Part 34 - Lebih dari Teman?

1005 Kata
"Cantik. Kamu sangat cantik," bisiknya di telingaku. Sontak, aku tersipu malu. Entah bagaimana sistem hormon di tubuh ini bekerja. Kurasakan ujung bibirku terasa tertarik ke sisi kanan dan kiri begitu saja. Membuat sebuah garis senyum penuh rahasia. Bola mataku. Ya, kurasakan bola mataku seperti mendapat cahaya entah darimana. Padahal, aku merasa capek. Namun, aku tak menemukan rasa capek di dalamnya. Justru, binar mata itu kian terang. Kian jelas dengan segala apa yang kurasakan. Aku menundukkan kepala. Tak ingin menatap sedikitpun laki-laki berhidung mancung di sebelahku. Tak punya daya rasanya untuk menatapnya. Entah kenapa suara itu terasa begitu berat dan berteduh di hatiku. Suara itu. Ya, suara tak lain dari Kinan. Melihat gelagatku yang mungkin agak aneh, Kinan justru makin mendekatiku. Ia menyentuh ujung poni rambutku yang kepanjangan itu dan menaruhnya ditelinga. Merapikannya. Ah, hatiku begitu berdebar dibuatnya. Aku seperti kehilangan kata-kata lagi bagaimana aku harus menjelaskan perasaan ini. Oh, ini apa? "Tania... Kamu cantik. Kamu cantik dengan dirimu sendiri." "Nan, makasih." Ia tersenyum. Ia menyentuh daguku dan sedikit mengangkatnya. Melihatku seperti sebuah lukisan yang begitu sedang ia nikmati keindahannya. "Jadilah dirimu sendiri. Kamu akan menemui indah cantik di sana. Bahkan, tanpa pengakuan siapapun, Sayang." "Hum?" "Sayang. Boleh kupanggil itu untukmu sekarang?" Uhukk Mendangar tuturnya, aku sontak batuk, tapi sebenarnya tidak. "Hei... Tenang. Ini minum dulu." Kinan mengambilkan segelas teh hangat yang sudah Ibunya buatkan untukku. "Pelan-pelan... Sstt tenang." "Makasih." "Hum? Kaget, yah?" "Entah." "Gimana?" "Gimana apanya?" "Kamu mau kita lebih dekat? Bukan sekedar teman." "Nan? Kamu serius mengatakan hal itu?" "Apa aku terlihat tak serius? Sedang bercanda?" Kinan meraih tanganku. Seraya meyakinkanku. "Aku serius, Tania. Kamu mau? Ijinkan aku menjagamu lebih baik. Aku sayang kamu." Malam itu. Malam yang begitu berharga bagiku. Kinan, akhirnya mengungkapkan perasaannya. Aku tak tahu. Ya, aku sampai tak tahu bagaimana lagi aku harus memposisikan diri. Apakah aku harus senang? Apakah aku harus sedih? Apakah aku harus memposisikan diri begitu bahagia? Namun, tak bisa dipungkiri keraguan itu muncul. "Nan... Maaf," ucapku perlahan. "Kenapa?" "Bukannya kamu sudah punya pacar?" "Hah? Sejak kapan? Emang aku pernah bilang gitu?" "Perempuan yang tadi menelponmu di kafe? Itu siapa?" "Aha! Sekarang aku mengerti. Kamu diem, karena cemburu, yah? Hayooo." "Ish! Enggak. Cuma kupikir itu pacarmu." "Haha cie cemburu." "Mestinya aku bilang ini ditunda dulu ya? Biar kamu tambah cemburu dulu." "Ish, malah becanda." "Enggak. Enggak. Maaf." "Tapi beneran, aku memang belum pernah nembak satu perempuan pun kecuali kamu." "Kalau yang naksir mah banyak." "Sombong!" "Kenyataan." "Iya-iya, yang sok ganteng." "Haha. Jadi? Gimana? Hum?" "Memangnya aku harus jawab sekarang?" "Uhm, bebas sih. Tapi setidaknya aku sudah mengatakannya. Ini suatu hal yang agak sedikit kusesali sebenernya." "Maksudnya?" "Iya. Kenapa aku nggak ungkapin sejak dulu." "Hum." "Yasudah, apapun nanti jawabanmu, aku akan senantiasa menunggu." "Eh, udah ngantuk belum?" "Uhm, enggak terlalu sih." "Gitu? Pengin apa?" "Memangnya?" "Enggak. Barangkali mau nonton film dulu mungkin? Eh, tapi di kamarmu gak ada peredam suaranya. Cuma di kamarku." "Ada film bagus. Siapa tau pengin nonton." "Memangnya nggakpapa?" "Aku sudah mengijinkan. Haha." "Uhm, boleh deh." "Yuk!" Kinan mengulurkan tangannya. Menunggu tanganku yang bersedia diajak bergandengan tangan. "Sejak kapan gandengan?" "Pengin aja. Biar ini simbolik aku bersiap dan akan selalu siap menjagamu Tuan Puteri." "Gombal!" "Aih, apakah di dunia ini ketika laki-laki mengatakan hal sebenarnya selalu dikatakan gombal?" "Haha." Aku menerima uluran tangannya. Kurasakan setiap aliran darah di tubuhku seakan begitu bahagia malam itu. Kinan mengajakku naik ke atas. Melewati beberapa anak tangga. Berbagai hal memang seringkali datang percuma. Datang tak ditebak bagaimana arahnya. Sebagian orang-orang begitu mendambakannya. Sebagian lagi hanya terus berjalan. Lagi dan lagi. Apakah keberuntungan itu ada pada orang-orang yang mengungkapkan cinta dan menerimanya? Ataukah keberuntungan juga dimiliki bagi orang-orang yang menyatakan cintanya tapi tak diterima? Barangkali, ia memiliki keberuntungan yang mana justru ada pada bentuk lainnya. Bukankah hal itu cukup bisa diterima dengan hati dan logika? Aku tak tahu, perasaan ini akan dibawa kemana. Bagaimana aku akan menjawabnya nanti? Yang pasti, aku tak ingin terburu-buru menjawabnya. Meskipun, tanpa kujawabpun sebenarnya aku sangat begitu bahagia. Bagaimana tidak? Perasaan yang juga sudah cukup lama kupendam ini akhirnya menemui muaranya. Kinan, yang selalu aku banggakan kini mengungkapkan perasaan. Kinan, yang selama ini kupercaya, kini menuangkan ungkapan cintanya. Lantas, bagaimana aku membawa perasaan ini selanjutnya? "Sebentar. Aku buka pintu dulu," ucap Kinan melepaskan genggaman tangannya pada tanganku. "Nah. Silakan masuk Tuan Puteri." "Gapapa?" Kinan menganggukkan kepala. Tak lama kemudian, menutup pintu kamarnya. "Welcome to the jungle. Ya ginilah kamar anak bujangan. Sedikit berantakan. Kamar ini emang sengaja didesain ada peredam suaranya. Tau sendirilah pasti." "Selain suka baca, aku juga seneng nonton film, main game, dan sedikit banyak, peredam suara ini cukup tak membuat sekitarku kebisingan." "Makanya hanya kamarku yang tak taruh peredam suara ini." "Bagus." "Kamu berarti memikirkan kenyamanan orang lain." "Ya. Kamu dari dulu tak berubah. Pandai melihat makna yang aku sendiri belum mengungkapkannya." "Ah, biasa aja." "Gimana?" "Gimana apanya?" "Enggak. Silakan duduk di sini. Bentar, aku siapin dulu." Kinan memersiapkan memutar film yang sebentar lagi kami akan tonton. "Film apa emangnya?" "Romance. Perempuan biasanya paling suka romansa. Iya bukan?" "Uhm, sedikit." "Ouh kamu ndak suka? Mau aku ganti lainnya? Kamu pengin genre apa?" "Uhm, nggakpapa, kok. Aku juga penasaran." Tak berapa lama kemudian, film terputar. Kinan duduk di sebelahku. Aku duduk bersandar pada sebuah kursi kecil yang memang hanya pas untuk berdua. Kinan menatapku. Aku tahu ada sebuah pandangan yang memerhatikanku dari samping. Tangannya mulai meraih tanganku perlahan. Entah, entah kenapa aku merasa begitu nyaman dengannya. Aku tak pernah merasakan ini sebelumnya. Tangan Kinan satunya lagi membelai rambutku. Begitu lembutnya. Aku seakan diperlakukan seperti seorang puteri raja. Malam itu, aku amat begitu bahagia. Mataku memang menatap layar televisi yang memutarkan film romansa, tetapi aku lebih romansa dari layar kaca. Aku merasakan degup jantung yang berdebar lebih dari biasanya. Aku belum berani menatap Kinan. Namun, entah angin apa Kinan mengarahkan kepalaku perlahan untuk bersandar di bahunya. Akupun dibuat menurut begitu saja. "Nyamanin, Sayang." Ucapnya lembut. "Ah, beginikah rasanya orang-orang yang jatuh cinta di luar sana? Ah, hatiku masih ada bukan? Kenapa jantungku berdebar kencang sekali? Perasaan apa ini sebenarnya?" Batinku bertanya-tanya dengan berbinar mata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN