Bab 9 Tobias Bisa Tertawa?

1799 Kata
Isabella terbangun saat mendengar derak ranting dan kayu. Matanya mengerjap lambat, menyadari bahwa kini hari telah gelap. Ia mendapati dirinya berbaring di tanah sambil menghadap api unggun kecil. Tak jauh darinya, Tobias sedang duduk sambil sesekali memeriksa layar ponsel. Bunyi jangkrik mendominasi malam sunyi itu. Tanpa menunggu lagi, Isabella langsung terduduk. Tak bisa menahan ringisan nyeri karena kepalanya seketika pusing. Tangannya tanpa sengaja menyentuh tanah dan sebagian jaket Tobias yang rupanya tadi sudah menjadi alasnya tidur. “Maaf, Pak. Saya … saya ketiduran,” ujarnya pelan dan cemas. Terkutuklah kau, Isabella. Bisa-bisanya kau pingsan saat keadaan genting seperti ini! “Kau dehidrasi, tapi kita memang tidak punya air minum.” Balasan dari Tobias masih sama. Singkat, padat, dan jelas. Isabella mengusap keningnya, masih dingin. Ia segera mengamati sekitar. Hanya terdengar bunyi hewan-hewan malam. Suhu udara setidaknya tidak setinggi siang tadi. Isabella membenarkan letak kaca matanya yang sudah miring. “Apakah perjalanan kita masih jauh?” Isabella membuka percakapan lagi. Berada berdua saja dengan Tobias dalam keadaan hening benar-benar menyiksanya. Tobias diam sejenak, memeriksa sekeliling. “Seharusnya tidak jauh.” Isabella menahan diri untuk meremehkan kalimat itu. Sejak tadi siang hanya itu yang Tobias yakini, tapi mereka terlihat tidak mendekati tujuan sama sekali. “Bagaimana kita bisa sampai di sini? Bapak menggendong saya?” Tobias menoleh cepat. Memandang Isabella dengan agak terhina. “Aku menyeretmu ke sini. Beraninya kau tak sadarkan diri. Kau membuatku sangat kerepotan.” Isabella seketika agak sedih sekaligus kaget. Melihat sikap Tobias selama ini, pria itu memang bisa saja menyeret—atau bahkan menggelindingkannya—hingga sampai ke sini. “Bapak benar-benar menyeret saya?” “Wah, jadi isi kepalamu tentangku memang seburuk itu, ya?” Isabella tahu ia sedang dimarahi, tapi senyumnya tak bisa ditahan. Detik itu juga ia tertawa kecil. Meskipun samar, ia bisa melihat wajah Tobias agak merah karena malu dan marah. Setidaknya Tobias tidak meninggalkannya terbaring hingga mungkin saja berakhir mati di tepi jalan. Pria itu bersusah payah menolongnya. Diam-diam Isabella mulai merasa atasannya itu manusiawi—sedikit. “Maaf, Pak. Saya bercanda. Terima kasih karena sudah bersedia membawa saya. Ataupun menyeret saya.” Isabella menunduk dengan sungguh-sungguh. Ia lalu memandangi sekeliling, baru menyadari sesuatu. “Di mana motor kita, Pak?” “Kutinggalkan di tepi jalan.” Isabella menganga. Sementara Tobias mendelik tajam. “Apa? Kau pikir aku bisa membawanya sambil menggendongmu yang seberat itu?” Isabella merengut lagi. “Maaf, Pak. Baiklah, nanti saya akan mengurusnya dengan Hugo agar ia tidak marah.” “Dia tidak akan berani marah padaku. Kau pikir aku ini siapa?” Isabella memilih diam. Perutnya seketika bergetar karena lapar. Ia melirik Tobias. Pria itu tidak komplen, tapi ia yakin Tobias juga lapar. “Maafkan saya, Pak. Saya seharusnya mempersiapkan segalanya dengan lebih baik.” Tobias melirik sekilas, menatapnya tajam sebelum kembali fokus pada api unggun dan menambah ranting-ranting sebagai bahan bakar. “Bukan salahmu,” balasnya singkat. Tobias akhirnya diam lagi. Ia sudah benar-benar berkompromi hari ini. Ia sudah bersedia menurunkan kekesalannya saat harus membonceng gadis itu. Menganggapnya sebagai pertukaran karena telah membuat sekretarisnya repot akibat dirinya yang kesiangan. Tetapi ternyata itu tidak perlu dilakukan. Pada akhirnya gadis itu tidak terlalu senang. Dan mereka juga harus terdampar di sini. Dan ia bahkan harus menggendong gadis itu sejauh lebih dari satu kilometer mereka berjalan! Sial. Hari ini dirinya benar-benar kacau. Ia sudah merasa aneh sejak pagi tadi karena bisa-bisanya ia terlelap. Setelah bertahun-tahun ia tidak bisa tidur nyenyak, tadi akhirnya ia kesiangan! Tidurnya sebenarnya tidak terlalu lama karena ia baru terlelap saat pukul enam pagi, tetapi tetap saja. Tobias mulai merasa tidak mengenali diri sendiri. “Bapak sepertinya pandai menembak.” Isabella berkata perlahan. Di tengah situasi hening ini membuatnya kembali memikirkan kejadian yang tadi mereka alami. Ia tahu bahwa membidik objek yang bergerak sama sekali tidak mudah, tetapi Tobias berhasil menembak tanpa meleset. Pria itu pasti sudah latihan beberapa lama hingga menjadi andal begitu. Gadis itu mendongak saat Tobias tidak menjawab, tetapi ia tahu Tobias mendengarkan. Karena tidak diminta berhenti, ia melanjutkan, “Sejak kapan Bapak belajar menembak?” Tobias diam agak lama. Ia tersenyum sedikit saat mengingat-ingat. “Sejak umurku tujuh tahun.” Isabella terpana beberapa saat. Tobias menatapnya saat Isabella hanya diam. Sudut bibir pria itu masih sedikit terangkat, tetapi entah kenapa senyum itu bukan menyampaikan kesenangan. Isabella justru merasa getir. Tunggu, sejak umur tujuh tahun? Bocah gila mana yang diajari menembak sejak umur tujuh tahun? Isabella memandangi Tobias lagi. Kali ini senyum pria itu agak lebih lebar. “Bapak mengerjai saya ya?!” Kali ini Tobias terkekeh singkat. “Aku memang bukan orang yang ramah, tapi aku juga bukan pembohong, Claire.” Meskipun Isabella masih jengkel, gadis itu hanya diam. Membiarkan atasannya menikmati waktu menjahilinya, berhubung melihat Tobias terkekeh tidak bisa dialami setiap hari. Ia sudah tidak peduli lagi apakah jawaban pria itu jujur atau bohong. Suasana kemudian hening. Telinga Isabella sayup-sayup mendengar bunyi keramaian. Namun, detik berikutnya ia hanya mendengar dengung nyamuk dan binatang malam. Sebelum kemudian suara riuh itu kembali terdengar. Isabella lantas bangkit. Berusaha mengamati sekeliling. Ia segera berdiri, mengambil ponsel dari saku dan menyalakan blitz. “Ada apa?” tanya Tobias tak sabar. “Saya mendengar suara keramaian. Sebentar, Pak.” Isabella lagi-lagi mengamati sekeliling. Ia berusaha menuju tepi jalan. Menyipitkan mata memandangi ujung jalan yang menurun. “Pak, apakah Bapak sungguhan saat mengatakan bahwa kita sudah dekat dengan pasar?” “Oh, kau mengira aku mengada-ada?” balas Tobias pedas. “Bukan begitu, Pak. Coba dengarkan. Ada suara riuh keramaian.” Isabella menempelkan telunjuk di bibirnya, meminta Tobias ikut mendengarkan. Pria itu patuh, ikut diam. Membuat Isabella tiba-tiba gemas melihat betapa penurutnya pria itu sekarang. Namun, detik berikutnya ia kembali mendapat tatapan tajam dan dingin meski dengan penerangan minim. Kenapa Tobias tidak pernah mengizinkannya untuk memujinya lama-lama, sih? Untuk sejenak Tobias ikut diam, mendengarkan. “Tidak salah lagi.” “Ayo, Pak. Sebaiknya kita segera ke sana. Mumpung sekarang baru pukul tujuh malam.” Isabella mengambil jaket Tobias yang tadi menjadi alasnya tidur kemudian melangkah cepat menyusul pria itu yang sudah berjalan lebih dulu. Setelah berjalan berdampingan lebih dari seratus meter, akhirnya keramaian mulai terlihat. Tampak seperti pasar malam. Untuk sesaat Isabella hampir lupa bahwa mereka masih berada di Spanyol. Semakin dekat dengan tempat itu, langkah Isabella semakin cepat. Ia benar-benar ingin berteriak karena teramat lega. Padahal pikirannya sudah begitu jauh mengenai kemungkinan mati di antah berantah bersama dengan bosnya yang kejam—ah, tapi bosnya yang kejam itu juga sempat bersikap manis tadi, kemajuan pesat! Isabella bergegas menyusul Tobias yang lebih dulu memasuki pasar malam yang disesaki pengunjung. Aneka jajanan pinggir jalan memenuhi trotoar. Bar-bar dan café-café terbuka lebar dan ramai pembeli. Pergelaran tarian berpasangan khas Eropa tampak di sisi jalan yang lain, dikelilingi oleh para penonton yang bersorak sorai. Belum sampai lima menit, Isabella nyaris kehilangan jejak Tobias. Pria itu bergerak amat cepat, menyalip orang-orang tanpa kesulitan. Mengingat fakta bahwa ia bahkan tak bisa mengenali wajah orang, bukankah seharusnya ia lebih berhati-hati? “Pak!” panggil Isabella saat Tobias kembali melesat pergi. Isabella berlari menembus kepadatan massa. “Pak!” panggilnya lagi sambil meraih tangan Tobias. Pria itu menoleh. “Ada apa?” balasnya dengan suara agak keras. “Apakah Bapak lapar?” “Apa?” Tobias mengulang, tak mendengar dengan benar karena keributan yang memenuhi sekeliling. “Ayo, kita berhenti. Bapak harus makan,” ujar Isabella lebih mengeraskan suaranya. Namun, ekspresi Tobias masih bingung. Isabella akhirnya berjinjit agar dapat menjangkau telinga pria itu lebih dekat. “Kubilang, ayo, kita berhenti. Bapak harus makan.” Belum sempat pria itu merespons, Isabella sudah menarik lengan Tobias. Gadis itu dengan cekatan membelah kerumunan massa. Ia lalu mendudukkan Tobias di salah satu bangku kedai di tepi trotoar. Mereka urung masuk ke café dan bar karena tak ingin berjubel. “Bapak tunggu di sini,” instruksi Isabella lagi. Tepat saat gadis itu ingin pergi, Tobias menarik tangannya. Pria itu menarik napas dalam. Masih meredam kekesalan mengingat bagaimana Isabella memperlakukannya seperti anak anjing yang cacat. Belum lagi, aroma familiar itu. Bukan lagi di tahap terusik, kini bau itu sudah mulai mengganggunya. “Memangnya kau punya uang?” Meski Tobias ingin menyemburkan segala ucapan kejam, ia memilih abai. Di samping karena ia sudah benar-benar lelah. Isabella merengut, berdoa supaya prosopagnosia Tobias tidak melihat senyum kesalnya. “Bapak benar-benar meremehkan saya sebagai sekretaris, ya. Sudahlah. Bapak tunggu di sini sebentar.” Isabella kemudian melesat pergi. Di posisinya, Tobias mengamati sekeliling dengan cermat melalui gestur yang tidak mencolok. Sudah beberapa waktu sejak ia ke sini. Dan kali ini pun perasaannya agak buruk. Kini berada di keramaian membuat segala alarm bahaya di tubuhnya aktif. Instingnya menajam drastis. Dan meskipun mengamati setiap wajah orang ini membuatnya sakit kepala, ia tetap tak bisa berhenti. “Pak Tobias.” Panggilan dari Isabella nyaris membuat Tobias terjengkang. Ia bahkan tanpa sadar telah mencengkeram lengan gadis itu kuat-kuat. Namun, meski begitu Isabella tidak meringis. “Ini makanan Anda. Maaf membuat Bapak menunggu.” Gadis itu mengangsurkan satu wadah makanan berisi tartillo dan beberapa empenadas di wadah lain. Di dalam kantung plastik lain terdapat lima botol air mineral—mereka benar-benar kehausan. “Kau tidak ingin duduk?” tanya Tobias yang melihat Isabella masih berdiri. Gadis itu tersenyum. “Tidak. Bapak saja yang duduk,” jawab Isabella. Karena memang hanya terdapat satu kursi kosong di sana, maka Isabella tentu memilih berdiri. Tidak mungkin ia duduk dengan santai sementara atasannya berdiri dengan pegal. “Aku memang tidak menawarimu untuk duduk,” sahut Tobias kejam. Isabella tidak membalas. Setelah ia mengira bahwa atasannya ini cukup bersahabat, kenyataan selalu mengempas pemikiran itu dengan fakta betapa buruknya perangai Tobias. Mereka menyantap makan malam itu dengan lahap. Hiruk pikuk masih belum berkurang. Tak butuh waktu lama, seluruh makanan sudah tandas. Tobias kini sibuk berkutat dengan botol air mineral. Melihat itu, Isabella langsung menunduk. Mengambil botol lain dan mengganti botol itu dengan yang ada di dalam genggaman Tobias. “Minum yang itu saja, Pak. Tutupnya sudah saya bukakan.” Isabella mempersilakan. Gadis itu sama sekali tidak menyadari perubahan ekspresi di wajah Tobias. Kulitnya memucat. Dan matanya menatap Isabella seolah tengah melihat hantu. Napasnya seketika sesak seolah baru saja terhirup zat berbahaya. Tangannya gemetar saat mengambil botol pemberian Isabella. Dengan suara seraknya ia berkata, “Claire, baumu—” Kalimat itu tak sempat selesai saat tiba-tiba saja bunyi memekakkan terdengar. Tobias sempat lega karena nyaris menyuarakan hal itu keras-keras. Kumpulan massa menepi dan buyar saat sebuah mobil jeep tiba-tiba menyeruak keramaian. Beberapa orang menggeram marah pada si pengemudi. Sementara orang yang diteriaki tampak tak peduli. Beberapa pria berbadan besar keluar dari mobil tersebut. Para pria lain mulai mengerubungi si preman yang baru datang. Tak terima karena telah mengacaukan kesenangan. Sementara para preman tampak tak peduli dan lagi-lagi bersiap mengamuk. Salah seorang di antara mereka kemudian menyalak lantang, “Siapa di sini yang bernama Tobias Oliveros?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN