Bab 28

1111 Kata

Dengan agak tergesa kaki Biru memanjang, memasuki rumah sederhana itu, dan rahangnya seketika mengeras saat melihat siapa yang sudah duduk di kursi ruang tamu bersama Aya dan ibunya. Lelaki itu, lelaki yang sangat disayanginya tapi sekaligus juga paling banyak menggoreskan luka ada di hadapannya saat ini. Memori masa lalu yang masih membekas mendadak berputar di kepalanya. "Jangan panggil saya ayah, saya tidak pernah punya anak seperti kamu." Satu kalimat yang masih tertancap di hatinya sampai sekarang. Terpatri dalam sanubari. Sekumpulan kata yang langsung membuatnya jatuh. Bukankah dulu sang ayahlah yang selalu memanggil namanya dengan bangga, mengucapkan banyak kalimat pujian di hadapan sesama rekan kerja, melambungkannya hingga akhirnya menghempaskan tubuhnya ke dasar, seolah nyawan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN