Ray tidak henti-hentinya menatapi ke arah gadis yang sedari tadi duduk didepannya, menikmati secangkir coklat hangat di gelas yang ia pegang, dengan keadaan baju yang sedikit basah terkena hujan saat akan memasuki kafe coklat tersebut. Setelah Ray mengetahui jika gadis itu bukanlah Nina, tapi kembarannya. Hati Ray sempat kecewa menerima kenyataan itu. bagaimana tidak, beberapa menit yang lalu saat ia bertemu gadis yang begitu mirip dengan Nina, ia fikir gadis itu adalah Nina-nya. Ternyata apa yang ia duga salah besar. Tapi jika difikir kembali oleh Ray, dirinya begitu bodoh jika masih berfikir Nina-nya masih hidup. Karena itu semua tidaklah mungkin. Tubuh tak bernyawa dengan luka tusukan di leher begitu nyata ia lihat bersama Daren saat itu. Ray tersenyum miris, menyadari jika dirinya b

