10

2312 Kata
Daren dan juga Ray nampak tengah bersiap dengan mesin yang sudah menyala di kendaraan mereka berdua masing-masing. Saat pandangan mereka berdua melihat ke arah seorang cewek di tengah lintasan yang tengah memegang sehelai kain, lalu kemudian menjatuhkannya. Barulah Ray dan Daren melajukan kendaraan roda duanya dengan kecepatan tinggi, berharap bisa menjadi pemenang dari pertandingan ini. Ray dan Daren terlihat tidak mau mengalah satu sama lain. Masing-masing dari keduanya berharap bisa memenangkan pertandingan ini. Selain mendapatkan uang, tentu saja ini juga menyangkut harga diri mereka berdua masing-masing. Ray terlihat tertinggal di belakang motor Daren, namun tak lama kemudian Ray berhasil menyusul Daren dengan kecepatan laju motornya. Membuat Daren menggeram kesal. "s****n!!" Daren bisa melihat Ray sudah mulai berputar arah, sementara Daren yang mengikutinya di belakang tak henti-hentinya mengumpat kesal di dalam hatinya. Ia hanya tidak mau kalah dari Ray. Walaupun sepertinya Daren sudah berusaha keras memacu kecepatan laju motornya, namun sepertinya usaha yang ia lakukan saat ini sia-sia. Daren kalah, dan lagi-lagi Ray lah yang menjadi pemenangnya. Dari dulu hingga sekarang, Ray memang selalu sering memenangkan pertandingan balapan seperti ini. Hingga membuat Daren merasa muak. Sorak sorai teriakan para penonton yang menyaksikan kemenangan Ray, terdengar saling bersahutan dengan seruan dari pendukung Daren. Ray terlihat tersenyum remeh ke arah Daren. "liat.. lagi-lagi disini gue yang jadi pemenangnya. Dan lo cuman bisa ngebacot doang." Sinis Ray, membuat Daren merasakan panas di kepalanya, seolah luapan emosi yang ia tahan sebentar lagi akan meledak begitu saja. "banyak bacot lo. Lawan gue kalau berani!!" tantang Daren dengan kilatan emosi yang meluap di kedua bolamatanya. "cih, gue nggak takut sama lo!" ucap Ray, lalu mereka berdua turun dari motor mereka masing-masing, bersiap untuk berkelahi. Melihat hal itu, membuat sahabat mereka berdua turun tangan untuk menengahi pertengkaran mereka berdua. "Daren, tahan emosi lo! Nggak perlu ada perkelahian." Ucap Mario menenangkan Daren. "tau nih, kalau kalah ya udah kalah aja. Nggak terima banget lo jadi orang." Sahut Ray yang justru membuat emosi Daren menjadi terpancing kembali. "banyak bacot!!" BUGH...!! Satu buah pukulan dilayangkan Daren tepat mengenai pelipis kiri Ray, hingga membuatnya hampir tersungkur ke tanah. Ray yang tidak terima, langsung melayangkan pukulan balasan ke wajah Daren, dan tepat mengenai bibir kanannya. Kedua sahabat mereka berdua terlihat tak terima. Hingga akhirnya membuatnya juga ikut berkelahi satu sama lain. BUGH, BUGH. BUGH...!! Terdengar suara pukulan berkali-kali di antara mereka saat ini. Suasana menjadi kian tak terkendali. Para penonton yang lain juga ikut berkelahi satu sama lain. Semuanya di picu karena pertengkaran Daren dan Ray. Hingga tak lama kemudian, terdengar suara kendaraan pihak berwajib yang dengan cepat membuat mereka semua terburu-buru untuk segera membubarkan diri. Sebagian dari mereka bahkan ada yang berlarian tunggang langgang meninggalkan motor miliknya hanya karena ketakutan jika para polisi tersebut berhasil menangkap mereka. "Ray, polisi. Buruan pergi!!" kata Niko memperingatkan sahabatnya yang bahkan saat ini masih terlihat berkelahi dengan Daren, dengan memukulinya membabi buta. "Ray, inget adek lo di rumah. Lo nggak mau kan ngebuat dia cemas?!" kata Niko memperingatkan sekali lagi. Berharap jika Ray mau mendengarkan nasehatnya kali ini. "ayo Ray, buruan!!" teriak Jerry tidak sabar, Ray akhirnya mendengar apa yang dikatakan kedua sahabatnya itu, dan menghentikan pukulannya di wajah Daren. Lelaki itu akhirnya bangkit berdiri, begitu juga dengan Daren. Namun Daren terlihat sedikit kesulitan untuk berdiri. Hingga kedua temannya Farel dan Mario datang membantunya, dan segera mengajaknya pergi dari tempat itu, menggunakan motornya masing-masing. Mereka memacu kecepatan motornya dengan sangat kencang, untuk menghindari kejaran polisi. Mereka semua saling menyelamatkan diri masing-masing. Hingga Ray saat ini sudah berada di depan rumahnya dengan selamat. Lelaki itu memarkir motornya dengan asal di halaman rumahnya, dan masuk begitu saja menggunakan kunci cadangan yang ia miliki. Lelaki itu berjalan tertatih di ruang tamu rumahnya yang saat ini terlihat begitu gelap. PRANG...! Tangan Ray tak sengaja menyenggol sebuah guci pajangan di ruang tamunya, hingga membuatnya pecah berserakan di lantai, dan juga membuat Dara beserta pembantunya terbangun dari tidur lelapnya. "kak Ray!! Kakak kenapa?" ucap Dara saat dirinya sudah menyalakan lampu di ruang tamu tersebut, dan mendapati kondisi wajah Ray yang kini sudah babak belur tidak karuan. "BIIKK.. BIBIK...!!" teriak Dara panik dengan menghampiri tubuh Ray yang saat ini wajahnya sudah di penuhi oleh luka lebam. "iya non, ada apa non?" "bik, bantuin saya bawa kak Ray ke kamarnya ya?!" "i-iya non." Ucap pembantu tersebut, lalu mulai membantu Ray berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. "duh non, kenapa den Ray bisa kayak gini sih?!" "Dara juga nggak tau bik." Ucap Dara di tengah-tengah langkah kakinya menuju kamar Ray. Setelah mereka berdua sampai di kamar tersebut, Dara meminta tolong kepada pembantunya untuk menyiapkan air hangat untuk mengompres luka di wajah kakaknya saat ini. "gue nggak papa kok Ra. Nggak perlu kuwatir." Ucap Ray dengan suara seraknya. "gimana gue nggak kawatir, kalau kondisi lo sekarang aja kayak gini kak." "ini non, kotak obat sama air angetnya." Kata bibik yang sudah datang dengan membawa peralatan yang Dara suruh tadi. "makasih ya bik." Ucap Dara dengan ramah. "iya non, apa perlu bibik bantu non?" "nggak perlu bik, meding bibik tidur aja, biar nggak kecapekan, dan besok bisa bangunin saya pagi-pagi ke sekolah." "nggak papa non?" "Nggak papa bik." "ya sudah, kalau non Dara butuh apa-apa, bisa langsung panggil bibik di kamar belakang ya.." "iya bik.." Dara tersenyum, pembantunya tersebut akhirnya pergi keluar dari kamar Ray dengan terpaksa. Sementara Dara saat ini tengah mengobati luka lebam di wajah Ray yang tengah terbaring di kamar tidurnya. "aww...! pelan-pelan Ra." Pekik Raymon,merasa jika Dara terlalu menyakitinya. "ini juga udah pelan kak." Dara kembali menempelkan kain yang sudah di celupkan air hangat itu ke luka lebam di wajah kakaknya kembali. "mangkanya, kalau nggak betah nahan sakit, nggak perlu sok-sok'an berantem kayak gini." Ucap Dara menasehati, namun Ray hanya diam. "emang, kakak habis berantem sama siapa sih?" "kepo banget jadi adek." "ya jelas gue kepo lah, wajah lo aja ampek bonyok gini kak. Apa perlu hal ini gue aduin ke papa?" kata Dara yang sebenarnya tidak serius sama sekali. "hah, jangan Ra! Aduh!" karena terlalu panik, membuat Ray merasakan sakit di bagian bibirnya waktu berbicara. Sementara Dara yang melihat hal itu hanya mendengus sesaat. "lain kali jangan berantem kayak gini lagi, atau gue bakal aduin kelakuan kakak ini sama papa!" ancam Dara, namun denga ekspresi tenangnya, dan tangan yang masih tetap mengobati luka di wajah sang kakak. "iya, iya!!" jawab Ray dengan pasrah. Walaupun terkadang sering terjadi perbedaan pendapat di antara mereka berdua, namun mereka berdua tetaplah saudara kandung yang saling menyayangi dan menjaga satu sama lain. ==== Daren terlihat tengah mengendap-endap masuk kedalam rumahnya. Dia hanya tidak ingin, jika kedua orang tuanya itu tau kondisi wajahnya yang seperti ini. Dengan langkah perlahan dan berhati-hati, Daren mulai menaiki tangga menuju kamarnya. "kayaknya orang rumah udah pada tidur semua nih." Gumam Daren di tengah langkah kakinya. Namun tiba-tiba, lampu rumahnya mendadak menyala terang. Membuat Daren panik, karena pasti kali ini akan ketahuan oleh mama ataupun papanya. "sayang.. kenapa kamu baru pulang nak?" tanya mama Daren yang bernama Maya. "loh, wajah kamu kenapa bisa luka-luka kayak gini?? Kamu berantem lagi?" tanya Maya semakin khawatir. "mah, Daren nggak papa kok. Ini cuman luka akibat jatuh dari motor doang." Dusta Daren, berharap agar mamanya tidak terlalu mengkhawatirkannya. "udah, mama nggak perlu panik gitu, Daren nggak mau kalau sampai papa tau.. bisa gawat entar." Tentu saja Daren sangat takut terhadap papanya, karena memang papanya itu memiliki sikap yang sangat tegas dalam mendidik Daren. Itu semua dilakukan supaya Daren bisa tumbuh menjadi sosok yang bertanggung jawab nantinya, dalam hal apapun. "kamu nih ya, kebiasan banget. Kalau sama papamu aja kayak gitu. Udah nggak perlu kuwatir, toh papamu juga lagi nggak di rumah." "hah, emang papa kemana mah?" tanya Daren ingin tahu. "lagi keluar kota selama satu minggu." Sontak, ucapan Maya barusan membuat Daren bisa bernafas lega. "alhamdulillah..." ujar Daren bersyukur dengan mengusap wajahnya perlahan menggunakan kedua telapak tangannya, Akibat hari ini dirinya bisa terbebas dari omelan sang papa. Maya yang melihat hal itu lantas dengan kencang menjewer telinga putranya. "oh.. gitu ya. Kamu fikir karena papa kamu sekarang lagi nggak di rumah, kamu bisa terbebas gitu aja dari hukuman? Iya?" "aduh mah, sakiiit...!" keluh Daren, dengan merasakan nyeri di bagian telinga kirinya. "biarin! Salah sendiri pakek sok-sok an berkelahi nggak jelas. Kamu mau jadi berandalan nantinya? Iya?? Hah.." "enggak mah, ya udah Daren minta maaf. Lain kali nggak gitu lagi. Sakit nih mah telinga Daren.." Daren masih saja mengeluh, berharap jika mamanya itu akan melepas tarikan tangannya di telinga Daren. Maya akhirnya melepaskan tangannya, lalu kemudian menyuruh Daren duduk di kursi sofa ruang tamu dan dengan masih mengomel, mengambil kotak obat yang tersimpan di ruang tengah, untuk mengobati luka di wajah anak tersayangnya itu. ==== Pukul 06.15 Dara terlihat duduk di meja makan dengan memakan selembar roti yang berisi selai strobery, di temani dengan segelas s**u hangat. Gadis itu hanya duduk sendiri di ruang makan tersebut. Dia memang sengaja tidak membangunkan kakaknya seperti biasa, karena gadis itu sangat yakin jika kakaknya itu pasti tidak akan masuk sekolah untuk hari ini. Namun sepertinya dugaannya itu salah. Dara justru melihat Ray yang tengah berjalan sambil mengancingkan baju seragamnya menuruni anak tangga, menuju meja makan. Membuat Dara keheranan. "loh, kak Ray mau tetep masuk sekolah hari ini?" "iya, kenapa emang?" Ray duduk di kursi makannya, lalu mengambil selembar roti dan mengolesi selai, dan memakannya dengan perlahan. "tapi kan, kakak belum sembuh beneran!" "gue udah nggak papa Ra." "ya elah kak, pokoknya jangan sekolah dulu. Hari ini istirahat dulu aja di rumah." "kalau gue istirahat di rumah, terus yang nganterin lo kesekolah siapa? Hmm?" tanya Ray, lalu meminum s**u hangatnya sejenak. "gue kan bisa pinjem motor lo kak." Jawab Dara di akhiri dengan cengirannya. "apa? Enggak ya! Papa kan udah ngelarang lo buat bawa motor sendiri Ra, lo lupa?" Dara mencebikkan bibirnya kesal. "issh.. lagian kan papa juga nggak tau." "tetep aja nggak boleh!" tegas Ray tetap dengan pendiriannya. "ya udah iya!" Dara berdiri, sambil menenggak susunya cepat, dan kembali menaruh gelas itu di atas meja. "jadi kakak nggak asik banget sih. Dasar!" gerutunya sambil melangkah pergi ke kamar mengambil tas miliknya. "gue bisa denger ya.." sahut Ray, yang bia mendengar dengan jelas apa yang di ucapkan oleh adiknya barusan. Dara memang sebenarnya bisa menaiki motor dengan mahir, namun hanya karena dirinya pernah mengalami insiden kecelakaan waktu dulu, saat dia masih SMP. Yang mengharuskannya harus menjalani rawat inap di rumah sakit akibat luka serius di bagian kepala. Membuat sang papa melarang keras Dara untuk mengendarai motor