Aku berusaha memejamkan mata. Sekuat hati menenangkan segala debar perasaan ini. Langit-langit kamarku seperti begitu penuh bintang gemintang. Tak ada yang tahu siapa yang menaburnya di sana. Atau mungkin hanya aku yang melihatnya?
Ruangan kamar yang kutempati kali ini penuh dengan nuansa cat putih dan abu. Hampir tak ada sentuhan warna cerah di setiap sudutnya. Aku dengan perasaanku sendiri yang membuatnya terasa begitu cerahnya.
Apakah semua ini akan tetap bisa kurasakan esok hari kala terbangun nanti? Aku tiba-tiba menjadi orang cerewet yang terus bertanya-tanya pada diri sendiri.
Sesekali tersenyum. Entah apa yang disenyumi. Entah jenis senyum seperti apa yang layak dan memang sedang kusenyumi.
"Oh, Tania. Tidurlah." Gumamku menekan segala pertanyaan yang terus tumbuh di hati dan kepalaku.
Sekuat hati, berusaha kupejamkan mata. Jam dinding berbentuk awan menunjukkan pukul setengah dua.
***
Hari yang cerah. Kicau burung masih kudengar dari balik jendela. Kusingkap sebentar jendela di kamar yang kutempati. Karena memang ini kamar di lantai dua, aku bisa melihat pemandangan yang cukup mengesankan dari sini.
Orang-orang yang berlalu lalang, orang-orang yang sedang jalan kaki, atau orang-orang yang sedang berlari. Mereka semua dengan segala aktivitas di pagi harinya.
Sementara aku? Aku masih dengan sweater merah dan syal yang dipinjamkan Ibunya Kinan. Sudah kurapikan pula segala isi kamar ini.
Sinar matahari pagi mulai sayup menerangi. Akupun menutup jendela dan gorden begitu panggilan suara, terdengar memanggilku.
"Tania... Sini, Nak. Sarapan." Suara Ibu terdengar memanggilku.
"Iya, Bu. Tania segera keluar."
Begitu pintu kubuka, aku dibuat kaget dengan Kinan dibalik pintu. Karena aku sedikit berjalan cepat, sontak tubuhku hampir jatuh dalam dekapannya.
"Kinan? Bukannya tadi Ibu?"
"Iya. Tadi memang Ibu. Sekarang aku."
"Gimana tidurnya? Nyenyak, Tuan Puteri?"
"Apaan sih, Nan."
"Hum?"
"Nyenyak, kok. Makasih, ya."
"Makasih untuk?"
"Uhmm untuk semuanya."
"Ok." Kinan mengulurkan tangannya di depanku. Entah apa maksudnya. Bukankah di bawah ada Ibu? Bagaimana nanti kalau melihat kami? Ya, bagaimana nanti kalau melihat kami berjalan bergandengan tangan seperti ini?
"Hei, tunggu apalagi?"
"Uhm, tapi. Emangnya nggakpapa?"
"Memangnya kenapa?"
"Di bawah kan ada Ibu. Emang nggakpapa?"
"Justru biar Ibu tahu aku kini yang akan menjagamu, Sayang."
Oh, perasaan apa ini? Kenapa jantungku kembali berdebar kencang sepagi ini? Bagaimana ini? Aku terus bertanya-tanya pada diriku sendiri.
Apakah aku harus menyambut uluran tangannya? Ataukah aku harus berpura-pura tak jatuh hati pada segala sikap pedulinya? Ah, apa-apaan kenapa harus berpura-pura? Bukanjah ini suatu bentuk sikap baik Kinan agar Ibunya juga tahu? Bukan hanya kita berdua yang tahu?
Ah, kepalaku kembali dibuat bercabang-cabang penuh dengan pertanyaan. Pertanyaan kian terasa begitu rumitnya tumbuh subur di kepalaku.
Karena aku yang ragu menyambut uluran tangannya, Kinan meraih tanganku dan meyakinkanku akan baik-baik saja.
"Siap ketemu Ibu?"
"Uhm, asal sama kamu."
"Apa?"
"Ya... Asal sama kamu kan? Aku sebenarnya takut. Uhm, agak ragu."
"Kamu lucu kalau lagi cemas gini."
"Kinan... ih, aku serius tau."
"Iya-iya aku paham kekawatiranmu. Udah, kita turun yah? Udah ditunggu Ibu di bawah tuh."
Aku menganggukkan kepala. Kami pun berjalan. Angin terasa berhembus mempersilahkan langkahku. Setiap langkah menuruni anak tangga, aku seperti begitu cemas dan bahagia dalam satu waktu.
Cemas, dengan segala perasaan yang kuselimuti kini. Bahagia karena memang aku nyaman dengan segala sikap kepedulian Kinan yang ia tunjukkan. Aku seperti Tuan Puteri di hadapannya.
Aku kembali merasa hidup ini betapa berharganya. Bisa mencintai orang lain dan dicintai orang lain, sungguh suatu kenikmatan yang sulit kujelaskan bagaimana rasanya.
Setiap letupan-letupan perasaannya seperti kembang api di langit. Kau akan begitu merasakan kebahagiaan yang tiada tara. Tersenyum bahagia melihat setiap percik dan kilaunya di langit.
Namun, bersamaan setelah lenyap, setelah tiada kau akan melahirkan tanya. Melahirkan berbagai pertanyaan yang terus tumbuh di kepala.
Sesekali, pertanyaan itu tak hanya tumbuh di kepala. Melainkan tumbuh subur di mata, itu sebabnya barangkali mata para pecinta selalu terlihat subur dan begitu indahnya seperti sebuah keindahan bunga-bunga yang mekar di taman.
Pertanyaan-pertanyaan itu sebenarnya sama saja. Ah, ini ada apa dengan perasaanku? Ah, apakah yang kulalui ini akan selamanya begini? Ataukah hanya hal semu yang kemudian akan kembali berubah seiring waktu? Pertanyaan yang kembali bermuara jadi rahasia jiwa.
Akhirnya, setiap letupan-letupan yang rumit dari terus bertumbuh di kepalaku itu sedikit mereda. Ya, akhirnya hanya jarak beberapa meter saja kami akan menuju meja sarapan.
Ibupun menengok kami. Kinan yang tersenyum lebar dan aku yang berusaha sekuat hati mendamaikan perasaan. Berusaha tersenyum biasa saja menyesuaikan Kinan.
"Kalian? Ah, jangan-jangan? Hayoo," ledek Ibunya Kinan.
Responnya sungguh di luar dugaanku! Ia tak marah? Ia tak terkejut? Ah, Ibunya malah tersenyum? Apa ini sebenarnya?
Bukannya pertanyaan di kepalaku mereda, malah kali ini terasa kembali begitu tumbuh subur di kepala.
Bagaimana aku akan meresponnya? Sesekali aku melihat wajah Kinan. Aku penasaran dengan respon apa yang akan ia kembali berikan.
"Ibu senang bukan? Aku akan menjaga Tania lebih menjaganya daripada hari ini."
"Ibu mendukung setiap yang terbaik untuk kebaikanmu."
"Terima kasih, Ibu."
"Yuk, sarapan dulu."
Ah, beginikah responnya? Jantungku serasa sudah berada di ujung debarnya. Ternyata, Ibunya juga mendukung hubungan kita?
Ah, kebahagiaan ini akan terus kuingat selalu. Aku tak akan pernah melupakannya.
"Bu," panggil Kinan.
"Ya?"
"Kalau Kinan ijin liburan boleh ndak?"
"Liburan? Kemana?"
"Uhm, soal kemananya nanti Kinan kabarin lagi."
"Berdua?"
"Mungkin, ada teman Kinan lagi yang ikut."
"Ndakpapa. Mumpung masih libur kuliah juga kan kamu?"
"Iya, Bu. Betapa beruntungnya punya Ibu sepengertian ini."
"Bisa aja. Udah, makan."
Waktu terus berjalan, sarapan pun usai. Aku masih menyimpan pertanyaan dan jawaban yang belum kusampaikan. Apa maksud dari Kinan akan pergi liburan bersamaku? Apakah ini salah satu cara agar aku segera menjawabnya?
Ah, Kinan yang kini penuh kejutan. Kenapa aku semakin yakin dengan perasaan ini?
Perlahan, Ibu berpamit diri dari meja makan. Ia akan bersiap ke ruang kerjanya.
"Baik-baik, ya. Ibu ada yang mau dikerjakan dulu."
"Terima kasih, Ibu. Oh ya, sweaternya?"
"Simpan saja, Nak. Anggap saja kenangan dari Ibu."
"Terima kasih, Bu."
Kini, tinggallah aku dan Kinan di meja makan.
"Apa maksud dari rencana liburan? Hum? Aku bukankah belum tau?"
"Memang. Sengaja. Tapi kamu mau kan? Please."
"Kalau aku gamau?"
"Aku akan membuatmu mau."
"Kinan..."
"Taniaa..."
Kami pun tersipu malu.
"Kamu bahagia sayang?" tanya Kinan.
"Menurutmu? Apakah aku terlihat bahagia pagi ini?"