Serli duduk termangu di taman belakang kediaman Adinata. Ini sudah 3 hari berlalu dan masih belum ada kabar dari suami dan juga putranya. Bahkan saat ini anemia nya kembali kambuh karena kurangnya beristirahat. Pikirannya sungguh tak bisa fokus dan juga hatinya selalu gelisah. Drrtt Drrttt Dering handphone menyadarkannya. Private number terpangpang jelas di layar Iphone nya. Cukup ragu untuk mengangkatnya, tetapi Serli tetap mengangkatnya. “Hallo.” “.....” “Siapa kamu?” “.......” “Apa yang kamu inginkan? dimana suami dan anakku?” jeritnya dengan isakan tangis. “......” “Siapa kamu? dan apa mau kamu dari kami?” “......”

