5. Alexithymia (1)

1471 Kata
Chapter 5 : Alexithymia (1) ****** JULY menatap Elias lekat-lekat. Ia tersenyum lembut; jempolnya membelai pipi Elias dengan penuh kasih sayang. Ini kesempatan yang sangat langka. Rasanya ia beruntung sekali bisa membelai Elias seperti ini. Selama ini, ia tak pernah memiliki kesempatan untuk menyentuh Elias sama sekali. Ia hanya bisa memandanginya dari jauh, terkadang mendekatinya dan mengobrol dengannya, memujinya, atau merayunya…tetapi tidak pernah sedekat ini. Ah, jadi begini rasanya menyentuh Elias. Rahangnya sangat tajam…wajahnya sangat tampan. Besides, he’s so tall. “Say, Elias,” ucap July tiba-tiba. “Maukah kau berkencan denganku?” Namun, tanpa July sangka-sangka, tepat setelah ia mengatakan itu, Elias langsung menepis tangannya dengan kuat. Membuat tangannya terempas ke samping. Ia lantas memperhatikan tangannya yang terempas itu seraya membulatkan matanya. Ia menganga—merasa tak menyangka—dan spontan ia menoleh kepada Elias lagi. “Just what are you—” “Aku baru saja menebak-nebak apa yang ingin kau katakan sambil menyentuhku seperti itu,” jawab Elias. Mata pemuda itu agak menyipit; ia menyatukan alisnya. “tetapi ternyata tak ada gunanya aku menebak-nebak seperti itu.” “What?” July menggeleng tak percaya. “Aku hanya ingin berkata jujur padamu! I’ve been waiting for this! Bukankah kau sudah putus dengan Zoya?!” “Ini akan jadi terakhir kalinya aku mendengar kau berbicara soal ini, July,” ujar Elias, pemuda itu memperingati July dengan telunjuknya. “Hentikan semua ini dan ayo berteman seperti biasa. Aku akan menganggap hal ini tak pernah terjadi.” Elias langsung berbalik, tetapi July juga tak kalah cepat. Gadis itu langsung menahan tangan Elias, lalu berlari ke depan. Ia kini mulai mencegat Elias. “Mengapa kau bersikap seperti aku melakukan suatu kesalahan?! Aku sudah lama menyukaimu dan sekarang aku mengajakmu berkencan! Tidak ada yang salah dengan itu, Elias, karena kau tidak punya pacar sekarang! Setidaknya, beri aku sebuah jawaban!” Mendengar teriakan July, semua pemuda yang sedang mandi di danau itu kontan terdiam. Pemuda-pemuda itu ada yang sedang berenang di danau dan ada juga yang hanya duduk di pinggir danau; mereka semua tadinya sedang mandi seraya mengobrol dan tertawa. Akan tetapi, begitu mendengar teriakan July, mereka semua jadi diam dan langsung melihat ke arah July seraya mengernyitkan dahi. What the hell happened there just now? Mereka—Eddie, Hayes, Miller, dan Jack—sejak tadi tahu bahwa Elias sedang mengobrol dengan July, tetapi kok tiba-tiba mereka jadi bertengkar begitu? Merasa bahwa teman-temannya jadi melihat ke arah mereka, Elias jadi menghela napas. Pemuda itu memijit keningnya sejenak, lalu menatap July lagi. “July, maafkan aku. Aku tak bisa berkencan denganmu.” Mendengar jawaban Elias itu, alis July menyatu. Ia menggeleng kecil. “Why?” Elias sedikit tertunduk; pemuda itu mengembuskan napasnya lewat mulut, lalu ia menatap July lagi. “Karena aku masih mencintai Zoya. Aku masih ingin bersamanya,” jawab Elias yang kontan membuat mata July melebar. Elias lalu melanjutkan, “It seems like you asked me to come here because of this, but actually I wanted to take this opportunity to talk to Zoya.” Setelah mengatakan itu, Elias langsung pergi meninggalkan July. Ia melewati tubuh July begitu saja. Ketika Elias meninggalkannya, July kontan berbalik dan menatap punggung Elias tak percaya. Ia menggeleng dan menganga; matanya melebar. Napasnya terengah-engah. Dahinya berkerut. Ia marah bukan main; hatinya sakit. Dadanya terasa sesak. Setelah itu, July menendang ranting kecil yang ada di dekat kakinya dengan kencang. “f**k!” Teriakan July itu kontan membuat semua pemuda yang ada di sana jadi semakin menatapnya dengan keheranan. July yang menyadari tatapan mereka semua lantas menoleh dan memelototi mereka, lalu pergi dari sana seraya mengentak-entakkan kakinya ke tanah. Teman-teman Elias yang melihat July itu sekarang jadi menatap satu sama lain. Mereka saling bertanya, ‘Ada apa dengannya?’, tetapi ujung-ujungnya mereka semua tetap tak mengerti dan hanya mengedikkan bahu. Sementara itu, Zoya—yang memperhatikan semua adegan itu dari jauh—kini hanya menunduk dan pergi dari tempat itu. Sebetulnya, ia tak mendengar apa pun yang July dan Elias bicarakan, tetapi ia juga tak ingin tahu. Sepertinya, demi ketenangan hatinya, ia tidak perlu tahu. ****** Inez dan Zoya sedang duduk di depan tenda. Ada tiga orang yang menempati tenda itu, yaitu Inez, Zoya, dan Sophia. Akan tetapi, Sophia belum selesai mandi, jadi Sophia belum ada di sana. Ada empat tenda yang mereka bangun di tempat itu. Di tenda pertama ada Inez, Zoya, dan Sophia. Di tenda kedua ada July, Becca, Miller, dan Eddie. Di tenda ketiga ada Elias, Hayes, dan juga Jack. Sementara itu, tenda keempat adalah tenda khusus untuk logistik. Inez dan Zoya sedang mengobrol, tetapi Zoya tak membicarakan tentang Elias dan July sama sekali. Zoya tak ingin Inez berpikir bahwa ia betul-betul memperhatikan Elias; Zoya tak ingin Inez jadi berpikir seperti itu. “Kau serius melihat foto seperti itu di rumahnya Mr. Parker?” tanya Inez pada Zoya. Inez menghadap ke Zoya seraya mengernyitkan dahinya. Zoya lantas mengangguk. “Iya. Fotonya agak unik. Mungkin Mr. Parker dulunya adalah aktor pentas.” Inez memiringkan kepalanya. Alisnya menyatu. “Apakah fotonya kusam? Maksudku…apakah kelihatan seperti foto lama?” Zoya mengerutkan dahinya, mulai berpikir. “Hm…iya, sih. Itu adalah foto lama, tetapi tak mungkin selama itu juga, ‘kan? I mean, itu pasti kostum. Bukan seragam sungguhan.” “Maybe,” jawab Inez. Gadis itu mengangguk. “Itu yang paling masuk akal. Lagi pula, aku juga melihat sesuatu di tempatku mandi tadi.” Zoya menyatukan alis. Ia menatap Inez dengan penasaran. “Kau melihat apa?” “Hm…” Inez berpikir keras. Keningnya berkerut. Setelah itu, Inez menggeleng. “Aku tak tahu bagaimana cara mendeskripsikannya dengan benar, tetapi…tadi, di rumah tempat aku menumpang mandi, aku melihat seorang anak kecil.” Zoya mengangkat sebelah alisnya, lalu berkata, “There’s nothing wrong with that, tho?” Inez mengedikkan bahu. “Well, seharusnya begitu. Aku melihatnya saat melewati sebuah kamar. Kamarnya terbuka, jadi aku refleks melihat ke dalam. Ada seorang anak laki-laki yang terbaring di kamar itu.” Zoya hanya diam. Dia mulai mengerutkan dahi dan mendengarkan Inez dengan saksama. Sesaat setelah itu, mata Inez agak menyipit. Gadis itu melihat ke lain arah, seolah-olah otaknya kembali membayangkan apa yang tadinya telah ia lihat. “Anak itu…sepertinya sedang sakit. Tubuhnya luka-luka. Ia berbaring di kasurnya, tetapi dia terus melihat ke langit-langit sembari ketakutan. Matanya itu… Dia terlihat takut,” ujar Inez. “Tubuhnya kurus, seperti tidak pernah diberi makan; dia tidak terurus. Wajahnya pucat. Akan tetapi, saat pemilik rumah itu—kedua orangtuanya—memergokiku memperhatikan anaknya, mereka berkata padaku bahwa anaknya hanya sedang sakit.” Mata Zoya melebar. Napas Zoya sempat tertahan di tenggorokan. Dengan hati-hati, Zoya membuka suara, “Kau…serius?” Akan tetapi, Inez tiba-tiba menggeleng. Ia langsung menepuk-nepuk pundak Zoya dan tersenyum; dia seolah-olah ingin mengalihkan pikiran mereka berdua. “Sudahlah. Jangan dipikirkan. Kita datang ke sini untuk bersenang-senang. Mungkin pikiranku saja yang berlebihan.” Meskipun Inez terlihat tersenyum manis di hadapannya, Zoya masih belum bisa mengalihkan pikirannya. Dahi Zoya berkerut. Sampai saat ini pun, ketika Inez tengah menyambut Sophia—yang baru saja selesai mandi itu—dengan sukacita, Zoya tetap saja kepikiran. Apakah anak itu akan baik-baik saja? ****** Sesuai dengan apa yang telah mereka siapkan tadi sore, malam ini mereka semua barbecue-an dan menghidupkan api unggun. Api unggun itu dihidupkan di tengah-tengah, di depan tenda mereka. Beberapa dari mereka ada yang makan di ujung sana—di dekat alat barbecue—seraya mengobrol dan ada juga yang makan di depan tenda, menghadap ke api unggun. Sementara itu, orang-orang yang telah selesai makan juga duduk di depan tenda, ada yang bermain gitar sembari bernyanyi, ada juga yang hanya duduk dan mengobrol. Zoya duduk di depan tendanya sendirian. Ia sudah selesai makan dan memutuskan untuk kembali ke tenda. Inez dan Sophia masih ada di ujung sana, mereka makan sambil mengobrol dan tertawa di dekat alat barbecue bersama Becca. Zoya melihat ke depan. Ia memperhatikan api unggun itu seraya melamun. Pikirannya kosong; ia melihat api itu yang seolah sedang melambai padanya. Malam itu suasananya terasa hangat, terutama ada suara nyanyian yang diiringi oleh gitar. Suara nyanyian itu terdengar sedikit mengecil di telinga Zoya sebab pikirannya sedang kosong. Matanya fokus menatap api unggun itu. Hah. Apa dia tidur saja, ya? Tiba-tiba, dengan samar-samar, Zoya mendengar ada bunyi gemerusuk dari samping kanannya. Itu seperti bunyi langkah seseorang; orang itu tengah mendekatinya. Belum sempat menoleh ke asal suara, mendadak Zoya merasa bahwa ada sebuah kehangatan yang menyentuh lengan kanannya. Menempel pada tubuhnya. Ada seseorang yang baru saja duduk di sebelahnya. Tubuh orang itu hangat. Hangat sekali. Lengan Zoya menempel dengan lengan orang itu. Baju yang sedang orang itu kenakan pun terasa sangat lembut dan tebal. Apakah orang itu sedang memakai jaket? Selain itu, aroma tubuhnya... Zoya hafal aroma itu. Aroma yang dahulu sering sekali Zoya hirup. Zoya kontan menoleh ke samping. Melihat orang yang sedang duduk di sebelahnya. …dan benar saja. Itu adalah Elias. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN