Bab 10 Terbuang

1541 Kata
“Siapa di sini yang bernama Tobias Oliveros?” salak salah seorang di antara mereka. Isabella merasa seolah baru diguyur air dingin. Ia melirik Tobias dengan takut-takut, tapi langsung mengembalikan tatapan ke para preman. Takut mereka menyadari gesturnya dan menangkap Tobias. Matanya masih menuju pada para preman, tapi tangannya dengan perlahan berusaha menjangkau Tobias. Tanpa sadar Isabella berpindah posisi dan perlahan menyembunyikan Tobias di balik punggungnya. Apa yang terjadi? Siapa orang-orang menyeramkan yang ingin menangkap atasannya itu? Apakah mereka pesaing Tobias? Ataukah orang yang pernah berurusan dan menyimpan dendam? Ia harus segera membawa Tobias pergi dari sini. Tobias terpaksa bergeser. Pria itu menatap Isabella dengan tajam dan agak bingung. Berani-beraninya. Apakah gadis itu meremehkan kemampuannya? Apakah ia berpikir akan bisa melindungi manusia paling berbahaya di Italia? “Mereka tidak ada di dalam daftar yang diberikan Daniel pada saya, Pak,” bisik Isabella dengan pelan dan tanpa gerakan mencolok. Mengonfirmasi setelah mencocokkan penampilan para preman dengan data yang sudah ia hafalkan. “Kita harus pergi dari sini segera.” Isabella menggenggam pergelangan Tobias erat sambil berusaha keluar dari keramaian dan berbaur dengan massa yang berniat pergi dari tempat itu. Baru dua langkah berjalan, gerakan Isabella terhenti. Tobias menghentikan langkah. Tatapannya mengarah lurus pada Isabella, tanpa mengucapkan apa-apa. Pria itu hanya berkedip lambat, sebelum kemudian tersenyum, amat tipis, tapi aura kekejamannya seolah menelan Isabella bulat-bulat. Tak cukup dengan itu, Tobias perlahan berbalik. Melangkah tanpa ragu menuju para preman yang mulai mengabsen orang satu per satu dengan kasar. Isabella menahan dirinya untuk berteriak panik. Kenapa?! Kenapa Tobias malah menunjukkan diri padahal ia jelas kalah jumlah! “Untuk apa mencariku?” Tobias bertanya dengan datar dan tenang setelah berhasil sampai di hadapan para preman. Kelima preman itu langsung mengitari Tobias. Menatapnya dengan tatapan menghina dan haus keinginan membunuh. “Oh, rupanya ini Tobias yang Agung itu. Kau tidak tampak seperti manusia luar biasa yang diceritakan orang-orang,” ejek salah satu pria berbadan besar dengan jambang yang memenuhi rahang dan dagu. “Persetan. Kalau rupanya urusan kalian tidak sepenting itu, lebih baik pergi sekarang juga. Aku tidak punya waktu melayani anjing peliharaan rendahan.” Tobias kembali berucap dingin. Ia menatap tajam satu per satu para pria berbadan besar itu. Sama sekali tidak terusik oleh kesenjangan jumlah maupun ukuran tubuh. Pria itu berbalik dan melangkah pergi. Tidak memedulikan para preman yang sudah memandanginya dengan tatapan marah besar. “b******n! APA KAU BILANG?” Salah seorang yang tak bisa lagi menahan murka kini langsung menerjang Tobias. Ia melancarkan pukulan ke sisi wajah, d**a, ulu hati, hingga perutnya. Sementara Tobias berkelit dan membalas dengan gerakan sama brutalnya. Pria itu berhasil merubuhkan orang itu setelah menghadiahinya tendangan dan tinjuan telak, membuatnya pingsan dengan kondisi babak belur. “Jangan bilang bahwa aku harus menghabisi kalian semua di sini agar ada yang mau bicara, siapa yang mengutus kalian?” Tobias meninggalkan lawannya yang tumbang dan berjalan menuju tengah lapangan. Para preman masih mengelilinginya. “Bisa-bisanya kau berkata sombong seperti itu di saat kau sendiri sudah kalah? Kau akan mati di sini malam ini, Oliveros!” Isabella gemetaran di tempat. Ia masih mematung memandangi perkelahian yang berlangsung dengan gila. Isabella selama ini hanya melihat Tobias sebagai atasan yang penuh dedikasi, tegas—meskipun juga kejam padanya—dan di atas segalanya, ia pimpinan yang bagus. Namun, kini melihat bagaimana Tobias menghabisi para preman besar itu membuat Isabella seolah melihat orang yang sama sekali berbeda. Pria itu tampak buas dan … tak terkalahkan. Apakah semua pebisnis memang bisa berkelahi sebaik itu? Saat itu juga Isabella tersentak. Benar. Ia harus membantu. Apa yang harus dilakukannya saat seperti ini? Menyelamatkan diri? Jika ada hal buruk yang terjadi pada Tobias maka jelas ia akan menjadi orang pertama yang digantung di Olympus. Namun, bagaimana caranya menolong? Isabella panik dan sibuk mencari ponsel. Ia harus menelepon polisi. Namun, belum sempat layar ponsel butut itu menyala, bunyi tembakan meletus. Semua orang berteriak panik dan kaget. Isabella refleks menunduk. Jantungnya berdebar keras. Matanya mengamati sekeliling dengan rakus. Apa yang terjadi? Jangan bilang kalau …. Di depan sana, Tobias berdiri tegak. Tangan pria itu masih terulur sementara tak jauh dari hadapannya berdiri pria besar dengan pistol teracung. Namun, yang membuat orang lain panik adalah saat sebuah pisau kini telah menancap tepat di dahi orang itu. Darah segar bercucuran dari tempat pisau itu menghunjam. Kerumunan massa semakin pecah tak terkendali, sibuk kabur menyelamatkan diri. Jantung Isabella seolah sudah jatuh ke tanah. Semakin lama waktu berlalu, pandangannya terhadap Tobias kian mengerikan. Cara pria itu berkelahi tampak terlalu … mulus, tapi fatal. Tobias berkelit menghindar, lalu kembali memukuli orang itu. Kakinya pun tak hanya diam. Sibuk menendang hingga beberapa orang terlempar dengan d**a yang nyaris remuk. Isabella bahkan tidak tahu sejak kapan Tobias menggenggam pistol. “Katakan. Siapa yang menyuruhmu?” Dengan suara dingin dan tatapan menusuk dalam, ia membidik seorang pria yang kini tengah terbaring di bawah kakinya dengan wajah babak belur dan posisi tangan yang tidak lazim. Bukannya menjawab, pria itu malah meludahi kaki Tobias. Untuk sesaat semua orang menahan napas. Isabella tanpa sadar bergerak terseok agar bisa menjangkau lebih dekat. Terlebih saat seorang pria kini sedang mengendap di belakang Tobias. “Membusuklah kau di neraka.” Tobias berbisik pelan sambil menembak d**a pria itu dua kali. Tepat setelah pria itu mati, sosok di belakang Tobias bergerak sambil mengacungkan benda mengilat. Isabella segera berlari sambil berteriak, “Pak Tobias!” Semuanya berlangsung sangat cepat. Tobias berbalik sambil menghindar lalu menendang keras pria besar itu. Kakinya sudah menginjak d**a orang itu sementara tangannya kembali mengarahkan pistol ke kepala lawannya. Sebelum kemudian suara rendah menghentikan niat Tobias. “Turunkan senjatamu atau kubunuh wanita ini.” Isabella mencoba menormalkan napasnya yang memburu. Ia terlalu gugup dan takut. Moncong pistol sedang menekan pelipis kanannya sementara tangan pria itu melingkari bahunya, menahan pergerakan. Seingatnya, seumur hidupnya ia tidak pernah merasa sedekat ini dengan kematian. Hanya dengan sentuhan kecil jari telunjuk maka hidupnya akan tamat. Dan ia sendiri bahkan tidak tahu kenapa ia bisa berada di ambang kematian seperti ini. Ia hanya ingin jadi sekretaris yang baik! Mata Isabella menatap lurus pada Tobias. Tak tahu harus menunjukkan ekspresi seperti apa. Pria itu membalas tatapannya dengan cara yang tak bisa dipahami Isabella. Ia berdiri seolah tidak tergoyahkan, seolah tidak merasa takut. Tobias mengalihkan pandangan dari Isabella, berganti pada pria di belakang gadis itu. Akankah Tobias menolongnya hari ini? Bagaimana jika pria itu lebih memilih membiarkannya? Seperti waktu itu. Jika hari itu Tobias bisa mengabaikannya maka ia juga pasti bisa mengabaikannya sekarang. “Kutanya sekali lagi. Untuk apa kalian ke sini?” Tobias akhirnya bicara dengan tenang. Mencoba mencari tahu, siapa lagi yang berniat membunuhnya hari ini agar bisa membereskan oknum mana pun itu. “Kau tidak perlu tahu. Aku tidak datang ke sini untuk berkenalan.” “Ah, benar juga. Toh, aku tidak akan mengingat namamu.” Tobias menyahut tanpa beban. Menaikkan bahunya tak acuh sambil berjalan mendekat. Pria brewokan itu berang. Matanya menatap Tobias tajam seolah ingin menelannya hidup-hidup. “KAU! Masih berani menyombong di hadapanku padahal sebentar lagi kau akan mati?” Tangan pria itu mengeratkan cengkeramannya pada Isabella. Makin menekan leher Isabella yang tiba-tiba saja membuat gadis itu sesak napas. Isabella tak sempat menahan ringisan. Moncong pistol juga semakin menekan kepalanya. Tobias mengeraskan rahang. Tangannya mengepal, sementara tangannya yang lain menggenggam kuat sebuah pistol. Meskipun Isabella belum menjadi orang yang amat penting baginya, tapi setidaknya ia tidak ingin Isabella mati di sini. Ada hal yang harus ia bereskan dulu dengan gadis itu. “Baiklah. Kita ganti pertanyaannya. Siapa yang menyuruhmu?” Tobias mencoba mengulur waktu. “Apakah kau tidak bisa menebak? Oh, apa karena begitu banyaknya orang yang ingin membunuhmu?” Pria itu membalas dengan nada mencemooh. “Yah, bukan salahku jika mereka iri padaku.” “Wah, kau benar-benar tak bisa melihat di mana kesalahanmu, ya? Mungkin aku memang perlu memberimu pelajaran.” “Cartez, kan?” Tobias menebak langsung. “Kelihatannya ingatanmu masih bisa digunakan.” “Akhir-akhir ini dia memang gemar membuat ulah denganku. Apa yang dia perintahkan padamu? Membunuhku? Menyuruhku memberikan sebagian dari hartaku padanya? Menyuruhku untuk melunasi utang yang bahkan tidak pernah ada?” “Apa?” Pria brewokan itu bertanya bodoh. Tiba-tiba merasa heran bagaimana bisa Tobias menghadapinya sesantai itu. Ia itu akan dibunuh. Dibunuh! Bukankah seharusnya ia merasa sedikit waswas? Tobias maju, berniat mendekat. Si pria brewokan langsung melihat pergerakannya. Tangannya otomatis mengarahkan pistol itu pada Tobias. “Diam di sana!” Pria itu menggertak, tapi Tobias tidak mendengarkan. Ia kembali melanjutkan langkah. “Berhenti atau aku akan menembak kepala gadis ini!” Pria itu kembali menekan pistolnya pada Isabella. “Bunuh saja.” Isabella nyaris rubuh saat mendengar kata-kata Tobias. Apa? Kenapa … Tobias mengatakan itu? Kenapa pria itu tidak menolongnya? Setidaknya sedikit berusaha untuk menolongnya? Tidak adakah setitik rasa kemanusiaan dalam dirinya? Lagi-lagi, dia ingin membiarkan Isabella mati. “Silakan, tarik pelatuknya. Kalau kau memang ingin membunuhnya, seharusnya kau sudah melakukannya sejak tadi.” Tobias kembali melanjutkan. Isabella gemetar di tempat. Tangannya saling bertaut satu sama lain. Mencoba untuk menemukan sedikit ketenangan, tapi tetap tidak bisa. Dia tidak mau mati. “Pak Tobias …,” panggilnya pelan, nyaris memohon. Tobias tidak menatap Isabella sedikit pun. Pria itu bisa mendengar bagaimana Isabella memanggil namanya. Sekali dengar saja Tobias tahu bahwa gadis itu ketakutan. “Aku bilang berhenti!” DOR!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN