Bab 13 Bertanding Melawan Tobias

2065 Kata
“Mari kita main baseball nanti. Untuk mengetahui siapa yang lebih baik.” Isabella merasa sudah salah mendengar. Tobias tidak menoleh sedikit pun saat mengatakannya. Membuat Isabella merasa bodoh karena tidak paham. Isabella melajukan langkah, berusaha menyetarakan. “Ya, Pak?” “Baseball. Nanti, ayo, kita main.” “Oh, tentu, Pak. Saya siap.” “Kalau begitu, ayo, kita bersiap-siap. Kau membawa setelan olahraga, kan?” “Sepertinya ... ada, Pak.” “Baiklah. Kita bisa mampir sebentar di lapangan terdekat, Jeffry akan mencarinya.” Isabella merasa telinganya berdengung. Ia bisa mendengar perkataan Tobias yang sempat menyebutkan nama salah satu orangnya. Jelas sekali. Tapi ... ia tidak paham! “Maaf, Pak? Yang Bapak maksud itu ... sekarang?” “Ya, sekarang.” Isabella tak bisa menahan dirinya untuk melangkah lebih cepat. Ia berada agak di depan Tobias, menghadap pada pria itu sambil berjalan, alias berjalan mundur. Membuat Tobias memandangnya sambil nyaris melotot. “Maksud Bapak, sekarang itu ... sekarang? Sekarang ... detik ini juga?” Isabella bertanya dengan kalimat patah-patah. Ia tidak tahu lagi. Apa maksud Tobias sebenarnya? Bermain baseball siang-siang begini? Ditambah lagi, mereka kan harus pulang ke Roma! Tapi pria itu tidak terlihat bingung dan cemas sama sekali! “Ya, Claire. Sekarang, pada pukul tiga sore waktu Madrid.” Tobias menjawab lagi dengan nada yang jelas sedang menekan kekesalan. Pria itu melihat sekilas jam tangannya. Isabella memelankan langkah. Kembali berjalan menghadap ke depan di samping Tobias agak di belakang. “Saya pikir kita akan pulang sore ini.” Isabella berkata perlahan. Mencoba mencari keselamatan. Jika memang ia tidak bisa mundur, maka ia harus bisa bertahan untuk kejadian ke depan. Bermain baseball? Hah! Terakhir kali ia memegang pemukul itu adalah saat semester empat universitas. Dan sekarang, melawan Tobias? Bunuh saja dirinya. “Pesawat jet itu milikku. Jadi, dia baru akan berangkat ke Roma saat aku memerintahkannya.” Yah, kalimat itu. Nada itu. Isabella tahu benar bahwa tak ada gunanya lagi mendebat. “Baik, Pak.” Tobias berjalan mendahului mereka. Memanggil Jeffry, laki-laki berbadan besar dengan setelan hitam, mengatakan padanya untuk mencari lapangan baseball terdekat. Dan Jeffry, kurang dari sepuluh menit pria itu sudah mendapatkan apa yang Tobias inginkan. Ia mulai merasa tersaingi sebagai sekretaris. “Kita akan ke sana menggunakan helikopter. Kau sebaiknya langsung berganti pakaian.” “Maaf, Pak?” “Pakaian, Isabella Claire. Ganti pakaianmu di pesawat. Helikopterku sudah menunggu di lapangan belakang.” “Oh, y-ya. Baik, Pak.” “Pendengaranmu benar-benar butuh pertolongan.” Isabella refleks meringis. Ya Tuhan, kehidupannya benar-benar sudah sial! *** Isabella memandang kosong pada pemandangan di depannya. Ia tidak mau tahu bagaimana cara Tobias mendapatkan orang-orang untuk tim mereka. Anggota timnya sudah lengkap, sembilan orang. Kali ini tim Tobias bermain sebagai penahan, dan timnya sebagai pemukul. Dan saat ini juga adalah giliran Tobias memukul bola. Catat, ia sedang bermain baseball dengan bosnya! Isabella bersiap. Memusatkan pikiran pada bola yang akan dilemparkan oleh pitcher. Tobias berada di belakang Isabella. Berposisi sebagai catcher, bersiap menangkap bola kalau-kalau Isabella tak berhasil memukul. Dan masalahnya adalah, keberadaan pria itu di belakangnya sudah cukup buruk tanpa ditambah dengan keharusannya memukul bola. Sial! Jantungnya berdebar begitu keras hingga tangannya ikut gemetaran. Pitcher bersiap. Isabella juga bersiap, memegang bat dengan genggaman erat. Bola dilemparkan. Isabella mengikuti pergerakan bola itu dengan tajam. Detik ke detik terasa begitu lambat. Hingga akhirnya Isabella baru ingin mengayunkan bat saat bola itu sudah ditangkap lebih dulu oleh Tobias sebelum sempat jatuh ke tanah. Pukulannya luput. Tobias tersenyum separuh, memandang Isabella dengan kilat kemenangan. Sejenak Isabella merasa tersihir melihat bagaimana ekspresi itu. Intimidasi yang terasa ... panas. Konsentrasi … konsentrasi … di mana konsentrasinya?! Ugh. Isabella tambah kesal! Atau marah? Dia sedang memegang bat, jadi Isabella bisa saja mengayunkannya pada wajah kejam itu, kan? Sekadar supaya Tobias tak tersenyum lagi untuk mengacaukan otaknya. Ia bisa saja memukulnya. Oh, tentu. Dan sedetik kemudian ia akan mati dikeroyok oleh bawahan Tobias. Atau malah oleh pria itu sendiri. Pitcher bersiap melempar lagi. Isabella mengembuskan napas pelan, menekan rasa gugup. Ini kesempatan kedua, ia harus bisa melakukannya. Bola dilempar. Isabella memegang bat erat. Bola melambung ke arahnya. Dan dengan kepercayaan diri tertinggi, Isabella mengayunkan pemukul sekeras yang ia bisa. Bat mengenai bola yang melayang jauh depan, melambung ke atas. Isabella berlari. Terus berlari menuju base pertama. Base pertama kosong, sementara base kedua diisi oleh anggota timnya. Setidaknya Isabella harus bisa menginjak base kedua dengan selamat agar batter selanjutnya bisa berhenti di base pertama. Dia juga bisa melanjutkan berlari ke base ketiga jika batter sebelumnya berhasil kembali ke home base. Kalau memang beruntung. Left fielder tengah bersiap menangkap bola yang mengarah pada areanya. Isabella baru saja menginjakkan kakinya di base pertama. Ia melanjutkan larinya lagi dengan napas yang menderu, entah karena lelah atau gugup. Tim bertahan berhasil menangkap bola. Kini ikut berlari menuju base kedua, berlomba dengan Isabella. Isabella berlari sekuat tenaga, ia memandang orang itu dengan tajam, tapi pria itu tidak terpengaruh. Tepat dua detik sebelum Isabella menginjak base kedua, Max, si penangkap bola sudah lebih dulu sampai. Membakar base hingga membuatnya mati terpaksa. Dengan langkah gontai, Isabella berjalan keluar lapangan. Tersisihkan. Baru menepi selama lima menit, Tobias sudah menyuruhnya masuk lagi. Pria itu bersiap untuk memukul. Meskipun tak paham alasannya, Isabella akhirnya menurut saja. Lima belas menit setelahnya, permainan berganti. Tim bertahan menjadi pemukul dan pemukul menjadi bertahan. Isabella mengambil posisi sebagai pitcher. Ia memang tak terlalu berbakat dalam hal menangkap bola. Pemukul selanjutnya, Tobias Nathanael Oliveros, CEO-nya, atasannya, bosnya, kini bersiap memukul bola. Tobias tidak lagi mengenakan dasi. Lengan kemejanya bahkan sudah tergulung hingga ke siku. Pria itu menolak berganti pakaian sebelum bermain tadi, hingga membuatnya turun ke lapangan dengan setelan kerja—kecuali sepatu olahraga. Tobias menatap Isabella lurus. Bahkan tanpa bicara, Isabella sudah bisa mendengar kalimat perintah yang mungkin bisa dikatakannya padanya. Berikan aku lemparan yang bagus atau kau kupecat. Tobias memiringkan kepala, berusaha mengambil gambar Isabella dengan matanya. Meski sedetik kemudian figur itu kembali mengabur dan menjelma menjadi keasingan bagi pandangannya. Ia akhirnya berganti mengamati detail lain. Sekretarisnya itu kini terbalut dalam celana olahraga ketat dan baju baseball berwarna putih bergaris. Rambut Isabella diikat ekor kuda, dengan ikatan yang keluar dari celah di belakang topi yang dikenakannya. Tobias hampir tak bisa mengenali bahwa orang di depannya adalah gadis yang sebelumnya selalu ia perintahkan ini dan itu, patuh padanya dalam setelan blazer dan rok serta kadang berkaca mata. Otaknya tiba-tiba gelisah hanya dengan melihat sosoknya, ia tidak suka perasaan ini. “Pak, saya akan lempar bolanya sekarang.” Isabella memberitahu. Mungkin karena ia bisa melihat bahwa Tobias terlihat seperti sedang melamun, sehingga ia memutuskan untuk memberitahunya. “Aku bisa melihatnya dengan jelas, Claire. Terima kasih atas pemberitahuanmu.” Tobias berterima kasih, tapi Isabella malah menangkap aura mematikan lain dalam suaranya. Pria itu benar-benar tidak bisa bicara tanpa meninggalkan jejak dingin dan tak ramah. Isabella bersiap melempar. Tobias nyaris melewatkan lemparan itu saat matanya terbuka lebar melihat bagaimana cara Isabella melempar. Postur tubuhnya, gerakannya, lekukannya … BUG! Sepersekian detik terakhir, Tobias mengayunkan bat. Memukul lebih keras. Bola melambung ke area outfield. Para pemain bertahan sibuk berusaha menangkap. Tobias berlari terus menuju base pertama. Dan base selanjutnya. Lalu ke base selanjutnya lagi. Isabella menyipit, berusaha memandang Tobias dengan lebih fokus. Pria itu berlari begitu kencang. Kini berlomba bersama pemain bertahan agar bisa tiba lebih dulu di perhentian. Dan tentu saja, tidak berhasil. Tobias bahkan sudah mencapai home base saat si penangkap baru saja melewati base ketiga. Ia tidak sadar saat bibirnya ikut tersenyum, separuh terpukau, dan terlalu menikmati pemandangan. Ia buru-buru menormalkan ekspresi. Pria itu lalu menoleh padanya. Ujung bibir sebelah kirinya tertarik, menampilkan segurat senyum yang agak kaku. Tapi untuk ukuran Tobias, Isabella berpendapat bahwa senyum itu terasa lebih nyata dan natural. Pria itu meletakkan telapak tangannya sejajar dengan dahi. Berusaha menaungi pandangannya yang terasa silau karena panas matahari. Permainan otomatis berhenti sesaat karena seluruh anggota memusatkan perhatian pada si bos yang tampaknya ingin beristirahat. Isabella berjalan mendekatinya, berjaga-jaga siapa tahu Tobias membutuhkan sesuatu. “Ini, Pak. Mataharinya masih terik. Anda sebaiknya memakai topi agar tidak kepanasan,” ujar Isabella sambil melepas topinya lalu memberikannya pada Tobias. Isabella melakukannya nyaris tanpa berpikir. Keheningan yang sebentar itu berhasil menyadarkannya. Topi? Topinya? Tidak mungkin pria itu mau menerimanya! Itu, kan, bekas Isabella. Keringat Isabella bahkan sudah tercampur-aduk di sana! Bodoh sekali ia! Tobias menatapnya sambil menaikkan alis. Otomatis ikut menatap bagaimana helaian rambut Isabella keluar dari topi itu. Ternyata rambut Isabella tidak diikat, hanya disatukan dan dimasukkan dalam celah topi, hingga membuatnya tampak seperti diikat, padahal tidak. Membuat rambut cokelat itu lepas, terurai begitu saja saat topi itu diangkat. Tobias memalingkan wajah. Memutuskan pemandangan itu yang mulai terasa mengaduk d**a. “Ambilkan saja aku air minum.” Dan dengan perintah tersirat itu, permainan selesai. *** Isabella mengecek barang bawaan mereka. Sudah ketiga kalinya ia memastikan telah mengosongkan kamar dan mengepak semua perlengkapan. Ia hanya perlu memastikan kembali pada operator yang mengurus transportasi pesawat jet Tobias sebelum mereka berangkat sore ini selagi atasannya itu masih di kamar mandi. Sambil menyiapkan setelan untuk Tobias di atas kasur, ia mengecek beberapa pekerjaan lagi melalui iPad kerjanya. Tak lama kemudian, Tobias keluar dengan jubah mandi berwarna putih. Pria itu, sama dengan Isabella, juga tengah memegang iPad gold dan tampak serius. Ia meletakkan benda itu sejenak untuk berpakaian. Tidak memedulikan Isabella yang mengikuti pergerakannya dengan sudut mata. “Ada yang ingin kau katakan?” Tobias bersuara setelah lama diperhatikan tetapi tidak mengatakan apa pun. Seolah tidak merasa perlu mengalihkan pandangan, Isabella menjawab masih sambil memperhatikannya, “Tidak ada, Pak. Semua persiapan sudah selesai.” Tobias hanya mengangguk singkat. Setelah Tobias menatapnya barulah Isabella mengalihkan pandangan. Ia sudah selesai bersiap. Duduk sejenak di sofa tunggal mewah sambil mengecek jam tangan. Memeriksa sedikit hal lagi di iPad gold-nya, lalu akhirnya bangkit. Isabella menyerahkan dua koper pada seorang pria—salah satu pegawai Tobias yang ikut berangkat bersama mereka. Ketiganya berjalan melewati koridor hotel yang mewah, bergerak menuju lift. Isabella bergerak di samping Tobias agak di belakang, sementara petugas yang membawa koper berjalan terakhir. Gadis itu bisa merasakan dua orang lain agak jauh di belakang mereka juga keluar dari sebuah kamar dan tampak ikut mengarah menuju lift. Ketiganya sudah masuk ke lift. Isabella menahan pintu untuk membiarkan petugas pembawa koper masuk. Ia mengamati orang di koridor, menimbang apakah harus menunggu agar bisa naik lift bersama. Namun, belum sempat ia menanyakan sesuatu, matanya melebar seketika. Tubuhnya refleks menjangkau Tobias lalu mendorong pria itu ke arah sisi lift yang lebih tersembunyi. Dua pria yang masih di koridor kini tengah menghadap mereka dengan senjata api terangkat. Tampak jelas baru saja ingin menembak Tobias. DOR! Letusan mesiu meledak di udara. Semua terjadi begitu cepat. Petugas pembawa koper tampak sangat sigap berusaha melindungi Tobias. Isabella sendiri masih menunduk dan tanpa sadar memeluk Tobias agar bisa melindungi pria itu. Ia tidak tahu insting macam apa yang merasukinya sejak sekian detik lalu. Semua terjadi begitu saja tanpa bisa ia proses lebih dulu. Dua hingga tiga tembakan dilancarkan lagi, kali ini hanya mengenai dinding lift dan koper mereka. “b******n ini ….” Tobias memaki sambil bergerak mengambil sesuatu di pinggang belakangnya. Ia menatap Isabella dengan sangsi. Masih melihat dengan marah bagaimana dua tangan gadis itu berusaha menutupi untuk melindunginya. Astaga, apakah dia baru saja berusaha melindunginya? Khayal macam apa yang dibayangkan Isabella? Tobias Natanael Oliveros dilindungi oleh seorang gadis? Ia bahkan tidak butuh bantuan Isabella untuk menghabisi seluruh kriminal di Roma. Di samping Tobias, jantung Isabella berdebar keras. Ia merasakan Tobias bergerak, entahlah, mungkin memastikan dirinya tidak terluka. Membuat Isabella refleks melebarkan rentangan tangannya dan merapatkan pelukan. Matanya mengamati cepat ke koridor. Kedua orang itu kini entah kenapa mulai agak panik. Dan detik berikutnya, keduanya malah berbalik dan berniat kabur. “HEY!” Tepat sebelum pintu menutup, Isabella menahannya dan berlari menerjang keluar. “MAU LARI KE MANA KAU! SIAL!” Gadis itu sudah melesat keluar. Meninggalkan Tobias yang masih mematung dengan rahang nyaris membuka. Heran dan geram bukan main. “CLAIRE!” Tobias sontak berteriak memanggil, tetapi pintu sudah menutup. Manusia bodoh itu! Apakah dia baru saja mengejar penjahat yang jelas-jelas membawa senjata api? Jika dia punya keberanian sebanyak itu, maka setidaknya ia harus menggunakan otaknya juga! “Gadis bodoh ini …,” maki Tobias lagi. Kali ini mengeluarkan revolver dari belakang pinggangnya lalu bicara pada pembawa koper. “Kabari petugas di pesawat bahwa aku butuh sepuluh menit untuk membereskan dan membawa Isabella pulang.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN