Part 7 - Merawat Prasangka

1009 Kata
"Tak ada yang tak mungkin dalam dunia ini. Semua dapat berjalan begitu saja. Sebagian manusia dapat memprediksinya. Meskipun perihal prediksi, tak akan pernah selamanya pasti. Banyak hal yang menuntun manusia untuk bahagia, meskipun tak jarang pula manusia lebih akrab dengan mengembara sedih dan luka. "Apa yang harus kulakukan di sini?" isak Alana. Rambut panjangnya semakin terurai berantakan. "Bagaimana aku akan melanjutkan hidup? Apakah takdirku menjadi seperti seorang Rapunzel yang terkurung dalam suatu ruangan?" "Apakah di luar sana akan ada sosok peri yang mewujud nyata datang menolongku? Tapi, Mama bukan perempuan jahat. Aku tahu, Mama hanya merasa sangat terpukul." "Ya. Aku harus yakin Mama akan baik-baik saja. Mungkin, besok Mama akan kembali ke sini dan membukakan pintu untukku. Ya. Aku yakin itu. Mama tak mungkin tega membuatku terkurung sendirian di sini. Aku yakin itu!" Tekad Alana berusaha masih mengumpulkan berbagai alasan untuk berprasangka baik pada Ibunya. Bagaimana mungkin seorang anak akan langsung mudah percaya efek dari trauma orang lain apalagi itu tak layak disebut orang lain alias ibunya sendiri? Alana berusaha berdiri. Ada sebuah kaca jendela rupanya. Ia baru tersadar setelah melihat sinar jingga menembusnya. "Sudah sore. Aku yakin Mama akan membukakan pintu untukku. Mamah tak mungkin membiarkanku kelaparan di sini. Yah. Itu tak mungkin." Alana berjalan perlahan mendekati jendela itu. Sebuah jendela panjang yang berada cukup tinggi paling atas dari Villa itu. Bahkan, beberapa rumah warga yang cukup jauh dari Villa, tampak dari atas ruangan itu. Alana sempat tersenyum melihat aktivitas warga. Beberapanya memakai mukena dan pergi ke rumah ibadanya. Tak jarang, ada pula seperti kerumunan anak kecil yang berlarian dari kejaran orangtuanya. Entah, sikap nakal apa yang telah diperbuat. Barangkali, sengaja mengerjai ibunya agar tak disuruh mandi? Alana kembali tersenyum. Ya, hal-hal itu wajar adanya. Namun, kemarahan seorang ibu baginya adalah bentuk rasa sayang. Sadar atau tidak, kali ini ia merasa sedikit lebih baik. "Aku percaya. Aku seperti melihat diriku di anak-anak yang berlarian dikejar orangtuanya itu. Meskipun ada kemarahan dari orangtua, tapi anak-anak itu masih bisa tertawa." "Ah, bukankah memang ini hanya tentang demikian? Kemarahan sejenak, bedanya aku sudah cukup dewasa dan dikurung di ruangan ini?" "Ya. Aku harus yakin tentang hal itu. Mamah sangat menyayangiku. Apalagi aku kesini untuk merayakan wedding anniversary pernikahan Mama. Mama tak mungkin menodainya dengan mengurungku di sini. Ya, aku yakin itu." Sekuat hati, Alana berusaha meyakinkan diri berprasangka baik pada Ibunya. Bagaimanapun, sebagaimana kasih yang terus tumbuh tanpa meminta, itu adalah efek lain dari kasih sayang yang Alana rasakan dari kedua orangtuanya. Dalam benak Alana, ia mengenal ibunya adalah sosok yang penyayang, sangat lembut, dan begitu sabar mendidik Alana. Tak mungkin bersikap kasar dan menelantarkannya. Meskipun, kali ini memang dengan kepergian ayahnya. "Ayah, kenapa ayah pergi begitu cepat?" Matahari kian menenggelamkan diri. Sayup angin kian terasa begitu dingin. Rimbun pepohonan seolah mengajak Alana untuk pergi ke luar bersamanya. Lampu ruangan itu menyala. Tak ada tombol untuk menyalakannya dari dalam ruangan. Entah bagaimana mendesain itu. Berarti, ada kepedulian ibunya yang menyalakan lampu dari luar ruangan. "Mama... Itu mamah bukan? Mama masih peduli dengan Alana kan? Ya, itu pasti Mama." "Pasti sebentar lagi Mama akan membukakan pintu itu dan makan malam bersama. Ya, aku yakin itu." Beberapa saat kemudian, gagang pintu mulai bergerak. Pertanda akan ada orang yang masuk. Alana begitu antusias melihat wajah mamanya yang kembali mendekapnya. Meskipun kini sudah tak ada ayah, tapi setidaknya kasih ibu masih bisa ia rasakan. Kakinya tak memakai sepatu ankle boots seperti Mama. Seseorang yang membuka pintu itu malah hanya memakai sandal jepit biasa. Alana dibuat sedikit kecewa. Ia terus memandangnya, berusaha berprasangka baik. "Tenang, Alana. Mungkin emang Mama lagi pengin coba hal baru mamakai sandal jepit," gumamnya meyakinkan diri sendiri. Pandangannya terus dialihkan ke rok yang dikenakannya. "Rok Kuning? Mama tak suka warna seperti itu, tapi apa mungkin itu semacam warna kamuflase dari apa yang sedang dideritanya kini?" Alana kembali mencoba berprasangka baik. Pandangan matanya kembali melihat baju atasan apa yang dikenakannya. "Aku yakin, Mama masih memakai blazer kesukannya. Ya, aku yakin." "Nihil. Bukanlah sebuah blazer ataupun kemeja yang formal dan terlihat tegas. Melainkan baju berwarna jingga cerah. Jauh dari warna baju yang biasa dikenakan mama!" Alana segera menatap wajah pemilik gaya busana yang cukup kasihan itu. Sebuah senyum ramah ditunjukkan wajah itu. "Nona....," panggil perempuan itu. "Nona?" "Ya. Saya bingung mau memanggil dengan panggilan apa. Anggap saja ini adalah panggilan kehormatan untukmu, Nona." "Panggilan kehormatan? Sebenarnya kamu siapa? Dan mau kesini atas dasar apa? Apa tujuanmu?" "Nona tenanglah dulu. Kembali, duduk saja. Saya akan jelaskan." "Saya Sri Wardani. Panggil saja Bi Sri atau siapapun terserah Nona Alana." "Kamu... Uhm Bi Sri tau namaku? Dari Mamah?" "Ya. Ibu Maria yang memberitahuku tentang nona." "Bi Sri kenapa di sini? Mama nyuruh apa ke Bi Sri?" Deretan pertanyaan siap meluncur secepat kilat dari Alana. Bagaimanapun, ia masih merasa tidak percaya yang hadir kembali di ruangannya bukanlah Mamah yang dinantinya. Melainkan orang lain suruhan mamahnya. "Ya. Aku yakin. Aku yakin Mama sibuk, jadi menyuruh orang lain untuk menjagaku. Ya, aku yakin itu," gumamnya. "Non? Kenapa? Apa ada yang tidak beres?" "Ouh tidak. Hanyaaa Bi Sri kenapa ditugasin Mama Maria? Apa karena Mama memang sibuk dan menyuruh Bi Sri untuk menjagaku? Hum?" Alana masih saja begitu penasaran dengan kehadiran orang lain yang mengatasnamakan orang suruhan Mama Maria. "Nona tenang, ya. Saya bukan orang jahat, ko. Kebetulan saya juga tinggal tak jauh dari Villa ini. Namun, jauh dari pemukiman warga." "Maksudnya, Bi?" "Sejak kecil, saya sudah hidup sebatang kara. Bibi saat seusia Nona Alana, ingin memiliki rumah, tapi harga tanah begitu mahalnya. Alhasil, Bibi pergi ke hutan dan membuat rumah atau lebih pantas disebut gubruk singgah yang sederhana." "Selama itu juga Bibi hidup dalam keseharian di gubug itu? Menjauh dari warga sekitar? Bagaimana bisa, Bi?" "Apa yang membuat Bibi mau terus bertahan dalam kegelapan dan sangat membutuhkan pertolongan seperti itu?" Alana kini tepat berasa di depan Bibi Sri Wardani atau disebut Bi Sri. Sorot matanya yang bulat dan tajam, seolah siap menanti jawaban dari perempuan berrok kuning di depannya itu. Siapa sebenarnya Bi Sri? Kenapa Mama memilihnya untuk menjaganya!? Apa yang akan dilakukan Mamanya selanjutnya? Apakah ini suatu pertanda baik?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN