23 Malam merayap semakin larut, tapi mata Anindira tidak kunjung mau terpejam. Tak terasa hari berlalu begitu cepat. Sudah empat bulan Anindira tinggal di Bandung. Pria aneh yang memberinya ponsel sudah jarang datang ke warungnya, berganti bibi yang setia mengambil pesanan lontong gurih untuk majikannya. Anindira tidak banyak bertanya, dia malah senang tidak ada yang menggoda dan mengatakannya pelit karena bonus lontongnya cuma lima biji. Pria itu hanya datang dua kali, pertama saat menawarinya pekerjaan dan kedua datang bersama seseorang untuk membantu dirinya menyiapkan berkas tiga hari yang lalu. "Girl, gak bosan jualan gorengan?" tanyanya suatu hari, seperti biasa dia datang dengan motor matic yang terlihat kurang cocok dengan tubuhnya yang tinggi dan kukuh. Hari Minggu dia meman

