Kinanpun sedikit menundukkan wajahnya. Membelai lembut rambutku. Dekat sekali. Wajahku dan wajahnya kini sangat dekat sekali. Aku bisa merasakan napasnya dan sedikit debar jantungnya.
"Ah, aku kehilangan kata-kata."
Kami saling bertatap mata. Hidung mancungnya. Rahang tegasnya. Mata yang tajam, tapi begitu tegasnya turut terpotret dalam ingatanku begitu lekatnya.
Apakah semua orang yang mengalami jatuh cinta akan merasakan hal ini? Bagaimana pulq dengan orang-orang yang jatuh cinta tapi kemudian merasakan begitu sakit ditinggalkan kekasihnya?
Apakah rasa berbunga-bunga pada saat jatuh cinta akan terus dirasakan berkali-kali? Ataukah itu hanya momen kecil yang akan berubah seiring waktu dan perjalanan manusia? Bagaimana manusia akan semakin bertanya pada dirinya sendiri tentang berbagai kemungkinan itu?
Ada yang bilang, ada dua hal orang yang sulit dinasihati di dunia ini. Pertama adalah orang-orang yang jatuh cinta dan kedua adalah orang-orang yang patah hati.
Aku pernah membaca petuah itu dalam suatu bacaan, entah apa lupa. Meskipun, aku belum pernah merasakan hal itu sebenarnya.
Bagaimana rasanya begitu jatuh cinta? Apalagi patah hati karena kekasih? Namun, malam ini agaknya aku merasakan perasaan jatuh cinta dan memadu kasih pertama kali.
Jantungku berdebar kencang sekali. Mataku dan matanya bertemu dalam kerinduan entah layak disebut apa. Aku tak tahu lagi harus dengan apa menceritakannya.
Sebenarnya, akupun penasaran dengan kata selanjutnya itu. Eh, bukan selanjutnya tapi yang melekat dalam petuah itu.
Akan sulit dinasihati? Apakah maksud dari dua hal itu? Anggaplah aku sedang jatuh cinta sekarang ini. Apakah lantas, ketika aku berada di suasana lainnya, yang dimana aku melakukan kesalahan, lantas dinasihati jadi tidak mempan?
Tidak mempannya karena apa? Apakah hanya karena biologis manusia semacam sistem hormon yang bekerja di tubuh orang-orang yang jatuh cinta berbeda dengan lainnya? Atau begini. Orang-orang yang jatuh cinta, sudah tentu memiliki perasaan yang sedang begitu meluap bukan?
Apakah dengan perasaannya yang sedang meluap-luap itu, akan jadi pengaruh ke depannya yang sedikit banyak berpengaruh pada otak dalam memutuskan segala langkah dan mengambil keputusan atau pilihan?
Udara malam kian dinginnya. Aku sampai dibuat lupa waktu. Sudah hampir pukul satu. Film masih terputar di depan mata kami.
Kepalaku juga masih bersandar di bahunya. Sesekali mataku tertutup tak sengaja. Agaknya, kantuk mulai melandaku. Sesekali menahan menguap dengan menutupnya menggunakan tanganku.
"Kamu ngantuk? Mau udahan?"
"Hum? Bukannya belum selesai?"
"Iya belum sih, tapi barangkali pengin tidur. Biar aku antar."
"Aku pengin lihat sampai selesai. Boleh?"
Kinan tersenyum. Seraya merapikan anaj rambut yang mulai berantakan menutupi wajahku.
"Boleh, tapi jangan dipaksa yah? Kamu juga mesti istirahat."
Aku menganggukkan kepala begitu saja.
"Bentar lagi juga selesai, sih."
"Nah itu. Tanggung."
"Yasudah. Sampai selesai."
Aku begitu merasa nyaman di dekatnya. Aku begitu merasakan ketenangan yang sulit aku jelaskan kenapa aku bisa merasakannya.
Aku tak tahu bagaimana perasaan dan hormon dalam tubuhku bekerja. Andai saja aku bisa bertanya pasti akan kuwawancarai tubuhku yang merasakan jatuh cinta di malam ini.
"Hei, apa yang sedang kamu rasakan sebenarnya? Apakah kamu memang jatuh cinta atau kamuflase respon tubuh yang biasa saja? Aku harus bagaimana?"
Dan tentu beragam pertanyaan lainnya. Aku tepiskan sejenak beragam pertanyaan yang tumbuh di kepalaku itu yang kian terasa rumitnya.
Akhirnya, film usai. Aku beranjak dari kursi. Begitupun Kinan. Ia kembali meraih tanganku dengan genggaman lembutnya.
"Ah, apa ini? Aku merasakannya lagi. Aku seperti merasakan tubuhku bagaikan kapas. Seperti kapas yang juga seperti angin."
"Ah, tidak bukan kapas yang memang begitu ringan. Bukan pula hanya seperti angin yang bergerak begitu saja dengan lembut dan dingin."
"Barangkali, aku juga merasakan perasaan ini bekerja seperti awan-awan di langit nan biru. Aku merasakan keringanan yang terbang tinggi begitu saja, dan aku sulit menjelaskannya. Mungkin, memang akan lebih dimengerti saat merasakannya sendiri."
Aku jadi teringat sesuatu. Aku pernah mendengar bahwa hanya teori cinta yang aneh. Dikatakan aneh karena hanya karena cintalah orang-orang dalam sejarah bisa begitu terlihat seperti orang gila. Tak seperti biasanya.
Aku pun pernah mendapati orang-orang yang rela melakukan apa saja demi dan untuk kekasihnya. Diluar itu yang dilakukan adalah tindakan baik atau buruk, itu adalah sebuah pengorbanan yang tiada tara.
Orang-orang yang jatuh cinta, kabarnya bisa melakukan apapun untuk orang yang disukainya. Tanpa peduli hal apapun.
Kosa kata "mustahil" seperti menghilang begitu saja dengan keadaannya sedang jatuh cinta itu. Menghilang begitu saja dari kamus kehidupannya. Bahkan, seperti tak pernah mengingatnya lagi.
"Sini. Aku yang bukain pintunya." Kinan membukakan pintu kamarku. Ia lantas juga masuk sebentar. Memastikanku. Dan lebih tepatnya memastikan kamarku benar-benar nyaman dan tidak ada gangguan.
"Nah, aman. Kalau ada apa-apa telepon atau gedor-gedor pintu kamarku juga nggakpapa ko," canda Kinan.
"Iya, makasih ya."
"Sama-sama. Inget."
"Hum?"
"Ditunggu jawabannya, Sayangku."
Kinan mengucapkannya dengan memegang kepalaku seperti seorang anak kecil yang sedang dinasihati orangtuanya.
"Iya-iya. Udah malem. Kamu juga istirahat, gih. Kasian. Pasti capek nyetir motor hujan-hujanan tadi."
"Iya, yah capek, sih. Tapi untung ada kamu jadi nggak capek."
"Gombal lagi."
"Nggakpapa. Biar kamu seneng."
"Iya-iya. Sekali lagi makasih."
"Sama-sama Tuan Puteri. Selamat tidur."
Kinan pun meninggalkanku di kamar yang memang disiapkan untukku beristirahat. Aku lantas membersihkan tangan dan wajahku. Aku menatap wajahku di cermin.
Kulihat, ia sangat berbeda. Wajahku di cermin sekarang seolah begitu berubah. Aku yang sempat begitu muram dan putus asa, kini terlihat lebih hidup dan begitu bersemangat.
Ah, sedemikian dahsyatnya kah energi orang-orang yang saling mencintai? Bagaimana perasaan ini bertahan dalam tubuhku? Bagaimana perasaan ini akan bertahan meskipun badai dan angin menerpa begitu menggoncangnya? Apakah aku akan tetap bisa merasakannya? Apakah aku akan tetap merasakan indah dan megahnya perasaan ini tumbuh?
"Ah, sudah pukul satu. Kenapa pula aku nonton film ya? Padahal, sudah tau malem."
"Ah, inikah energi orang jatuh cinta?"
Aku memegang pipiku. Menutup mata seketika. Sesekali kembali melihat wajahku di cermin dan begitu salah tingkah sendiri dengan apa yang kurasakan kini.
"Ah, jatuh cinta. Sedemikian indahkah perasaan ini tumbuh pada setiap diri manusia yang memang benar-benar merasakannya begitu saja?"
"Apakah semua hal ini. Kemegahan perasaan ini akan berlangsung lama? Kalaupun tidak lama, apakah ada cara untuk tetap memertahankannya? Aku ingin merasakan dan terus merasakan kebahagiaan seperti ini tumbuh dalam hidupku."
"Semenjak kami berpisah dan tak pernah berkabar, aku rasanya sudah cukup untuk bertahan dengan kesediha. Bolehkah aku meminta agar perasaan ini terus bertahan lama?" Gumamku.