“Depan, kenapa El marah-marah? Apa dia tidak minta izin untuk kencannya malam ini?” tanya Nani yang sedang menunggu Devan.
Nani tahu betul bahwa seluruh kegiatan anaknya harus mendapat izin dari Devan karena saat bos anaknya itu menawarkan kesepakatan, ia tidak beda jauh bahagianya dengan Eliana, Bahkan ia membujuk Eliana agar memilih uang daripada cinta seorang pemuda yang saat itu sedang menjalin hubungan serius dengan anak angkatnya itu.
“Heeeh ....” Devan menghela nafas berat sebelum menjawab. Ia bukan kesal karena pertanyaan Nani, tapi karena namanya menjadi nama tempat jika keluar dari mulut ibu dari anak buahnya itu. Padahal sudah enam tahu saling mengenal, tapi tetap saja tidak bisa membedakan huruf P dan V.
“El hanya sedang stres dengan pekerjaan yang satu Minggu ini benar-benar padat, Tante. Mungkin weekend ini aku akan mengajak dia sedikit bersantai.”
“Jangan, Depan! El sudah biasa stres karena pekerjaan. Jika El diberi waktu bersantai, nanti dia jadi pemalas. El juga pasti tidak akan mau bersantai karena dia sangat terobsesi gaji besar,” balas Nani.
Devan hanya tersenyum menanggapi jawaban Nani dan sudah biasa mendengar seberapa materialistis ibu dan anak yang kehidupan sudah ia jamin sepenuhnya sejak lima tahun lalu ini. Bahkan berkat dirinya, Nani bisa berhenti dari pekerjaannya sebagai wanita panggilan dan bisa hidup layak di apartemen mewah yang mereka tempati saat ini.
“Tante, aku sudah sangat lelah dan ingin ke unitku sekarang. Aku permisi,” pamit Devan.
“Iya, Nak Depan. Selamat beristirahat,” balas Nani.
Devan langsung melangkah keluar menuju unitnya yang hanya berjarak lima belas langkah di depan unit apartemen Eliana.
Di dalam kamar ...
Setelah Devan pergi, Eliana langsung menutup pintu dan mengunci sesuai perintah Devan tadi.
“Aduh ... bagaimana ini?! Pak Devan membawa ponselku, chat aku dan Jordy belum aku hapus. Semoga saja dia tidak membacanya!” oceh Eliana sambil melangkah kembali ke tempat tidur dengan hentakan kaki yang terdengar jelas.
Eliana tengkurap sambil memeluk bantal yang tadi ia pukuli. Pikirannya langsung tertuju pada kesepakatan yang Devan tawarkan dulu dan disetujui dengan senang hati oleh ia dan ibunya karena berpikir hidup hanya tentang uang dan kemewahan, bahkan ia merelakan hati yang saat itu sedang mencintai dan dicintai, hingga akhirnya ia tidak memiliki kebebasan dan privacy lagi bagi Devan.
Satu-satunya privacy yang tidak bisa dicampuri oleh Devan hanya pakaian dalam, selebihnya Devan berhak ikut campur, mengatur dan tahu-menahu semua tentang dirinya, termasuk bebas memeriksa ponselnya setiap detik. Bahkan, untuk ekspresi wajahnya pun, Devan berhak mengatur.
Selama lima tahun terus mengabdi 24 jam penuh, sebelumnya tidak menjadi masalah dan Eliana sangat nyaman bekerja pada Devan. Namun, sejak satu tahun terakhir ini, dirinya merasa butuh seorang pendamping untuk bersandar dan berkeluh kesah tentang semua yang ia rasa.
Satu tahun lalu Eliana memberanikan diri minta diberikan waktu untuk mencari jodoh dengan berkencan. Awalnya Devan tidak setuju dan menolak dengan tegas, malah sejak saat itu Devan sering memanggil dirinya dengan sebutan pelacurku.
“Pak, mulai besok malam bisakah aku memiliki waktu untuk berkencan dengan seseorang di luar jam kerja kantor?” pinta Eliana yang tengah mengendarai mobil menuju apartemen setelah mereka pulang dari kantor.
Devan yang sedang memainkan ponselnya di jok belakang, langsung menghentikan gerakan jarinya. “Kenapa tiba-tiba ingin berkencan?” tanyanya.
“Hanya ingin merasakan rasanya memiliki pasangan, karena aku sudah lama tidak memiliki kekasih, Pak.”
Devan menyunggingkan sudut bibirnya mendengar alasan Eliana. “Ternyata pelacurku sudah ingin memiliki pasangan."
Mendapat panggilan seperti itu, Eliana hanya bisa menghela nafas menahan kesabaran dan berpikir Devan sedang mengingatkan posisi siapa ia dan ibunya
“Bagaimana, Pak, apa Bapak mengizinkan?”
“Tidak! Jika kamu memiliki pasangan, kerjamu akan berantakan dan waktumu untuk bekerja denganku akan terbagi dengan kekasihmu.”
Mendapatkan penolakan seperti itu Eliana tidak putus asa dan terus membujuk Devan dengan gigih hingga akhirnya tiga bulan lalu Devan memberi izin.
Namun, entah apa tujuan Devan memberi izin, jika hanya untuk mengacaukan setiap kencannya. Kencan pertama, tiga bulan lalu. Waktu itu Devan datang dengan langsung menarik tangannya dan pergi saat itu juga padahal belum ada lima menit ia bertemu teman kencannya.
Kencan ke-dua, yakni tiga Minggu lalu, Devan datang dan langsung memberondong teman kencannya dengan pertanyaan sarkas tentang penghasilan, harta benda, dan pekerjaan.
“Hanya bekerja sebagai staf HRD di sebuah perusahaan, memiliki satu motor sport, tidak memiliki mobil, dan sedang mencicil rumah untuk masa depan, tidak bisa menjamin hidup El sejahtera setelah menikah nanti. Jadi, aku harus membawa sekretarisku pulang karena dia tidak boleh berkencan dengan pria yang belum terlalu mapan.”
Eliana langsung membelalakkan matanya mendengar ucapan Devan pada pria yang ia sendiri baru pertama kali bertemu dan baru tahu sedikit profil tentang dirinya dari aplikasi pencarian jodoh.
“Kita pulang sekarang, El!” ajak Devan.
Eliana hanya bisa pasrah dan mengikuti langkah Devan pergi meninggalkan teman kencannya.
Dan malam ini kencan ke-tiganya, yang lagi-lagi dikacaukan oleh Devan.
“Kalau begini terus, aku pasti tidak akan bertemu dengan jodohku dan jadi perawan tua karena terus mengabdi pada Si Perjaka tua itu!” gerutu Eliana setengah menangis.
Eliana memukul-mukul kasur dengan kakinya saat penyesalan yang sudah sangat terlambat baru mendera hatinya.
“Arrgh ... aku menyesal menerima tawaran Pak Devan. Harusnya dulu aku tolak saja. Jika aku menolaknya, mungkin sekarang aku sudah menikah dan memiliki anak dengan suamiku,” teriak Eliana geram. “Tuhan ... kenapa tidak segera menakdirkan aku dan ibuku menjadi orang kaya saja, agar aku bisa lepas dari dia?”
Eliana terus menggerutu, mengeluarkan semua kekesalan hatinya dengan berbagai gaya di tempat tidur sampai kantuk menyerang kedua matanya dan terlelap tanpa mengganti baju apalagi mandi.
••••
Pagi harinya Eliana bangun pukul enam pagi dan langsung bersiap-siap untuk segera ke apartemen Devan, mempersiapkan semua keperluannya selain makanan, karena ibunya pasti sudah memasak di sana.
“Ish ... aku terlambat sepuluh menit!” ujar Eliana di depan cermin lalu berlari keluar kamar menuju apartemen Devan, bahkan sampai lupa menutup pintu unitnya karena berlari secepat mungkin.
“Bu, Pak Devan sudah bangun?” tanya Eliana begitu melihat ibunya sedang menata makanan di meja.
“Sepertinya belum. Ibu sejak tadi tidak mendengar suara apa pun selain barang-barang yang ibu gunakan," balas Nani.
“Syukurlah ....” Eliana langsung berjalan cepat menuju kamar Devan.
Saat membuka pintu kamar, Eliana tidak perlu membangunkan Devan seperti biasa karena Si Pemilik kamar sudah duduk di tepi kasur sambil memainkan ponsel miliknya yang semalam dibawa.
Eliana langsung memejamkan matanya saat melihat Devan sudah bangun sebelum ia bangunkan.
“Nikmatilah sindiran halus yang akan keluar dari mulutnya, El,” keluh Eliana yang sudah paham betul dengan cara menegur Devan ketika ia salah. “Pagi, Pak,” sapanya.
“Ini sudah pagi? Aku pikir masih dini hari karena orang yang seharusnya membangunkan dan menyiapkan pakaianku belum datang,” balas Devan dengan tetap fokus pada layar ponsel Eliana.
“Maafkan keterlambatanku, Pak.”