“Mau makan siang apa putri cantik?” Suara bariton yang khas memenuhi pendengaran Najwa membuatnya mendengus, dia sangat kesal kepada lelaki yang didepannya yang selalu memanggilnya ‘putri cantik’ seolah memonopoli dirinya dihadapan pegawai kantor lainnya. Najwa menyesap kopinya dan berusaha tidak menjawab pertanyaan Raihan. Lagipula ini masih jam sembilan pagi, belum jam makan siang, tapi setiap hari selalu begini, Raihan selalu bertanya menyiapkan makan siang bersama. “Haduh kenapa sih kamu nyuekin aku lagi?” Raihan bertanya lagi Najwa mendengus kasar lebih keras lalu menatap lelaki tampan tepat disampingnya, Raihan memang lelaki idaman setiap wanita, tampan, berkelas, dan tentunya memiliki sejumlah harta yang mungkin tidak akan habis tujuh turunan. Sayangnya Najwa tidak p

