Chapter 11 :
Eldritch (1)
******
BEGITU Miller pingsan, mereka semua langsung membawa Miller ke rumah Mr. Parker dengan panik. Mereka ingin meminta pertolongan. Ingin tahu apa yang terjadi pada Miller…sebab July dan Becca ingat bahwa Miller tidak memakan apa pun selain makanan yang diberikan oleh Mr. Parker dan Lynn. Namun, tidak mungkin makanan itu yang membuat Miller muntah-muntah, ‘kan? Kalau memang ada sesuatu di dalam makanan itu, pasti mereka semua akan muntah-muntah, bukan hanya Miller!
“Oh, ya ampun! Apa yang terjadi?!” tanya Mr. Parker dengan panik; dia membuka pintu dan langsung melihat para cowok yang mengantarkan Miller ke rumahnya.
Hayes menjawab cepat, “Dia muntah-muntah, setelah itu dia pingsan.”
“Tolong kami, Pak,” ujar Elias dengan ekspresi khawatir. “Kami tak tahu apa yang terjadi padanya.”
Mata Mr. Parker membulat. “Astaga! Silakan, silakan! Ayo, baringkan dia di ruang tamu!”
Miller pun dibaringkan di ruang tamu. Hayes, Jack, dan Elias duduk bertumpukan lutut di sebelahnya. Para perempuan menunggu di luar. Eddie sejak tadi sedang berkeliling hutan dan belum kembali, jadi dia belum tahu kalau Miller pingsan.
Mr. Parker pergi ke kamar, lalu keluar lagi dengan membawa sebuah botol kecil. Ia mengusapkan isi botol kecil itu—baunya seperti balsam—di hidung Miller. Ia lalu mengangkat kaki Miller ke atas, lebih tinggi daripada d**a pemuda itu.
“Apakah dia memakan sesuatu yang aneh sebelum muntah?” tanya Mr. Parker.
“Tidak,” jawab Jack, menggeleng. “Dia hanya memakan sarapan yang Anda berikan.”
Mr. Parker terkesiap. “Ya Tuhan! Apakah kalian baik-baik saja? Aku memastikan aku memakai bahan-bahan yang segar dan tidak berbahaya, tetapi…astaga, apakah aku dan Lynn salah memilih bahan? Bagaimana dengan kalian? Kalian juga memakan makanan yang sama!”
“Sejauh ini, kami baik-baik saja, Pak,” jawab Hayes.
“Apakah dia punya alergi?” tanya Mr. Parker lagi.
“Setahuku tidak ada,” jawab Jack. “Aku cukup dekat dengannya.”
Mr. Parker mengangguk. “Baiklah. Aku akan merawatnya. Kalian kembali saja ke tenda kalian. Beristirahatlah. Beritahu aku kalau perut kalian terasa sakit atau sebagainya, ya?”
Jack, Elias, and Hayes mengangguk.
“Yes,” jawab Elias. “Please help Miller, Mr. Parker.”
Mr. Parker mengangguk. “I’ll try my best. Aku akan mengantarkannya ke tenda kalian begitu dia sadar.”
******
Satu jam kemudian, Inez dan Zoya datang ke rumah Mr. Parker untuk menjenguk Miller. Mereka ingin tahu keadaan Miller sekarang, terutama karena tadi mereka tidak ikut masuk ke rumah Mr. Parker saat Miller diantarkan.
Tadi, tatkala rombongan Elias keluar dari rumah Mr. Parker, Elias menghela napas dan berkata, “Miller akan dirawat oleh Mr. Parker hingga dia sadar. Ayo kembali ke tenda.”
Becca merespons, “Apakah Mr. Parker tahu mengapa dia seperti itu?”
Hayes menggeleng. “Tidak. Beliau juga kaget dan curiga kalau ada masalah pada bahan yang dia gunakan untuk membuat sarapan tadi pagi.”
“…tapi kita semua baik-baik saja,” ucap Sophia. Inez mengangguk, menyetujuinya.
Jack menghela napas. “Iya. Itu berarti tidak ada masalah dengan makanannya.”
July mengernyitkan dahi. “Apakah Miller alergi terhadap lauk-lauk di makanan itu atau—"
“Dia tidak punya alergi apa-apa,” potong Jack. “Tadi Mr. Parker juga sempat menanyakan itu.”
“Apakah dia sempat memakan sesuatu setelah sarapan?” tanya Inez pada July. July menggeleng.
“Tidak. Kami ada di belakang tenda, mengobrol, dan tiba-tiba dia muntah,” jawab July.
Mereka semua jadi bingung. Sebagian mengernyitkan dahi, berpikir keras. Bertanya-tanya mengapa Miller jadi seperti itu.
Zoya menunduk. Tangannya terkepal. Jujur saja, perutnya baik-baik saja. Jadi, Miller kenapa?
Saat Zoya mengangkat wajahnya kembali, ia pun tanpa sengaja bertatapan dengan Elias. Ternyata, Elias sudah lebih dahulu memperhatikannya. Tatapan mata pemuda itu terlihat khawatir. Sedikit sendu. Seperti ingin menanyakan sesuatu, tetapi tak terucap.
Zoya buru-buru membuang muka, pura-pura menatap Jack yang sedang menyuruh mereka semua untuk kembali ke tenda dan beristirahat.
Sekarang, setelah satu jam berlalu (jam 11 pagi), Inez dan Zoya pun pergi lagi ke rumah Mr. Parker untuk mengecek kondisi Miller. Selain karena penasaran, well…seseorang memang harus mengecek kondisi Miller di sana dari waktu ke waktu. Inez dan Zoya menawarkan diri untuk mengecek Miller pertama kali.
Saat sampai di rumah panggung itu, Mr. Parker menyambut mereka dengan baik.
“Oh, kalian di sini? Silakan masuk. Miller ada di kamar. Aku memindahkannya ke sana agar dia berbaring dengan nyaman,” ujar Mr. Parker.
Inez dan Zoya mengangguk.
“Terima kasih, Mr. Parker,” ucap Inez.
“Apakah Miller sudah sadar?” tanya Zoya.
Mr. Parker menghela napas, ekspresi wajahnya kembali khawatir. “Sayang sekali, dia belum sadar. Aku sudah memberinya obat dari tanaman herbal yang warga sini punya, mencampur obat itu dengan air dan memasukkan itu ke mulutnya, tetapi mungkin dia butuh waktu.”
Mr. Parker pun berbalik, berjalan di depan untuk menuntun Inez dan Zoya ke kamar. “Apakah kalian baik-baik saja?”
Inez mengangguk. “Ya, Mr. Parker. Kami baik-baik saja.”
“Syukurlah,” ujar Mr. Parker. “Aku sungguh khawatir. Kalian datang ke sini untuk bersenang-senang, tetapi hal ini terjadi. Aku merasa tidak enak.”
Zoya menggeleng. “T—Tidak perlu merasa begitu, Pak. Ini bukan salah Anda.”
Mr. Parker menghela napas. “Tetap saja aku harus menjamin kenyamanan kalian.”
Saat melewati lorong, Zoya kembali melihat dua kamar yang berseberangan. Pemandangan yang sama dengan yang waktu itu dia lihat saat menumpang mandi. Inez pun akhirnya melihat secara langsung apa yang waktu itu Zoya ceritakan.
“Ini, Miller ada di kamar ini,” ucap Mr. Parker saat akhirnya dia berhenti di kamar sebelah kanan. “Masuklah. Aku akan meminta tanaman herbal lagi dari Mrs. Emerson, sekalian untuk kalian. Just in case.”
Zoya dan Inez mengangguk. “Terima kasih banyak, Mr. Parker. Maaf sudah merepotkan Anda.”
Mr. Parker berbalik dan tersenyum. “Tidak. Ini sudah jadi tanggung jawabku. Aku pergi dahulu, ya.”
Zoya mengangguk lagi. “Baiklah, Mr. Parker.”
Mr. Parker akhirnya pergi. Dia keluar lewat pintu belakang. Zoya terus memperhatikan pria paruh baya itu sampai akhirnya pintu belakang itu pun tertutup kembali. Zoya tersentak saat tiba-tiba Inez menyikut pinggangnya.
Zoya pun menoleh kepada Inez; gadis itu mengernyitkan dahi. Namun, Inez hanya menggerakkan dagunya, menunjuk kamar yang ada di sebelah kiri mereka. Karena bingung, Zoya pun menatap ke arah yang Inez tunjukkan.
Di sana, di dalam kamar itu, Zoya melihat boks. Ranjang bayi.
…dan di dalam boks itu…ada bayi yang sedang tertidur pulas.
Zoya melebarkan mata. Bayi?
Anak siapa itu?
Anaknya Mr. Parker, ya?
Kalau itu anaknya Mr. Parker…kok jarak umurnya jauh sekali dengan Lynn?
Zoya langsung menatap Inez kembali dan ternyata Inez memasang ekspresi yang sama. Mereka saling pandang.
Akhirnya, Inez cuma mengedikkan bahu. Gadis itu mulai menatap lurus ke depan (ke sepanjang lorong) dan matanya tiba-tiba melebar. Seperti baru saja menemukan sesuatu.
“Eh!” katanya. “Itu, ya, foto-foto yang kau maksud waktu itu?!” []