Bab 15 Ruang Rahasia Tobias

2414 Kata
Bel pintu berbunyi begitu Isabella keluar dari toko roti. Sekarang sudah hampir pukul sembilan malam. Petang tadi Isabella sudah makan, jadi ia memutuskan untuk membeli beberapa roti saja untuk mengganjal perutnya nanti malam selagi membereskan sisa pekerjaannya. Gadis itu berjalan menuruni jalan menuju flatnya. Seperti biasa, jalanan di area rumahnya tidak ramai dan nyaris sepi, apalagi di malam hari. Namun, entah karena kebiasaan, ia tidak lagi merasa seram dan takut. Isabella berbelok dan masuk ke halaman flat Nyonya Satta. Ia mengeluarkan kunci dan mulai membuka pintu. Gerakannya memelan saat mendengar pergerakan di belakang. Segala inderanya langsung siaga. Ia mengatur napasnya dengan baik sambil menghitung dalam hati. Saat tiba-tiba sebuah tangan mendarat di bahunya, Isabella bergerak gesit. Memutar tubuh, memelintir tangan itu, menendang kaki, dan membekuk lawannya dengan membantingnya ke dinding. “Agh! Aw! Sakit! Bella!” Suara pria itu mengerang tanpa henti. “ERYK?!” Isabella menjerit marah karena kaget dan heran. “Kenapa kau mengendap-endap ke rumahku?!” “Ugh! Bisakah lepaskan aku dulu?” Tahu bahwa mungkin ia bisa mematahkan tangan pria itu, ia melepaskan Eryk. Bergeser sedikit untuk memberi pria itu ruang. Melihat Eryk kesakitan membuat ia agak merasa bersalah. Karena terlalu sering menghadapi situasi tidak terduga bersama Tobias, ia jadi terbiasa mengeluarkan seluruh tenaganya untuk bertahan dan bersiap di segala kondisi. “Ya ampun, Bell. Sejak kapan kau menjadi barbar seperti ini?” Eryk bertanya setelah pulih. Pria itu mengekor Isabella yang kini sudah masuk ke rumah. “Tidak ada yang salah dengan sikapku. Harusnya aku yang bertanya. Kenapa kau mengendap-endap di belakangku? Kau bergerak seperti penguntit atau malah penculik gadis muda.” Isabella meletakkan tas kerjanya di atas meja. Sementara Eryk duduk di kursi ruang tengah. “Aku hanya ingin mengunjungimu dan mengejutkanmu sedikit. Aku tidak bisa menemuimu beberapa hari ini, karena kau selalu tidak ada di rumah. Kau juga tidak pernah mampir ke restoku lagi. Apakah kau selalu pulang selarut ini?” “Kau mengomel seperti ibu-ibu.” Isabella mendengkus lelah. Ia menyalakan kompor lalu memasak air. Membiarkan Eryk mengambil beberapa kudapan yang ia buat semalam. “Seriuslah, Bell. Kau … bagaimana kehidupanmu akhir-akhir ini? Apakah aman?” Isabella ikut duduk di kursi membawa secangkir teh hangat. Membuka rotinya untuk makan malam. Bahkan Eryk, teman yang sesekali menemuinya, bisa merasakan bahwa kehidupannya kali ini memang agak aneh dan berbahaya. “Aku baik-baik saja, Eryk. Aku hanya sibuk. Kau hanya terbiasa denganku yang masih seorang pengangguran dan terus merecokimu. Seperti kau tahu, pekerjaanku agak krusial, maksudku jadi sekretaris merangkap personal assistant itu cukup menguras waktu.” Eryk tampak tidak puas dengan penjelasan itu. Ia menyipit pada Isabella. “Kau yakin hanya karena pekerjaan?” Isabella mendesah. “Sungguh. Memangnya apa lagi yang sedang kulakukan? Jadi, berhentilah mencemaskanku. Aku benar-benar merasa sikapmu konyol.” Eryk mencibir. “Apakah kau masih bisa bicara begitu saat rumahmu kemalingan? Tempo hari aku bertemu Nyonya Satta yang panik karena ada pencuri masuk ke rumahmu! Astaga, berhati-hatilah setidaknya demi dirimu sendiri.” Saat itu juga gerakan Isabella menyuap roti terhenti. “Kau juga tahu soal pencurian itu?” Gadis itu menatap Eryk curiga, tetapi Eryk hanya menatapnya dengan datar. “Tentu saja tahu! Sudah kubilang aku bertemu Nyonya Satta saat dia mengejar pencurinya. Dia tidak menceritakannya padamu?” “Bertemu di mana maksudmu?” “Di depan jalan, Bell. Aku sudah memintanya melapor pada polisi, tetapi dia bilang akan berjaga-jaga dulu saat ini dan melapor nanti jika sudah memilki bukti yang cukup.” Eryk menatapnya dengan gemas sambil menelan kudapan itu dengan rakus. “Dan itu, kau juga harus memperbaiki pintu rumahmu. Aku tahu mungkin tidak banyak barang berharga di sini, tetapi tidak ada salahnya berjaga-jag—aw!” Isabella memukul lengan Eryk dengan kuat. Ia melewati pria itu untuk mengambil stoples cookies di lemari belakang Eryk. “Yah, seperti kau bilang, tidak ada barang berharga, jadi tidak perlu khawatir.” Isabella mengunyah roti dan meneguk tehnya lagi. Masih emosi karena diungkit tentang harta bendanya. Kini saat ia sudah lumayan berpenghasilan dan memiliki tabungan, dan ia mulai tersinggung jika terus dikatai gembel. Ya Tuhan, ini memalukan. Ah, Isabella baru sadar bahwa akhir-akhir ini ia terus bertemu Eryk di tempat dan waktu yang tidak terduga. Pria ini … apakah dia memang punya waktu luang sebanyak itu selama ini? *** Isabella masih fokus menatap layar komputer. Sudah pukul sepuluh malam dan ia masih berada di kantornya. Tobias baru pulang setengah jam yang lalu, jadi ia baru bisa pulang setengah jam lagi—satu jam setelah Tobias. Seperti perjanjiannya waktu itu, ingat? Isabella pernah mencurangi, ia pulang setengah jam setelah Tobias, dan besoknya adalah hari terburuk baginya. Ia bahkan nyaris dipecat waktu itu. Jadi, ia berjanji tidak akan mangkir lagi. Apalagi kadang ia akan mendapatkan libur esok harinya jika sehari sebelumnya ia lembur. Jam kerja yang diatur Tobias rupanya masih tergolong beradab dan manusiawi. Isabella melepaskan kacamatanya. Menyandarkan tubuh ke kursi sejenak untuk sekadar meluruskan pinggang. Seharian lebih ia menggunakan kacamata dan sekarang matanya terasa begitu panas. Apalagi saat di Madrid waktu itu. Isabella bahkan baru melepaskan kacamatanya saat hendak tidur. Tangannya mengambil gelas kopi. Baru menyadari bahwa benda itu sudah kosong. Sepertinya ia harus membuatnya lagi. Isabella memasang kembali kacamatanya lalu bergerak bangkit. Ruangan Tobias terasa begitu sunyi. Isabella tahu bahwa di luar ruangan ini juga tidak kalah sepi. Setelah hampir satu bulan bekerja di sana, Isabella mulai terbiasa dengan suasana mencekam itu. Ia juga sudah beberapa kali pulang kantor di atas pukul sembilan malam. Isabella menggelung rambutnya ke atas, menusuknya dengan pensil. Kemejanya terasa sudah tidak berbentuk lagi. Ia sedang membuka bungkus kopi instan saat tiba-tiba sebuah suara memecahkan keheningan. Lemari di dinding sisi kanan meja Tobias berderak. Jantung Isabella otomatis berdebar keras hingga terasa memenuhi telinganya. Butiran kopi itu tumpah, Isabella bersyukur gelasnya tak ikut-ikutan terjatuh. Tangan Isabella refleks menggapai barbell, pajangan yang terdapat di meja Tobias. Jantung Isabella masih bergetar saat tiba-tiba lemari itu bergeser. Benda itu kemudian membuka, menyerupai pintu yang terlihat sangat berat. Mata Isabella melebar diikuti oleh mulutnya. Selama ini ia tidak pernah tahu bahwa itu adalah sebuah pintu. Tobias juga tidak pernah bilang apa pun soal itu. Isabella sontak mundur, berniat ingin bersembunyi di balik meja atau langsung saja berbaring di lantai di samping kursi kalau saja matanya tidak mengenali siapa sosok di baliknya. Tobias datang dengan langkah tertatih. Pria itu mengenakan pakaian serba hitam. Celana hitam, kaus hitam, dan dilapisi oleh mantel berwarna hitam. Tangan kanannya sedang memegangi perut sebelah kirinya. Isabella refleks melangkah mendekat dengan cepat-cepat. Merasa tiba-tiba kehadirannya diperlukan. Dan langkahnya semakin cepat saat menyadari bahwa tangan pria itu sudah berlumuran cairan berwarna merah. Apa … darah? “Pak Tobias …?” *** “Pak Tobias,” ujar Isabella lebih pelan dari yang dimaksudkan. Tidak ingin membuat atasannya itu bingung karena tidak bisa mengenalinya. Dengan sigap Isabella langsung memegangi lengannya. Berusaha menopang walaupun ia tahu Tobias tidak terlihat selemah itu. Pria itu masih berdiri tegak. Meskipun wajahnya pucat, Isabella yakin Tobias tidak butuh bantuan untuk bisa sampai ke kursi. Tobias terkejut bukan main saat mendapati Isabella di sana. Tidak. Ini benar-benar di luar rencana. Alasannya datang ke ruangannya, selain karena ini adalah tempat terdekat yang bisa dijangkau, ia juga menyimpulkan bahwa tidak akan ada siapa-siapa di sini. Tapi, kenapa gadis itu masih di sini? Sial! Ia tadi tertembak. Dan luka itu pasti sudah lebih dulu diketahuinya sebelum sempat disembunyikan Tobias. Namun, Tobias merasa cukup kagum menyadari bagaimana Isabella menguasai dirinya. Tidak menjerit panik dan ketakutan seperti yang ada dalam bayangannya saat mendapati gadis itu masih di sini. “Apa yang kau lakukan di sini pada jam segini?” “Kontrak kita. Pulang satu jam setelah Pak Tobias pulang.” Isabella menjawab singkat dan jelas. Ia mengikuti langkah Tobias saat laki-laki itu berjalan menuju pintu ruang pribadinya. Baru kali ini Isabella memasuki ruangan itu. Berpikiran masuk ke sana saja ia tidak berani. Tapi sekarang ia berada di dalamnya. Bersama Tobias! Ruangan itu lumayan luas, tapi Isabella tidak akan meragukan kenyamanannya. Ia berukuran seperti kamar hotel pada umumnya. Ranjang berukuran king size, sebuah sofa yang menempel di dinding depan ranjang, dan sebuah bantal besar empuk di depan sebuah lemari. Sebuah pintu di sisi lain akan mengarahkan ke kamar mandi. Cermin panjang menempel pada dinding di samping pintu lemari. Isabella membaringkan Tobias ke ranjang. Pria itu melepas mantel. Isabella membuka lemari dan hanya mendapati beberapa pakaian yang digantung, kemeja dan kaus polos beserta celana kain yang juga terlipat rapi di rak bawah. Isabella tidak yakin apa yang bisa ditemukannya. Jika pria itu memilih ke sini, berarti sudah pasti ada peralatan obat di sini, kan? Semuanya terjawab saat Isabella membuka rak di bagian bawah. Kotak obat itu berukuran agak lebih besar dibandingkan kotak pada umumnya. Isabella berbalik lagi menghampiri Tobias. Pria itu masih memakai kausnya. Isabella duduk dengan kaku di tepian kasur. Kotak obat sudah terbuka di atas nakas di samping ranjang. Piringan bengkok sudah tergeletak, begitupun dengan pinset. Kapas dan kasa sudah siap, sebotol alkohol juga sudah dikeluarkan. Isabella memakai sarung tangan karet steril. Ia menatap Tobias dengan yakin namun agak takut. Pria itu tidak mengeluarkan ekspresi apa pun. Hanya menatapnya lekat. Tangannya memegang ujung kaus Tobias, tak berani menaikkannya jika pria itu tidak mengizinkan. Masih sambil memandangnya, akhirnya Tobias menaikkan kausnya. Tak berhenti di situ, pria itu bahkan sudah membukanya hingga terlepas. Meninggalkan tubuh bagian atasnya yang telanjang. Isabella menahan diri untuk tak menjerit meskipun pelan. d**a dan perutnya berotot meskipun tidak begitu kekar. Dan lagi … kulit Tobias basah karena keringat. Aroma pria itu keluar karena tak ada penghalang lagi. Membuat hidung Isabella malah kewalahan. Suasananya pasti akan berbeda kalau saja tidak ada sebuah peluru yang bersarang di perut kirinya. Menyisakan lubang yang mengeluarkan darah. Tobias tidak bisa mengalihkan pandangan. Melihat bagaimana Isabella menunduk di atas tubuhnya. Tangannya begitu cekatan membersihkan darahnya, mengeluarkan peluru sialan itu, lalu membersihkan lukanya lagi. Menutupnya dengan kasa setelah memastikannya steril. Beberapa kali kepalanya mengedik karena poni dan juntaian rambutnya yang mengganggu pekerjaan. Tangan Tobias bahkan sudah terulur tanpa diperintah. Menahan rambut itu agar tidak lagi bersikap nakal. Isabella sempat terkejut karena sentuhan itu, tapi gadis itu bersikap bijaksana dengan melanjutkan kembali kegiatannya hingga selesai. Isabella menyelesaikan pekerjaannya dengan cukup baik. Luka itu sudah ditutup dengan kasa dan plester. Sebuah peluru berlumuran darah kini tergolek di piring bengkok. Terlalu banyak pertanyaan yang ada di dalam kepalanya, tapi ia tak bisa bersuara. Tidak sekarang. Dan tidak akan pernah jika Tobias memang tidak ingin ditanya. Tobias menunggu. Isabella sudah membuka dan membuang sarung tangan lateks itu ke tempat sampah. Segala peralatan medis sudah tersimpan rapi di dalam kotak. Gadis itu bahkan sudah menyimpannya di tempat semula. Isabella duduk di sofa. Masih memandangi bekas luka itu. Tobias tadinya menduga akan mendapat banyak pertanyaan, tapi gadis itu tidak berkomentar sekata pun. “Apakah Bapak baik-baik saja?” Dari sekian banyaknya pertanyaan yang bisa ditanyakan, Tobias cukup terkejut mendengar pilihan Isabella. Mata—satu-satunya yang bisa ia lihat—gadis itu menatapnya dengan gurat serius yang malah membuat Tobias berkeringat dingin. “Bukan masalah besar.” Isabella mengangguk. Tidak bersuara lagi setelahnya. Sementara Tobias, dengan mata hijau zamrudnya masih memandangi Isabella dengan lekat. Jika sebelumnya tatapan itu membuat Isabella menciut dan semakin dekat dengan ajal, kini Isabella malah merasa seolah dialiri seribu volt perasaan hangat yang mendebarkan. “Saya akan pergi. Agar Bapak bisa istirahat.” Isabella melihat jam tangannya. Hampir pukul sepuluh. Sudah terlalu malam. “Kau mau pulang sekarang?” Tobias berusaha untuk tidak terdengar terlalu peduli meskipun sepertinya gagal, bahkan di telinganya sendiri. Ia bisa melihat Isabella meragu. “Kau tentu sadar untuk tidak meninggalkan bosmu dengan kondisi seperti ini. Siapa yang akan aku suruh saat kau malah pulang? Tinggallah. Kau tidur di sofa.” Isabella tak kuasa untuk tidak tersenyum. Ia sudah menahannya, tapi tetap tidak bisa. Ia bisa merasakan aura kepedulian itu. Ditambah lagi, tidak di lantai, tapi di sofa? Itu sudah perkembangan yang sangat pesat! Isabella duduk dengan patuh di sofa. Membaringkan tubuhnya perlahan, menyamping menghadap Tobias. Entah kenapa mendapatkan dorongan untuk memastikan bahwa pria itu baik-baik saja. “Kau tidak ingin menanyakan sesuatu, Claire?” Isabella melepas kacamatanya. Menghadap pada Tobias yang kini tampak agak buram. Penglihatannya benar-benar parah. “Ingin sekali, Pak Tobias.” Tobias menaikkan alis. Menunggu kalimat selanjutnya. “Saya tidak yakin Bapak sedang berada di situasi ingin ditanyai oleh saya.” Isabella kemudian menjawab jujur. Belajar dari pengalamannya yang sudah tidak terhitung lagi. “Tanyakan saja.” Alis Isabella ikut terangkat mendengar jawaban itu. Tobias tidak terlihat keberatan. Pria itu tampak rileks dan bersahabat. “Kenapa Bapak bisa tertembak? Siapa yang menembak? Apakah orang itu orang jahat? Kenapa Bapak malah ke sini? Apakah Bapak sungguh tidak apa-apa? Bolehkah saya memanggilkan dokter untuk Anda?” Pertanyaan-pertanyaan itu keluar dengan begitu mulus dari bibir Isabella. Matanya masih menatap Tobias yang kini juga balas menatapnya. Isabella bertanya-tanya apakah Tobias bisa melihat wajah cemasnya. Pria itu hanya diam. Memandang dengan wajah kaku andalannya tanpa niat untuk menjawab. Meskipun—sebut kalau Isabella salah—Tobias tampak menikmati apa yang didengarnya. “Aku tidak bilang aku akan menjawabnya.” Isabella tersenyum separuh, jelas menyindir Tobias betapa menyebalkannya pria itu. Dan Tobias entah kenapa juga tidak tampak tersinggung. Atau mungkin dia hanya tidak menyadari ekspresinya. “Kenapa? Apa aku membuatmu marah, Claire?” “Tidak, Pak Tobias. Saya yang salah paham.” Isabella menjawab dengan senyum samar. Tobias juga kelihatan tenang-tenang saja. Entah kenapa masih belum berniat memakai pakaian. Isabella tidak menolak keputusan itu, mengingat bahwa pemandangan tubuhnya … Isabella yakin semua gadis bisa menyimpulkannya sendiri. Isabella akhirnya menyerah. Bangkit dan berjalan ke lemari Tobias. Mengeluarkan kaus berwarna abu-abu lalu memberikannya pada pria itu. Sambil menautkan alis, Tobias akhirnya memakainya juga. “Selamat malam, Pak Tobias.” Isabella memejamkan mata. Meringkuk dengan nyaman di sofa. Sapaan itu tak dijawab, seperti yang sebelum-sebelumnya terjadi. Tobias memandangi Isabella lekat, mencari celah sekecil apa pun agar ia bisa menyibak tabir pelindung itu lagi. Lama ia memandangi Isabella yang terpejam dengan rambut yang sudah terurai. Tubuh Tobias berbalik, membuang pemandangan itu dari matanya. Akhirnya memutuskan untuk melupakannya sejenak dan pergi ke alam mimpi. Isabella bangun pagi itu dengan panik. Rasanya ia tidak pernah tidur senyenyak ini, di sofa pula. Matanya mengamati seluruh sisi kamar pribadi Tobias, kosong. Kasur pria itu sendiri juga tampak terlalu kusut. Namun, pria itu tidak ada di mana-mana. Jantungnya seketika bergemuruh. Apa yang terjadi? Pergi ke mana pria itu dalam keadaan terluka seperti semalam? Apa jangan-jangan … orang jahat itu mengejar Tobias hingga ke kantor ini? Isabella tidak menahan diri saat memanggil pria itu dengan agak panik, “PAK TOBIAS?!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN