Part 11 - Rapunzel dan Pertanyaan Hidup

1008 Kata
"Entahlah. Aku hanya seperti merasakannya." "Hum. Kamu suka cerita, Nak?" "Iya, Bu. Dulu... Mamah suka menceritakanku dongeng Rapunzel." "Oh ya? Mau Ibu ceritakan?" "Namun, entah kenapa hari ini aku merasa Mamah seperti Ibu tiri." "Ibu tiri?" "Satu figur paling malang di dunia ini Ibu pikir adalah ibu tiri." "Ketika aku kanak-kanak, ada banyak cerita tentang ibu tiri yang jahat dan cerita-cerita itu menanamkan keyakinan kuat di dalam benak bahwa ibu tiri pasti jahat. Aku pun meyakini itu. Kebanyakan orang lain pun barangkali meyakini itu. Mungkin tetangga-tetangga orang lain juga meyakini itu." "Yang pertama-tama memperkenalkan ibu tiri jahat kepadaku dulu kala adalah dongeng Cinderella." "Ibu Sri tau kan dongeng Cinderalla?" Ibu Sri kali ini yanf menganggukkan kepala. Mendengarkan Alana bercerita. "Ia muncul mula-mula dalam bentuk album kaset “cerita dan lagu”—Ira Maya Sopha, penyanyi cilik masa itu dan berperan sebagai Cinderella yang menyanyikan kesedihan maupun kegembiraannya." "Ada demam Cinderella dengan munculnya kaset itu. Salah seorang di desa entah darimana sepertinya relawan, ia membacakan dongeng Cinderella dan Aku pun ketagihan minta dibacakan dongeng dan pada kesempatan berikutnya ia membacakan Putri Salju." "Ada ibu tiri jahat juga di dalam dongeng ini. Lalu dongeng lain lagi, Hansel dan Gretel; ada ibu tiri jahat lagi." "Setelah itu muncul film Ratapan Anak Tiri, lalu film Kejamnya Ibu Tiri tak Sekejam Ibukota. Judul terakhir itu bukan tentang ibu tiri, tetapi film lawak yang memanfaatkan demam ibu tiri." "Cerita-cerita itu berhasil meyakinkanku bahwa ibu tiri memang jahat. Mungkin begitu juga yang tertanam di dalam pikiran anak-anak lain dan para ibu kandung." “Tapi kalau ayah tiri tidak seperti itu. Ayah tiri banyak yang baik.” Ucapan itu, aku dengar di dalam rumah. Pamanku yang menyampaikannya." "Aku percaya. Pengetahuan yang sama miliki tidak memadai untuk menyanggah ucapan orang-orang dewasa." "Aku tidak bisa mengatakan, misalnya, ibu kandung ada juga yang jahat dan memperlakukan anak-anak dengan cara tidak baik. Singkatnya, pada waktu itu semua orang sepakat bahwa ibu tiri adalah monster." "Lalu tentang Rapunzel. Aku juga masih hapal ceritanya." "Oh ya? Boleh ceritakan pada Ibu?" "Tentu." Alana pun mulai menceritakan dongeng tentang Rapunzel pada Bu Sri. "Rapunzel adalah putri dengan rambut panjang yang sangking panjangnya bisa jadi jalan bagi orang ketika hendak naik ke atas menara tempat ia tinggal. Kenapa rambutnya bisa panjang? Kenapa dia bisa tinggal di menara?" "Alkisah, di sebuah kerajaan yang sangat kaya, Raja dan Ratu sedang menantikan kelahiran anak pertama mereka. Tidak lama, penantian mereka membuahkan hasil. Ratu mengandung anak pertamanya." "Namun, kebahagiaan itu terancam ketika sang Ratu jatuh sakit. Tabib istana menyarankan kepada Raja untuk mencari bunga rampion. Bunga itu merupakan satu-satunya obat yang bisa menyembuhkan Ratu." "Karena sangat mencintai istrinya, Rajapun berkelana mencari bunga rampion. Usahanya membuahkan hasil ketika Raja bersama beberapa prajurit menemukan bunga rampion di dalam hutan seberang istana." "Saat raja memetik bunga itu, seorang penyihir menahan amarahnya. Ternyata, bunga itu adalah bunga yang membuatnya bisa awet muda." "Dua bulan setelahnya, karena disembuhkan oleh bunga rampion, Ratu melahirkan putri yang sangat cantik dengan rambut berwarna emas. Rambut itu mengandung khasiat serupa bunga rampion." "Sebagai wujud syukur dan rasa sayangnya kepada sang putri, setiap hari kelahiran putri yang bernama Rapunzel itu, Raja dan Ratu akan menerbangkan lampion memenuhi kerajaan." "Penyihir jahat yang semakin tampak tua tidak bisa menunggu lebih lama. Tepat saat dini hari, penyihir menerobos masuk ke dalam istana dan menculik Rapunzel." "Dia membawa putri cantik itu masuk ke dalam hutan. Di bagian hutan terdalam, ia menempatkan Rapunzel di sebuah menara sehingga tidak ada orang yang bisa menemukan gadis itu." "Hanya dengan menyisir rambut Rapunzel sambil menyanyikan sebuah lagu, sang penyihir bisa kembali tampak muda." "Bertahun-tahun di istana, penyihir merawat Rapunzel seperti anaknya sendiri. Ia melarang Rapunzel meninggalkan menara dengan mengatakan bahwa dunia luar berbahaya." "Semua rencana penyihir mulai kacau ketika seorang pencuri mahkota Rapunzel dari istana menyelinap masuk ke menara. Rapunzel menangkapnya dan berjanji akan membebaskan pencuri yang bernama Flynn itu jika ia bersedia menemani Rapunzel melihat lampion yang berterbangan saat ia ulang tahun." "Singkat cerita, Flynn berhasil membawa Rapunzel ke istana. Di sana, ia memberitahu Rapunzel bahwa lampion itu merupakan perayaan ulang tahun putri kerajaan yang hilang." "Namun, tidak berapa lama, penyihir menemukan mereka dan menjebak Flynn agar dia terlihat hanya memanfaatkan Rapunzel untuk membebaskan diri dan kembali mencuri." "Rapunzel sempat terhasut dan kembali ke menara. Namun tidak berapa lama, ia menyadari bahwa ibunya adalah penyihir yang berbohong dan dirinya sendiri adalah putri yang hilang." "Ketika Flynn berhasil kabur dari jebakan penyihir. Ia segera mendatangi menara untuk menyelamatkan Rapunzel. Namun malang, penyihir terlebih dahulu menusuk Flynn." "Rapunzel yang tidak ingin Flynn meninggalkannya, segera menyembuhkan Flynn dan memohon kepada penyihir untuk mengizinkan ia menyelamatkan Flynn. Karena setelah itu, dia akan bertahan untuk hidup di menara." "Penyihir menyetujui hal itu. Rapunzelpun menyanyikan lagu yang bisa menyalakan rambutnya untuk menyembuhkan Flynn." "Setelah sadarkan diri, Flynn segera memotong rambut Rapunzel. Rambut keemasan itupun kehilangan keajaibannya sehingga berubah menjadi warna coklat." "Penyihir yang marah segera kembali menyerang Flynn, namun pada akhirnya ia terpeleset dan terjatuh dari menara." "Pada akhirnya, Rapunzel kembali ke istana dan ia menikah dengan Flynn." "Yah, begitulah ceritanya. Menurut Bu Sri gimana?" "Menarik. Dongeng-dongeng selalu mengajarkan banyak hal tentang hidup. Sepertinya begitu." "Kalau aku justru kebalikannya. Entahlah. Atau karena aku sudah sering mendengarkannya sejak kecil dari Mamah?" "Kadang-kadang, di saat sekarang aku merasa seperti Cinderella yang beruntung dengan sepatu kaca dan keajaibannya, meskipun keajaiban di sini bukan berarti pangeran. Tapi aku hidup dengan Ayah dan Mamah yang baik." "Namun... Sekarang sudah berbeda. Aku mulai meyakini atau setengah percaya bahwa seorang Ibu pun, bahkan ibu kandung bisa berbuat jahat pada anaknya." Keluh Alana. "Ssst... Percayalah. Nyonya Maria pasti sembuh. Beliau akan kembali pulih menjadi perempuan yang lembut seperti sedia kala. Alana yakin 'kan?" "Tapi, Bu. Aku merasa seperti Rapunzel sekarang. Harus hidup di tengah ruangan pengap. Terkunci dari dunia luar. Bagaimana aku bisa mengetahui tentang apa itu bahagia? Bagaimana menemukan diri sendiri itu? Atau sebutlah cita-cita. Bagaimana nanti aku meraihnya?" "Hari ini bukanlah hari lalu, Nak." "Meskipun kamu merasa terkurung seperti Rapunzel, hadapilah kenyataan ini. Kita jalani bersama. Ya?" Alana mengangguk perlahan, "tapi Bagaimana caranya melewati ini semua, Bu?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN