Isabella mengejar dua orang itu tanpa banyak pikir. Keduanya berlari cepat seolah tengah dikejar setan. Padahal nyatanya hanya ada Isabella. Gadis itu tidak tahu bahwa yang membuat keduanya ketakutan adalah hal lain. Orang-orang itu berbelok di ujung lorong dan kabur melewati pintu darurat.
Napas Isabella sudah terengah-engah, tapi energinya masih penuh. Ia menyambar pintu darurat dan mengamati dengan tak sabar. Mendengar pergerakan di tangga bawah, ia pun akhirnya bergerak turun. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah untuk memastikan siapa dua orang itu dan urusan apa yang membuat mereka ingin membunuh Tobias. Kejadian tempo hari membuat Isabella yakin kalau ia harus menangani segala tindakan teror ini dengan lebih serius. Ia harus menyelidiki siapa saja yang terlibat dalam masalah dengan Tobias agar bisa menyusun rencana perlindungan untuk bosnya itu.
“Sial!” Isabella mengamuk sambil melirik kesal pada high heels yang ia kenakan. Ia menendang lepas dua benda itu dan melanjutkan lari hanya dengan beralaskan stocking.
DOR!
Saat ia baru berniat mengintip ke bawah, tembakan dilepaskan lagi. Isabella refleks menunduk dan memelankan langkah. Jantungnya berjumpalitan dengan keras. Ini gila. Pria itu membawa senjata api, apakah tidak apa-apa untuk mengejar mereka seperti ini?
Kepalanya masih bimbang, tetapi langkahnya tidak berhenti. Bagaimanapun, mungkin mereka hanya mengincar Tobias, jadi masih ada kemungkinan ia tidak akan dibunuh. Benar, kan? Ya … bisa saja kan?
Seperti kata Tobias, gadis itu kadang-kadang memang sangat dungu.
Di lain tempat, Tobias sudah keluar dari lift dengan emosi yang menggunung. Seandainya Isabella tidak ikut campur, maka ia bisa membereskan hal ini dengan lebih mudah. Masalahnya, sekretarisnya itu tampak sangat menyayanginya seolah ia bayi yang tidak bisa membereskan makanannya sendiri dan lebih suka bertindak tanpa meminta izinnya.
Pintu lift terbuka sepuluh lantai di bawah. Tobias menghambur keluar dan langsung menuju tangga darurat. Memeriksa apakah kedua pihak itu masih saling mengejar. Pria itu memperhatikan tangga atas dan bawah, tetapi tidak ada pergerakan apa pun. Ia memutuskan naik sekitar dua lantai. Namun, suara gedubrak keras dari koridor mengalihkan perhatian.
Pria itu masih menggenggam revolver, bergegas menuju ruangan terdekat yang mencurigakan. Ia bergerak masuk berbekal insting yang tajam. Dan perasaannya mulai campur aduk begitu ia mendapati keadaan di dalam sana. Baru saja masuk, Tobias melihat bagaimana Isabella terpental setelah berusaha menghajar seorang pria. Atau mungkin hanya berusaha mengambil sesuatu dari pria itu. Sebuah pistol sudah tergeletak tak jauh dari mereka, tampak tidak berguna karena kehabisan peluru.
“Aku tidak akan mengatakan apa pun!” Teriakan Isabella kini terdengar agak lemah.
Tobias bergerak ke balik meja untuk berlindung. Memetakan ruangan untuk bisa menghabisi lawan. Suara barang hancur dan kaca pecah masih terus terdengar. Pria itu bangkit, menatap cepat ke sekeliling. Menembak tepat di kepala ataupun d**a orang-orang yang berniat keluar sejenak dari perlindungan mereka. Pria itu melangkah ke sisi ruangan lain untuk mencari Isabella, tetapi ia sudah tidak ada di titik sebelumnya. Malangnya, prosopagnosia sialan ini tidak membantunya untuk menemukan gadis itu.
“Claire?”
Tak ingin membuang waktu, Tobias memanggil lantang. Untuk sesaat hanya ada keheningan. Tobias menatap sekeliling dengan cepat. Lalu gedebuk keras terdengar di sudut. Disusul erangan seorang gadis.
“Agh!”
Tak butuh waktu lama, Tobias bergerak menyeberang. Berlomba dengan tiga orang lain yang juga menuju titik yang sama. Masalahnya, hanya tersisa dua peluru. Akhirnya Tobias mengambil stik kayu terdekat dan memukul satu pria tak jauh darinya tepat di kepala. Saat itu juga Isabella tiba-tiba keluar dari persembunyian. Tanpa sadar malah mempermudah dua orang lainnya untuk menembaknya.
“Sial!” Tobias memaki lagi.
Pria itu melompat keras agar bisa menjangkau. Menangkap Isabella dengan lebih keras daripada yang ia maksudkan. Keduanya bertabrakan dengan hebat. Isabella terdorong mundur dan sudah bersiap akan jatuh kembali ke lantai yang keras.
“Agh!”
Keduanya terjatuh ke lantai di balik kursi dalam posisi saling menindih. Tobias yang berniat melindungi berada di atas Isabella yang masih terpejam takut dan kaget. Refleks cepat Tobias berhasil melindungi kepala dan bagian atas punggung gadis itu agar tidak menabrak lantai terlalu keras. Pria itu merengkuh erat kepala Isabella agar tenggelam dalam dadanya, sembari berusaha meredam kedua telinga gadis itu selagi ia membereskan dua orang yang tersisa.
DOR! DOR!
Dengan dua tembakan itu, semua musuh roboh.
Detik berikutnya, segala hiruk pikuk hilang. Tobias berusaha menormalkan napas. Ia belum bangkit, Isabella masih berada dalam pelukannya, tetapi gadis itu belum mengatakan apa pun. Tobias menjauhkan sedikit wajahnya, melonggarkan pelukan, barulah Isabella membuka matanya pelan-pelan. Napasnya masih memburu yang ditandai dengan dadanya yang naik turun. Mata gadis itu terbuka lebar, dengan mulut yang juga menganga. Untuk detail kecil itu, Tobias berhasil mengamatinya dengan baik tanpa sakit kepala.
“Pak Tobias! Apa yang Bapak lakukan di sini?” Seperti biasa, Isabella panik.
Tobias bangkit sedikit, separuh mendudukkan diri. “Seharusnya aku yang bertanya. Apa maksudmu mendatangi orang-orang bersenjata ini seorang diri?”
“Ah! Benar. Mereka ….” Gadis itu meringis sedikit. Sisi bibirnya berdarah. Dahinya juga terluka. Tobias sempat memindai sedikit dan ia tahu bahwa siku dan perutnya juga tidak baik. Ia mendesis pelan untuk menahan Isabella agar tidak bergerak dengan buru-buru.
“Ada sembilan orang. Totalnya ada sembilan orang, dan semuanya laki-laki.” Isabella mulai memaparkan seolah tengah menjelaskan jadwal kerja Tobias.
“Ah, begitu?” Tobias menjawab sambil lalu, tidak terlalu berminat.
Sembilan. Sembilan belas. Atau bahkan seratus sembilan orang. Ia tidak peduli. Jumlah musuhnya memang tidak pernah konsisten. Pria itu bangkit perlahan, dengan tanpa banyak gerakan, membantu Isabella untuk duduk. Ia memperhatikan sekali lagi.
“Ya. Dan mereka juga tidak ada di daftar nama yang pernah diberikan Daniel pada saya.” Isabella masih bercerita.
Tobias mendesah napas pelan, masih tidak antusias. “Aku mengerti.”
“Oh! Dan saya juga berhasil mendapatkan sebuah nama.”
Tobias menghentikan gerakan yang sudah hampir berdiri. Mengernyit tidak suka pada rok Isabella yang robek dengan beberapa luka gores di kaki yang tampaknya menyakitkan. Pria itu akhirnya menoleh. Dan meskipun wajah gadis itu tidak jelas dalam pandangannya, ia bisa merasakan mata Isabella sepertinya berbinar.
“Lukas Octavio!” Suara Isabella nyaring dan tampak bangga. Sirat kemarahan juga terasa dari getarannya.
Tobias akhirnya sepenuhnya bangkit. Para petugas yang sebelumnya menunggu di pesawat jet kini sudah tiba di pintu.
“Bagaimana kau mendapatkannya?”
“Itu ….” Isabella diam sejenak. “Yah, dengan banyak usaha.”
Tobias tidak langsung membalas. Ia melepaskan pegangan Isabella pada tubuhnya selagi gadis itu menjauhkan diri. Entah kenapa merasa dadanya berdebar, sepertinya efek adrenalin yang tertinggal. “Baiklah. Terima kasih. Tugasmu sudah selesai. Dari sini, aku akan mengurus sisanya.”
Isabella menngerucutkan bibirnya, tadinya ia berharap akan ada respon yang lebih baik dari Tobias. Ia akhirnya hanya mendesah mengiakan. Gadis itu bangkit perlahan, berusaha keras untuk tidak terlalu banyak mendesah sakit. Karena sungguh, seluruh tubuhnya terasa sakit dan perih. Ia berusaha berdiri dengan benar, tetapi telapak kakinya sudah mendapat luka yang terlalu banyak dari goresan lantai semen yang keras serta pecahan kaca dan kayu di sana-sini.
“Akh!” Baru dua langkah berjalan, ia sudah mengerang lagi.
Tobias menoleh sedikit.
“Maaf, tapi bisakah saya menyusul Bapak nanti? Bapak boleh lebih dulu kembali ke pesawat. Saya hanya butuh waktu … sepuluh menit.”
Tobias berbalik mendekati Isabella. Mendorong gadis itu untuk duduk paksa di kursi. Ia setengah berjongkok hanya untuk melihat seberapa parah luka di kakinya. Tidak menyadari bagaimana para bawahannya melongo melihat gestur tubuh yang terlalu lembut dan romantis itu. Juga Isabella yang nyaris berteriak kaget.
“Lain kali, kau harus mendapat izinku sebelum berlari mengejar musuh.” Suara pria itu berat dan tidak terlalu keras, hanya supaya Isabella mendengar. Ia juga tidak repot-repot mengangkat wajah untuk menatap Isabella. Namun, semua gestur paling sederhana itu berhasil membuat Isabella panas dingin. Jantungnya berdebar tidak nyaman.
Isabella berdeham, kebingungan bersikap. “Ah, kalau begitu boleh ada lain kali?”
Pertanyaan itu hanya dijawab desah napas malas Tobias.
“Lukamu parah.” Tobias mengalihkan topik.
Pria itu bangkit. Hampir mengatai dirinya gila karena sempat memikirkan akan mengangkut Isabella dengan tangannya sendiri—alias menggendongnya. Ia lalu menoleh pada para petugasnya.
“Sekretarisku terluka. Gendong dia ke pesawat.”
***
Isabella nyaris tak bisa tidur malam itu. Jet lag-nya berlangsung parah hingga ia terus merasa berada di tempat dan waktu yang tidak tepat. Setelah keluar dari hotel, mereka langsung mendapat perawatan medis. Memanggil seorang dokter bukan pekerjaan sulit untuk Tobias. Sepanjang perjalanan ke Roma, Isabella diobati dengan baik. Hingga saat tiba di rumah, Isabella merasa agak lebih baik dan bisa beristirahat.
