Chapter 6 :
Alexithymia (2)
******
MATA Zoya melebar. Ia refleks sedikit menjauhkan wajahnya, lalu berkata, “E—Elias? Apa yang kau lakukan di sini?”
Elias perlahan menoleh kepada Zoya. Kedua mata pemuda itu tampak memantulkan cahaya berwarna jingga yang berasal dari api unggun. Ia menatap Zoya dengan lembut, intens, dan penuh dengan keinginan.
Namun, karena tak ingin terjebak di dalam mata indah milik Elias yang seakan mampu menghisap jiwa itu, Zoya pun menggeleng. Ia kembali menatap ke depan dan berbicara dengan ketus, “Pergi dari sini. Aku tak ingin melihatmu.”
Akan tetapi, bukannya pergi, Elias justru meraih tangan Zoya dan menggenggam tangan gadis itu dengan erat. Zoya yang merasakan itu kontan membelalakkan mata, ia langsung kembali menoleh kepada Elias dan memprotes, “Apa yang kau—”
“Sebentar saja,” ujar Elias dengan suara yang sangat lembut. Pemuda itu mencium punggung tangan Zoya, lalu menyatukan jemari mereka. “Aku rindu.”
Mendengar itu, pipi Zoya hampir saja merona. Sebelum semburat merah itu terlihat di mata Elias, ia langsung membuang muka. Ia menatap ke depan lagi. “Jangan bicara sembarangan. Aku melihatmu berbicara dengan July tadi sore.”
Kini gantian Elias yang melebarkan mata. Akan tetapi, dua detik setelah itu…Elias langsung tersenyum. Ia senang karena Zoya masih merasa cemburu. Ia pun membelai jemari Zoya dan hal itu refleks membuat Zoya kembali menatapnya. Mereka kini jadi menatap satu sama lain.
Karena jarak mereka yang begitu dekat, Zoya bisa merasakan napas Elias yang hangat. Elias sedang tersenyum lembut padanya. Seharusnya Zoya marah; seharusnya Zoya kesal karena Elias mengabaikan perkataannya. Akan tetapi, gadis itu terhipnotis oleh tatapan mata Elias dan senyuman lembut Elias saat itu.
Rasanya…nyaman sekali. Begitu menenangkan…
Perlahan-lahan, Elias mengangkat tangannya yang satu lagi; ia mulai menyelipkan beberapa helai rambut Zoya ke belakang telinga gadis itu. Ia membelai-belai rambut Zoya seraya berkata dengan suara lirih, “Zoe, tadi sore July mengajakku berkencan. Aku sudah menolaknya.”
Mata Zoya membulat. Gadis itu langsung ingin memalingkan wajah—karena ia tak ingin Elias melihat ekspresi terkejutnya—tetapi Elias menahan wajahnya. Tangan Elias mulai memegang pipi sebelah kirinya; Elias mengelus pipinya itu dengan lembut.
Karena tidak ada pilihan lain selain tetap menatap Elias, akhirnya Zoya pun meneguk ludah. Matanya mengerjap beberapa kali. Napasnya tertahan; denyut jantungnya terasa aneh. Dadanya agak sesak.
July…mengajak Elias kencan?
Jadi…selama ini July…menyukai Elias?
Rasanya jantung Zoya bagai tertusuk puluhan jarum. Rasa sakit, cemburu, dan sedih…semuanya mendadak merayap masuk dan mengubrak-abrik hatinya.
Namun, ia dan Elias sudah putus. Ia tak berhak marah…
Akhirnya, setelah lumayan lama terdiam, ia pun menjawab Elias.
“Mengapa…kau menolaknya?”
Elias memiringkan kepala, lalu sedikit mengernyitkan dahinya. “Aku yakin kau ingat bahwa aku masih ingin kau kembali padaku.”
Mendengar itu, Zoya langsung menyingkirkan tangan Elias dari pipinya dan memalingkan wajah. “Aku tidak mau.”
“Sayang…” panggil Elias. Pemuda itu menyentuh dagu Zoya, lalu mengarahkan wajah gadis itu agar kembali melihat ke arahnya. “Aku minta maaf. Tolong maafkan aku, Zoe. Aku benar-benar minta maaf.”
Zoya hanya diam. Napas Elias yang wangi dan hangat itu sedikit menerpa wajahnya. Wajah mereka saat ini begitu berdekatan. Jemari Elias kembali membelai pipi Zoya. “Aku minta maaf, hm? Waktu itu…aku marah padamu karena aku cemburu. I love you so much and I’m scared of losing you.”
Diam sejenak. Mereka hanya saling menatap. Ada beberapa hal yang terekam di otak Zoya saat itu: degupan jantung yang saling bersusulan, getaran yang saling meraih, tatapan mata yang saling memenjarakan…
Hingga akhirnya, Elias kembali berkata, “Aku minta maaf, Sayang. Kita balikan, ya? Jangan siksa aku seperti ini, kumohon…”
Akan tetapi, meskipun masih terdiam selama tiga detik ke depan, Zoya pada akhirnya tetap menggeleng. Ia masih teguh pada pendiriannya. “Tidak, Elias.”
Melihat Zoya yang masih menolaknya, masih keras kepala, dan masih belum sepenuhnya memaafkannya, akhirnya Elias pun menghela napas. Ia tahu Zoya takkan semudah itu untuk digoyahkan. Zoya itu tidak gampang dibujuk, jadi ia harus bersabar dan berusaha lebih ekstra agar Zoya mau kembali padanya. Maka dari itu, Elias memilih untuk diam. Ia tak menjawab apa pun; ia hanya menatap Zoya dengan lembut dan sendu. Jemarinya mulai turun ke leher Zoya dan menetap di sana.
Degupan jantung Zoya menggila. Ludahnya mendadak sulit untuk diteguk. Ia lupa bernapas. Sementara itu, napas Elias yang hangat itu terasa semakin…menyentuh wajahnya. Perlahan-lahan, wajah Elias mendekat. Tatapan mata Elias benar-benar sukses memenjarakannya. Genggaman tangan Elias semakin erat; jemari Elias yang ada di lehernya pun terasa hangat…
Tatkala hidung mereka telah bersentuhan, sebelum Elias benar-benar mencium bibirnya, Zoya spontan memalingkan wajah. Ia menoleh ke kiri dan langsung memejamkan matanya kuat-kuat. Tidak, dia tidak boleh berciuman dengan Elias. Akal sehatnya akan hilang; ia akan goyah. Ia takkan bisa melarikan diri lagi apabila Elias telah mencium bibirnya.
Lagi pula, mengapa Elias mau menciumnya? Bukankah—bukankah di sini banyak orang?
Di sisi lain, Elias—yang sadar bahwa Zoya menolak ciumannya itu—pada akhirnya hanya menghela napas. Pemuda itu tersenyum lembut, lalu beralih mencium bahu Zoya.
Zoya tahu dan bisa merasa bahwa Elias tengah mencium bahunya. Ciumannya begitu lembut. Akan tetapi, saat ini pikiran Zoya tidak fokus ke sana. Otaknya yang sejak tadi hanya memikirkan Elias, kini tiba-tiba jadi memikirkan hal lain. Ia tak begitu menghiraukan ciuman Elias pada bahunya itu karena tiba-tiba saja, entah apa sebabnya, ia merasa seperti…sedang diperhatikan oleh seseorang.
Oleh karena perasaan itulah, akhirnya Zoya menoleh. Mencari siapa gerangan orang yang tengah memperhatikannya.
Ketika ia melihat ke arah Elias lagi…atau lebih tepatnya ke belakang Elias, jauh di belakang sana, ia menemukan July yang sedang duduk di tendanya bersama Miller. Akan tetapi, berbeda dengan Miller yang sedang bernyanyi bersama Jack dan Eddie, July justru tengah memberikan Zoya tatapan dingin. Tatapan tak suka.
Sejak tadi, ternyata July memperhatikan semua yang Elias dan Zoya lakukan.
******
Kelopak mata Zoya bergerak dengan gelisah. Dahinya berkerut, ada titik-titik keringat yang muncul di pelipisnya. Ia meneguk ludah, lalu tubuhnya mulai meringkuk.
Ia ingin buang air kecil.
Zoya lantas membuka matanya. Dahinya semakin berkerut.
Aduh, malam-malam begini malah mau buang air kecil…
Sial. Mereka berkemah di tengah hutan, jadi tentu saja agak seram apabila keluar sendirian malam-malam begini.
Zoya mulai bangkit dari tidurnya. Ia duduk dan memperhatikan teman-temannya. Inez dan Sophia sedang tidur di sebelahnya dengan pulas. Zoya tidur di paling pinggir, tepat di sebelah ‘pintu masuk’ tenda. Dia memperhatikan teman-temannya itu dan akhirnya mengernyitkan dahi.
Tidak enak kalau harus membangunkan mereka.
Zoya meneguk ludahnya, lalu beringsut ke pintu masuk itu. Ia membuka ritsleting tenda itu pelan-pelan—tak ingin membangunkan kedua temannya—lalu sedikit menyibak kain tenda itu.
Ia pun mengintip ke luar.
Di luar tentunya gelap, tetapi tidak gelap gulita. Masih ada cahaya dari bulan sabit yang sedang bertengger di langit. Ada juga beberapa bintang di atas sana, tetapi tidak terlalu banyak. Malam itu tidak terlalu cerah, tetapi cahaya dari bulan dan bintangnya sudah sangat cukup untuk menerangi kegelapan di hutan itu.
Namun, karena situasi di sekitar masih bisa dilihat oleh mata Zoya, gadis itu pun refleks melihat jauh ke depan sana, yaitu ke area danau. Mungkin saja ia refleks melihat ke sana karena air danau itu memantulkan sinar rembulan, tetapi bisa jadi pula ia refleks melihat ke sana karena sedang butuh air untuk buang air kecil. Entah mana yang benar, tetapi yang jelas…matanya refleks melihat ke arah sana.
Akan tetapi, berbeda dengan pikiran Zoya yang tadinya menerka bahwa area danau itu akan kosong, ternyata di sana tidak benar-benar kosong.
Ada seseorang…di tepi danau itu.
Mata Zoya sedikit melebar. Kepala Zoya belum menongol ke luar, tetapi mata Zoya terus mengintip. Zoya memperhatikan orang itu dengan saksama.
Orang itu berdiri di tepi danau. Ia hanya diam dan menghadap ke danau. Kedua tangannya bersilang di belakang tubuhnya, seperti posisi istirahat.
Akan tetapi, walau dari jauh…sepertinya Zoya mengenal orang itu. Kalau dilihat dari posturnya, rambutnya, serta gaya berpakaiannya…
Itu adalah Mr. Parker.
Zoya pun mengernyitkan dahi. Apa…yang Mr. Parker lakukan di sana malam-malam begini?
Zoya meneguk ludahnya. Seharusnya ia keluar saja. Perutnya sudah sakit; ia ingin buang air kecil. Akan tetapi, entah mengapa ada sesuatu di dalam dirinya yang menyuruhnya untuk tetap di tempat. Duduk di sana. Diam dan tunggu saja sampai Mr. Parker pergi.
Ia tak tahu apakah itu insting...atau sinyal dari tubuhnya. Ia tak yakin. Ia tidak hidup di alam liar atau tempat yang penuh dengan mara bahaya untuk memahami semua itu secara gamblang.
Namun, mungkin saja itu memang sebuah insting. Mungkin saja itu adalah pertanda bahwa reaksi otaknya masih belum rusak. Tubuhnya masih ingin melindungi dirinya sendiri. Memberikan pencegahan maksimal karena Zoya selalu cenderung bersikap gegabah.
Iya, itu adalah sebuah insting.
Soalnya, saat Zoya masih mengintip diam-diam dari balik tendanya, tiba-tiba saja…
Mr. Parker berbalik dan melihat tepat ke arahnya. []