"Semoga. Terima kasih Bu Sri. Sekarang aku punya Bu Sri yang bakal temenin aku sembuhin Mama. Iya 'kan?"
Bu Sri tersenyum seraya menganggukkan kepala. Keheningan kembali bercampur sendu tak terkira.
"Setiap orang barangkali selalu punya titik gelapnya, Nak. Mungkin hari ini, Nyonya Maria sedang berada di masa itu."
"Iya. Bu Sri benar, di hari wedding anniversary tapi harus kehilangan suaminya, pasti itu begitu sangat memukul batin Mama. Alana merasa bersalah, kurang menjaga diri dengan baik," ucap Alana.
"Tidak. Semua yang sudah terjadi, jangan disesali berlebihan. Yah? Mulai sekarang Bu Sri yang akan menemani Alana di sini."
Alana menganggukkan kepala. Seakan begitu terpecik dalam dirinya suatu hal yang sangat begitu ia harapkan; kesembuhan Mamanya.
Tak ada yang akan mengetahui dengan pasti apa yang akan terjadi esok hari. Bagaimana manusia terus meminta pada Sang Ilahi, barangkali itulah salah satu jenis upaya untuk menenangkan hati. Menenangkan hati dari segala bentuk ketidakpastian dunia ini.
"Nak... " panggil Bu Sri.
"Iya, Bu?"
"Apa yang akan kamu lakukan setelah tau harus berada di sini seperti seorang puteri yang terkurung di istana?"
"Apa yang akan kulakukan? Aku sendiri sepertinya tak tahu, Bu Sri. Aku bingung."
"Tidak apa. Dulu kala, Ibu juga pernah merasakan kebingungan serupa. Saat itu, hanya sekolah madrasah. Ya, saat itu terpikir dalam benak, 'besok jadi apa, ya?'"
"Iya, Bu. Bu Sri sudah tau?"
"Dulu kala, ada seseorang yang berbicara tentang cita-cita dan mimpi pada Ibu. Ya, obrolan itu terasa sangat begitu lekat di kepala."
"Kamu ingin mendengarnya, Alana?"
"Iya, Bu. Mau!" Ceria Alana begitu penasaran.
"Sebut saja dia Ibu bernama Martin."
"Dia laki-laki atau perempuan, Bu?"
"Menurut Alana?"
"Sepertinya laki-laki."
Bu Sri tak menjawabnya, ia hanya tersenyum dan melanjutkan ceritanya. Entah, apa yang tak ingin dan begitu disembunyikan dari Bu Sri.
"Jadi apa ya? Pasti pernah mendapati pertanyaan itu kan? Entah dari orangtua, teman, saudara, atau bahkan diri sendiri." Kata Martin meracaui dirinya sendiri.
"Jadi apa ya? Pertanyaan itu terus membuntutiku. Seakan hidupku ini hanya bertujuan pada jadi apa? Sayangnya, yang terpaut dalam benak, ketika ada pertanyaan itu lebih pada statua semata."
"Jadi pegawai? Pns? Jadi kepala desa? Jadi petani? atau hal lainnya? Kepalaku mulai bertambah rumit ketika yang kumaknai sebagai status pekerjaan, tidak begitu mainstream dengan status bergengsi itu."
"Hari-hariku kian terasa terbebani, saat pergi ke sekolah. Oh ya, di desaku aku tinggal di sebuah lingkungan yang belum cukup peka dengan pentingnya pendidikan. Kebanyakan ketika mempunyai anak, pola didiknya cukup nanti kerja, dapat duit, menikah. Tak peduli itu lulusan SMP, SD, atau bahkan tidak tamat SD."
"Aku juga bukan dari keluarga berstatus yang gimanaa gitu, bahkan ibuku tak lulus sekolah dasar, tapi dia kepengin aku sekolah. Saat itu, hanya aku yang melanjutkan sekolah menengah atas alias SMA."
"Padahal, sekolahnya gratis. Kebetulan, diterima di salah satu sekolah negeri, yang tak begitu mengeluarkan biaya sendiri. Namun, pertanyaan itu sekarang bukan keluar dari orangtua, atau diriku sendiri. Melainkan dari beberapa tetangga.
"Mau jadi apa? Sekolah tinggi-tinggi, nanti juga paling nikah, trus di dapur."
"Ya, celetukan seperti itu, begitu akrab di telingaku. Terlebih, beberapa kawan SD ada yang mulai menikah. Ya, entah kenapa menikah menjadi seolah sebuah prestasi tersendiri yang selalu digaung-gaungkan. Apakah aku tak ingin menikah? Ah, bukan. Kembali, merasakan alur pertanyaan mau jadi apa?"
"Lulus SMA, awalnya tak langsung kuliah. Mencicipi dunia kerja, rasanya aneh tapi cukupbisa merasakan realita lebih dekat. Akhirnya, kuputuskan kuliah. Ya, di lingkungan yang menganggap sekolah menengah atas saja sudah tinggi, apalagi kuliah?"
"Singkatnya, aku melanjutkan di salah satu kuliah swasta, meskipun swasta tapi biayanya cukup terjangkau. Pertanyaan itu kini lebih terasa menyudutkan dan membuat beban orangtuaku. Beberapa yang begitu julid, bisa langsung ngomong di depan ibuku yang sedang bekerja, "Anakmu kuliah, ya? Mau jadi apa? Perempuan ya endingnya di dapur, kasur, sumur, ngrawat suami. Ngapaaain sekolah tinggi-tinggi. Mau jadi apa?"
"Awalnya, ibuku tak menanggapi. Setelah kian beberapa omongan, dengan tegas ibuku menjawab, 'Urusanmu apa? Aku emang anak orang miskin, kok kamu yang anak orang kaya gak nguliahin anaknya? Hah? Mau jadi apapun, bukan urusan situ!'
"Aku mendengar dongeng realita ibu itu sampai hapal. Tak jarang, cerita itu kembali menjadi penempa pertanyaan, "Mau jadi apa?" kian terasa beratnya. Waktu terus berjalan. Aku coba mengikuti pepatah lama. Katanya, ikuti dan lalukan pekerjaan apa yang kamu sukai. Tekuni saja. Rejeki akan mengikuti mereka yang expert."
"Beberapa tahun kemudian, aku merasa sudah menjawab pertanyaan mau jadi apa? Dengan pekerjaanku sekarang. Pun, ibu dan beberapa orang yang suka mengucilkan, mulai diam dan berganti iri hati. Lalu, bagaimana dengan perasaanku? Apakah aku sudah sepenuhnya menjawab tanya dari "Mau jadi apa?" Ternyata tidak. Aku masih belum apa-apa. Banyak sekali hal yang belum aku tau. Banyaaak sekali."
"Tak jarang merasa capek sendiri, besok nanti jadi apa, ya? Pertangaan itu kian berulang ketika satu pekerjaan sengaja aku keluar dan pindah lagi ke pekerjaaan lainnya. Kalau semua ini diambil oleh Tuhan, besok bakal jadi apa, ya? Aduh, kenapa makin terus dipikirin makin pusing, ya? Terasa kembali berat beban ini menumpuk di pundak. Terasa penuh di kepala yang kian jenuh."
"Lalu, aku teringat sesuatu nasihat barangkali memang hidup ini tentang ketenangan dan percaya. Tenang, menjalani hal baik dan oercaya selagi kita hidup, kita masih diberi rejeki dari arah yang tak disangka-sangka."
"Seringkali pula, kita menjemput makna rejeki itu sendiri jadi unggul-unggulan status duniawi dan harta semata. Padahal, apa hidup hanya untuk menjadi hal seperti itu? Bukankah firaun yang kaya raya juga akhirnya tak diberkahi Tuhan? Apa makna semua hal itu?"
"Lalu kembali, ya kembali ke realitasku sendiri. Saat ini, malam di hujan ini... aku cukup ingin menerapkan pola sepertinya hidup ini tentang memberi kenangan yang baik. Ya, cukuplah hal itu. Memberi kebahagiaan denfan hati yang gembira."
"Aku tak tahu esok pertanyaan akan jadi apa kembaki menghantuiku atau tidak, tapi setidkanya kali inu aku lebih lega dant tidur lebih tenang dengan tujaun sederhana seperti ini. Meskipun sisi lain aku juga menyadari, tidak semua kenangan adalah baik, tapi lebih pada aku yang terus belajar dan mampi mempersepsikan apa yang terjadi dengan lebih jujur dan obyektif."
Bu Sri menjedakan ceritanya. Ia melirik Alana.
"Sudah? Martin, teman Bu Sri itu pasti seorang jenius!"
"Kenapa berpikir seperti itu, Alana?"