Tatapan kami saling terkunci untuk beberapa saat, mungkin hanya hitungan detik saja, tetapi terasa sangat lama karena waktu seolah berhenti berputar, menyisakan ruang kosong antara aku dan dia, hanya kita. "Eh, Cin." Mbak Naura menyela pikiranku yang sudah melayang entah kemana. "Kamu mau buat cerita tentang apa?" tanyanya sembari menolehkan kepala ke arahku. Mataku mengerjap kaget, seolah sedang tertangkap basah melakukan sesuatu yang memalukan, begitupun Biru yang langsung menunduk dan memutus kontak mata kami, bahkan dia sempat terbatuk kecil dan mengacak rambut belakangnya secara kasar, bibirku berkedut saat melihatnya seperti itu, itu sungguh pemandangan yang sangat menarik bagiku. "Hayo ... " Mbak Naura menyenggol sikuku, mencoba menggoda. "Abis ngapain tadi sama Biru? "Enggak ko

