Bab 4. Kepergok Sekasur

1070 Kata
Rencana Radit, dia akan bangun sebelum subuh. Meninggalkan Lika yang masih tidur kemudian niatnya nanti akan meminta anak buahnya yang mengantar perempuan itu sedangkan dia memenuhi janji pada ibunya. Namun, dia tidak menduga bahwa tidurnya sampai bablas di angka sembilan. Benar-benar nyenyak, apalagi dengan posisi memeluk Lika yang juga sama nyenyaknya. Namun, yang membangunkan Radit jelas bukan alarm karena rupanya ponsel dia mati ketika dicek. Suara ketukan pintu yang mengusiknya dari tidur nyenyak. Pria itu beranjak pelan-pelan, menarik lengannya yang dijadikan bantalan oleh Lika. Saat hendak mengambil kaos baru di lemari justru terjeda mengambil martabak semalam yang masih utuh. Dia merunduk, memakan tiga sekaligus dalam kunyahan lalu memutar kunci pintu kamarnya. Pikirnya paling anak buahnya yang butuh sesuatu atau bertanya, atau apalah itu. Namun, saat kunyahan Radit hendak tertelan begitu pintu dibuka justru sosok wanita membawa rantang dengan senyum lebar. Sialnya Radit tidak antisipasi memakai baju atau setidaknya merapatkan pintu. Radit membuka pintu sama saja membawanya ke neraka. Panci presto Rima langsung bersiul saat kasur di belakang Radit dihuni oleh seorang perempuan. Rima yang sudah ngarep Radit menjadi menantunya tentu saja langsung mendorong kencang badan Radit dan melangkah ke arah kasur. Menjambak rambut perempuan yang tidur tanpa terusik. “Perempuan gatel! Berani-beraninya godain calon mantu gue!” Sedangkan Wulan menyerahkan rantang ke Radit secara paksa. Dia hampiri calon besannya, berusaha menahan Rika yang sudah membuat anak perempuan orang menjerit kesakitan karena rambutnya rontok di tangan Rima. “Mana muka jelek lo! Tunjukin ke gue—LOH?!” pekik Rima langsung melepaskan jambakan rambutnya ketika wajah Lika ditolehkan paksa. “RADIT ANJING!” teriak Lika berapi-api. Radit langsung kabur membawa rantang pemberian ibunya, bahkan pria itu membawa serta martabak yang semalam. Membiarkan Lika menghadapi dua macan seorang diri. Pria itu ditatap aneh oleh anak buahnya yang sedang sibuk dengan laptop masing-masing. “Kenapa, Bang? Dikejar setan?” “Lo yang ngizinin nyokap gue ke atas?” Anak buahnya mengangguk yakin. “Bu Wulan nanyain, ya kali gue bohong. Nanti dikira lagi nyimpen cewek di kamar lo.” “Memang lagi nyimpen cewek, dodol!” sentak Radit membuat lawan bicaranya mengumpat. Namun, pria itu tidak peduli, masuk ke pantry seraya memeluk rantang. Jelas saja penampilannya saat ini berpotensi salah paham di mata Rima karena Wulan sudah tahu hubungan Radit dengan Lika. “Heh! Manusia sinting ya lo!” teriak Lika di ambang pintu, langsung menerjang. Menjambak rambut gondrong Radit membabi buta. “Ampun, Sayang. Astaga. Rambutku bisa pitak.” “Sukurin, emang sengaja. Anggap saja gantiin rambut rontok gue, sialan!” umpat Lika menggoyangkan kepala pria itu ke kanan dan ke kiri dengan sukarela. Namun, tidak berselang lama karena Rima melerai dengan menjewer telinga putrinya. “MAMI!” “DUDUK!” bentak Rima tidak kalah keras. Di belakang Rima, Wulan menutup pintu pantry. Tatapannya datar pada sang putra yang sedang mengusap kepala usai dijambak oleh Lika. "Pura-pura nolak dijodohin, tapi ngajak tidur bareng. Maumu apa, Lika? Mami nih kurang didik kamu apa gimana, sih? Kamu ini kok terverifikasi jadi cewek gatelen banget, belum ada hubungan mau tidur sekasur. Minimal punya status dulu, Lika." Rima nyerocosin Lika yang tidak dianggap serius oleh anaknya. "Nikah sirih dulu kayak Mami biar bisa bobo bareng?" "Lika!" pekik Rima. "Lagi bahas kamu kok nge-roasting Mami? Kamu masih saja selalu bawa-bawa Mami sama om Danu kalau kamu ketahuan nakal." Rima menghentak kakinya ke lantai, persis seperti anak kecil. "Mami tuh malu sama Tante Wulan loh." Lika mendengus. Dia melirik Wulan yang masih berjaga di depan pintu, belum menghampiri sepasang ibu dan anak yang masih ribut. Saat bertatapan dengan Wulan justru calon mertuanya itu tersenyum maklum malah terkesan kikuk karena dialah yang memergoki mereka. Namun, di benak Lika justru menyimpulkan hal lain— "Yang santai saja, Mbak. Aku sudah tahu hubungan mereka sebelum ini. Wajar saja mereka bersama semalaman," beritahu Wulan yang langsung membungkam Lika. Kedua tangannya meremas rambut yang di-notice lirikan kemenangan oleh Radit. Bahkan pria itu tak peduli dengan drama pagi karena sedari tadi sudah cemal-cemil martabak. Rima langsung menghadap Wulan sepenuhnya. “Mbak Wulan sudah tahu? Kapan? Maksudnya … kok bisa mereka pacaran? Maksudnya gini loh, Mbak.” Rima langsung menjelaskan saat tatapan Wulan mendadak skeptis. “Aku bukannya gimana-gimana, anakmu ini kan paket komplit dan yang punya keahlian sedangkan anakku … ya begitu deh.” Lika langsung mendelik tidak terima, hendak nyerobot, tetapi bibirnya langsung dicomot oleh tangan Rima. “Mbak Wulan paham dong sama maksudku. Apa Mbak Wulan tidak curiga kalau Mas Radit ini diguna-guna sama Lika?” Namun, respon Wulan malah tertawa tanpa jaim. “Lika ini kan juga pintar.” “Pintar minggat,” sarkas Rima membuat Lika mendelik. Punggung tangannya dipukul oleh anaknya sehingga bakapan itu pun terlepas. “Jorok banget jilatin tangan Mami.” Lika mengabaikan ibunya. “Tante Wulan, tahu dari siapa? Berita hoaks itu, Tan. Mana ada, semalam itu aku ketiduran. Terus … terus ditawarin ke studio ini karena jam pulang kos udah lewat—” “Kan bisa pulang ke rumah om Danu. Bisa juga telepon mas Yuda buat jemput. Akal-akalan kamu doang itu sih biar bisa mepet-mepet cowok,” potong Rima. “Kalau begitu tingkahmu di luar rumah mendingan Mami minta mas Yuda maksa geret kamu buat pulang ke rumah om Danu.” “Loh Mami nggak bisa maksa aku!” teriak Lika. Dia kesal sekali kalau disuruh pulang ke rumah ayah tirinya. Jika di sana, dia harus menjadi anak perempuan yang anggun. Belum lagi neneknya—ibunya om Danu—yang bernama Sulastri sangat suka dengan kesopanan dan kedisiplinan. "Karena udah saling sayang bolehkah langsung menikah saja, Tan? Saya sudah sangat cocok sama Lika," ujar Radit nimbrung seraya hendak cuci tangan. "Eh nggak bisa gitu dong mainnya! Kita tuh udah putus, kamu selingkuhin aku loh. Kalau pas pacaran aja berani selingkuh gimana nanti kalau udah menikah. Aku nggak sudi—" "Kamu fitnah kalau nggak ada bukti, Lika," sambar Rima lagi-lagi memotong perkataan anaknya membuat sang anak mendengus. "Anak Mami aku apa dia, sih?" "Mas Radit aja yang manut dan pekerja keras." "MAMI!" Dan tertawalah Wulan dan Radit yang mulai saat ini senang sekali mendengar perdebatan pasangan ibu dan anak. Wulan menarik napas. Dia menatap Radit yang sedang memperhatikan Lika tanpa berpaling. "Mama nggak mungkin pulang ke Jogja ninggalin situasi seperti ini, Mas." Sontak perdebatan kecil Lika dan Rima pun berhenti. "Mbak Rima juga was-was sama Lika, jadi agar kita semua bisa bernapas lega tanpa was-was gimana kalau anak-anak dinikahin hari ini juga. Setuju, Mbak?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN