Part 8 - Mimpi yang Menguatkan

1396 Kata
"Bi? Kenapa diam? Apa yang membuat Bi Sri yakin terus bertahan sendirian hidup seperti itu?" Alana kembali bertanya. "Kamu yakin ingin mengetahuinya, Nak?" Alana menganggukkan. "Bibi pernah bermimpi berada di suatu alam lain yang entah dimana. Barangkali salah satunya lewat mimpi itulah, yang semakin menguatkan tekad Bibi." "Memangnya mimpi apa?" Beberapa saat kemudian, jeda mengantarkan senyapnya. Bi Sri kemudian bercerita. Ya, menceritakan tentang mimpinya itu. "Dengar ya, Nak." Alana menganggukkan kepala. *** "Sebenarnya aku dimana?" Sri masih bingung dengan dirinya sendiri yang melihat tubuh Sri berbeda. Ia bisa melihat dirinya sendiri berinteraksi dengan orang lain, tapi tak bisa menyentuhnya. Seperti seseorang yang melihat dirinya sendiri di film. Keesokan harinya datang sekelompok pihak yayasan dari berbagai macam perusahaan. Mereka menawarkan pekerjaan yang menggiurkan mulai dari terjaminnya keamanan, gaji yang besar, dan masih banyak lagi. Sri dan temannya ikut mendaftar, disusul teman-teman lainnya hampir tidak ada yang tidak tertarik dengan penawaran menggiurkan itu. Mereka semua berharap bisa diterima tapi tentu saja tidak semua orang diterima di perusahaan satu negara saja. Walaupun begitu itu, hanya soal pembagian perusahaan saja, kalaupun pendaftarnya banyak, pihak yayasan akan mencarikan lagi. Jadi peluang untuk ditolak itu sangat kecil, hampir semuanya bekerja asalkan mau saja untuk bekerja. Menjelang kelulusan, Sri mendapatkan surat. Dibukanya surat itu yang berisikan surat diterimanya ia disalah satu PT Elektronik salah satu merk smartphone terkenal di Malaysia. Ia ditempatkan bersama siswa lain dari luar kelasnya dan siswa di luar sekolahnya. Sri segera memberitahukan kabar gembira itu pada Ibunya, namun Ibunya malah tidak setuju, Sri tidak langsung putus asa, ia berusaha keras meyakinkan hati Ibunya untuk merestuinya kerja di Malaysia. Akhirnya hati Ibunya luluh, dengan setengah hati ia merelakan anaknya untuk kerja di Malaysia dalam masa kontrak dua tahun. Mendapat kabar diterimannya kerja, sungguh menyenangkan hati Sri. Dibayangkannya akan tinggal diluar negeri, punya banyak teman bule, dan tentunya dapat gaji yang besar. Di samping kesedihannya akan jauh dari orangtua selama dua tahun, itu bukan waktu yang singkat. Namun tekad yang bulat menyingkirkan kesedihan itu dan optimis untuk kerja di negeri Jiran itu. Ternyata temannya juga diterima dan mereka diterima di Malaysia, walaupun di perusahaan berbeda. Seperti menjadi sahabat kepompong dari kecil mereka hampir selalu setia bersama-sama. Salah seorang pihak dari yayasan itu mulai menjelaskan tatacara, bahasa, dan hal yang perlu diperhatikan saat bekerja nanti disana. Setelah kurang lebih dua jam menyimak arahan dari pihak yayasan itu, tak berapa lama kemudian kami berangkat ke Malaysia. Hijrah dari negeri sendiri ke negeri orang memang tidak mudah. Penyesuaian budaya, bahasa, karakter perlu diperhatikan, kalaupun tidak punya akidah Iman Islam yang kuat, mudah saja terjerumus kehal-hal yang sangat merusak moral, seperti menjadi penyuka sesama jenis. Sri bekerja sebagai karyawan PT Elektronik salah satu merk smartphone ternama, dari tempat tinggal ke perusahaan ia harus naik bus atau taxi karena jaraknya yang cukup jauh. Hari demi hari dilewati, satu, dua, tiga bulan kini ia hidup di Malaysia. Kesedihan menjadi bumbu hari-harinya, ia merasa tidak betah, dengan budaya di sana ia ingin segera pulang, tapi masa kontrak menahannya. Hingga memasuki bulan keempat ia bertemu dengan wanita luar biasa itu. Hujan melanda Johor pagi itu, padahal Sri harus berangkat bekerja dengan modal nekad ia tetap menunggu taxi, tapi hampir satu jam tidak ada taxi yang lewat. Akhirnya ia memutuskan untuk naik bus. Di sinilah awal dari ketenangan hati dan kebahagiaan sesungguhnya dari Sri. Sri duduk dibangku terakhir bus itu, disampingnya ada wanita memakai pakaian yang besar entah itu bernama apa, sambil komat-kamit mulutnya entah sedang mengucapkan apa. Diperhatikannya wanita itu, ia merasa sejuk sekali memandangnya lalu Sri memberanikan diri untuk berkenalan. "Assalamualaikum boleh kita orang kenal anda?" saya Sri. "Rosi, senang berjumpa dengan anda." "Iya, boleh saya tanya?" ucap Sri penuh penasaran. "Boleh sahaja." "Baju yang anda pakai itu name apa? best sangat lah." "Ini jubah," tutur Rosi dengan tenang. "Boleh tak saya guna jubah macam itu? Saya nak belajar," Sri memperhatikannya begitu penasaran. "Boleh, nanti kita jumpa dekat depan Centre Johor, awak nanti saya ajak pergi dekat tempat kita orang mengkaji ilmu Islam." Rosi menjelaskan dengan penuh perhatian. "Boleh ke? terima kasih." Sri masih terfikir dengan wanita itu. Ia kagum dengan wanita yang barusaja ia temui. Baru pertama kali ia melihat wanita yang memakai jubah dan bertudung besar seperti itu. Sangat menyejukkan dipandang. Hatinya seolah terpanggil untuk mengikuti apa yang wanita itu lakukan dengan jubah sebesar itu. Kenapa harus memakai jubah? Kenapa harus sebesar itu? Kenapa harus berkerudung panjang? Bukankah yang penting rambut tertutup saja itu cukup? berbagai pertanyaan mengusik malamnya, ia semakin penasaran dengan wanita itu. Hari minggu tiba, Sri segera mempersiapkan diri untuk ke masjid Johor. Jeans hitam dan kaos panjang biru dipakainya bertudung biru selaras dengan kaosnya dan panjang seadanya. Karena lokasi masjid Johor tidak terlalu jauh, ia langkahkan kakinya menuju tempat yang sudah dijanjikan wanita itu, langkah kakinya kini lebih cepat dan lebih cepat lagi, hingga hanya dalam waktu lima belas menit saja ia sampai di Pelataran Centre Johor. Setelah sekitar lima belas menit ia jalan kaki, terlihat wanita berjubah coklat sedang duduk di depan pelataran masjid Johor. Senyum yang menyejukkan hati ia lontarkan, ini kedua kalinya Sri merasakan keteduhan yang belum pernah ia temui selama hidupnya. Diajaknya ia ke sebuah pondok pembelajaran, disana ramai orang belajar. Terlihat dari anak kecil yang sedang mengaji Al Quran, remaja yang sedang menyimak gurunya mengajar, terlihat pula lansia yang sedang membaca dibawah pohon mangga nan rindang. Aura ketenangan semakin dirasakan oleh seorang Sri, dilihatnya papan nama pondok itu bertuliskan Centre Johor, sebuah tempat mulia yang menyejukkan itu, dan sekarang ia menjadi pelajar disana. Tak terbayangkan olehnya bisa menemui tempat seperti ini. Di tempat mulia ini, Sri merasakan hal yang sangat berbeda. Ia mulai diperkenalkan Islam yang sesungguhnya, Islam bukan hanya harus sholat, puasa, atau zakat saja tapi masih banyak hal lainnya yang dia belum tahu, salah satunya perkara hijab. Namun, jauh dari itu ia dapati sudut Islam yang penuh kesejukan. Tak lain, dari keindahan akhlaknya. Dari sana pula, ia mengenal salah seorang sahabat yang juga penulis. Tak lain, muslimah yang disapanya di bus itu. Sri pun mulai belajar dua hal sekaligus. Mengenal Islam lebih dekat, lewat sahabat dan pena. Lalu, Sri kembali berjalan. Sri masih berjalan menyusuri lorong gelap. Matanya meraba dinding di sekitarnya. Di depannya ada cahaya yang berusaha terus digapainya. "Apa ini sebenarnya? Kenapa aku bisa melihat diriku yang lain di sini? Bahkan, siapa sebenarnya mereka semua?" "Apakah aku pernah menderita sedemikian pelik, sehingga aku bahkan tak mengetahuinya sama sekali?" "Sri di sini mempunyai seorang teman, sedangkan aku? Aku bukankah tak punya teman? Dan Ibu... ibu di sini kemana? Apakah ia benar-benar pergi?" "Apa artinya ini semua?" "Teman-teman yang disebutkan di sini, tak ada yang benar-benar kukenal sesuai dunia nyata. Sebenarnya ini apa?" "Ini apaaaa?!!!" teriak Sri sambil menahan takutnya. Tubuhnya yang mulai menggigil terus mencoba masuk ke ruangan gelap itu. Ia bahkan tak tahu ruangan itu akan berujung kemana. Namun, ia terus saja berjalan. "Oh ya, perjalanan. Di sini aku melihat Sri yang juga sangat mandiri. Ia bahkan rela pergi ke luar negeri hanya untuk bekerja. Merelakan kehidupannya. Apa artinya semua ini?" "Siapa juga sosok Rosi yang ditemui Sri? Apakah ia ustadzahnya? Apakah aku akan menemui orang-orang seperti Rosi yang akan menunjukkanku ke jalan yang lebih baik?" gumam Sri. "Oh Tuhan.... aku sebenarnya dimana? Tolonggg!!!!" teriaknya sekuat tenang. "Siapapun tolong!!!! Tolong aku!!" Sri kembali berteriak. Tak ada jawaban apapun kecuali senyap. Ruangan kelam itu kian terasa pekat. Suara rintik hujan terdengar di telinga kini. Menambah gelap suasana kian menjadikan takutnya bertambah parah. "Kalau benar aku punya teman, dimana?!" "Kalau benar aku masih memiliki ibu, ibu dimana? Apa ibu di sana?" pekik Sri. Sri menjedakam teriakannya. Tenggorokannya terasa kering. Napasnya terburu. Tak ada sesuatu jawaban apapun kecuali senyap dan sendu. "Oh, sebenarnya aku dimana? Apa arti semua orang yang telah kulihat ini?!" gumam Sri sambil terisak. "Apa yang harus aku lakukan? Aku takuttt!! Tolong siapapun yang ada di sini, tolong!!" pekik Sri. Ia tergopoh mengangkat kakinya. Mencoba terus berjalan sambil memegangi dinding ruangan itu. Tubuhnya kian gontai menahan haus. Napasnya mulai kian lemah, tak tertahankan. "Siapapun, tolong. Tuhan... tolong aku," ucapnya lemah dan terduduk tiba-tiba. Bi Sri menjedakan sejenak apa yang ia coba ceritakan pada Alana. "Bi Sri yakin tak bisa mengingat itu semua?" "Ya. Bibi ini tak sekolah, hanya tamatan madrasah, mana ada yang mau temenan sama Bibi? Apalagi Ibu, Ibu kabarnya sudah tiada sejak Bibi lahir. Sanak saudara entah kemana. Bibi merasa dengan mimpi itu, makin menguatkan posisi Bibi." "Posisi?" "Ya." "Maksud Bibi?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN