Chapter 12 :
Eldritch (2)
******
ZOYA langsung melihat ke arah yang sama.
“A—Ah…itu—”
“Aku mau lihat!” potong Inez. Gadis itu langsung berjalan cepat—beberapa langkah—untuk menghampiri kumpulan pigura yang tergantung di sana. Zoya jelas kaget bukan main.
“Inez…!” Zoya berteriak (tetapi dengan mendesis, bukan betul-betul mengeluarkan suaranya). “Hei, wait!!”
Dengan cepat, Zoya pun menyusul Inez ke depan sana. Inez sudah berdiri di depan foto-foto itu.
Aduuh, bukannya kita ke sini karena mau menjenguk Miller, ya?
Lagi pula, kalau Mr. Parker tiba-tiba kembali, bagaimana?!
Zoya berdecak dan menggaruk kepalanya. Inez memang ada-ada saja.
Saat sudah berdiri bersebelahan dengan Inez, akhirnya Zoya menghela napas. Ia pun memilih untuk bersabar saja, mungkin Inez hanya penasaran dan butuh waktu sebentar saja untuk menuntaskan rasa penasarannya.
Mereka berdua pun kini sama-sama memperhatikan foto-foto itu.
Tatkala memperhatikan foto-foto itu lagi sekarang…Zoya mulai menemukan detail-detail yang belum sempat dia cerna waktu itu.
Di sisi lain, Inez tampak tercengang. Antara kaget, bingung, dan juga…kagum. Dia memang melihat foto-foto vintage di sana, sama seperti apa yang Zoya ceritakan. Matanya tak bisa lepas; dia jadi memperhatikan foto-foto itu satu per satu. Sesekali, dia menggeleng tak percaya.
Ini semua…betulan atau cuma kostum?
Hingga akhirnya, Zoya menyentuh salah satu pigura. Inez pun refleks menatap ke pigura yang sama. Foto yang terpampang di sana.
Dahi mereka berkerut begitu melihat foto itu.
Itu adalah foto Mr. Parker bersama teman-temannya. Mereka semua memakai seragam yang sama. Seragam berwarna abu-abu. Dengan topi militer.
Di sudut kanan bawah foto tersebut, ada sebuah kalimat yang ditulis dengan spidol berwarna hitam. Hampir pudar, tetapi masih jelas. Tulisan tersebut adalah:
Provisional Army of the Confederate States (PACS), 1863.
Inez dan Zoya sama-sama bingung.
1863?
Apakah itu benar-benar diambil di tahun 1863?
Ataukah itu bukan Mr. Parker?! Kakek buyutnya yang mirip dengannya, mungkin?!
Soalnya, itu—itu lebih dari seratus tahun yang lalu!!
Either way, itu pasti bukan Mr. Parker.
Inezlah yang pertama kali bersuara.
“…1863?” katanya. “Is this real?”
Zoya jadi gelisah. Ekspresi wajahnya agak panik. Dia langsung menoleh pada Inez dan menggenggam tangan gadis itu. “Sudahlah, ayo pergi ke kamar! Mr. Parker bisa kembali sewaktu-waktu. Ayo lihat Miller saja!”
Ujung-ujungnya, dia pun menarik Inez pergi dari sana, membuat Inez terseret meskipun mata Inez masih terpaku pada foto itu.
Begitu sampai di kamar, mereka melihat Miller yang sedang berbaring telentang. Pemuda itu masih belum sadar. Di nakas, ada beberapa tumbuhan dan sebuah alu kecil. Di dalam alu itu masih ada bekas berwarna hijau, sisa-sisa tumbuhan yang ditumbuk sebelumnya. Di sebelah alu itu, ada segelas air dan sebotol kecil balsam.
Sepertinya, itu adalah tanaman herbal yang Mr. Parker maksud tadi. Mr. Parker memang mengobati Miller dengan tanaman itu.
Mereka berdua menghela napas prihatin saat melihat kondisi Miller. Satu jam adalah waktu yang lama sekali kalau untuk pingsan semata. Miller sebenarnya kenapa?
Mereka sama-sama berdiri di samping ranjang Miller. Tinggal di sana selama beberapa menit. Sesekali mengecek suhu tubuh Miller, sesekali memperhatikan tanaman itu, sesekali juga mengoleskan balsam di dekat hidung Miller. Setelah lima menit berlalu, mereka pun mendengar suara pintu dibuka. Pintu belakang.
Inez dan Zoya langsung menoleh ke belakang. Itu pasti adalah Mr. Parker. Langkah kakinya mulai terdengar melewati lorong.
Ketika sosok Mr. Parker muncul di ambang pintu kamar, pria itu tersenyum. “Ah…maaf, aku agak lama. Aku tadi menunggu Mrs. Emerson memetik tanaman itu dari belakang rumahnya.”
Mr. Parker mulai menaruh plastik yang berisi tanaman-tanaman itu di lantai, menyandarkan mereka di dinding dekat pintu kamar.
Inez menggeleng. “A—Ah, tidak, Mr. Parker. Anda tidak lama kok. Kami juga sedang mengecek kondisi Miller.”
Mr. Parker berjalan mendekati mereka. “Oh, begitu. Dia belum sadar, ya?”
Inez dan Zoya berbalik kembali; mereka bertiga kini sama-sama memperhatikan Miller. Zoya menggeleng. “Belum, Mr. Parker.”
Mr. Parker menghela napas. Dia tampak khawatir; ada rasa bersalah yang juga mampir di raut wajahnya.
“Ada baiknya kita berbicara di ruang tamu saja. Dia belum sadar. Ayo biarkan dia beristirahat,” saran Mr. Parker. Zoya dan Inez pun mengangguk setuju.
Akhirnya, mereka pun berjalan keluar dari kamar itu. Zoya menutup pintunya karena dialah yang terakhir keluar. Namun, dia sempat menatap Miller sejenak sebelum menutup pintu.
Dia dan Inez pun mengikuti langkah Mr. Parker ke ruang tamu.
“Mr. Parker?” panggil Zoya. Matanya menatap Mr. Parker dengan penuh keingintahuan.
Mr. Parker berhenti melangkah karena kebetulan mereka sudah sampai di ruang tamu. Pria itu pun berbalik, menghadap ke dua gadis yang ada di belakangnya.
“Ya?” jawabnya.
Zoya meneguk ludah, lalu mulai bertanya.
“Apakah Miller…akan baik-baik saja?”
Mr. Parker melebarkan matanya samar, lalu tersenyum seraya menghela napas.
“Aku akan berusaha untuk mengobatinya. Biasanya, warga akan datang padaku kalau ada yang sakit,” ujar Mr. Parker.
Zoya menghela napas lega. Inez pun sama.
“Baiklah. Terima kasih, Mr. Parker,” kata Zoya.
“Meskipun sudah tua begini, aku masih bisa mengurus teman kalian dengan baik,” canda Mr. Parker. Dia sedikit tertawa untuk mencairkan suasana.
Namun, mendengar kalimat Mr. Parker barusan, Inez agaknya berpikir lain.
Dengan hati-hati, Inez pun bertanya pelan.
“Memangnya…berapa usia Anda, Mr. Parker?”
Mr. Parker tidak langsung menjawab.
Dia tersenyum.
Senyumannya sangat…manis.
Setelah itu, dia pun mulai menjawab.
“Usiaku 48 tahun. Sudah cukup tua, bukan?”
Mata Inez melebar. Di dadanya, terasa sesuatu yang aneh. Jantungnya berdegup lebih kencang. Otaknya masih mencerna; dia tak tahu apakah yang dia rasakan itu keraguan, keterkejutan, atau…ketakutan. Dia tak bisa membedakan semuanya. Pikirannya agak kalut.
Akhirnya, karena Inez tak kunjung membalas ucapan Mr. Parker (gadis itu hanya terdiam di sana), Zoya pun tertawa canggung. “Ah…haha… Tidak terlalu tua kok, Pak. Hampir seumuran dengan Ayahku.”
“Oh ya?” Mata Mr. Parker sedikit melebar. “That’s nice!”
Zoya tersenyum. Dia mulai berpamitan. “Baiklah, Mr. Parker, kami pulang dahulu, ya. Nanti, kami semua akan bergantian menjenguk Miller dari waktu ke waktu.”
Mr. Parker mengangguk, lalu tersenyum. “All right. Hati-hati, ya. Aku akan berusaha untuk merawat Miller dengan baik.”
“Okay,” jawab Zoya. Gadis itu pun sedikit menunduk hormat pada Mr. Parker, lalu membawa Inez pergi. Untungnya, pikiran Inez kini sudah mulai normal; dia ikut menunduk hormat pada Mr. Parker sebelum keluar.
Begitu sampai di teras rumah, Inez langsung kaget karena melihat ada Elias dan Hayes. Dua pemuda itu ternyata ada di luar rumah Mr. Parker, menunggu di dekat tangga.
Zoya mendengkus saat melihat Elias. Dia terganggu sekali dengan keberadaan Elias karena mereka baru putus. Dia tak mau dipertemukan dengan Elias terus-menerus.
Jadi, ketika Inez langsung turun dari tangga untuk menemui Elias dan Hayes, Zoya pun mengikutinya dengan langkah malas.
Inez mendekati kedua pemuda itu seraya menyatukan alis. “Apa yang kalian lakukan di sini?”
Hayes tengah menyilangkan tangannya di depan d**a. Dia menunjuk Elias dengan dagunya, lalu menjawab, “Dia mengajakku untuk mengikuti kalian.”
“…mengikuti?” ulang Inez heran. Gadis itu langsung menatap Elias.
Elias mendengkus. “Kalian baik-baik saja?”
Inez mengedikkan bahu. “Well, we’re fine. Why?”
Di detik itu, Zoya juga sudah turun dari tangga. Elias menatap Zoya, fokus kepadanya, lalu menjawab, “Aku hanya khawatir.”
Ujung-ujungnya, Zoya membuang muka lagi. Inez menatap Zoya, lalu diam-diam tersenyum geli. Ada-ada saja, para mantan (yang masih sama-sama suka) ini.
Akhirnya, mereka semua pun kembali ke tenda. Hal yang tidak Zoya dan Inez ketahui adalah: Elias dan Hayes sebenarnya mendengar pembicaraan mereka dengan Mr. Parker di ruang tamu tadi. Kedua pemuda itu sempat mengernyitkan dahi saat Inez mempertanyakan umur Mr. Parker (karena sebenarnya…itu adalah basa-basi yang kurang perlu), apalagi Mr. Parker agaknya tidak langsung menjawabnya. Ada jeda.
Mereka bingung saat mendengar percakapan itu, sedikit merasa aneh, tetapi kurang yakin apa sebabnya. []