Tobias masuk ke kamar hotel lebih dulu. Mereka sudah kembali ke hotel setelah menghabiskan sepanjang perjalanan tanpa sepatah kata pun. Isabella memang terbiasa dengan ketidakramahan Tobias. Tapi hari ini pria itu benar-benar terlihat marah. Membuat Isabella merasa selalu salah di setiap pergerakan. Akan lebih baik kalau Tobias bertingkah dingin seperti biasa. Setidaknya dengan begitu Isabella tahu di mana letak kesalahannya. Saat peninjauan mereka di wilayah pertambangan pun tak kalah dingin. Isabella merasa seolah kehadirannya tidak berguna sama sekali meskipun Tobias tidak memprotes tentang apa pun. Namun, keadaan ini benar-benar membuatnya ingin pulang saja.
Isabella mulai membereskan barang-barang mereka. Tobias memutuskan kembali sore ini. Setelah mandi, pikiran Isabella jauh lebih segar. Dan itu malah tidak baik. Setelah dipikir-pikir, Isabella malah berpikiran bahwa semalam tingkahnya benar-benar dramatis. Memang, perkataan Tobias malam itu tidak bisa dibenarkan. Tapi akhir dari segala kejadian malam itu adalah Isabella selamat. Dan itu juga bisa dikatakan karena pertolongan dari atasannya itu.
“Kau pikir kau siapa berani melukai pegawaiku, hah? Kalau bosmu memang ingin membunuhku, maka katakan padanya untuk menemuiku langsung.”
“Jangan berlindung di balik seorang gadis, dasar b******n!”
Kata-kata yang sempat ia dengar sebelum Tobias menghabisi preman itu juga semakin menamparnya. Setelah diselamatkan, Isabella malah bertingkah dramatis sekaligus merajuk? Bah! Sekretaris macam apa ia?
Isabella kacau. Ia merasa perlu meminta maaf, tapi tidak tahu bagaimana harus melakukannya. Tobias tidak terlihat ingin mendengar kata maaf darinya—melihat wajahnya saja tidak ingin. Namun ... Isabella malah benar-benar merasa berutang budi!
Tobias sudah hilang di kamar mandi untuk membersihkan diri. Isabella masih mempersiapkan segala dokumen perusahaan yang ada. Tidak begitu banyak, hanya beberapa berkas dan surat-menyurat yang semuanya sudah dimasukkan ke dalam tas. Mereka harus datang ke salah satu perusahaan ternama di Madrid pukul satu ini untuk pertemuan dan penandatanganan perjanjian kerja sama, dan pada pukul empat sore keduanya akan kembali ke Roma.
Isabella sudah selesai mandi dan bersetelan lengkap saat Tobias sedang duduk nyaman di sofa dengan bahan paling lembut yang pernah Isabella lihat. Sofa itu terletak di balkon yang begitu mewah. Cuaca yang mulai panas bahkan tidak mengganggu kenyamanan Tobias. Balkon kamar mereka mengarah pada pemandangan kota siang itu.
Isabella baru berpikiran untuk membelikan sarapan—yang terlambat—untuk Tobias saat dilihatnya sebuah hidangan mewah lain sudah tersedia di atas meja, di samping sofa yang diduduki Tobias. Dan anehnya ... ada dua porsi. Apakah pria itu membelikan untuknya juga? Ia langsung menepis dugaan malaikat itu. Oh, tidak. Belum tentu. Bisa saja Tobias ingin makan dua porsi. Tobias akan berbaik hati setelah apa yang Isabella lakukan? Tentu saja tidak.
Kedua telinga Tobias sedang disumbat oleh earbuds wireless. Sementara tangannya sibuk bergerak di atas layar iPad gold miliknya. Isabella berdiri di dekat pagar balkon, agak jauh dari Tobias.
“Pak Tobias ...,” panggil Isabella ragu. Ia melirik, tidak ada reaksi. Mungkin karena earbuds-nya, pikir Isabella.
Bagaimana aku harus mengatakan maaf?
“Untuk yang kemarin, maafkan saya, Pak. Sikap saya benar-benar keterlaluan. Saya tidak menyadari pertolongan yang Bapak berikan. Saya seharusnya sadar bahwa ... ugh! Apa sebenarnya yang aku coba katakan?!”
Isabella merebahkan kepalanya ke pagar balkon sambil mengacak rambut. Menggeram pada diri sendiri betapa bodoh pemilihan katanya.
“Saya pantas dihukum, Pak. Bapak sudah menyelamatkan saya, tapi saya malah berkoak dengan begitu buruk. Saya tidak pantas lagi bekerja dengan Bapak ... ugh! Tapi aku tak ingin dipecat.” Isabella nyaris merengek.
Demi semua gedung besar ini, bagaimana cara memberitahu atasannya yang kaku itu bahwa dirinya menyesal?
“Kemarin adalah kesalahan terbesar saya. Tidak seharusnya saya bersikap seperti itu setelah Bapak menyelamatkan saya. Saya benar-benar minta maaf. Kalau Bapak bersedia, saya akan ... ugh! Panjang sekali, aku terlihat seperti pemaksa.”
Isabella merebahkan kepala ke atas pagar balkon lagi, membenamkan diri. Ia merasa serba salah. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi ... bagaimana ...
“Isabella,” panggil Tobias tiba-tiba dengan suaranya yang rendah.
“Ya!” Isabella berjengit, menyahut dengan begitu cepat, nyaris berteriak. Ia lalu berkata lagi dengan lebih lembut. “Eh ... ya, Pak Tobias? Apa Bapak memerlukan sesuatu?”
Tobias menaikkan pandangan, lepas dari iPad dan beralih pada Isabella.
“Kosongkan kepalamu dari pikiran yang aneh-aneh.” Tobias berkata dengan datar. Kembali fokus pada iPad-nya. Sementara Isabella diam tidak mengerti. Apa itu tadi?
“Maaf, Pak?”
“Apa jadwal kita hari ini?”
“Oh! Ya, hari ini kita akan mengadakan pertemuan dengan Golden Company pada pukul satu siang. Dilanjutkan dengan makan bersama, lalu kita akan kembali ke Roma pada pukul empat atau lebih.”
“Oke.”
Hanya satu kata. Tidak ada keterangan atau perintah lebih lanjut. Tobias masih setia di sofa. Dan Isabella pun tak tahu harus melakukan apa. Akhirnya tinggallah ia masih di depan pagar balkon. Berdiri tidak jelas.
“Habiskan sarapanmu. Kita akan pergi setelah itu.”
Mata Isabella sontak langsung kembali pada Tobias. Membulat tidak percaya
Sarapan? Sarapan untuknya?
“Pak …?” Isabella membeo tidak jelas. Memanggil Tobias dengan ragu, hanya ungkapan karena ia tidak yakin akan apa yang didengarnya.
“Sarapanmu. Belum tentu kau bisa kembali lagi ke hotel ini selama sisa hidupmu. Jadi habiskan makanannya.” Tobias melirik sekilas pada makanan di atas meja. Tak memandang Isabella sama sekali.
Isabella tersenyum, bahkan terasa lebih haru. Ia juga baru menyadari bahwa sekarang Tobias selalu memanggilnya dengan nama—bahkan dengan nama depan, bukan lagi seruan kosong seolah tengah memanggil orang asing atau, lebih parahnya, anjing tetangga.
Isabella mengangguk beberapa kali. “Terima kasih, Pak Tobias.”
Tobias mengencangkan rahang, menahan bibirnya agar tak tersenyum. Sejujurnya, ia bisa mendengar semua yang telah si udik itu katakan. Dan itu membuatnya ... lebih puas dan membuat hatinya tergelitik. Setidaknya gadis itu merasa bersalah, dan tentu saja, tersiksa karena sudah berani bersikap seperti tempo hari. Itu saja sudah cukup.
***
Isabella sedang sibuk mengikuti Tobias. Mereka telah selesai menyantap makan siang. Pertemuan dan penandatanganan berjalan lancar—meskipun Tobias tak banyak bicara dan berekspresi, tapi Isabella beranggapan bahwa dengan begitu pria itu masih tergolong ramah.
Tak mau berlama-lama, setelah semua urusan itu selesai Tobias berniat langsung pulang ke Roma. Ah, padahal Isabella tidak akan keberatan kalau mereka akan berkeliling sebentar lagi. Ini di Madrid. Spanyol! Dia yakin kemungkinannya tak lebih besar dari 1% bahwa ia akan bisa berada di sini lagi suatu hari nanti. Tapi, yah, tak perlu diingatkan bukan siapa bosnya?
Isabella terlalu fokus dengan tayangan permainan baseball di televisi saat ia sedang menunggu Tobias. Atasannya itu masih bersama dengan manajer hotel mereka sementara Isabella diperintah untuk menunggu di lobi. Matanya tak bisa mengalihkan pandangan saat kini si pemukul sudah bersiap memukul bola. Pukulannya tepat, bola terpukul jauh dan pemain itu berlari. Pemukul baru saja melewati base pertama saat suara Tobias membuatnya gelagapan.
“Tidak usah sok mengerti tentang softball.”
Isabella menoleh cepat, mendapati Tobias di sampingnya tengah menatap televisi dengan serius.
“Baseball, Pak.”
Tobias melirik, tampak agak kesal. Pria itu membuka sedikit bibirnya, tapi ia menutupnya kembali. Jelas menahan diri untuk tidak mengatai Isabella.
“Itu softball. Lihatlah bolanya, agak lebih besar. Sedangkan lapangannya lebih kecil.” Pria itu menjelaskan dengan nada yang disabar-sabarkan. Isabella memperhatikan televisi itu lagi.
“Ah, benar. Saya tak terlalu memperhatikan. Saya hanya tahu sedikit, itu pun tentang baseball. Padahal sepertinya saya pernah memainkannya saat universitas dulu, tapi rasanya sudah lama sekali.”
“Aku tidak bertanya.”
“Oh, maaf, Pak.” Isabella menunduk sekali lagi. Tampak agak salah tingkah. Ia harus belajar cara menutup mulut. Saat bicara saja pria itu masih terlihat seram, apalagi kalau hanya diam. Eh, sepertinya terbalik?
“Kau pernah main softball?”
“Dulu, itu sudah lama sekali.”
Isabella mengenang, sementara Tobias tidak menanggapi. Ekspresinya masih sama. Isabella melirik beberapa kali, mengidentifikasi keadaan.
“Bapak bisa bermain?”
“Yah, aku cukup yakin aku bisa mengalahkanmu tanpa bersusah payah.”
Tobias mengangkat sebelah bahunya tak acuh. Sementara Isabella mencibir—yang tentu saja tidak ketahuan oleh Tobias.
“Terlalu sombong itu berbahaya, Pak Tobias.” Isabella tanpa sadar membalas.
“Oh? Kau mau bilang bahwa kau bisa mengalahkanku?”
“Apa? T-tidak. Bukan begitu maksud saya, Pak.” Isabella berdiri kikuk. Tidak tahu harus mengatakan apa lagi.
“Kepercayaan diri yang bagus.” Tobias berkomentar sambil mengangguk. Masih memandangi televisi. Isabella tak kuasa menahan senyum. Itu ... pujian, kan?
Tobias menoleh padanya. Pria itu mengulas senyum dengan setengah bibirnya. Tampak mengejek. “Hanya saja … terlalu ceroboh.”
Tobias mulai melangkah meninggalkan lobi. Dan Isabella, dengan langkah tergopoh-gopoh dan kepala penuh pertanyaan mau tak mau ikut bergerak.
“Maaf, Pak.” Isabella meminta maaf. Sejujurnya ia tidak tahu kenapa ia malah minta maaf, tapi insting tubuhnya selalu mengatakan bahwa ia harus melakukannya. Karena orang itu adalah Tobias. Tobias Nathanael Oliveros yang agung—julukan pribadi dari Isabella. Dalam rumus bekerjanya, Tobias akan selalu benar. Dan ia pastilah yang salah.
“Mari kita main baseball nanti. Untuk mengetahui siapa yang lebih baik.”
“… Maaf, Pak?”