Hari ini, seolah tidak ada yang terjadi kemarin, Isabella sudah berada di Olympus Corporation. Duduk bersama Daniel di ruang kerja Tobias karena atasannya itu belum datang. Oh, dan mulai hari ini Isabella akan berbagi ruang kerja yang sama dengan Tobias. Berhubung pria itu akan sering memanggilnya—sebenarnya hanya untuk memudahkan Tobias untuk memperbudaknya—dan keharusan lain agar Isabella terus mendampinginya saat di kantor, seperti yang tertera pada kontrak mereka. Jadi, kini Isabella memiliki area tersendiri di ruang megah ini. Tak jauh dari pintu ruangan, satu set meja kerja berdiri, meja kerja Isabella.
“Bagaimana keadaanmu, Isabella? Kudengar situasinya sempat kacau sebelum kalian pulang.”
“Sudah membaik. Meskipun aku belum bisa mengenakan sepatu kerjaku hari ini.”
Daniel nyengir. “Bukan masalah. Yang penting Bos mengizinkan.” Mereka lalu tertawa sebelum Daniel melanjutkan lagi, “Jadi, kalian bermain baseball sebelum pulang?”
“Ya. Aku sendiri tidak tahu, tapi dia terlihat begitu ingin membuktikan bahwa aku tidak lebih baik darinya. Tanpa pembuktian itu pun aku yakin benar bahwa aku memang tidak ada apa-apanya dibandingkan bosmu itu, Daniel.”
Daniel terkekeh menanggapi pemberitaan Isabella.
“Sudah lama Tobias tidak bermain softball ataupun baseball. Dia orang yang sibuk. Yah, orang yang sibuk juga butuh hiburan.”
“Nah, aku pikir juga begitu. Aku bahkan sudah mengatur jadwalnya untuk minggu ini, tapi dia malah membuang waktu untuk memintaku bermain. Sebenarnya dia itu pengusaha penting atau anak muda yang tidak ingin diatur?”
Daniel refleks tergelak lagi. Isabella sudah tidak begitu sungkan padanya. Daniel pikir dia gadis yang baik. Ia memahami bagaimana perasaan Isabella jika harus menghabiskan berjam-jam waktunya dengan Tobias, atau bahkan berhari-hari. Sahabatnya itu memang gemar membuat orang lain tertekan dan menua lebih cepat.
“Oh ya, Daniel. Ada yang ingin aku tanyakan.” Isabella menghadap Daniel. Tadinya ia tidak berpikiran untuk sungguhan membahas hal ini dengan Daniel, tetapi hal itu malah membuat kepalanya sakit. Ia berharap setidaknya Daniel bisa menjawab pertanyaan yang terus menghantuinya.
“Oh? Soal apa?”
“Tobias …,” mulai Isabella. Ia diam sebentar karena menimbang bagaimana harus bertanya. “Seperti yang kau tahu, Olympus adalah pekerjaan pertamaku, jadi aku tidak terlalu memiliki pembanding. Tapi dalam tiga bulan ini, aku sudah bertemu dengan banyak orang yang ingin mencelakai Tobias. Ini … terlalu banyak hingga terasa tidak normal. Sebagian dari mereka bahkan bukan datang untuk sekadar memperingatkan, tetapi benar-benar membunuh Tobias, Daniel. Apakah … memang selalu seperti itu?”
Daniel tidak langsung menjawab. Ekspresi pria itu menggelap. Ia menolak memandang Isabella, hanya menekuni pinggiran cangkir. Kediaman itu membuat Isabella merasa sudah melewati batas.
“Maaf. Apakah itu tidak seharusnya kutanyakan? Kupikir aku harus tahu alasan atau situasinya. Karena menghadapi setiap kondisi ini tidak mudah, Daniel. Maksudku, aku nyaris mati dua kali saat di Spanyol kemarin jika bukan karena bantuan Tobias. Setelah tahu situasinya barulah aku bisa mengatur pencegahan ataupun menyiapkan rencana lain yang lebih baik untuk menghadapinya. Kau tahu bahwa itu tugasku juga untuk memastikan Tobias tetap aman.”
Isabella menjelaskan lebih banyak dari yang ia maksudkan. Ia mengamati respons Daniel. Pria itu menarik napas sejenak.
“Isabella, itu benar, bahwa orang-orang tersebut memang berniat membunuh Tobias. Olympus adalah perusahaan yang besar. Dan Tobias berada dalam posisi tertinggi. Dia bahkan lebih dari sekadar CEO ataupun Presdir. Jadi, kau boleh beranggapan bahwa kau akan menemukan bahaya setiap hari. Bahwa akan ada usaha penyerangan di setiap kesempatan yang memungkinkan. Jadi, benar, kau memang harus berhati-hati.”
Isabella berusaha memahami situasi. Jawaban Daniel sendiri juga tidak terlalu jelas. Tetapi setidaknya itu memastikan bahwa tidak satu pun dari hal yang sudah terjadi adalah kebetulan ataupun hal baru. Karena sepertinya pria itu sudah menghadapinya sejak lama.
“Jadi, maksudmu, aku boleh melakukan apa pun dalam usaha untuk bertahan hidup sekaligus memastikan keamanan Tobias?”
Daniel diam, memiringkan kepala sejenak, lalu akhirnya mengangguk. “Benar. Untuk kemanan Tobias, sepertinya tidak akan ada masalah. Kita punya banyak pengawal. Tapi, ya. Kau harus memastikan untuk tetap bertahan hidup, setidaknya sampai kontrakmu berakhir. Akan lebih baik kalau kau bisa bertahan lebih dari itu. Tidak seperti sekretaris Tobias yang sebelumnya.”
Isabella terpekur lama. Ia akhirnya mengangguk perlahan. “Tunggu, apa maksudmu dengan sekretaris Tobias sebelumnya?”
Ekspresi Daniel berubah, seolah menyesal karena sudah keceplosan. “Ah, Will. Yah, pria itu tidak sempat menyelesaikan pekerjaan sesuai kontraknya.”
Punggung dan leher Isabella sontak meremang. Ia bisa merasakan getaran gugup dan takutnya hingga ke ujung jari.
“Maksudmu … dia—”
Belum sempat Isabella bertanya, Tobias sudah masuk ke ruangan. Pria itu duduk di kursi kebesarannya, tanpa menyapa. Ia hanya melirik Isabella sekilas dan melewati Daniel begitu saja. Aura ketegangan sebelumnya perlahan menghilang. Saat Daniel
“Selamat pagi, Tobias.” Daniel menyapa dengan riang, seolah tidak pernah terlibat percakapan sensitif dengan Isabella sebelumnya.
Tobias pura-pura tidak mendengar dan membalas, “Aku tidak tahu kau suka bergosip.”
“Oh? Kau mendengarnya, ya?”
“Suara kalian besar sekali.”
Tobias melirik Isabella. Menyindir bahwa ia bukan hanya membicarakan Daniel.
“Ah, maafkan saya, Pak.” Isabella meminta maaf tanpa diminta.
Tobias menaikkan alis, menatap Isabella lekat, memfokuskan pada matanya agar kepalanya tidak pusing karena gangguan menyebalkan ini. Telinganya bisa menangkap nada senyum dalam permintaan maaf Isabella. Dan anehnya, ia tidak ingin marah karenanya. Ini mengherankan. Gadis itu baru saja menggodanya dengan tidak sopan, kan! Tapi ia sama sekali tak ingin mengamuk karenanya.
Tobias mengamati fisik Isabella dalam sekali pandang dengan cermat. Mengingat dia bisa masuk kerja dengan baik, maka setidaknya kondisinya tidak buruk. “Kau terlihat baik.”
Isabella terhenyak. Ia sudah cukup kaget dengan kepedulian Tobias kemarin, jadi tidak mengharapkan hal yang lebih. Namun, kali ini ternyata pria itu masih peduli. “Kondisi saya sudah jauh membaik, Pak. Semuanya berkat Anda.”
Tobias hanya mengangguk samar. Langsung beralih pada hal lain. “Kenapa kau pagi-pagi sudah kemari?” tanya Tobias pada Daniel kemudian.
“Ya ampun, kau ini benar-benar tidak ramah!” Daniel menggerutu sambil lalu. Mengambil tempat di sofa tamu Tobias. Pria itu memulai lagi. “Ini tentang pria bodoh waktu itu. Cartez.”
Daniel berkata pelan. Menatap Tobias dengan pandangan lebih serius dari sebelumnya. Tobias menangkap pandangan berisi suatu maksud dari Daniel. Ia lalu melirik Isabella sekilas.
Isabella seketika merasa seperti penguping. Ia merasa tidak seharusnya berada di sini. Telinganya bisa mendengar percakapan itu, yang entah kenapa, mungkin, tidak seharusnya didengarnya. Tapi ia tak punya pilihan lain. Ini ruang kerjanya. Dan sekarang adalah jam kerja. Ditambah lagi sudah menjadi tugasnya untuk tetap berada dekat dengan Tobias.
“Claire, tolong buatkan kopi untukku dan Daniel.”
“Oh? Ya. Baik, Pak.”
Isabella bangkit terburu-buru setelah mengatur tampilan layar komputernya. Ia berjalan keluar dengan suka rela.
Setelah Isabella tidak ada di ruangan, barulah Daniel kembali berucap.
“Dia mulai cari gara-gara dengan propertimu.”
“Properti yang mana? Bicaralah lebih spesifik.”
Tobias berkata dengan malas. Tak ingin mengingatkan Daniel bahwa propertinya begitu banyak. Daniel bahkan lebih mengingatnya daripada dirinya sendiri. Karena sebagian adalah hasil pekerjaan Daniel atas perintahnya.
“Di pusat kota. Dia membuat keributan di klub malammu.”
“Wah, dia tahu tempat kesukaanku.”
“Kau suka klub?”
“Tempat itu mendatangkan uang lebih banyak dari yang lain.”
“Ah, tentu saja.”
“Jadi, apa yang si berengsek itu lakukan di mesin pencetak uangku?”
***
Petang itu kota Roma masih ramai. Namun, tidak dengan kawasan di sekitar flat Isabella. Lokasi yang memang tak cukup strategis untuk dijadikan tempat tinggal. Gedung milik Nyonya Satta adalah satu-satunya flat monolocale di kawasan tersebut—dengan harga yang cukup murah. Nyonya Satta sedang membuang sampah saat mendengar bunyi derak tidak wajar. Flat milik Nyonya Satta terletak agak jauh di dalam dibandingkan milik Isabella yang berada di depan.
Wanita paruh baya itu melongok untuk mengamati lebih jelas. Memicingkan mata yang sudah menua. Apakah gadis itu sudah pulang? Nyonya Satta sebenarnya sangat senang saat mengetahui bahwa Isabella kini telah bekerja. Namun, melihat gadis itu yang terkadang tampak seperti zombie setelah melewati beberapa hari lembur juga membuatnya agak iba. Bahkan kalau tidak salah Isabella belum pulang sejak beberapa hari lalu.
Nyonya Satta melangkah mendekat. Pintu rumah Isabella kini terbuka sedikit. Rupanya ia memang sudah pulang.
“Isabella? Kau sudah pulang?” panggil Nyonya Satta kemudian.
Wanita itu kemudian melangkah mendekat. Namun, saat ia baru tiba di depan pintu, sosok di dalam sana malah membuat tubuhnya membeku.
“S-si-siapa kau?!” jerit Nyonya Satta sambil menunjuk sosok tinggi berpakaian serba hitam di dalam rumah Isabella. Tampak sedang membuka-buka lemari di sekitar tempat tidur.
Sosok itu membatu. Detik demi detik berlalu lambat. Nyonya Satta berniat berteriak lagi saat tiba-tiba sosok itu bergerak. Melesat pergi sambil menabrak hingga mendorong Nyonya Satta sampai wanita itu tersungkur.
“Tunggu! Siapa kau? PENCURIIIII!” teriak Nyonya Satta kemudian.
Wanita itu berusaha bangun segera meski sendinya memprotes. Ia kembali berteriak sambil mengatai si pencuri. Berusaha mengejar dan berlari hingga ke tepi jalan. Namun, baru saja berbelok, Nyonya Satta bertabrakan dengan Eryk.
“Astaga! Nyonya, apa masalahmu? Kau sedang mengejar setan atau apa?” kesal Eryk sambil mengelus sisi lengannya yang diseruduk Nyonya Satta.
“Eryk!” panggil Nyonya Satta terburu-buru. Wanita itu memang sudah mengenal Eryk, pria muda yang sering bergaul dengan Isabella dan gemar menggodanya hingga membuat Nyonya Satta kerap kesal. “Ada pencuri!” sambungnya panik.
Eryk seketika menganga. “Pencuri apa? Di mana? Nyonya kemalingan?”
“Bukan aku! Tapi Isabella!” Nyonya Satta memandang gemas. Ia lalu menoleh memeriksa seluruh jalan yang dapat ia amati. Memindai apakah orang berpakaian hitam dan bertopi itu masih ada di sekitar. Namun, nihil. Tidak ada siapa-siapa.
“Isabella, Nyonya bilang? Memangnya apa? Apa yang dicuri?” Eryk tampak ikutan panik. Meskipun ia tidak yakin bahwa Isabella memiliki barang yang pantas dicuri, tapi kini ia jadi ikut resah.
“Aku tidak tahu. Apakah kau lihat orang yang berlari keluar dari gedungku tadi? Dia memakai setelan serba hitam.” Nyonya Satta memberi gestur tidak jelas dengan tangan, menjelaskan mengenai penampilan orang itu.
Dahi Eryk mengerut. “Aku tidak lihat. Kau yakin dia lewat jalan ini, Nyonya?”
“Apa maksudmu? Kau kira aku mengada-ada?”
“Bukan begitu. Orang tua, kan, kadang suka salah lihat.”
“Kau mengatai aku salah lihat? Tua bukan berarti jadi buta dan bodoh. Anak ini! bisa-bisanya!” Nyonya Satta akhirnya menggebuki lengan Eryk dengan gemas. Pria muda itu sampai mengaduh-aduh.
“Ah, maaf. Tidak. Bukan begitu. Aku hanya ingin memastikan kau tidak salah paham.”
Keduanya kemudian diam. Eryk lalu melirik ke gedung flat Nyonya Satta. “Lalu di mana Isabella? Kau bilang dia kemalingan.”
“Dia belum pulang.”
“Apa?”
“Dia belum pulang. Sudah beberapa hari ini aku tidak melihatnya di flat. Sepertinya ia benar-benar sibuk.”
Eryk seketika terdiam. Ekspresi jahilnya hilang. “Beberapa hari, Nyonya bilang?”
“Ya.” Nyonya Satta mengangguk yakin. “Ah, aku benar-benar harus memperbaiki pintu Isabella nanti saat gadis itu sudah pulang,” sambung Nyonya Satta dengan desah panjang.
“Kau tidak mau lapor polisi?” tawar Eryk.
Nyonya Satta mendesah lagi. “Aku sudah pernah menduga bahwa memang ada bocah m***m yang menguntit Isabella. Aku sudah pernah melapor, tapi karena tindakan kriminal belum disertai dengan bukti konkret mereka tidak bisa melakukan apa-apa. Aku juga tidak terlalu berharap. Jika setelah ini orang itu datang lagi, maka aku benar-benar akan melapor. Kupastikan akan mengingat ciri-cirinya nanti.”
Nyonya Satta mendumel sambil sesekali mendengkus kesal. Eryk hanya mengangguk kemudian melirik sekitar, memastikan keadaan. Tak lama setelahnya, pria itu segera berpamitan dan pergi dari tempat itu.