Bab1. Mantan Adalah Sampah
“Udah kumpul semua.” Suara seorang pria yang berdiri di tengah-tengah meja kubikel. Tepat di depan meja milik Lika yang saat ini sedang menebalkan bibirnya. Yuda menggeleng-gelengkan kepala melihat adik tirinya yang tidak hormat sama sekali. “Lik, lo tuh sehari nggak nebelin bibir setiap habis makan apa nggak bisa? Emang mau cipokan sama siapa sih?”
“Loh Mas justru karena gue baru aja jomblo dua hari tandanya masih fresh graduate. Harus makin seger dong bibir gue buat cari gebetan baru,” balas Lika tidak mengangkat kepala. Yuda sudah tidak peduli lagi pada Lika yang selalu banyak balasan belum lagi jika dia berdebat dengan Lika yang ada akan ditertawakan oleh anak buahnya. Dia pun mengabaikan adik tirinya yang judes dan selalu sewot.
“Kita sudah seminggu kehilangan mbak Mei. Tentu kalian semua tahu mbak Mei meninggal saat sedang ngerjain projek. Bukan sakit, tapi kecelakaan tunggal yang mana ini memang nggak bisa diprediksi.” Pada jeda ucapan Yuda barulah Lika menutup lipstik dan memutar cermin karena dirasa tidak etis pada pembicaraan ini dirinya sibuk berdandan. “Projek sudah jalan, udah proses syuting juga. Tulisan mbak Mei juga sudah hampir klimaks jadi memang nggak bisa dibatalin gitu aja. Bisa diamuk artis kita. Gue harap keputusan ini diterima sama kalian.”
Lirikan mata Yuda membuat Lika mengerutkan kening. “Kenapa lo ngeliatin gue segitunya banget, Mas?”
“Kali ini gue minta bantuan lo setelah sekian lama gue bantuin lo kabur dari mami,” ucapnya penuh arti.
Lika menatap Yuda dengan malas. “Apaan?”
“Tolong lanjutin tulisannya mbak Mei, Lik.”
“Anjing,” umpat Lika langsung melotot sejadi-jadinya. Dia menatap Yuda dengan sorot tajam kemudian beralih ke kiri pada Rois yang melongo lalu menatap ke depan pada tiga orang yang terbahak-bahak karena umpatan Lika memang tergolong berani. “Otak lo pindah ke dengkul apa gimana, Mas? Lo tuh jangan gila ya! Duh mendingan kasih aja ke Mbak Malika atau ke Mas Alif deh, Mas.”
Yuda menghela napas malas. Dia sudah menduga dengan respon adik tirinya. Badannya merendah, bertumpu di meja Lika kemudian berkata dengan tegas. “Justru karena mereka semuanya udah pegang projek masing-masing dan di sini lo yang lagi riset tulisan horor lo alangkah lebih baik lo yang dijeda dulu. Gimana, sampai sini paham, Dek?”
“Mas ih!” rengek Lika. “Sumpah gue enggak mau, Mas! Nggak mau.” Namun, apalah daya karena yang didapati Lika justru tepukan di puncak kepalanya dari Yuda bak anjing yang harus nurut pada tuannya. Setelahnya Yuda bahkan melenggang masuk ke ruangan yang ada di tengah-tengah kubikel mereka. Pintu yang berada dekat di meja kubikel milik Lika.
Lika menahan tangis. Wajahnya memerah karena kesal pada keputusan sepihak yang tak bisa dibantah dari kakak tirinya. "Ih mami ...," rengek Lika setelah sekian lama tidak mengingat ibunya semenjak minggat dari rumah.
Malika yang lebih tua lima tahun dari Lika pun mendekat, dia mengusap rambut Lika menenangkan. "Dicoba dulu. Lo kan sering dimintai baca tulisannya kalau habis nulis. Pasti bisa. Bacaan novel lo juga romance, bisa dong. Kalau bingung nanti gue sama yang lain bantuin. Tulisan mbak Mei tuh nggak susah-susah amat kok risetnya."
Lika jelas tahu karena dia memang sering dimintai tolong review tulisan teman kubikelnya, tapi dia tidak yakin bisa menulis seperti itu karena tulisan dia genre horror. Bukankah sangat bertolak belakang. Jika Mei menulis romantis maka Lika menulis yang bunuh-bunuhan. "Mbak, lo nggak bisa megang dua judul sekaligus?" tanya Lika berharap akan tetapi, Malika menggeleng lemah.
"Bentar lagi gue brojolin bayi. Sekarang juga lagi ngejar deadline biar pas udah lahiran bisa cuti. Punya gue emang belum proses syuting, tapi artisnya udah ditunjuk. Promosinya juga sudah gencar dilakuin ... jadi ya gitu deh."
Lika beneran ingin menangis. Sial. Jika bukan karena balas budi ke kakak tirinya mana sudi dirinya berkorban untuk kantor kecil ini. Mendingan rubuh sekalian aja pun dia nggak akan peduli. Sekali lagi Lika berpikir lebih baik dia berkorban di sini daripada digelandang ke rumah kemudian harus tunduk sebagai anak mami.
"Terima aja, Lika. Kalau gue bisa nulis sih udah gue ajuin diri. Lumayan gajinya bisa double. Gue cuma bisa bikin gambar doang nggak bisa nulisin," seloroh Rois dengan wajah sok nelangsa padahal dialah yang ingin menyumbang tawa paling keras.
"Nggak mungkin juga minta bantuan gue," sambung si ahli sosial media bernama Alif. Pria berkacamata yang usianya dua tahun di atas Lika. Selain ahli IT Alif ini juga seorang gamers yang tentunya berada di kantor ini suka-suka dia, kadang datang kadang tidak karena pekerjaannya bisa dikerjakan di mana saja.
Alhasil yang dilakukan oleh Lika adalah melempar cermin barunya ke pintu ruangan Yuda yang tertutup rapat. "Gue sumpahin lo nggak nikah-nikahan." Usai menyumpahi kakak tirinya dia pun beranjak langsung menutup laptop dan tak lupa merampas lipstiknya. Dia ambil tas tangan di sudut meja kemudian keluar dari meja kubileknya. "Bilangin sama dia kalau gue bolos."
Memang benar Lika tidak bisa menolak permintaan tolong Yuda karena pria itu yang melindunginya dari jerat sang ibu. Tentu Lika tidak sudi kembali ke rumah dan melihat ibunya bahagia dengan suami barunya. Dia tidak sudi. Bisa muntaber Lika kalau harus melihat sosok perusak rumah tangga kedua orangtuanya.
Di dalam taksi ponselnya bergetar singkat pertanda ada pesan masuk. Saat Lika buka rupanya pesan dari sang ibu yang mengirimkan titik lokasi. Sudah biasa bagi mereka kalau ingin bertemu seperti tengah melakukan transaksi gelap.
Lika yang tidak sudi pulang ke rumah dan dia juga yang tidak mau ibunya tahu di mana dia tinggal karena Lika sangat yakin sang ibu pasti akan menyeretnya pulang.
"Pak, saya mau ubah titik lokasi," ucapnya memajukan badan agar sang supir menerima ponselnya. Mengikuti titik lokasi yang dikirimkan.
Sesampainya di lokasi yang rupanya sebuah butik ternama—tampak familiar—Lika pun turun. Memastikan dengan mengirimkan pesan pada sang ibu yang menyuruhnya segera masuk dan menghadap kasir.
Memang dasarnya butik kalangan orang sultan jelas saja begitu memberitahu namanya pada kasir langsung diarahkan ke sebuah ruangan private. "Ngapain sih ngajak ketemuan di warung kain. Kayak nggak ada tempat lain aja deh," gerutu Lika, tak urung dia tersenyum dan mengucapkan terima kasih karena sudah diantarkan.
"Nah, itu dia anakku, Mbak." Ibunya, yang tadinya duduk langsung berdiri melambaikan tangan. Hanya saja tubuh Lika sudah kadung kaku begitu berdiri di depan pintu justru sosok pria yang sangat ingin dia sunat dua kali nyengir menatapnya.