Chapter 13 :
Eldritch (3)
******
PADA jam setengah satu siang, Lynn kembali datang ke area tenda mereka. Gadis itu membawa beberapa keranjang, lalu berkata dengan manis, “Selamat siang.”
Semua orang yang kebetulan sedang duduk-duduk di depan tenda mereka spontan langsung tegak—atau setidaknya duduk tegap—saat melihat kehadiran Lynn. Lynn mulai meletakkan keranjang-keranjangnya di bawah, lalu berjongkok dan membuka penutup-penutup keranjang itu.
Becca, Sophia, dan Jack mulai mendekati Lynn. Becca bertanya, “Ini apa, Lynn?”
Lynn mendongak, tersenyum manis, lalu mulai mengeluarkan kotak-kotak bekal transparan yang berisi makanan. “Ah…ini makanan dari warga sini. Ayah memberitahu para warga bahwa ada salah satu dari kalian yang sakit, jadi banyak dari mereka yang menyumbang makanan untuk kalian. Namun, Ayah sudah bilang pada mereka untuk memilih bahan-bahannya dengan baik. Kalau ada menu yang kira-kira tidak kalian sukai atau mungkin alergi, jangan dimakan, ya. Pilih yang kalian bisa makan saja.”
Mendengar ucapan Lynn—sekaligus melihat makanan sebanyak itu dengan berbagai jenis—semua orang di sana spontan gembira bukan main. Mereka berdiri dan menghampiri Lynn, melihat-lihat semua makanan itu dan mengucapkan terima kasih banyak.
Lynn tersenyum manis dan mengangguk. Namun, sambil mengeluarkan makanan-makanan itu, Lynn sempat bertatapan dengan Eddie.
Eddie tidak berdiri; dia hanya duduk tegap di depan tendanya karena melihat Lynn datang. Namun, tidak, dia tidak menghampiri Lynn ataupun memilih makanan bersama teman-temannya yang lain.
Tatapannya hanya fokus ke Lynn.
Lynn juga melakukan hal yang sama. Mereka menatap tepat ke mata masing-masing. Seakan-akan berbicara…atau saling memenjarakan…satu sama lain hanya dengan tatapan.
Bagai ada sebuah magnet yang menarik mereka berdua. Ketertarikan itu instan dan sangat fatal. Ada hasrat yang tak terbendung lagi.
Eddie pelan-pelan tersenyum miring. Matanya menggelap…
…terutama saat tatapan Lynn mulai terlihat mengawang. Rasa ingin di mata gadis itu tercetak dengan jelas. Penuh lamunan. Angan-angan. Seolah-olah pikirannya sudah melayang ke situasi yang belum terjadi.
Tatapan mereka berlangsung terlalu lama. Terlalu fokus. Terlalu mengawang dan berkelana jauh. Menelanjangi tanpa harus bergerak. Penuh gairah.
…dan keduanya sadar akan hal itu.
Oh, tidak. Bukan hanya mereka berdua, sebenarnya. Inez, Sophia, dan Zoya pun saling memandang. Namun, ketiga gadis itu ujung-ujungnya hanya mengedikkan bahu dan lanjut memilih makanan-makanan tadi.
******
“AAHHHH FUUUCK!” erang Eddie saat kejantanannya masuk ke lubang v****a Lynn. Lynn langsung mendesah hebat; dia berpegangan pada pohon, kuku-kukunya nyaris mencakar batang pohon itu. Satu tusukan dari Eddie mengirimkan ribuan sengatan listrik ke tubuhnya.
Oh, Lynn sangat menunggu saat-saat ini!
Dia menginginkan ini. Dia menginginkan Eddie. Mau ditusuk oleh Eddie. Kuat. Keras. Sekarang juga!
“f**k, KAU SENGAJA MENGGODAKU, ‘KAN?!!! KAU SUKA PADAKU, HAH?!!! YOU’RE A TROUBLE!! f**k!!! TAKE THIS!! TAKE MY c**k! LOOK AT YOUR LITTLE HOLE SWALLOWING MY c**k!!!” Eddie menggeram, urat-urat di lehernya menonjol. Dia mencengkeram pinggul Lynn, b****g Lynn terekspos di depannya. Rok Lynn dibuka—diangkat hingga ke atas—dan kancing baju Lynn sudah terbuka semua. Kedua p******a Lynn sudah lolos dari bra-nya dan memantul-mantul kencang seiring dengan tusukan Eddie yang sangat brutal. Seolah-olah tidak ada hari esok. Seolah-olah mereka akan hilang akal kalau tidak bersetubuh saat ini juga.
“OOOHHHH!!!” teriak Lynn. Perempuan itu mendorong bokongnya sendiri ke belakang, menemui tusukan Eddie. Menusukkan dirinya sendiri ke kejantanan Eddie yang keras. Membantu Eddie dengan agresif, tidak sabar. “YA! OHHH!! AH! AH! ENAK SEKALI!! TERUS!! TUSUK AKU LEBIH KERAS!!! AKU SUDAH MEMBAYANGKAN INI SEJAK KEMARIN!!”
“SIAL!!!!!” umpat Eddie. Pemuda itu semakin menggeram, hilang akal saat mendengar pengakuan Lynn. “YES, BABY, ME TOO! f**k! I'VE WANTED TO f**k TO YOU SINCE YESTERDAY. OHHH! YOU FEEL SO GOOD!!!”
“AHHHH, EDDIE!!!” Lynn meneriakkan nama Eddie yang sebenarnya baru dia ketahui beberapa saat yang lalu, sebelum mereka berhubungan seks panas begini. Sebelum mereka saling bergoyang; sebelum mereka kawin seperti binatang di tengah-tengah hutan begini.
“EDDIE, PLEASE!!! AHHH!!! LEBIH KERAS!! LEBIH KENCANG!!!” mohon Lynn. Ekspresi wajahnya benar-benar erotis. Mulutnya menganga; matanya terbalik ke belakang, nyaris hanya bagian putihnya yang terlihat. “OHHH, NIKMAT!! IT FEELS SO GOOD TO BE f****d BY YOU!! OHH I f*****g WANT YOU SO MUCH!!! SUCH A HANDSOME MAN!”
Rahang Eddie mengetat. Dia lalu mengerang hebat, menggeram, dan sedikit menunduk untuk mencubit p****g Lynn kuat-kuat. Lynn berteriak kencang, “AHHHH!!!!! MORE!!! DO IT AGAIN!!! PULL IT!!!”
Eddie pun menurutinya; pemuda itu langsung menarik p****g Lynn kuat-kuat. “f**k YES!!!!”
“AHHH, AHH!! EDDIE!! AKU MAU KELUAR!! AKU MAU KELUAR!!!” teriak Lynn. Dia berbicara dengan cepat, napasnya agak terputus-putus karena berbicara sambil disodok oleh Eddie. Sodokan itu sangat cepat dan kuat. Liar.
“AHHH!! AKU MAU KELUAR DI DALAM!! DI DALAM!!” teriak Eddie kencang. Dia juga hampir keluar. Sedikit lagi. Tusukannya jadi semakin brutal. Dia langsung menarik rambut Lynn ke belakang, membuat punggung Lynn melengkung.
Lynn semakin gila saat rambutnya ditarik. Itu nikmat sekali baginya. Air liurnya tanpa sadar mengalir dari sudut bibirnya. “AHHH YES! YES! OHHH! c*m INSIDE ME!!! KELUARKAN SPERMAMU DI DALAMKU!!! MASUKKAN SEMUANYA!!!!”
“FUUUUUUUCKKKK!!!!!!!!” umpat Eddie kencang saat memberikan satu tusukan yang sangat keras pada lubang v****a Lynn. Menyemprotkan semua spermanya di dalam sana.
“OOOHHHHHHHH!!!!!!!!” teriak Lynn saat Eddie menyemburkan s****a ke dalamnya. Mengalirkan semua s****a itu ke rahimnya. s****a yang sangat banyak dan kental. Lynn juga o*****e di saat yang sama.
Kepala Eddie mendongak, terlempar ke belakang saat mendapatkan kenikmatan yang luar biasa itu. Di kepalanya mulai berputar kalimat:
Ohh…sial. k*****t. Enak sekali. Enak sekali!!! Aku bisa ketagihan.
Teman-temanku masih kepikiran soal Miller; aku juga baru tahu soal Miller siang tadi, tetapi sekarang aku ada di sini, di tengah-tengah hutan, malah sibuk menyodok v****a seorang perempuan. Anak gadisnya tour guide di hutan ini.
Asyik sekali. Aku sangat puas. Senang. Baguslah aku mengikuti acara kemah ini!
Tidak bermoral, tidak beretika, tidak tahu situasi, tetapi hasrat dan nafsuku sudah tak terbendung.
…dan ini sungguh nikmat! Nikmat sekali, sialan.
******
Hari sudah malam. Malam ini, mereka semua berkumpul di depan api unggun yang mereka hidupkan dua jam yang lalu. Mereka baru saja makan malam dan sedang mengobrol bersama.
Ada sembilan orang yang duduk di sana. Ada yang bermain ponsel, ada yang iseng-iseng memetik senar gitar dengan pelan, dan ada juga yang hanya mengobrol. Hanya satu orang yang tidak ada di sana:
Eddie.
Sejak tadi sore, Eddie tidak terlihat. Terakhir kali mereka melihat Eddie adalah saat makan siang.
“Ke mana Eddie?” tanya Elias seraya mengernyitkan dahi.
“Tak tahu. Aku sudah tak melihatnya sejak selesai makan siang tadi,” jawab Hayes.
July memiringkan kepalanya. “Apakah dia tak mengatakan sesuatu pada kalian sebelum pergi?”
“Tidak,” jawab Elias.
“Apa yang dia lakukan sampai malam begini? Di tengah hutan pasti gelap sekali!” ucap Becca. Gadis itu terlihat heran minta ampun.
Alis Elias mulai menyatu. “Ke mana dia kira-ki—"
“Probably having s*x with Mr. Parker’s daughter somewhere,” celetuk Jack seraya mengedikkan bahu. Ekspresi pemuda itu datar; dia terlihat sangat yakin. Dia memotong ucapan Elias dengan cepat, spontan.
Semua orang yang ada di sana jadi terperanjat. Napas mereka kontan tertahan di tenggorokan. Mata mereka membulat.
“Yo what?!” ucap July tak habis pikir.
“Bro, what the f**k?!” jawab Hayes. Apakah Jack serius mengatakan itu?
“A—Apa-apaan?! Bukankah mereka baru mengenal satu sama lain?!” ucap Becca. Becca menutup mulutnya dengan sebelah tangan.
“That’s definitely crazy!” tambah Inez. Sophia dan Zoya hanya menganga tak percaya. Masa iya, sih?
Sementara itu, Elias hanya heran. Separuh percaya, separuh tidak.
Jack mendengkus, lalu memutar bola matanya. “Don't tell me you didn't feel the s****l tension between them these past two days? I'm sure we all saw how they undressed each other with just their eyes.”
Mereka semua terdiam. Beberapa mulai refleks meneguk ludah.
Well…
Iya juga, sih.
Namun…yang benar saja?!! Berhubungan badan? Di hutan?? Malam-malam begini? Saat baru kenal dua hari?? Saat Miller sedang tidak sadarkan diri?!!
Apa dia gila?!
Apa pun itu, ucapan Jack membuat mereka semua jadi tak habis pikir dengan Eddie. Sepertinya, besok pagi…(atau malam ini, kalau Eddie pulang), mereka harus mencecar Eddie dengan berbagai pertanyaan.
Ya. Harus.
Mereka pun menunggu. Melanjutkan obrolan mereka sambil berusaha untuk tidak kepikiran soal Eddie. Hingga akhirnya, mereka semua pun mengantuk dan memutuskan untuk kembali ke tenda masing-masing. Mau tidur.
Akan tetapi, ternyata…
Eddie tak kembali malam itu. []