sendirian lagi. Mengingat Dara memang termasuk anak kesayangan dari papanya. Apalagi, wajah almarhum istrinya itu sangat mirip sekali dengan Dara. Selang beberapa menit kemudian, Dara sudah berada di boncengan sang kakak untuk bersiap mengantarnya menuju sekolah. Dan seperti biasa, Ray menurunkan Dara di tempat yang tidak begitu dekat dari pintu gerbang sekolahnya. "belajar yang pinter, jangan mikirin cowok dulu. Ngerti?!" nasehat Ray, saat Dara sudah turun dari boncengan motor sang kakak. "iya iya. Kakak juga, entar jemputnya jangan ngaret lagi. Kebiasaan banget jemput suka ngaret." Omel Dara dengan memanyunkan bibirnya. "iya, entar kakak usahain." Jawab Ray dengan santainya. "bener ya, awas kalau bo'ong, entar gue bakal pulang sendiri naik taksi." Ray terkekeh sesaat. "kayak bisa aja lo naik taksi sendiri." "woahh... ngeremehin. Liat aja entar." "eh Ra, udah nggak usah aneh-aneh. Entar pasti gue jemput tepat waktu. Ya udah ya, berangkat dulu. Bye..!" pamit Ray, lalu kemudian melesat pergi begitu saja dari hadapan Dara. Gadis itu mendengus, lalu melangkahkan kakinya memasuki sekolahnya. Saat Dara baru memasuki pintu gerbang, ada seorang murid laki-laki yang hampir saja menyerempetnya hingga membuat gadis itu hampir terjatuh. Dara yang tidak terima, lantas memarahi dan memaki lelaki itu dengan kesalnya. "lo bisa nyetir nggak sih? Kalau tadi gue keserempet beneran gimana hah??" "tapi nyatanya enggak kan?!" jawab lelaki itu, yang sama sekali tidak dikenal oleh Dara. "kok elo songong sih?! Bukannya minta maaf juga. Nggak ngerasa salah lo, udah hampir mau nabrak gue?" Dengan santainya lelaki itu menjawab. "enggak!! Kan Cuman hampir, belum kena beneran kan?!" "elo---" belum sempat Dara mengeluarkan makiannya, tiba-tiba Daren datang dengan masih berada di atas motornya. Lelaki itu lalu membuka kaca helmnya. "woi.. minggirin motor lo!" bentak Daren, kepada seorang lelaki yang tadinya tengah berdebat dengan Dara. "ngapain lo nyuruh gue minggir? Jalan kan masih lebar. Lo kan bisa lewat jalan samping gue!!" ucap lelaki itu, sementara Dara hanya diam memperhatikan sikap aneh Daren saat ini. "ooh.. udah berani ya lo sama gue?! Atau lo emang pengen nyari gara-gara sama gue, hah??" tanya Daren menantang, membuat lelaki yang berada di depannya itu tiba-tiba menjadi ketakutan. "eh, enggak Dare, bu-bukan gitu maksud gue. Ya udah, gue pindahin motor gue sekarang juga." Kata lelaki itu mengalah dengan suara terbata. "nah.. itu lebih baik!" ucap Daren dengan gaya soknya di depan Dara, yang membuat gadis itu menjadi keheranan. Karena menurutnya apa yang di lakukan Daren saat ini seolah tengah membantunya dari cowok tadi. Padahal jelas-jelas, jalan di sekitar pintu gerbang memang masih sangat luas. Aneh banget.. apa si kutil landak ini memang sengaja bantuin gue ya?! Batin Dara bertanya-tanya. "sstt.. ngapain lo bengong di situ? Nggak masuk lo?" tanya Daren saat melihat Dara yang tiba-tiba terdiam begitu saja. Elah.. nih cewek emang dasar ya, udah di tolongin bukannya bilang makasih. Ini malah diem cengok doang!! Dasar cewek s***p! Batin Daren yang berharap kata terimakasih terucap dari mulut Dara. Namun sepertinya apa yang di harapkan Daren tidak akan pernah terealisasikan. "lo nggak perlu ngelakuin hal kayak tadi, karena gue bisa mengatasi masalah gue sendiri! Gue nggak butuh bantuan lo!" ketus Dara, lalu dengan santainya pergi begitu saja meninggalkan Daren. "aarrgghh.... dasar cewek i***t!" Daren mengacak rambutnya frustasi. "padahal gue udah bayar mahal cowok tadi buat bikin si Dara kesel, biar seolah-olah gue kelihatan sebagai pahlawan di depan dia. Tapi apa?? Tuh cewek s***p masih aja bersikap jutek sama gue. Kalau kayak gini terus, bisa-bisa gue kalah taruhan sama si Farel dan Mario. s**l sial.." umpat Daren berbicara sendiri, dengan rasa kesalnya terhadap Dara. BERSAMBUNG    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN