Bab.4 Tertawa geli

1057 Kata
  "Maaf ..maaf aku tak tau jika peraturan di sini tak boleh buang hajat , maafkan aku !"   Biru langsung berdiri   Clara dan Yolanda masih berpegangan tangan karena mereka sama sekali tabu melihat pemandangan seperti itu   "Eh apa kau sudah memasang celana mu ,apa kau mahasiswa yang berasal dari kota?"   Yolanda berusaha menahan tawanya karena ini merupakan hal yang benar-benar menggelikan sekali,dan pertama kali ia alami   Clara menyenggol lengan Yolanda sambil tersenyum-senyum menutupi mulutnya   "Benar maaf kan aku tidak tau ,aku mohon kalian tidak memperpanjang urusan ku di tempat ini ,aku hanya tidak tau di mana tempat untuk nongkrong kalau pagi hari, lagi pula kalau di rumah ku aku terbiasa duduk di toilet ,maafkan aku "   Meminta maaf tapi tanpa sengaja menyombongkan diri ,ah Benar-benar tak masuk akal sekali jawaban nya   Biru langsung meninggalkan tempat itu dengan berlari   Yolanda dan Clara pun langsung tertawa dengan keras   "Kau dengar apa yang ia katakan tadi ? ia biasa buang air di toilet ,heh terkesan sombong juga apa ia pikir penduduk di desa tak ada yang memiliki toilet , uh sungguh keterlaluan sekali"   "Eh mana pakaian mu , lihatlah itu apa kau tidak jadi mencuci nya "   "Iya..iya hampir saja aku lupa "   Sambil mencuci pakaian , mereka terus bercerita   "Jadi kapan kau akan mendaftar kuliah mu "   "Tiga hari lagi aku akan berangkat kekota , kebetulan bapak dan ibu juga sudah membelikan rumah minimalis yang ukurannya kecil , katanya biar nggak usah repot-repot bayar kontrakan "   "Aku juga setuju dengan pikiran orang tua mu , semoga kau lulus ya,di universitas pavoritmu "   "Ah aku pasti akan merindukan mu nanti "   Mereka berdua tampak sangat sedih   "Cla apa kau tak ingin mencari beasiswa untuk melanjutkan kuliah Seperti ku, aku yakin kau mampu"   Clara kembali tersenyum   "Tak semudah itu bagiku meninggalkan nenek yang selama ini merawat ku ,ibu bekerja di kota ,lalu nenek akan tinggal bersama siapa di desa ini , ia tak memiliki anak selain ibu ku , lagipula aku adalah cucu kandung nya ,aku tak percaya menitipkan nenek kepada keluarga ku yang lain"   Mengangkat kepalanya sambil tersenyum   dan memegang tangan Yolanda   "Percaya lah apapun yang menjadi takdir ku akan kembali menemui jalan nya ,kau jangan khawatir kan aku "   "Masalah nya bukan itu ,aku hanya cemas saja jika kau nanti ujung-ujungnya sama seperti si dewi dan si Siti menikah di usia muda apa lagi kau kan kembang desa yang ngantri banyak..."   "Huss sembarangan kamu "   menggelengkan kepalanya   "Tapi aku setuju jika kau menikah dengan si Rahmat ,dia mau tes jadi tentara katanya ah..aku setuju jika kau menikah dan hidup bahagia bersama nya "   Clara berdiri sambil memegang bakul di samping nya   "Ya kau saja yang menikah dengan Rahmat pasti orang tua nya akan setuju pada mu karena kalian setara , ah jangan membuat ku berpikir terlalu tinggi hah..apa kau amnesia   kau tau sendirilah kan bagaimana orang tua nya terkenal sombong sekali di desa ini , apa lagi adiknya si Susi dia sangat alergi dengan orang miskin seperti ku "   Yolanda mengikuti nya dari belakang   "Tapi kau juga diam-diam menyukai nya kan ..ayo mengaku lah ..."   "Sekalipun aku suka ,itu tak ada gunanya Karena di zaman sekarang jika hanya modal tampang saja tapi tak ada harta mana ada kita akan di pandang mertua , Sudah lah Yolanda kau ini "   Mereka berdua selalu saja begitu beradu argumentasi lalu ujung-ujungnya tertawa   Saat melewati jalan pulang ,para mahasiswa tersebut tampak sedang bergotong royong membersihkan jalan di sekitar tempat itu   Kebetulan orang tua Yolanda berada bersama mereka   "Yolanda itu bapak mu , kau pergilah kesana"   "Ah aku malas bergabung dengan kegiatan seperti itu ,aku mau main di rumah mu saja "   Tapi akhirnya apa yang di katakan Clara Memang benar , bapak nya memanggil nya   "Uh bapak kenapa sih pake acara manggil-manggil aku, lusa aku sudah berada di kota !"   "Udah cepat sana , akan mau pulang dulu ,nenek pasti sudah menunggu ku "   "Baiklah nanti aku akan menyusul mu ya..."   sesampainya di rumah ia pun langsung menjemur pakaian namun tiba-tiba ada seseorang yang memotret nya , cahaya seperti kilat mengenai matanya   "Astaga ,ada kilat di tengah hari bolong yang cerah , dari mana asalnya ?"   Clara melihat sekeliling dan memandangi langit tak ada ia temukan tanda-tanda hari mau hujan   Seseorang tampak sedang memotret nya   Clara langsung naik pitam dan mendekati nya   "Hei apa yang kau lakukan barusan ha? kau tau mengambil Poto tanpa izin itu namanya melanggar hak privasi orang !"   Pemuda tersebut langsung melepaskan kamera nya   "Maafkan aku nona "   Clara kaget karena ia tau pemuda itu adalah pemuda yang tadi memegang bra nya yang jatuh tercecer   "Kau ! "   "Halo perkenalkan aku Mars mahasiswa sedang menjalankan program kerja untuk desa ini "   mengulurkan tangannya   Mars ? seperti nama planet tapi wajarlah ia juga seperti alien yang tiba-tiba datang dan muncul di hadapan ku   "Maaf aku tidak terbiasa berkenalan dengan orang asing , permisi"   Clara melangkah mundur dan berusaha meninggalkan pemuda tersebut   Tapi tiba-tiba neneknya langsung keluar dari dalam rumah   "Clara ..Clara ..."   "Nenek "   "Ini dia cucu nenek yang tadi nenek ceritakan namanya Clara ia baru saja tamat sekolah ,   nah Clara perkenalkan dia ini namanya siapa tadi nenek lupa..."   "Mars nek..saya mars .."   Sambil tersenyum   "Oh iya nak Mas ini akan membangun MCK di desa kita ,lalu rumah kita terpilih salah satu nya ,agar nenek dan kamu tak usah susah payah lagi ke sungai "   Mars hanya tersenyum saja mendengar kan nenek nya Clara salah menyebutkan namanya dari Mars menjadi mas   Clara yang tadinya tak merespon karena awal pertemuan mereka tadi yang tidak menyenangkan   "Hai aku Clara "   Clara memberikan tangannya pada Mars   Mars menyambut nya dengan baik ,   "Apa kau tak masuk dulu "   "Tidak usah aku sudah lama mengobrol dengan nenek mu tadi ,oh ya kau jangan khawatir aku tadi hanya mengambil gambar untuk dokumentasi proposal untuk mencairkan dana pembangunan MCK di desa ini nanti nya "   "Nanti Clara bisa menemani nak Mas, untuk berkeliling dan melihat-lihat bagaimana desa ini , cucu nenek ini selalu menjadi penunjuk para tamu di desa ini , ya meski nenek ini orang tak punya tapi Clara ini otaknya tak kalah sama orang-orang kaya "   "Nenek berlebih sekali ,ah !"   Mars yang tak banyak bicara itupun langsung pamit   "Kalau begitu saya permisi dulu Nek, Clara ..."   "Baiklah ...kak Mars jika perlu sesuatu kau bisa kembali kemari untuk mencari ku "   Mars pun mengangguk
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN