“Kamu tidak perlu meminta maaf, akulah yang salah karena pagi ini aku bangun pukul enam lebih sebelas menit, empat puluh lima detik. Bukan pukul enam tepat seperti biasa, jadi akulah yang seharusnya minta maaf.”
Eliana hanya menunduk hormat dan tidak berani menyahut ataupun membela diri. Ia mengerti benar maksud perkataan Devan yang menyebutkan detail waktu keterlambatannya.
Devan beranjak dari duduknya lalu mendekati Eliana untuk memberikan ponselnya.
“Ada empat rekanku sesama CEO yang berbalas chat dengan denganmu di luar konteks pekerjaan, beberapa hari terakhir. Dua di antaranya berusia 30 tahun dan 32 tahun. Keduanya lebih tua dariku dan belum pernah menikah. Image keduanya terhadap wanita juga cukup buruk. Satu lagi, Daniel berusia 28 tahun yang baru saja bercerai karena ketahuan selingkuh dan kita kenal mantan istrinya. Aku mau kamu jauhi mereka secara pribadi karena ketiganya buruk di mataku. Lalu untuk Arya—CEO Mandiri Utama, dia dikenal baik, sopan, dan mapan. Kamu juga harus jauhi dia, karena aku tidak mau jodohmu setara denganku.”
Eliana menghela nafas berat mendengar perintah yang tidak ingin ia lakukan, tapi harus dijalani. “Baik, Pak,” balasnya.
“Di aplikasi pencarian jodoh, aku temukan satu dokter dan dua karyawan swasta akan melakukan pertemuan denganmu dalam kurun waktu dua Minggu ke depan. Aku tidak terlalu suka dengan wajah Si Dokter itu, karena menurutku dia terlihat seperti pria temperamen. Lalu dua karyawan swasta itu, menurutku mereka terlalu sederhana dan tidak mungkin bisa menjamin kehidupanmu di masa depan. Aku tidak mau setelah kamu menikah nanti hidupmu dan Ibumu akan kembali susah, sedangkan aku sudah memberi kemewahan untuk kalian. Jadi batalkan kencan dengan ketiga orang itu dan cari pria yang lebih mapan!”
“Baik, Pak,” jawab Eliana sambil mengepalkan kedua tangannya yang berada di depan paha guna menahan amarah di dalam hatinya. “Apa yang dia mau sebenarnya? Ini tidak boleh itu juga tidak boleh!"
“Aku mau mandi sekarang dan siapkan pakaianku dengan warna pastel," perintah Devan lalu berbalik meninggalkan Eliana.
Eliana kembali menghela nafas antara kesal dan lega. Kesal karena aturan yang Devan ucapkan barusan dan lega karena sepertinya dia tidak membaca chat terakhir ia dan Jordy yang hampir semua isinya berupa umpatan tentang dirinya.
“Aku harus segera menghapus chat itu sebelum dia membacanya!”
Eliana langsung masuk ke aplikasi ponselnya untuk menghilangkan jejak yang mungkin akan membuat Devan tersinggung. Namun, begitu melihat beberapa chat terakhir Jordy empat jam lalu, jantung Eliana berdetak lebih kencang, karena dirinya terakhir memegang ponsel enam jam lalu. Itu menandakan Devan berbalas chat dengan Jordy berpura-pura menjadi dirinya dan dipastikan sudah membaca chat sebelumnya.
“Jordy bodoh, kenapa malah ikut mengatainya?! Harusnya kamu bisa bedakan gaya bahasaku dan bahasa Si Perjaka tua itu!” umpat Eliana setelah membaca chat yang Devan kirim pada Jordy seolah dirinya yang mengirim pesan dengan mengatai diri sendiri lebih dulu. “Tamatlah riwayatmu sebagai desainer kepercayaannya, Jordy!”
Setelah itu Eliana melangkah dengan lesu menuju walk in closet untuk menyiapkan pakaian, dasi, dan sepatu yang akan Devan pakai hari ini.
Begitu Devan selesai mandi, Eliana langsung menuju meja makan untuk sarapan bersama. Hanya berdua saja, karena ibunya pasti sudah kembali ke unitnya.
Sejak awal makan, Eliana lebih banyak menunduk karena merasa tidak enak hati pada Devan perihal chat yang terang-terangan mengatai, bahkan menghina fisiknya yang sempurna di mata orang lain.
Ingin minta maaf, tapi tidak berani. Tidak minta maaf, pasti terkesan tidak menyesali. Mungkin jika Devan tidak membaca, dia tidak akan sebingung ini dan pasti akan bersikap biasa.
Untuk sedikit mengurangi kebingungannya, Eliana meminum segelas air yang ada di dekatnya, padahal ia baru makan beberapa suap.
“Kenapa terlihat gelisah?” tanya Devan tiba-tiba.
Preeeefftt ...
Eliana kaget dengan pertanyaan Devan dan langsung menyemburkan air yang ada di mulutnya ke wajah Devan.
Sontak Eliana langsung bangun dari duduknya, menghampiri Devan yang hanya bisa memejamkan mata karena banyaknya air yang ia semburkan.
“Maafkan aku, Pak,” ucap Eliana seraya mengambil tisu yang ada di meja untuk membersihkan wajah Devan.
Devan kesal dan langsung bangkit dari duduknya meninggalkan Eliana beserta beberapa lembar tisu di tangannya.
“El, apa yang kamu lakukan?!” gerutu Eliana tanpa berani mengikuti Devan.
“Cepat carikan baju ganti untukku, El!” perintah Devan sambil terus berjalan.
“Baik, Pak!”
Nilai plus yang ada pada Devan sejak enam tahun lalu dan tidak berubah menyebalkan hingga detik ini, hanya emosinya saja. Sebesar apa pun kesalahan yang Eliana lakukan, Devan tidak pernah marah apa lagi membentak, tetapi dia punya cara tersendiri untuk menyampaikan berupa sindiran ataupun ucapan bernada tegas.
••••
Saat ini Devan sedang memandang wajah sekretaris cantiknya dari dalam ruangan. Sekretaris yang ia patenkan sebagai wanitanya yang hanya lulusan SMA dan anak angkat dari seorang wanita panggilan.
Sejak pertama menjadikan Eliana sebagai sekretaris, dari mulai dia magang On Job Training hingga menjadi sekretaris berpengalaman seperti sekarang, dan sudah tiga kali berpindah ruangan, Devan selalu menempatkan Eliana tepat di depan ruangannya yang selalu menggunakan kaca one way di bagian pintu dan jendela, agar bisa puas melihat Eliana setiap menit dari dalam tanpa diketahui siapa pun termasuk Eliana sendiri.
Karena bagi Devan, di saat lelah mendera tubuh dan pikirannya, hanya wajah cantik Eliana lah yang menjadi penyemangat sekaligus obat baginya.
Mata Devan menatap Eliana, tapi pikirannya tertuju pada curahan kekesalan Eliana dengan Jordy atas tindakannya yang mengacaukan kencan ke-dua yang dia lakukan tiga Minggu lalu.
Dalam chat itu Eliana, mengatainya sebagai pengacau, pria munafik, perusak, susah melihat dirinya senang, pria tidak laku, bayi besar menyebalkan, dan umpatan lainnya.
Devan tidak masalah dengan segala umpatan itu, karena ia mengerti kekesalan Eliana atas tindakannya, tapi panggilan yang Eliana berikan sedikit membuatnya kesal.
Dalam chat itu Eliana tidak memanggil dirinya dengan pak ataupun namanya, melainkan perjaka tua, julukan yang belum seharusnya ia dapatkan.
“Aku belum menikah sampai saat ini karena menunggumu mengenaliku. Jika sejak pertama kali kita bertemu kamu mengenaliku, aku pasti sudah menikah sejak enam tahun lalu dan mungkin sekarang kita sudah memiliki dua anak,” ujar Devan.
Devan menyunggingkan sudut bibirnya saat teringat panggilan yang satu tahun terakhir ini ia gunakan jika sedang berdua atau lebih tepatnya saat pertama kali Eliana meminta izin agar diberikan waktu untuk berkencan. Panggilan yang dulu menjadi cita-cita Eliana karena berpikir menjadi wanita panggilan adalah pekerjaan yang sangat mulia hingga dirinya juga sempat berpikir seperti itu.
“Sudah satu tahun terakhir ini aku memanggilmu pelacurku. Aku pikir kamu bisa langsung mengingat siapa aku, tapi ternyata tidak. Bahkan enam tahun kebersamaan kita tidak juga membuatmu mengenali aku. Aku tidak mungkin mengatakan siapa aku sebenarnya jika kamu belum bisa jatuh cinta padaku dengan sendirinya, tapi melihat tiga bulan ini kamu sangat ingin memiliki pasangan, aku mulai gelisah dan bingung apa yang harus aku lakukan untuk mengingatkanmu tentang siapa aku?”
Tatapan Devan terganggu saat mendengar dering ponsel tanda pesan masuk yang ada di mejanya.
Mamah: Mamah ingin kamu pulang nanti malam. Alvian baru saja datang dari Surabaya dan ingin makan malam denganmu.
“Kak Al pulang? Bukankah dia seharusnya pulang bulan depan? Minggu lalu dia bilang masih banyak podcast yang harus dia lakukan untuk promosi novelnya, tapi kenapa mendadak pulang?” ujar Devan keheranan.