"Caranya adalah tak pernah berhenti belajar. Dimanapun. Kapanpun."
"Tapi, Alana tidak sekolah. Bagaimana Alana bisa sekolah?"
"Belajar tidak hanya di sekolah, Nak."
"Maksud Bu Sri?"
"Mau Ibu ceritakan suatu kisah?"
"Apa itu Bu Sri?"
"Cerita tentang salah satu pemuda yang bosan dengan sekolah, tapi ia dihadapkan pilihan lain tentang makna belajar."
"Waah mau! Sepertinya menarik!"
Bu Sri pun bersiap menuturkan cerita itu.
"Cerita ini tentang pemuda dan sahabat perempuannya. Sebut saja pemuda itu bernama Devan dan perempuannya bernama Mira."
"Nak, kamu ndapapa nda berangkat sekolah. Asal tetep giat belajar," tutur Ibunya Devan.
"Kenapa begitu, Bu?"
"Sebab sekolah hanya satu tempat belajar. Kehidupan adalah tempat kamu belajar sesungguhnya."
Devan masih ingat, pagi ini Ibu mengucapkannya ke dua ratus tujuh puluh tiga kali. Ya, ia menyebut itu karena ia selalu menuliskannya di buku diary.
Devan memahami kalimat itu begitu dalam. Hanya dengan Ibunyalah, ia lebih merasai makna kehidupan. Ayahnya belum sepenuhnya memahami. Keinginan dari anak satu-satunya itu. Berbagai hal nekad pun dilakukan Devan. Laki-laki berwajah tegas tapi tak begitu yakin dengan tindakannya. Namun, ia seperti hanya mengikuti kegelisahan batinnya sendiri.
Suatu sore, ia tak sengaja melihat seorang anak mengemis di jalanan. Ia tanyai anak itu. Rasa iba hatinya begitu dalam. Didapatinya anak itu putus sekolah. Devan seakan tak bisa diam, kalau sudah melihat penderitaan orang lain. Iapun memutuskan tak berangkat sekolah tiga hari. Menemui anak itu, dan menyelami lebih dekat kehidupannya.
"Kamu mau jadi apa?" "Orangtua banting tulang untuk nyekolahin kamu. Kenapa malah bolos?" Rentetan tanya menyerbu Devan seketika dari mulut Ayah. "Kenapa diam saja, hah?"
"Devan pergi ketemu anak-anak, yah."
Begitu dapat pemberitahuan dari sekolah, ayahnya marah. Sebab itu pula, Devan tak begitu dekat dengan Ayah. Tapi tidak dengan Ibunya. Ibunya tak pernah memarahinya. Ibunya pula yang lebih memahami. Bahkan tersenyum dengan kejadian ini.
Devan memeluk kejadian itu sendiri. Sebelum esok hari, ia taruh di mata perempuan itu; Mira.
Aku ingin menceritakan seporsi kenangan, Mira. Tentang masa-masa itu. Masa dimana siang jadi malam. Malam kian temaram. Sesunyi itu rasanya. Meski deru nampak kulontarkan. Namun sepi tak terhindarkan. Aku senang memesan kenangan itu kembali, Mira. Entahlah. Sedikit banyaknya, agar kamu mengerti. Sebenarnya, karena kamu punya mata yang selalu kurindukan.
Didalamnya, seperti banyak kisah, namun menjadi misteri tak terpecah. Karena kamu sendiri memilih memasuki kubu 'a women's heart is deeper than ocean for a secret.' Entah, memaknai gimana. Yang kuingat adalah kamu.
Kamu yang bisu dari kata-kata. Tapi pendengar setia. Sebab itu pula, dengarkan aku kali ini, Devan. Sebentar, kulihat-lihat dulu menunya, ya. Aku menunjuk menu kenangan itu. Lima menit kemudian, tersaji menu kenangan di meja ingatan. Awan mulai membumbui kembali menu ingatanku.
"Aku bosan sekolah."
Rona wajah laki-laki yang duduk di samping Mira berubah. Nampak gurat sedih mulai menjalari otot wajahnya. Perempuan berambut panjang, yang mendengarkan itu hanya menjawab dengan ekspresi—seakan bahasa tubuh berdialog, "Kenapa begitu?"
Namun tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Inilah yang cukup harus Devan kunyah tiap kali cerita padanya. Ia harus sabar, tidak mengharap dia lekas berkomentar. Namun, justru sifatnya inilah yang membuatnya betah bercerita panjang lebar dengannya.
Devan melanjutkan ceritanya sendiri. Aneh memang. Absurd memang. Begitulah, laki-laki pun terkadang semenyebalkan itu. Tapi bagaimanapun itu, Devan; adalah sahabat terbaiknya. Ya, kala itu hanya sahabat.
"Aku bosan sekolah, Mir. Ya ... aku ngrasa bosen aja. Seakan semua orang berlomba-lomba nyari ijazah. Selama pembelajaran di kelas, kepalaku rasanya ingin pecah."
"ku tak mampu melahap semua pelajaran itu. Di kelas sosiologi kita belajar arti bersosial, tapi apa pernah kita peduli bagaimana keadaan pengamen jalanan bisa makan tiap hari?"
"Aku merasa ... sekolah ini aneh aja, Mira. Pernah gak sih, ngrasa gitu?"
Angin menjawab desaunya. Mira—perempuan berambut panjang dan bermata teduh—yang Devan rindui bola matanya itu, belum menjawab sepatah kata pun. Justru ia menatap langit.
Beberapa menit seakan menyeka air mata yang hampir menetes dari mata yang Devan rindui itu. Tidak. Devan tak akan membiarkannya menangis dulu. Katanya, 'air mata adalah hal yang berharga kedua setelah mata air.' Apa yang diucapkannya ia ingat begitu refleks. Ia lalu menundukkan kepala dan tersenyum pada Devan.
Ya, ia tahu. Isyarat itu adalah kode agar Devan mengabaikannya, dan melanjutkan cerita sampai tuntas. Bahkan, tak ia sadari. Bersahabat dengan makhluk misterius yang ia rindui matanya ini, Devan seakan terbawa. Kepekaan yang lebih dari kemarin. Devan agak senyum-senyum sendiri mengingatnya. Ternyata, peka itu menyenangkan juga. Pikirnya.
Devan melanjutkan lagi ceritanya yang belum tuntas. Ia petik diam dari awan yang menjantung di dermaga langit. Meski ia agak pelit. Namun, Devan paksa juga ia memberi keteduhan. Agar diamnya, kian tak membosankan. Devan pesan lagi, kenangan kemarin saat ia baca buku, jawabnya pada pelayan yang berada di balik awan itu.
"Mira, aku tahu ini hanya kegelisahanku. Tapi aku tak punya hal lain yang bisa kulakukan lebih untuk membantu mereka. Kita seharian sekolah disini, tapi semakin aku belajar, semakin merasa hampa,"
"Aku pengin ngelakuin lebih aja. Kamu tahu 'kan?" Keluhnya.
"Kemarin aku absen dua hari untuk tahu lebih dekat anak-anak di jalanan itu. Dan ... begitu orangtuaku tahu, ya diomelin deh. Tahu deh, pusing."
"Sekarang, aku tanya kamu. Apa yang harus kulakukan sekarang?" Devan mulai terdiam. Rasanya begitu perih mengingat kenangan yang ia pesan dari awan siang—yang mendung kali itu.
"Kamu ingin tetap jadi orang baik, Dev? Yang tak sekadar baik, tapi bisa membahagiakan banyak orang 'kan?"
Devan hanya menganggukkan kepala. Sebuah kode—bahasa tubuh Devan sudah begitu rindu kata yang keluar dari mulutnya.
"Barangkali, kesadaranmu kali ini, adalah salah satu pintu rahmat-Nya bukan? Tuhan ingin melembutkan hatimu lewat keresahan jiwamu. Tak nyaman dengan penderitaan orang lain. Ingin berbuat sesuatu, tapi tak tahu. Iya, 'kan?"
"Cara terbaik melawan kenangan, biarlah jadi kenangan. Suatu saat kau pun akan memesannya lagi pada awan mendung itu 'kan"
"Yang barangkali kau bisa ceritakan kembali pada mereka yang pernah sama sepertimu hari ini. Katanya, mengajak orang lain kepada kebaikan, kita ikut dapat kebaikannya juga lo. Indah bukan?"
"Jangan ulangi lagi bolos sekolah. Kasian orangtua. Kan berbakti juga bagian dari berbuat baik 'kan?"
Devan tersenyum mendengar suaranya nan lembut.
"Gausah sok bad boy," ledek Mira.
"Apaan?" "Ya sok keren pengin bantu orang lain, tapi bikin susah orangtua. Sama aja boong." "Iya deh iya yang rajin bantu orangtua."
"Ya nggak gitu juga."
***
"Nah, begitulah kiranya. Kisah dua orang itu. Devan yang selalu berusaha memahami bagaimana proses belajar yang baik itu, Nak." Ucap Bu Sri.
"Iya juga, ya. Untung Devan punya sahabat baik seperti Mira yang rela mendengar keluh dan ceritanya. Terlebih, peran Ibunya juga."
"Iya, Nak. Kita bisa belajar darimana saja."
"Menarik, Bu Sri. Apa ada cerita lagi? Aku ingin mendengarnya! Apapun!" Alana nampak begitu antusias.