"Terlepas kita jadi mantan kemarin nyatanya hari ini kita harus balikan karena takdir perjodohan nyokap," ujar Raditya Fajar; si fotografer m***m yang hobinya lirik-lirik gaun pendek modelnya. Wajahnya terlihat sekali tidak mau dibantah. Oh jangan lupakan juga tatapannya begitu menenggelamkan mental Lika yang memepetkan tubuhnya ke pintu mobil. “Dengar—”
“Jauh-jauh dari gue!” sentak Lika, dia tahu Radit hendak memasangkan sabuk pengaman, tapi demi Tuhan dia tidak butuh dibantu pasang. Lika tidak berniat berada lama-lama di mobil milik pria itu. "Gue beneran nggak sudi punya suami mata s**********n kayak lo, Dit. Jauh-jauh dari gue. Gue yang mutusin jadi nggak mungkin gue jilat ludah sendiri. Lo ... menjebak gue dalam pernikahan karena penasaran sama tubuh gue, 'kan?!" seloroh Anjelika Seffa; si penulis horor yang dimutasi menjadi penulis romance semi dewasa. Dia merasa familiar pada kondisi seperti ini, semuanya karena Mei yang mencekokinya naskah-naskah romance yang menjerumus ke dewasa. Sial, kepala Lika sampai menggeleng demi membuang bayangan adegan demi adegan yang mereka tonton di bioskop bersama anak-anak kantor saat film karangan Mei launching. Semua salah Mei, Lika ingin mengenyahkan bayangan itu akan tetapi, tak dia duga saat ini justru Radit semakin memojokkan dirinya.
Lika menahan napas. Kedua tangannya menyilang di d**a, menatap Radit tidak kalah tajam dan berani karena pria itu benar-benar tuli dengan peringatannya. “Radit—”
“Panggil yang sopan,” potongnya dengan nada rendah. “Aku nggak suka. Aku nahan diri buat nggak nyekolahin bibirmu loh daritadi.”
Lika membuang muka. “Buka kuncinya. Gue mau pulang.”
“Aku antar,” putus Radit. “Kita perlu bicara.” Lalu mengulurkan tangannya menarik sabuk pengaman, tanpa kata dia pasangkan membelit perut sang mantan kekasih. Seharusnya Radit menjauhkan diri bukan malah bertahan dengan posisi tangan kirinya menahan bobot tubuh dengan mengarah sepenuhnya pada perempuan itu. Dia menghela napas, lalu mengecup kening Lika tanpa izin, tanpa peduli dengan perempuannya tersentak. Dia beneran tidak peduli. Malam ini menguras emosi sekali. Untungnya pengendalian diri Radit mampu pada kontrol yang seharusnya.
“Ke kosan kamu apa ke apartemenku?”
“Nggak usah macem-macem!” pekik Lika. “Gue turun sekarang kalau lo macem-macem,” lanjutnya mengancam.
“Aku juga masih waras. Nggak mungkin ajak kamu ke unitku kalau ada mama di sana. Cuma nawarin, biasanya kan kamu mampir ke sana, nungguin aku pulang dari studio—”
“Bisa berhenti ngoceh nggak? Gue beneran turun paksa.”
“Silakan saja kalau bisa,” balasnya pongah. Wajahnya kembali pongah, apalagi Radit merasa menang kali ini. Lika tidak bisa memutuskannya lagi. "Status kita masih pacaran. Kamu mutusin aku secara sepihak."
Lika berpura-pura tidak mendengarkan. Dia membuang pandangannya ke jendela. Mengabaikan Radit yang menghidupkan radio dengan playlist kesukaan Lika. Mereka berdua jelas tahu bahwa playlist di mobil Radit diisi oleh punya Lika. “Caper banget,” gumam Lika.
“Mampir beli martabak, nggak? Kamu kan selalu minta martabak kalau aku pulang kerja. Kita ngelewatin warungnya, mampir ya? Sebentar aja, kok.” Lika masih diam, tapi Radit tidak berhenti berusaha. Dalam fokus mengemudinya dia pun sesekali melirik seseorang di sebelahnya lewat ekor mata. “Yang kemarin tuh salah paham doang, Lika. Aku nggak macam-macam sama Ecca. Dia minta tolong pegangin ekor gaunnya, kami kekurangan orang karena beberapa sudah pulang. Jadi, aku ikut turun tangan juga dong biar cepet selesai, biar bisa ketemuan sama kamu. Kita kan udah janjian mau dinner, emang salahku juga lupa ngabarin. Maaf deh, ya? Dimaafin nggak?”
Namun, Lika tidak menjawab hingga berpuluh menit kemudian akhirnya mobil berhenti di gerobak martabak legend yang jualannya tanpa lokasi tetap.
Radit menoleh ke belakang. “Telor, keju, sama kacang? Ada lagi, nggak?” tanyanya yang tidak dapat balasan. Udah begitu pun Radit masih mengulas senyum, mengusap pelan puncak kepala Lika yang dibalas lengosan oleh perempuan itu. “Tungguin sebentar ya. Nggak terlalu antri kok.”
Usai ditinggal Radit, Lika mencoba membuka pintu dan rupanya dikunci dari luar. Jelas saja Radit tidak akan ceroboh membiarkan Lika kabur begitu saja. Perempuan itu menguap, mengusap sudut matanya yang berair. Lelahnya habis pulang bekerja membuatnya mengantuk tanpa tahu tempat. Nyender sebentar di pintu mobil langsung mendengkur.
Maka, ketika Radit masuk ke mobil, pria itu mendengus geli melihat wajah Lika yang ditutupi rambut. Dia pikir Lika pura-pura tidur, tapi ternyata tidur beneran. "Kalau banyak ngomong pasti ketiduran gini. Lagian nggak capek apa ngomong terus, ngajak debat terus." Pria itu geleng-geleng kepala. Mobil belum dijalankan, plastik keresek berisi martabak juga masih di pangkuannya.
Radit menggaruk hidungnya kebingungan mendapati Lika yang tidur. Biasanya akan dibawa ke apartemennya kalau Lika ketiduran, tapi kali ini tidak mungkin karena di sana ada sang ibu. Membawanya ke kos di jam segini juga nggak akan dibukakan pintu. Kos yang ditempati Lika bisa dibilang ketat, jam sebelas belum pulang tanpa konfirmasi gerbang akan ditutup makanya Lika sering menginap di apartemen Radit.
Radit menghela napas. Tangan kirinya memegangi keresek sedangkan tangan kanan merogoh saku mengambil ponsel. "Ma," sapanya pelan. "Aku nggak pulang ya. Tidur di studio ... iya ada kerjaan, besok aku pulang sarapan barengan sebelum Mama pulang. Iya, Mama masakin. Makasih, Ma."
"Okay. Masalah beres. Kita ke studio," ujarnya meletakan martabak ke bangku belakang. Mobil pun dijalankan. Sepanjang perjalanan mesem-mesem karena dia bisa berduaan dengan Lika. Bukan hanya itu saja, tingkahnya yang sesekali melirik ke Lika dengan telinga memerah jelas saja saking senangnya bisa bersama Lika lagi. "Nggak akan aku siakan kamu, Lika. Maaf kalau terkesan mengambil kesempatan dengan bantuan orang tua."
Memang benar. Radit juga tahu, dia sangat tahu bahwa tingkahnya ini alih-alih membuat Lika berdebar justru membuat Lika meringis. Radit tidak berusaha menjelaskan pada Lika karena pria itu sadar ketika Lika belum menerimanya lagi maka sia-sia saja menjelaskan sampai berbusa.
Perjodohan dari kedua ibu mereka akan digunakan oleh Radit dengan sebaik mungkin untuk mengemis permohonan maaf kepada Lika. Sampai perempuan itu muak dengan rengekannya, lihat saja.
Lalu, Radit kembali tertawa dengan kepala menggeleng, berdeham, memelankan laju mobilnya kemudian tangannya terulur ke arah Lika, menarik tangan perempuan itu ke arah pahanya. Tangan mereka saling menggenggam atas arahan Radit. Pria itu menyempatkan untuk mengecup punggung tangan Lika dengan posisi perempuan itu tertidur.