DOR!
Sebuah tembakan meletus. Si pria brewokan menembak ke arah Tobias, tapi pria itu sudah berhasil menghindar lebih dulu.
“Aku tidak main-main! Sedikit lagi kau mendekat maka aku pastikan kau akan pulang dengan mayat gadis ini!”
“Lepask—AACK!”
Pria brewokan itu mengeratkan tangannya lagi. Lengan besarnya kembali memiting leher Isabella. Tangan Isabella otomatis berusaha melepaskannya, tapi usahanya seolah tidak ada artinya. Wajahnya memucat. Napasnya sudah putus-putus dan lehernya seperti ingin patah.
DOR!
Isabella ambruk ke tanah saat dirinya terbebas dari pria itu. Ia sontak menghirup napas banyak-banyak. Gadis itu merangkak menjauh, berusaha pergi sejauh mungkin dari keributan.
Tangan pria brewokan itu sudah bersimbah darah. Lengan bagian bawahnya sudah mengucurkan darah karena luka akibat peluru Tobias. Mereka kini sibuk bergulat. Tobias menendang tangan pria itu yang masih memegang pistol, membuat pistol itu terlempar entah ke mana. Ia juga ikut membuang pistol itu ke tanah. Kembali menerjang ke depan. Tinjunya menyerang bertubi-tubi pada wajah dan perut pria itu. Sementara si pria brewokan terlihat semakin berang. Ia balas memukul Tobias. Dengan tangan kanannya yang masih utuh—karena tangan kirinya sudah tak bisa digerakkan akibat luka tembak—ia melancarkan serangannya lagi. Kakinya berhasil menendang perut Tobias. Membuat Tobias semakin geram lalu balas memukulnya bertubi-tubi. Wajah pria brewokan itu sudah tidak berbentuk. Kedua kakinya juga tak dapat berdiri sempurna karena tendangan Tobias berhasil membuat salah satunya terkilir hingga nyaris patah. Pria brewokan itu sudah terkapar di tanah. Tobias menghampirinya. Berdiri di depannya bagaikan malaikat pencabut nyawa. Ia membungkukkan tubuhnya sedikit. Kakinya terangkat, mengarah pada tangan kiri pria itu yang sudah tergolek parah. Dengan tanpa rasa kasihan, Tobias menginjak kaki pria itu. Tepat pada luka tembaknya. Menekannya kuat hingga pria itu mengerang.
“AAAGH! KAU! b*****t!”
“Kalau kau mencariku, maka hadapi aku. Jangan berlindung di balik seorang gadis, dasar b******n! Kau pikir kau siapa berani melukai pegawaiku? Kalau bosmu ingin membunuhku, maka katakan padanya untuk menemuiku langsung.”
Tobias mengangkat kaki dari tangan pria itu begitu ia selesai bicara. Ia kemudian berbalik. Dan saat ia belum sepenuhnya pergi, ia kembali melanjutkan.
“Sepertinya aku mematahkan tanganmu. Tangan yang tadi ‘tidak sengaja’ membuat pegawaiku nyaris mati. Kupastikan kau tidak akan bisa menggunakannya lagi nanti.”
Tobias berucap ringan. Ia lalu berjalan menghampiri Isabella tak jauh dari mereka.
Isabella memandangi pemandangan di depannya dalam diam. Ia merasa seperti salah masuk kamar. Seolah bahwa ia tak seharusnya melihat dan mendengarkan semua ini. Jiwanya terguncang, tapi telinganya masih bisa berfungsi dengan baik. Ia dapat mendengarkan setiap perkataan Tobias tadi. Bagaimana pria itu bicara. Apa yang dibicarakannya. Meskipun ia tak sepenuhnya mengerti, tapi ia mendengarkan. Dan ia tahu bahwa pria itu memedulikannya dengan cara yang aneh. Dan ada begitu banyak orang yang juga membenci pria itu dengan cara yang aneh sampai berniat membunuhnya sungguhan.
“Ayo, kita pulang.”
Tobias membantu Isabella berdiri. Pria itu masih memegangi lengan atasnya saat mereka berjalan. Seolah khawatir kalau-kalau Isabella akan jatuh pingsan. Isabella diam sambil mengikuti Tobias—seperti yang sudah-sudah, mirip anjing peliharaan yang baik. Ini adalah pertama kalinya Tobias menyentuhnya. Ia tidak tahu apakah rasanya baik atau buruk, tapi ia lebih merasa takut untuk menarik tangannya. Ia tidak yakin Tobias akan menerima dengan santai perlakuan itu.
Pikiran Isabella masih kosong saat tiba-tiba seseorang memanggilnya. Eryk menghampirinya dengan cemas.
“Bella! Apa yang terjadi? Aku melihat keributan tadi. Apakah kau tidak apa-apa?”
Kedatangan pria itu sangat tiba-tiba dan terasa mengejutkan. Masalahnya, ini adalah suatu titik tidak jelas di Spanyol. Bagaimana bisa pria itu juga kebetulan berada di tempat ini?
“Eryk? Apa yang kau lakukan di sini?”
Meski tidak menyangka akan mendapat pertanyaan itu, Eryk langsung menormalkan wajahnya.
“Aku sedang menghadiri undangan teman.” Ia menunjuk gerombolan pria yang duduk di meja depan di luar sebuah café.
Isabella melirik ke belakang, beberapa orang memang tampak sesekali menoleh pada mereka, melambai saat Eryk menyapa seolah memastikan. Meskipun agak heran, Isabella akhirnya mengangguk sopan.
“Tidak ada. Aku sedang bekerja.”
Setelahnya, barulah ketiganya seolah kembali ke kenyataan. Tangan Tobias dengan refleks melepaskan Isabella. Eryk dan Tobias saling menatap. Untungnya, Eryk mengangguk sopan lebih dulu, sebelum akhirnya dibalas Tobias. Isabella ragu bosnya itu akan bersedia menunduk sopan pada orang tidak dikenal. Entah kenapa suasana di antara mereka kini terasa sedikit canggung. Tidak ingin memperparah keadaan, Isabella bergegas pergi.
“Kalau begitu aku pergi dulu. Ada pekerjaan yang harus kami selesaikan. Sampai jumpa di Roma.” Isabella buru-buru pergi karena bisa merasakan Tobias mulai hilang sabar.
“Tunggu. Kau benar-benar tidak apa-apa?” Eryk menahan tangannya dan menatapnya dengan masih ragu dan cemas.
“Aku tidak apa-apa, sungguh. Kau bisa lihat sendiri.” Isabella menjelaskan singkat. Ia menoleh pada teman-teman Eryk. “Kau kembalilah. Teman-temanmu menunggu.”
Meski masih agak tidak puas, Eryk melepaskan. Isabella lega akhirnya bisa pergi dari tempat itu. Mereka akhirnya pergi bersama seorang pria dengan sebuah mobil hitam yang bersedia mengantar mereka ke penginapan terdekat. Keduanya akhirnya berakhir di sebuah kamar yang sangat sederhana—hanya berukuran sebesar kamar mandi di hotel mereka sebelumnya.
Isabella masih berdiam diri saat mereka tiba di kamar hotel. Lagi-lagi harus terjebak di kamar yang sama dengan Tobias karena tak ada lagi ruang tersisa. Penginapan itu hanya memiliki lima kamar dan empat di antaranya sudah terisi oleh para pengunjung pameran. Ia tahu Tobias juga tidak akan bersedia membayar lebih untuk memesankan kamar untuknya. Pria itu bisa saja kembali menyuruhnya tidur sejauh-jauhnya, di lantai lagi, mungkin.
Tobias baru saja kembali dari membersihkan diri—Isabella sudah lebih dulu mandi sebelumnya. Kini Isabella duduk di sofa kamar. Benda yang juga sama sederhananya dengan kamar itu.
“Kau baik-baik saja?” Tobias memutuskan untuk bertanya. Berniat memastikan bahwa setidaknya gadis itu tidak terluka meski mungkin terdengar sebatas formalitas. Membuatnya mengingat kembali pertemuan dengan teman gadis itu sebelumnya. Tiba-tiba ia merasa konyol karena sudah bertanya. Entah kenapa malah jadi kesal.
“Saya baik-baik saja. Saya juga sudah mengabari pihak klien tentang penundaan kedatangan kita,” balas Isabella datar. Gadis itu memegang sebuah brosur yang diambilnya dari atas meja. Membacanya tanpa minat.
“Baiklah. Malam ini kita istirahat. Besok kita akan melanjutkan perjalanan ke pertambangan.”
Tobias duduk di ranjang, mulai menata tempat tidur. Ia melirik Isabella, tiba-tiba merasa tak enak. Haruskah ia menawarkan Isabella untuk tidur di ranjang? Bukankah gadis itu sedang terguncang? Perkelahian dengan para preman tidak terjadi di hidupnya setiap hari, jadi itu pasti sedikit banyak membuatnya kalut. Mungkin tempat tidur yang nyaman akan membuatnya lebih baik … kan?
Tobias sudah nyaris menyuarakan tawaran itu, tapi ucapan Isabella menghentikannya.
“Tadi … apakah Bapak benar-benar berniat akan membiarkan orang itu menembak lalu meninggalkan saya?”
Pertanyaan gadis itu terdengar begitu jujur. Tobias menatap Isabella secara penuh.
“Maksudmu?”
“Tadi, waktu kejadian itu. Apakah Bapak memang ingin meninggalkan saya? Mati sendirian di sana?” Isabella memberanikan diri untuk bertanya. Tidak tahan jika harus memendamnya lagi.
“Tidak.” Tobias menjawab singkat. Di tempat duduknya, Isabella mengerutkan dahi, tak percaya.
“Tapi Bapak menyuruh orang itu menembak saya. Bapak tidak menahannya ….”
“Isabella Claire.” Tobias berkata tegas. Menghentikan segala ucapan Isabella yang sedang dikatakannya maupun yang belum sempat diucapkan. Untuk pertama kalinya, Tobias memanggil nama lengkapnya, dengan terlalu banyak penekanan. Pria itu menatap Isabella dengan tatapan yang agak dingin. Isabella bertanya-tanya, apakah kini pria itu bisa melihat wajah ketakutannya.
“Entah kau percaya atau tidak, tapi aku sudah menyelamatkanmu. Aku tak mengharap terima kasih darimu. Tapi ini sama sekali bukan bayanganku sebagai balasanmu atas apa yang aku lakukan.”
Tobias mengatakannya dengan datar. Diam-diam tidak bisa menutupi kekecewaannya. Ia tahu bahwa kalimatnya saat itu memang keterlaluan, tapi tidakkah gadis itu mengerti apa tujuannya yang sebenarnya saat mengatakan itu? Apakah ia memang sungguh sebodoh itu?
“Jika nanti kau lebih suka aku sungguhan meninggalkanmu mati di sana, maka aku akan melakukannya.” Tobias membuang muka dan berbalik, benar-benar sudah tidak peduli. “Terserah apa yang kau pikirkan. Aku tidur.”
Pria itu merebahkan tubuhnya kasar. Ia menarik selimut. Lupakan saja rencana gilanya tadi. Seharusnya ia tidak perlu menawarkan apa-apa pada seseorang yang bahkan mencurigainya sebagai pembunuh. Ah, benar, tapi ia memang seorang pembunuh.
Isabella menatap Tobias dalam diam. Pria itu terlihat kecewa. Kenapa malah ia yang dimarahi? Bukankah seharusnya ia yang marah pada Tobias?
Tidak ada suara lagi, tapi Isabella masih terduduk di sofa dengan perasaan tidak keruan.