Bab 2. Perjodohan yang Direncanakan dari Masa Lalu

1009 Kata
Kabur jelas tidak mungkin. Kanjeng ndoro mami Rima Santika jelas saja tidak akan melepaskan dirinya dengan mudah maka, yang Lika lakukan adalah menghampiri. Menyalami ibunya lebih dulu kemudian berlanjut bersalaman dengan wanita yang sebaya ibunya. "Lika, Tante," sapanya ramah, bukan pencitraan karena Lika memang tidak bisa ramah, tapi kali ini dia berusaha mengontrol wajah judesnya. "Lika, ya ampun. Semakin dewasa semakin cantik, Mbak. Aku pangling loh karena sekarang langsing. Padahal Tante suka banget ngeliat pipi tembem kamu, Nduk." Lika tersenyum kaku. Harus bagaimana bersikap di depan orang asing yang kelihatan sudah kenal dengan dirinya padahal Lika lupa siapakah sosok di depannya ini. "Anakku pasti lupa, Mbak Wulan. Dia masih umur tiga tahun waktu itu. Coba tanyain ke Mas Radit, ingat apa tidak sama Lika. Dulu kan mereka selalu main bareng waktu di Jogja," seloroh Rima dengan antusias. Dia suka sekali ketika wajah anaknya kebingungan. Puas rasanya. Petantang-petentengnya diganti dengan planga-plongo. Bukannya menolong, malah ketawa di dalam hati. "Iya ya?" Kepalanya miring. "Lupa sama Tante Wulan, Nduk?" Lika nyengir kikuk. "Maaf, Tante." Wulan mengibaskan tangan. "Wajar, sudah puluhan tahun. Memori anak-anak kan masih ringkih banget ya, Mbak. Tapi ...." Ucapannya menggantung. "Kalau sama yang di sana lupa apa tidak?" Tanpa mengikuti telunjuk Wulan tentu saja Lika tahu siapa yang dimaksud. Untungnya pria yang kali ini menolong Lika dari kecanggungan berdeham dan mengeluh lapar tanpa malu. Kedua ibu-ibu rempong—akan Lika sebut begini mulai dari sekarang—sejenak melupakan jawaban Lika. "Lika langsung ke sini setelah dari kantor, Nduk? Mamimu bilang gitu tadi. Maafin Tante sama Mas Radit ya, kami pasti mangkas jam istirahat. Padahal kamu baru pulang kantor," katanya tidak enak. "Tante ambilin udang, masih suka, 'kan?" "Masih Tante," jawab Lika seadanya. Dia tidak pandai basa-basi, apalagi basa-basi ke ibu-ibu. Sikapnya ke Rima pun sudah tergolong asing sekali semenjak ibunya menikah lagi lalu Lika memutuskan tinggal sendiri. "Makan yang banyak biar gemuk. Kamu diet ketat, Nduk? Badanmu sudah bagus kok. Kalau mau makan sesuatu, makan. Anggap saja reward karena sepekan kerja rodi," nasihatnya. "Tante juga selalu ingetin Mas Radit begitu biar dia nggak diet ketat. Sok-sokan gym biar badannya bagus, tapi nggak sadar diri punya asam lambung. Tante kan jauh ya, di Jogja sedangkan Mas Radit di Jakarta. Jadi nggak bisa mantau." Lika tersenyum kikuk. Di depannya, sang ibu terkikik dengan kepala menunduk memisahkan duri ikan lalu tidak meminta izin sama sekali langsung meletakkan di piring milik Radit dan tak lupa pria itu mengucapkan terima kasih. Bisa dibilang lebih terlihat kalau Radit anaknya mami Rima ketimbang dia yang anaknya. Bahkan yang baru Lika sadar kalau sang ibu tahu gimana Radit sangat suka dengan ikan mujair. Memang sepertinya hanya dia yang tidak tahu apa-apa di sini. Jika meneliti pada respon Radit yang tidak canggung tentulah pria itu duluan tahu. Saat sedang melamun sembari menguyah udang dengan pelan rupanya Wulan sedang bertanya dengannya. Lika jelas saja terkejut, dia mengerjap. Menelan kunyahan yang untungnya sudah lembut kemudian fokus pada seseorang di sebelahnya. “Iya, Tante? Maaf, aku kok ngelamun ya.” “Capek banget, ya?” tanya Wulan dengan wajah nggak enak. “Halah … santai aja, Mbak. Dia ini kalau belum jam sembilan malam belum balik, nongkrong dulu di kafe. Sok galau-galau padahal nggak punya pacar. Jomblo ngenes makanya suka ngelamun nggak jelas, kerjaan juga udah dikasih yang ringan-ringan sama kakaknya,” seloroh ibunya yang langsung dibalas dengusan oleh Lika. Padahal dia baru saja diperbudak oleh kakak tirinya yang malam ini panen pujian dari orang asing. “Bilang sekarang aja, Mbak. Kalau aku yang ngasih tahu malah disangka bohong. Dia nggak percaya sama Maminya sendiri.” “Ih Mami kenapa sih ngajak ribut aku terus?!” Lika ngegas, tidak peduli dengan penilaian orang lain. “Males ah Mami ngeselin gitu. Bikin aku badmood aja.” Namun, sang ibu mengendikkan bahu. Malah asik makan. Sesekali mengobrol menawarkan menu lain pada Radit membuat Lika mendengus. Untungnya Wulan lebih peka, wanita itu mengusap bahunya. "Kerjaan Lika bikin nyaman, Nduk?" Lika mengangguk saja. Dia tidak berniat menjawab panjang lebar. "Sebenarnya Tante di Jakarta cuma tinggal besok saja, adiknya Mas Radit sendirian di rumah. Dia nggak ikut karena ada kuliah yang nggak bisa izin." Wulan menjeda, Lika mendengarkan dengan anggukan meski ya dia ingin sekali bertanya perihal di mana suami wanita ini, hanya saja Lika merasa tidak punya hak untuk bertanya terlalu jauh. "Tujuan Tante selain mau jenguk Mas Radit juga mau ketemu Lika. Sudah bertahun-tahun baru tatap muka." "Tante Wulan mau jodohin kamu sama anaknya—" Lika terbatuk-batuk hebat, tapi tidak dipedulikan oleh Rima, justru Wulan dan Radit yang panik. Bergantian ngasih minum dan menepuk punggung Lika. "Mami pernah bercanda gini waktu kalian masih kecil, Tante Wulan nagih janji ceritanya tuh," lanjut Rima seraya mendengus. Dia tidak khawatir sama sekali pada kondisi anaknya. "Mau dong? Radit ganteng kok, duitnya banyak lagi." "Nggak mau, Mami!" sentak Lika saat batuknya reda. Dia menenggak air putih sekali lagi. "Ih yang bener aja dong, Mi?!" Rima menyalak tidak terima dituduh. "Protesnya ke Tante Wulan dong jangan ke Mami." Namun, Lika menatap tajam pada ibunya. Napasnya menggebu-gebu dengan mata berkaca-kaca. Menahan tangis karena masih ingat gimana perpisahan mereka yang didasari perselingkuhan. Namun, dia tidak bisa terus terang bicara fakta di depan orang tua. Pada akhirnya Lika beranjak berdiri tanpa pamit meninggalkan Wulan yang menatapnya tidak enak. "Biar aku saja, Ma," ujar Radit ikut berdiri. Dia bergegas mencari Lika yang sudah tidak terlihat, keluar dari restoran. Begitu sampai di halaman, tatapan Radit jatuh pada Lika yang berdiri di pinggir jalan hendak menghadang taksi akan tetapi, sudah ditarik lengannya oleh Radit. "Tidak jadi, Pak. Maaf," ucapnya pada supir taksi. "Lepasin!" desis Lika berusaha menghempaskan tangan, tetapi cekelan Radit terlalu kencang. "Sakit!" bentaknya. "Lepasin tangan lo!" "Maaf. Maaf," ucapnya melepaskan cekelan tangannya. Namun, sebagai gantinya langsung memanggul Lika sebelum perempuan itu kabur. "Gila ya lo! Turunin gue! Turunin!" Namun, tidak dituruti Radit. Langkah kaki panjangnya menuju mobil tanpa memedulikan sekitar yang menatapnya penuh heran. Kepala Lika yang berada di bawah terus saja menggerutu minta diturunkan, hanya saja begitu turun justru langsung dimasukkan ke kursi penumpang. Pintunya yang terkunci membuat perempuan itu mengumpat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN