"Ya. Seperti menegaskan pada Bibi. Bahwa janya diri sendiri yang bisa diharapkan. Bahkan, dalam situasi terburuk apapun."
"Mimpi itu hadir seolah jadi pengingat tersendiri. Bahwa kesendirian, bukanlah sebuah saran untuk kita beralasan tidak melanjutkan hidup. Pun, kesendirian berbeda dengan kesepian."
"Berapa banyak orang-orang yang di keramaian, merasa sendiri? Dan sebagian orang akan memilih lebih suka menyendiri daripada berkerumun dalam keramaian?"
Kalimat-kalimat yang diucapkan Bi Sri seolah menyihir Alana. Ia dibuat terkesima dengan setiap kata yang Bi Sri ucapkan.
"Indah sekali, Bi. Bibi dapatkan kata-kata itu darimana?"
Bi Sri tersenyum. Ia menggelengkan kepala sebentar, lalu menunduk. Tak lama kemudian, ia menatap Alana dengan penuh ketulusan.
"Nak... Kata-kata bisa jadi indah atau sekadar rangkaian huruf semata, tergantung bagaimana ketulusan si penyampainya."
"Selain tentu karena satu hal."
"Apa itu, Bi?"
"Membaca."
"Waah Bi Sri suka membaca buku apa?"
"Yang Bibi baca adalah alam raya, Nak. Setiap pagi Bibi bangun mencari air. Untuk makan pun, Bibi masuk ke hutan, untuk mencari kayu bakar dan menanam sayuran di belakang gubug Bibi."
"Banyak sekali hal menarik yang setiap kali Bibi jumpai. Entah itu suara kicauan burung, suara teriakan, sampai suara yang entah itu apa."
"Semuanya seakan adalah bacaan yang tak ada habisnya."
"Menakjubkan! Bi Sri keren!"
"Astaga, Bibi lupa. Kamu kan harus makan, Nak."
"Eh, Maaf. Maksud Bibi Nona."
"Tidak apa-apa, Bi. Kalau Bi Sri gak keberatan aku mau dianggap seperti anak Bibi sendiri, kok."
"Dan kalau gak keberaran juga, bolehkah kupanggil Bu Sri?" pinta Alana.
"Boleh, Nak. Tentu." Bu Sri pun seketika berkaca-kaca. Ia mendekap Alana seperti seorang yang lama sekali tak berjumpa.
"Bu Sri..." panggil Alana.
"Iya, Nak?"
"Bagaimana dengan kebahagiaan?"
"Apakah itu perlu dicari?"
Sebuah pertanyaan yang cukup membuat Bu Sri terdiam lama. Lalu, Bi Sri seolah mendapat ketenangan tersendiri, lalu bicara pada Alana.
"Apa itu bahagia? Apakah perlu dicari? Sebagian orang mengatakan bila masih bertanya apa itu bahagia, berarti memang belum bahagia"
"Tidak apa, sejenak anggap saja ini semacam jeda dari rutinitas kita yang seringkali melelelahkan."
"Sedari kecil, kita bisa merasakan bahagia karena sebuah mainan, misalnya. Saking cintanya pada boneka, bila ia rusak kita akan menangis sejadi-jadinya. Bahagia menurut anak-anak adakah memiliki mainan dengan penuh kebebasan."
"Seiring beranjak remaja, kita merasa bahagia adalah saat kumpul bersama teman seusia. Bebas kemana saja, kapan saja, sampai lupa alarm panggilan telepon ibu dari rumah. Kita akan kesal saat pulang, dimarahi ibu karena telat, sebab bagi kita remaja memiliki teman yang banyak dan bersuka ria, merupakan definisi kebahagiaan tak terkira."
"Tak lama kemudian, bahagia kembali menjelma dirinya. Bukan kata bahagia itu, tapi kita yang terus bertumbuh dan mempersepsikan makna bahagia dalam bentuk lainnta. Bahagia lewat perasaan memiliki mainan, memiliki teman banyak pun perlahan seolah tiada."
"Kita terus berjalan. Mulai memasuki usia dewasa kita mulai mencari kembali makna bahagia. Sesekali mencoba menaruhnya seperti dulu kala."
"Pada benda-benda. Misalnya, kita pergi ke toko buku. Merasa senang kala itu. Namun, saat kembali ke rumah, berubah sendu."
"Keesokan harinya, kita berusaha lagi mencari ke toko bunga. Semerbak wanginya membuat bahagia. Namun, tak bertahan lama, kembali terasa hampa."
"Tak sampai disitu, kita kembali mencari ke toko baju. Beragam model dan trend turut memikar mata. Satu dua baju kita beli begitu saja, terlihat tersenyum bahagia. Sampai di rumah, kembali tak merasakan bahagia yang sama. Entah, bagaimana sistem perasaan ini bekerja."
"Akhirnya pada suatu jeda, kita menyadari, bahagia tak ditaruh pada benda-benda. Kita kembali terus berjalan."
"Lalu, kini seseorang mulai datang padamu. Atas nama cinta, kasih, ketulusan, entah atas nama apapun bentuknya. Sebut saja kekasihmu."
"Kita merasa bahagia hari-hari menjadi penuh warna. Tak lagi sepenuhnya mencari pada benda, tapi cukup bersamanya. Sampai suatu hari, dia pun pergi dengan atau tanpa alasan apapun. Kita tak bisa merelakannya begitu saja. Dengan atau tanpa pelampiasan, kesedihan kembali meninabobokanmu dalam jurang kepiluan."
"Kembali, kita berjalan sendiri. Tidak dengan benda-benda atau siapapun yang mengatasnamakan kekasih dalam beragam rupanya."
"Kita menjenguk kesedihan dan kebahagiaan yang terus diramu dalam kepala. Sesekali berusaha melangkah melawan gerak jiwa."
"Meskipun pada suatu waktu, kita akan menyadari satu hal pasti; kebahagiaan tidak terus dicari, tapi menagih diri untuk berbagi."
"Saat kita kecil, kita menyangka bahagia adalah memiliki boneka yang disuka. Pun, saat remaja bahagia adalah bermain bersama teman sebaya sebanyak dan sebebas-bebasnya."
"Beranjak dewasa, meninggalkan konsep sebelumnya, dan menaruh pada seseorang entah siapa. Kita seolah memiliki itu semua."
"Kembali, hatimu dipatahkan perasaan memiliki itu. Seolah dituntun kembali merawat makna. Bahagia tidak tinggal di sana. Bukan pada benda, teman, kekasih, atau siapapun itu, tapi ada dalam keheningan dan ketenangan kita sendiri yang tulus berbagi. Ini bukan tentang kesendirian status atau perasaan memiliki, tapi... tentang seberapa langkah kita mau jujur pada diri sendiri; memesrai tiap perjalanan menjadi kekaguman atas cinta kasih pada kebaikan. Tak peduli apa dan kepada siapa."
Kembali, Alana dibuat terkesima dengan ucapan Bu Sri. Kali ini, agaknya kepalanya sedikit merasa penuh dan sangat pusing. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Bertepuk tangan atas segala piawai Bu Sri menuturkan setiap kata yang sangat bermakna itu. Meskipun, Alana tak benar-benar bisa memaknainya sekali itu.
"Bu Sri... Meski baru bertemu, aku yakin Bu Sri orang yang baik. Terima kasih sudah mau merawatku."
"Sama-sama, Nak."
"Oh ya, lalu bagaimana ceritanya Bu Sri kenal Mama Maria? Bukannya Bu Sri tinggal sendirian di hutan?"
"Beberapa hari lalu, Ibu tak sengaja menemui Nyonya Maria di hutan. Sendirian. Entah mengapa beliau bisa disana."
"Sambil menangis dan sesekali berteriak, 'Alanaaaa kamu dimana? Mas Wira? Kamu juga dimana?'"
"Saat itu, Ibu tak langsung menemuinya. Ibu lihat dulu sebenarnya apa yang ingin dilakukannya."
"Namun, Nyonya Maria sepertinya punya penyakit magh atau tipes, terlihat dia memegangi perutnya seperti orang sakit lambung."
"Iya. Mama memang ada penyakit lambung."
"Jadi? Selama Ayah mencari Alana, Mama juga mencari ke hutan sendirian?"
Bu Sri menganggukkan kepala.
"Mamah," gumam Alana.
"Meskipun kian gelap, Nyonya Maria seolah tak peduli. Ia terus berteriak, seolah tak peduli dengan rasa sakitnya."
"Karena melihatnya tak tega, Ibu dekati. Sampailah, Nyonya tiba-tiba jatuh pingsan. Ibu bawa ke gubug tempat Ibu tinggal."
"Disanalah awal mulanya. Nyonya Maria begitu sangat lembut. Itu yang Ibu rasakan. Entah kenapa kondisinya saat ini berubah, tapi Ibu yakin, Nyonya bisa sembuh."
Alana mulai berkaca-kaca mendengar setiap perkataan Bu Sri. "Mamah... Alana sayang Mama."