Part 33 - Sejarah Pertemuan

1017 Kata
Tak terasa waktu memerjalankan Kinan dan Tania. Malam tepat pukul sebelas, kami sampai. Begitu mendengar suara motor Kinan, Ibu Kinan langsung membukakan pintu. Memberikan senyum terbaik. "Ibu belum tidur?" sapa Kinan sembari melepas helm di kepalaku. "Belum. Ibu nungguin kalian." "Nak Tania, yah? Lama sekali tidak lihat." "Iya, Bu." Aku lantas mendekat padanya. Membungkukkan kepala dan mencium tangannya. Ibunya Kinan mendekapku seolah seperti anaknya sendiri. "Ibu kangen sekali liat kamu, Nak. Kemana saja?" "Tania gak kemana-mana, Bu." "Tapi sehat kan?" "Alhamdulillah seperti yang Ibu lihat sekarang. Tania sehat. Tania baik-baik saja." "Syukurlah. Gimana kabar Bapakmu? Ibumu? Mereka sehat juga?" Sejenak, hening seketika. Aku merasa beberapa tanya seakan mengetuk kesadaranku yang lainnya. Beberapa hal tampak begitu seolah menjadi bayang-bayang yang tiada habisnya dibawa kenang. Ada beberapa hal yang sulit kuuraikan. Sebagiannya, aku tak ingin menjelaskan apapun. Sebagian lagi, ingin begitu kumusnahkan dalam memori. Namun, ini adalah keinginan mustahil. Kepedulian jelas, bukan wilayah keinginan. Kepedulian, lahir dan tumbuh dari tanah ketulusan jiwa itu sendiri. Bagaimana mungkin ketulusan dapat ditimang-timang? Bagaimana mungkin harga kepedulian dapat dibandrol harga ataupun dipamerkan begitu saja? Tak ada yang pernah sia-sia dari kepedulian hati. Meskipun, dalam beberapa hal seringkali orang mengatakan, "Orang-orang yang tulus jiwa melakukan kebaikan pada orang lain; entah itu menolong orang lain yang kesusahan, membantu membuka area jalan rejeki, dst." "Namun, seringkali mereka justru dimanfaatkan begitu saja. Seolah-olah, tak ada beda antara orang terlalu baik dan orang bodoh." Padahal, tidak ada yang sia-sia dari kebaikan. Tak ada yang terbuang percuma dari berbuat baik. Bahkan, tak semestinya ada penyesalan bila yang kita lakukan adalah sepenuhnya karena niat baik untuk menolong orang lain. Adapun, entah bagaimana respon dari orang kain, itu urusan belakangan. Itu tak perlu terlalu dipikirkan. Bagaimana semua hal yang belum terjadi akan tetap berjalan? Salah satu pertanyaan itulah yang barangkali akan memantik setiap diri kita menuju beberapa langkah lagi ke bukit kekawatiran berlebihan. "Bu? Baru dateng kasian Tania. Diajak masuk dulu atuh, " ucap Kinan memecah keheningan. "Oh iya, maaf ya, Nak. Ayo, masuk." Untunglah, Ibunya Kinan segera menurut. Ia mengarahkanku masuk. "Tadi kehujanan, ta? Pakai kardigan Ibu dulu mau? Biar gak kedinginan." "Ini pakai sweater kok, Bu." "Sudah basah, Nak. Nanti masuk angin. Udah, tunggu bentar di sini, yah. Ibu ambil cardigannya dulu. Eh, atau sweater lagi aja? Sebentar, sepertinya ibu masih simpan." "Ngrepotin, Bu." "Ndak. Tenang saja." "Kinan, temani Tania dulu. Ibu skalian mau buatin minuman hangat. Kamu juga ganti baju gih." "Iya, Ibuku yang maniss." "Apaan." Gelak tawa kemudian mengisi suasana. Tak pernah kusangka, keakraban dan kehangatan masih begitu menyelimuti sosoknya. Ibunya Kinan yang lembut, perhatian, dan sangat peduli pada orang lain. Ia masih sama seperti itu. "Aaah, akhirnya sampai rumah." Kinan merebahkan sebagian tubuhnya ke sofa. Persis, di sebelahku. Tak berapa lama kemudian, ia menatapku penuh lembut. Entah, apa maksudnya. "Tan," panggilnya. "Hum?" "Senang sekali bisa melihatmu lagi." Ucapnya lembut. "Apaan sih, Nan? Bukannya udah liat dari tadi?" Ia malah memberikan sebuah senyuman manisnya. Matanya yang tajam, tapi lembut itu sukses membuatku terpana. Aku tak bisa menafikan diri tak tertarik dengan sosoknya. Kinan yang baik, peduli, dan humoris. Aku jatuh hati padanya. Melihatku terdiam, ia malah seolah memancingku agar bicara. "Nan, pertemuan terbuat dari apa?" "Hum?" "Ya. Pertemuan." "Bukankah malam ini kita menyaksikan bersama dua pertemuan hebat?" "Pertama, aku tak sengaja melihatmu di tepian jalan. Ya, aku tak pernah menyangka itu jadi jalan pertemuan kita setelah dua tahun lamanya." "Kedua, pertemuanmu dengan Ibuku. Bukankah dulu kamu paling seneng kalau kuajak bertemu Ibu? Kamu akan tersenyum selalu. Entah, kalian membicarakan apa. Katanya, urusan perempuan." "Masih ingat? Aaah, bukankah saat itu kamu terlihat manis sekali?" "Apaan sih, Nan." Aku dibuat tersipu malu olehnya. Semua perkataannya, kini seakan membuka memori ingatanku. Tak pernah kusangka juga pertemuan ini akan terjadi. Bagaimana aku sebaiknya merayakannya? Entahlah. "Kinan, disuruh ganti baju dulu malah duduk," Suara Ibu kembali memecah percakapan. Kinan pun beranjak dari sofa dan menggoda Ibu. "Iya, Ibuku yang baik. Yang sekarang bahagia sekali ketemu anak perempuannya."Ledek Kinan karena melihatku sekarang ada di rumahnya. "Ya pasti bahagia dong. Lama sekali tidak lihat Nak Tania." "Sudah, sana kamu ganti baju." "Siap!!" Kinan pun masuk ke kamar mandi. Kini, di ruang tamu, tinggallah aku dan Ibunya Kinan. Ibu memberikan sweater rajut marun dan sebuah syal rajut pula. "Ini, sweater dan syal. Semoga bisa menggantikan sweatermu yang basah. Kamu bisa mencobanya, Nak." "Terima kasih, Bu." Akupun mencoba sweater berwarna marun itu. Tampak sedikit kebesaran, tapi ini lebih baik. Akupun sangat menyukai baju oversize. Apalagi, warna marun yang juga kusukai setelah warna hitam. Marun dan hitam, agaknya adalah dua warna yang sudah kusimpan paten dalam hidupku kini. "Nyaman?" "Nyaman sekali, Bu. Hangat." "Syukurlah. Oh iya, ini diminum dulu. Ibu buatkan teh hangat." "Nanti bisa istirahat di kamar atas sebelah Kinan. Ndakpapa kan?" "Ndakpapa, Bu." "Kebetulan, kamar itu kosong. Tapi sudah ibu rapikan, kok." "Iya, Bu. Terima kasih banyak." "Nak, agaknya ibu sudah ngantuk berat. Kalau ibu tinggal dulu ke kamar duluan kamu tak apa?" "Dari pagi sampai siang ibu belum istirahat. Padahal, habis ada acara dan pengajian." "Ndakpapa, Ibu. Maafin Tania jadi ngrepotin. Ibu jadi belum tidur jam segini nungguin kita." "Ndakpapa. Ibu malah sangat bahagia bisa melihat kamu lagi, Nak. Yasudah, ibu duluan yah? Ini kunci kamarnya." Ibu meletakkan kunci kamar yang dimaksud di tanganku. Seraya mendekapku seperti anaknya sendiri. "Ibu bahagia sekali melihatnya. Ibu akan sangat bahagia kalau kalian bisa seperti ini terus." "Maksud Ibu?" Ibu tak menjawab, hanya tersenyum lembut. Tak lama kemudian, ibu beranjak pergi ke kamar. Kini, tinggallah aku di ruang tamu. Jam dinding berwarna abu-abu di ruang tamu menunjukkan pukul setengah dua belas malam. "Ah, ini sudah malam sekali. Pantas saja ibu sudah mengantuk. Apa aku sebaiknya langsung ke atas? Ah, bagaimana dengan Kinan? Masa aku langsung ke atas? Apa itu sopan? Tanpa berpamitan dengan Kinan?" Keraguanku entah kenapa muncul tiba-tiba. Tak lama kemudian, Kinan muncul di hadapanku. "Hei! Ciee sweater marun." Ledek Kinan. "Gimana? Aku cantikkah?" "Haha kamu serius nanya begitu?" "Emang kenapa? Nggak boleh?" "Boleh. Siapa bilang gaboleh." "Terus?" "Ya nggak terus-terus." "Ya apa jawabannya." "Serius mau tau aja apa mau banget?" Kinan kembali membuatku sebal dengan gelagatnya. Namun, aku justru setengah tersenyum malu dibuatnya. Apakah perasaan ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN