dijadikan nyata oleh Si Pemilik bangunan. Eliana secepatnya keluar dari mobil untuk membuka pintu belakang karena Devan akan pindah tempat. “Ingat! Jangan pulang sebelum aku jemput,” ujar Devan saat sudah berhadapan dengan Eliana. “Baik, Pak, aku akan menunggu kedatangan Bapak nanti.” “Ingatkan Jordy tentang pakaian untuk kita menghadiri pesta Pak Lee Minggu depan.” “Baik, Pak, nanti akan aku tanyakan lagi padanya.” “Dan satu lagi, jaga batasan kedekatanmu dengan Jordy. Biarpun dia pria gemulai, tetap saja hakikatnya dia itu pria dan kamu wanita. Aku tidak suka melihatmu terlalu dekat dengannya!” “Baik, Pak, aku akan batasi mulai sekarang,” ucap Eliana yang hanya di bibir saja, tapi di hati ia tidak berniat sedikit pun membatasi diri dari teman uniknya itu. “Jika kamu pergi ke mana pun dengan Jordy, beritahu aku. Dan jika nanti kamu ingin memposting fotomu di akun media sosial dengannya, jangan memakai filter apa pun, kendalikan senyummu, dan tidak perlu memakai make-up lagi hanya untuk foto atau video.” “Baik, Pak,” jawab Eliana sedikit geram dengan peraturan yang Devan berikan. Kemudian Devan mengangkat satu tangannya untuk mengacak-acak rambut Eliana. Tindakan sangat mesra baginya, tapi Eliana hanya menganggap hal sepele yang tidak berarti apa-apa. “Aku pergi," pamit Devan dengan senyum manisnya. Eliana membungkuk hormat sebagai respon untuk ucapan Devan dan mempersilahkan dia ke kursi kemudi. Setelah mobil Devan melaju, Eliana langsung berlari menuju pintu masuk butik dan memberi kejutan pada Jordy akan kedatangannya. Begitu melihat Jordy sedang merapikan tatanan busana di salah satu manekin, Eliana mempercepat larinya dan langsung melingkarkan kedua tangan di leher Jordy dari belakang. “Aku datang Jordy ...,” sapa Eliana. Jordy langsung berbalik dan menoyor kepala Eliana. “Kamu mengagetkan aku, Rubah buruk rupa!” protesnya. Eliana memegangi kepalanya sambil tersenyum. “Maaf, aku terlalu merindukanmu, sampai aku tidak bisa menyapamu pelan-pelan.” Jordy balas tersenyum lalu mencubit kedua pipi Eliana dengan gemas. “Aku juga merindukanmu. Ke mana saja kamu dua bulan ini? Apa kamu terlalu sibuk mencari jodoh sampai tidak sempat datang ke butikku, bahkan memesan dan meminjam baju hanya melalui telepon.” “Bukankah sudah aku bilang, tiga bulan ini Si Perjaka tua itu semakin mengekangku dan cukup sulit meminta izin darinya.” Jordy langsung menunjukkan wajah herannya. “Kenapa dia tidak segera menikah saja, agar mengurangi aturan ketatnya padamu?” “Mana ada wanita yang mau dengan seorang introvert, kaku, dan banyak aturan seperti dia.” “Benar juga. Kenapa Si Pinggul seksi itu harus merusak ketampanan dengan sifat kakunya? Kenapa dia tidak seperti Al—Si Tampan lembut yang banyak digandrungi banyak wanita termasuk aku,” ucap Jordy dengan binar kekaguman dan wajah gemas sampai lupa dengan jenis kelaminnya sendiri. “Aku juga menyesal, kenapa aku tidak menjadi asisten penulis saja, agar aku selalu mendengar kata-kata manis dari Pak Al? Kenapa aku malah menjadi sekretaris dari pria kaku itu?” timpal Eliana dengan mata tak kalah berbinar saat membayangkan wajah tampan kakak dari bosnya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN